Jumat, 18 November 2016

Kehilangan

Masih terlalu sering mendemgarkan suara ribut dalam otak. Pertentangan antara cemas, ketakutan, realita sampai pikiran positif. Seru sekali mendengarnya. Hingga lupa mana yang harusnya aku dengar dan cermati. Mana yang harusnya dieliminir.

Belum lagi ditambah dengan kata orang lain yang juga masuk ke dalam ingatan. Turut pula meramaikan suara-suara dalam otak.

Sesekali aku berteriak. "Berhenti berisik bisa tidak?!"

Hm, tapi sepertinya hanya jadi diam sesaat. Aku tidak cukup berpengaruh untuk diriku, ternyata.

Bagaimana caranya, agar aku mau mendengar diriku?

harus semangat.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
katanya gitu ...

Kamis, 27 Oktober 2016

Gugur Bunga

Pengarang / Pencipta Lagu : Ismail Marzuki

Betapa hatiku takkan pilu
Telah gugur pahlawanku
Betapa hatiku takkan sedih
Hamba ditinggal sendiri

Siapakah kini plipur lara
Nan setia dan perwira
Siapakah kini pahlawan hati
Pembela bangsa sejati

Reff :
Telah gugur pahlawanku
Tunai sudah janji bakti
Gugur satu tumbuh sribu
Tanah air jaya sakti

Gugur bungaku di taman hati
Di hari baan pertiwi
Harum semerbak menambahkan sari
Tanah air jaya sakti

...
Selamat jalan Eyang Kakung.

Apa sih yang kamu lakuin?
Ini dan itu
Terus, apa yang menghambat?
Ya banyak
misalnya apa?
takut orang mikir apa, takut orang kecewa, takut ...
jadi yang menghambat ketakutan itu?
mmm
emangnya sepenting apa testimoni mereka terhadap kamu?
penting
pentingnya apa?
mm, kalau mereka tiba-tiba tidak ingin berteman, atau tidak lagi menganggapku ada, bagaimana?
Memangnya selama ini itu pernah terjadi?
mm, sekali. atau dua kali atau beberapa kali?
yakin kejadian itu ada? atau hanya perasaanmu?
mmm
memangnya semua orang yang menjauh?
ti, tidak juga
lalu, memangnya harus semua orang ada untukmu? harus semua orang menyukaimu?
mm, itu nggak mungkin
terus, kenapa takut? kenapa cemas?
ekspektasi. Aku takut pada ekspektasi.
well, aku setuju itu menakutkan. But, hei, memang ada apa dengan ekspektasi?
dia berat.
Kalau begitu tidak usah dipikirkan. dijalani saja.
Tapi, itu nggak mungkin.
kenapa nggak mungkin? Kamu yang membuatnya nggak mungkin.
...
Kamu yang terus berantem sama diri kamu sendiri antara memenuhi ekspektasi orang terhadap kamu, dengan kamu ingin menjalani sesuai dengan pace yang kamu miliki.
...
memangnya kamu yakin bahwa orang berekspektasi terhadapmu?
mm, asumsi.
Nah! fantasi yang lain lagi!
...
kamu terlalu sering berfantasi. mengasumsikan ini itu, yang terlalu jauh dari realita. mungkin maksudmu adalah antisipasi hal terburuk; sebuah coping mechanism yang kamu jalankan. Tapi, hey, kamu jadi selalu bingung dan uring-uringan kan dengan semua kecemasanmu, asumsimu, ketakutanmu. memangnya, kamu tidak percaya kalau akan ada orang yang tetap menemanimu, meski kamu berjalan lambat ataupun saat kamu berlari? memangnya, kamu tidak percaya kalau akan ada orang yang mendukungmu, mendorongmu dari belakang ketika kamu ketinggalan, ataupun menarikmu; meski dengan paksaan? Memangnya selama ini, teman-temanmu itu sejahat itu hingga kamu merasa selalu sendirian?
tidak ...
kamu itu terlalu sibuk ketakutan, terlalu sibuk cemas, hingga nggak sadar, ada banyak tangan terulur membantu di sekelilingmu. Dan itu cukup untuk mengurangi kecemasanmu. cukup untuk mengilangkan ketakutanmu.
.
.
.
sudahi su'udzhonmu.
aku tidak bersu'udzhon.
Merasa sendirian itu sebentuk su'udzhon pada teman-temanmu, karena kamu menganggap mereka tidak mau membantumu. Juga sebentuk su'udzhzon billah, karena kamu merasa Allah tidak membantumu.
...
jadi, bagaimana?

Jumat, 09 September 2016

Tujuan

Kalau kita nggak punya tujuan, atau nggak tujuan kita apa, ya kita bakal terus-terusan muter-muter aja di sana, kesasar, muter lagi, Alhamdulillah kalau sampai pada tempat yang baik, kalau nggak?

#Kudukuat

Senin, 29 Agustus 2016

Berita Pernikahan

Menyambung, dan menyempilkan dari postingan sebelumnya tentang wisuda, ternyata di tengah hiruk pikuk kabar wisuda ini, ada kabar yang nggak kalah bahagia datang dari seorang teman. Dirinya akan menikah bulan depan. Sejak dua pekan lalu, kita-kita (gycen) yang di jogja sudah mulai menebak-nebak siapa yang akan menikah. mulai dari si A lah, si M, si M kedua wkwkwk .. tapi memang nggak ada yang bener. Pikiran kita seringkali melayang pada ukhti-ukhti jilbab lebar kalo terkait dengan 'menikah muda', pada kenyataannya temen saya yang mau nikah ini bukan tipikal 'ukhti-ukhti berjilbab lebar dan ikut halaqah pekanan'. wkwkwk ...

wallahu a'lam kenapa, tapi pun di kampus, di kalangan teman-teman yang nggak berjilbab bahkan,  juga acapkali 'mbak-mbak yang sering ikut halaqah dan rajin datang pengajian' itu terlabel dengan 'pasti menikah muda'. Jadi, asa ada berita yang mau nikah, kita-kita, yang halaqah ini sering jadi tertuduh yang menikah duluan. Padahal mah ya, ternyata saya dan beberapa teman yang halaqah ini, udah keduluan kok sama teman-teman yang lainnya. Saya yang kalem ini juga udah keduluan sama yang lebih petakilan daripada saya (temen Mts sih ini). Terus, orang-orang semacam Nikari-yang-biasa-menasehati-tentang-pernikahan juga udah dilangkahi sama orang-orang yang mungkin lebih memilih 'jalanin aja dulu pernikahannya' wkwkw.

weleh, malah jadi rasis. Saya salut dengan teman-teman yang sudah mampu memutuskan untuk menikah lebih cepat dari kebanyakan orang. Yang menikah sambil kuliah, ataupun yang menikah sembari koas (kayak temen saya yang akan menikah bulan depan ini). kuliah dan koas ini sendiri bukan hal yang mudah untuk dihadapi. Apalagi ditambah dengan rempah-rempah rumah tangga, yang juga pasti bukan hal yang mudah. Belum lagi yang sudah menikah, sambil kuliah, sambil organisasi, sambil kerja.

Dulu Fitri pernah tanya, yang saya juga nggak tau jawabannya apa, "Ty, gimana sih caranya tau kita siap nikah?" waktu itu saya jawab sembarang aja. Tapi mungkin, ketika kita siap nanti, akan tau sendiri. Ketika siap untuk memikirkan tidak hanya diri sendiri, tapi juga diri orang lain yang akan jadi pasangan kita, juga yang bakal jadi anak-anak kita nantinya. Saya juga nggak tau sebentuk siap menikah itu seperti apa. Kriteria umum dan khusus nya ada atau nggak. Tapi, saya jadi inget katanya Nikari, yang itu kata sepupunya, kira-kira begini redaksinya, "suatu saat nanti kita akan butuh untuk menikah, bukan karena teman-teman kita yang lain udah pada nikah atau bukan karena kita terus ditanya, 'kapan nikah?'"

Tapi, mungkin untuk mencapai kesiapan dan kebutuhan seperti yang dibilang Nikari, butuh tahapan, dan butuh kejadian, apapun kejadiannya. Dan masing-masing orang berbeda. Jadi mungkin, pertanyaan "Apa sih yang membuat seseorang siap menikah?" tidak bisa ditanyakan ke orang lain. Tapi ditanyakan pada diri sendiri.

Btw, baarakallahulakumaa wa baaraka 'alaykuma wa jama'a baynakumaa fii khayr Eja dan calon suami :) Pernikahan ke -5. maaf ya, kami bahkan nggak terbersit sedikit pun kalo kamu yang bakal nikah --" . semoga dilancarkan segala urusan sampai hari H dan seterusnya.