Jumat, 19 Mei 2017

Talk to myself

it's been five days since musywil of FLP Jogja. I truly became a neet now. I was lazying around this whole week. And worrying too much about what will I do after this. Well, for the first time after entering college, I dont have any structural position in some organization. I started to realize that being busy is one of His blessing that often forgotten.

Too much spare time is not good for your healthy, though. -_-

And it's been two days since I got dyspepsia. while I'm enduring the ache of my stomach, I keep starring at the blank page of document on my laptop. I'm drowning in my own thought, my own anxious. worrying about what i should do after this. worrying about the LPJ which I should revise. worrying about the data set which i abandoned this past two weeks. worrying about the life after graduation.

Even though I remember every session I took with my psychologist, but it's not easy to overcome the anxious, to stop the thought of being useless. to stop being a perfectionist. :(

Well, I should stop this -unrealistic-personal-rules within me.

Okey, let's think. I have the data set to finish. I have halaqah to care. And remember that I just joined an online institute.See? I'm not useless at all. I still have the will to learn. So dont stop now just because my irrational worry. Stop being so perfectionist. no one think that you're useless, it's just you. the one with that thought is you. You should treasure yourself more. just like yous said to one of your sister last week. Because, no one will treasure you, except yourself.

the thought is just the thought. the thought is not a fact. (it's the words from my psychologist).

So, your thought is not a fact. And your thought is controlling your feeling. if you stop overthinking, you stop being anxious.

your thought is just a thought. the thought is not a fact.

semangat! mungkin semuanya nggak perlu dilawan, cuma perlu diterima, dan berjuang bersama dengan segala anxious yang dipunya.

(sorry for bad grammar, i just finished some chapters of online comic, and it influenced me to using english wkwkwk .-.)

Kamis, 11 Mei 2017

Ngalor Ngidul

sudah seminggu lebih saya mengalami kesulitan tidur, bahasa kerennya insomnia. Meski sudah berkali-ali mengalami LPJ-an, tapi tetap saja rasa tegangnya tidak pernah sedikitpun berkurang. Justru bertambah seiring dengan bertambahnya usiaku (?).

Sebelum-sebelumnya saya mengalami prosesi LPJ dan persiapannya sebagai staff atau kepala divisi. Mulai dari staff divisi Imtaq di tahun 2010, kadiv Imtaq di tahun 2011, staff media opini kalam di tahun 2013, kadiv media opini alam di tahun 2014, dewan pertimbangan kalam di tahun 2015, staff creative media FLP di tahun yang sama, yang terakhir kemarin, ketua Bimo forsalamm di tahun 2016. Dan, saat saya menulis ini jelang 2 hari untuk musyawarah wilayah FLP Jogja.

Dan saya baru tahu kalau jelang LPJ-an, sestres ini menjadi sekretaris. Di saat kamu juga harus menyiapkan teknis (dan ini berarti mengorganisasikan orang-orang -dan tentu ini sangat stresful buat saya yang punya social anxiety), juga menyusun LPJ yang sampai detik ini masih ada yg belum mengumpulkan.

Meski tentu ada faktor-faktor penambah stres lainnya macam dikejar-kejar dosen untuk segera menyelesaikan olahan data (yang bahkan belum saya sentuh), juga satu dan hal lain..

Sejujurnya, setiap harinya saya pengen banget teriak-teriak. Tapi takut dikira makin sedeng. Akan lebih baik kalau bisa nangis sih. But, i couldnt. Saya cuma duduk terpaku di depan laptop, bengong. Atau guling-guling baca komik atau nonton yucub yang ga ada faedahnya. Mau nontonin kajian lagi sebenernya tapi njuk ngerasa tertuduh dan jleb-jleb, akhirnya langsung ganti nontonin hal yang nggak berfaedah lagi.

Ya Rabb, saya nggak paham lagi. Sepertinya malam ini saya nggak tidur. (meski kalo akhirnya tidur, ya Alhamdulillah).

pengen teria. pengen teriak. pengen teriak. pengen teriak.

well, saya nulis ini cuma buat nyampah sih. menumpahkan segala kecemasan yang nggak ada ujungnya ini. (Tapi saya nggak mau dikomentarin, 'ngga usah cemas, tyani', it's just like adding bunch of salt on the scar. Kalo ada orang dengan anxietas dibilang 'ngga usah cemas' malah justru kadang semakin cemas, karena dia jadi mikir lagi, 'apakah harusnya saya nggak cemas?' 'apakah saya lebai cemasnya?' and so on.).

yaudahlah

Kamis, 20 April 2017

Randomly Talk (3)

Dan hidup di antara cemas dan depresi itu sa.ngat. a.mat. melelahkan.

Itu seperti,
pikiranmu hidup di masa lalu, lalu melompat ke masa depan, sedang ragamu hidup hari ini. Tanpa nyawa.

Randomly talk (2)

Hidup dalam kecemasan itu sangat melelahkan. 

Ketika kamu, tanpa diminta atau meminta, cemas bagaimana caranya berbicara dengan orang baru. Bagaimana jika nanti kamu salah berbicara dengan orang itu. Bagaimana jika nanti orang yang kamu ajak bicara itu tidak nyaman denganmu karena mungkin kamu terlalu banyak bicara, atau terlalu sedikit bicara, atau kehabisan ide, atau mungkin penampilanmu membuatnya tidak nyaman, atau lainnya, atau lainnya.

Ketika kamu, tanpa diminta ataupun meminta, cemas bahkan saat Kan membeli makan. Nanti bagaimana cara memesannya. Bagaimana kalau kamu salah cara memesan. Bagaimana jika ternyata meski kamu panggil waiters, tapi tidak ada yang menyahut, lalu kamu diam berjam2 memandangi menu, terlalu takut untuk memanggil kembali waiters. Atau bagaimana jika sebenarnya para waiters ini menganggap dirimu tidak sopan. Bagaimana jika ternyata menu yang sangat diinginkan habis. Bagaimana jika kamu tidak jadi memesan karena tidak ada menu yang kamu inginkan. Bagaimana jika kamu ternyata tidak menghabiskan makan, perutmu sudah kenyang, sementara kamu terpikir, jangan-jangan di antara pegawai rumah makan ini pun ada yang kekurangan makan, sementara kamu membuang-buang makanan. Bagaimana jika kamu ingin meminta bungkus dan lalu harus kembali berhadapan dengan orang, yang sudah barangtentu sangat mencemaskanmu. 

Pada akhirnya, kamu melewati semua rumah makan. Dan memilih memak mie instan, yang sudah berhari-hari pula kamu makan.

Ketika kamu, tanpa diminta ataupun meminta, cemas untuk kembali hadir di kampus yang sudah lama kau tinggalkan. Bagaimana jika nanti kamu bertemu adek kelasmu, lalu dia mulai bertanya -yang sebenarnya tidak berniat menyinggung, tapi kamu tidak mampu menjawab dan mungkin seidikit banyak pertanyaan itu menyinggung. Bagaimana jika kamu bertemu dosen lama mu di kampus sembari kamu jalan. Kamu harus menyapakah? Atau pura-pura tidak kenal? Bagaimana ketika kamu mencoba menyapa, tapi ternyata beliau tidak ngeh, dan kemudian membuatmu malu. Atau bagaimana jika tiba-tiba justru beliau yang bertanya. Tentang ini maupun tentang itu, yang membuatmu semakin tidak nyaman. Bagaimana jika kamu bertemu dengan dosen lain yang tidak ingin kamu temui, kemudian kamu kembali cemas harus menyapa atau tidak. Lantas memilih tidak menyapa, dan kemudian bagaimana jika keputusan itu justru berujung masalah? Bagaimana jika kamu bertemu kakak angkatanmu yang mulai menggoda ini itu dan kemudian membuatmu iri, sementara kamu sangat takut bila mulai iri, kamu akan mulai membanding- bandingkan dirimu dengan yang lain.

Lalu kamu mulai merasa tidak berguna, dan tidak ada apa-apanya. Kamu mulai depresi.

Ketika kamu, tanpa diminta ataupun meminta, cemas ketika harus hadir rapat -meski itu kamu yang menjadi penanggung jawabnya. Kamu cemas dengan bisa atau tidaknya kamu memimpin forum dengan serius tapi santai. Kamu cemas dengan bisa atau tidaknya mencapai tujuan rapat hari itu. kamu cemas dengan bagaimana reaksi orang terhadap sikapmu hari itu. Kamu cemas seandainya hal-hal yang dirapatkan tidak berjalan sesuai dengan rencanamu. Kamu cemas jika kamu ditanya sementara, kamu tidak dapat menjawab. Kamu cemas kamu tidak dapat mempertanggungjawabkan hal yang seharusnya pekan lalu kamu kerjakan. Kamu cemas jika yang lebih tinggi jabatannya memandangmu konyol dan tidak capable. Kamu pun cemas jika subordinat mu memandangmu tidak layak memimpin.

Padahal bahkan, kamu tidak punya harapan untuk dirimu sendiri. Kamu sudah lama mengurangi harapan, agar tidak lagi menambah kecemasan-kecemasan lain.

Ketika kamu, tanpa diminta ataupun meminta, cemas harus presentasi atau berbicara mengisi forum. Kamu cemas bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu lakukan, Kamu cemas jika penonton tidak berkenan atau bosan mendengarmu. Kamu cemas jika penyimak tidak paham apa yang kamu sampaikan. Kamu cemas terdengar menggurui. Kamu cemas kamu tiba-tiba blank di tengah kamu menyampaikan. Kamu cemas jika tidak mampu menjawab audiens. Kamu cemas jika kamu tergagap di tengah. Kamu cemas dan cemas dan cemas.

Semua kecemasan itu sering pula bercampur menjadi satu, hingga tidak lagi tahu sebab dari kecemasan itu sendiri. Cemasnya mengaduk-aduk perut, membuat mual, hingga muntah.

berbutir-butir obat mual ataupun obat maagh tidak mampu menahan mualnya. 

Kamu menghilang dari manapun. Menyisakan ruang yang hanya terisi kamu dan pikiranmu, menatanya. Satu hari. Kamu masih cemas. Dua hari. Cemasnya masih belum hilang, rencana belum tersusun. Tiga hari. Cemasnya belum hilang, hingga kamu tak sadar bahwa sudah berhari-hari kamu di sana. Berusaha menekan cemas itu agar tak mengganggu orang.

Tapi cemas itu tidak mudah pergi. Ia di sana ketika kamu keluar dari persembunyianmu. Hanya saja dalem fase dorman. Hingga suatu waktu nanti, ia bisa kembali aktif bagai bom waktu. Dan membuatmu cemas lagi.

Kamu cemas. Dan terus cemas. Ketika kamu bercerita ke orang tentang kecemasanmu, reaksi mereka bahkan sama dengan logikamu, sama dengan keinginanmu. "Nggak usah cemas," atau, "nggak usah mikir kemana-mana," atau bahkan, "tidak usah berlebihan,".

Lalu kamu berpikir, bagaimana caranya untuk tidak cemas? Seandainya mudah bagimu untuk tidak cemas. Seandainya mudah bagimu untuk menyuruh kepalamu diam dan tidak lagi mencemaskan hal yang tidak perlu. Seandainya semudah itu, sudah sejak dulu mungkin kamu lakukan, hingga kamu tidak perlu lelah setiap harinya karena cemas.

Seandainya ...

Dan seandainya-seandainya itu membuat cemas bahwa kamu akan cemas di kemudian hari untuk yang ke sekian ratus ribu juta kalinya, untuk hal-hal yang orang lain tidak cemas.

 
 


Rabu, 19 April 2017

Randomly talk

Kamu pernah ngerasa depresi?

Dimana hari-harimu menjadi terasa lebih cepat saat siang dan lebih panjang saat malam. Di saat yang biasa kamu lakukan adalah tidur karena lelah menangis atau terbangun tengah malam lantas menangis lagi. Tidur tidak lagi bisa membuatmu lupa terhadap masalah, karena masalahmu turut masuk ke dalam mimpi. Bertransformasi menjadi sebentuk rupa menakutkan. Membangunkanmu. Tidur yang kamu kira sudah berjam-jam, dan kamu berharap pagi sudah datang ketika kamu membuka mata, pupus sudah. Kamu hanya tidur sekian menit. Sepersekian jam. Dan kamu terbangun lelah setelah berkejaran dengan masalahmu di dalam mimpi.

Kamu terbangun dan menangis. Separuh dirimu tau kamu harus tidur. Separuh yang lain terlalu takut tidur. Separuh yang lain cemas dirinya belum melakukan apapun hingga tak lagi mampu tidur. Bahkan meski kamu memejamkan mata berjam-jam seperti biasanya. Kamu hanya di sana, terjaga, sembari memejamkan mata. Dan itu membuatmu frustasi, hingga yang keluar dari mulutmu cuma isak tangis, yang sudah beberapa hari membersamai malammu.

Lagi-lagi, malam terasa panjang.

Dan saat pagi tiba, kamu bahkan enggan untuk beranjak dari kasur. Sisa mengantuk semalam masih menggelayut. Bercampur dengan keengganan bertemu manusia lainnya. Karena, itu hanya akan membuat depresimu lebih buruk saat kembali. Saat kamu keluar, kamu melihat temanmu yang dengan kerennya berbicara di depan forum. Sementara, kamu merasa tidak mampu. Saat kamu keluar, kamu melihat temanmu tertawa, sementara kamu terpaksa tertawa, karena bahkan kamu lupa caranya tertawa! Saat kamu keluar kamu melihat temanmu berkelakar, tentang betapa jeleknya dirimu saat ini, tapi kamu bahkan tidak bisa menanggapi kelakarnya. Saat itu kamu menjadi 100% yakin akan jeleknya dirimu, secara fisik maupun kepribadian.

Saat kamu keluar, kamu melihat teman-temanmu menyelesaikan masalahmu, satu per satu. Tapi kamu jadi enggan, bahkan, untuk mencampuri masalahmu sendiri. Sudah ada ternyata yang menyelesaikan, pikirmu. Kemudian kamu berpikir, ternyata aku tidak berguna dalam menyelesaikan masalahku sendiri.

And the rest of the day, you just couldn't stop thinking that you are useless. Dan setiap harinya semakin tidak berguna.

Kemudian kamu berpikir, apa nilai gunamu dalam hidup?
Tidak ada.
Apa kamu bermanfaat untuk orang lain?
Tidak.
Apa kamu bahkan berguna untuk dirimu sendiri?
Tidak.
Lalu, buat apa kamu hidup?
Tidak tahu.

Lalu ide itu terasa tepat untuk kondisimu saat ini. Kamu yang tidak berguna, juga tidak jelas hidup untuk apa. Mati mungkin solusi. Diakhiri saja hidup ini lebih cepat, toh kamu hidup dengan tidak berguna.

Tidak ada nilainya. Bahkan untuk dirimu sendiri.

Dalam masa-masa itu, yang orang tahu kamu menghilang dari peredaran. Baik di sosmed maupun di kehidupan riil. Mereka mengira kamu baik-baik saja, atau bahkan kamu sedang berlibur dari semua masalahmu, atau apalah!

Yang sebenarnya terjadi adalah, kamu melawan dirimu setiap hari. Hidup di antara badan yang masih terbangun setiap harinya, dan pikiran yang terus menginginkan kematian. Kamu melawan dirimu setiap hari berusaha untuk menghilangkan pikiran negatif dan merubahnya jadi positif, tapi ternyata bahkan tidak satu pun pikiran positif hinggap dalam otakmu. Kamu berusaha mengingat Tuhan, tapi bahkan kamu tidak tahu Tuhan dimana, seperti apa, dan kenapa masih membiarkanmu hidup!

Dan segala pelajaran tentang Tuhan sejak kecil itu, menguap entah kemana. Meski kamu tetap berusaha mengingatnya.

Yang orang tahu, kamu hanya menghilang. Menjadi orang asosial atau sombong. Dan mungkin, tidak sedikit juga yang menganggap kamu sudah enggan mengkontak mereka karena tidak penting.

Kamu pernah?

.
.
.
Salatiga, 19 April 2017
Karena depresi bersifat reversible, dan laten. Yang tahu hanya si orang tersebut. Karena perjuangan orang melawan apa, tidak semua orang tahu.

Kamis, 09 Maret 2017

Di rumah

Di rumah, kamu bukan aktivis dakwah yg kudu syuro ke sana kemari
Di rumah, kamu bukan Murobbi,
Di rumah, kamu bukan anggota aktif ataupun sekretaris Forum Lingkar Pena wilayah DI Yogyakarya
Di rumah, kamu bukan eks ketua bimo forsalamm

Di rumah,
Kamu cuma anak bungsunya Bapak Ibu
Juga Adik paling kecilnya Mbak dan Mas.

Di rumah,
.
.
Ternyata senyaman ini.

.
.
.
.
Tau gitu pulang dari dulu yah, tyani?

Stasiun Pasar Senen, Jakarta.
9.03.2017. 20.24.
Tidak ingin beranjak pergi.