Jumat, 09 September 2016

Tujuan

Kalau kita nggak punya tujuan, atau nggak tujuan kita apa, ya kita bakal terus-terusan muter-muter aja di sana, kesasar, muter lagi, Alhamdulillah kalau sampai pada tempat yang baik, kalau nggak?

#Kudukuat

Senin, 29 Agustus 2016

Berita Pernikahan

Menyambung, dan menyempilkan dari postingan sebelumnya tentang wisuda, ternyata di tengah hiruk pikuk kabar wisuda ini, ada kabar yang nggak kalah bahagia datang dari seorang teman. Dirinya akan menikah bulan depan. Sejak dua pekan lalu, kita-kita (gycen) yang di jogja sudah mulai menebak-nebak siapa yang akan menikah. mulai dari si A lah, si M, si M kedua wkwkwk .. tapi memang nggak ada yang bener. Pikiran kita seringkali melayang pada ukhti-ukhti jilbab lebar kalo terkait dengan 'menikah muda', pada kenyataannya temen saya yang mau nikah ini bukan tipikal 'ukhti-ukhti berjilbab lebar dan ikut halaqah pekanan'. wkwkwk ...

wallahu a'lam kenapa, tapi pun di kampus, di kalangan teman-teman yang nggak berjilbab bahkan,  juga acapkali 'mbak-mbak yang sering ikut halaqah dan rajin datang pengajian' itu terlabel dengan 'pasti menikah muda'. Jadi, asa ada berita yang mau nikah, kita-kita, yang halaqah ini sering jadi tertuduh yang menikah duluan. Padahal mah ya, ternyata saya dan beberapa teman yang halaqah ini, udah keduluan kok sama teman-teman yang lainnya. Saya yang kalem ini juga udah keduluan sama yang lebih petakilan daripada saya (temen Mts sih ini). Terus, orang-orang semacam Nikari-yang-biasa-menasehati-tentang-pernikahan juga udah dilangkahi sama orang-orang yang mungkin lebih memilih 'jalanin aja dulu pernikahannya' wkwkw.

weleh, malah jadi rasis. Saya salut dengan teman-teman yang sudah mampu memutuskan untuk menikah lebih cepat dari kebanyakan orang. Yang menikah sambil kuliah, ataupun yang menikah sembari koas (kayak temen saya yang akan menikah bulan depan ini). kuliah dan koas ini sendiri bukan hal yang mudah untuk dihadapi. Apalagi ditambah dengan rempah-rempah rumah tangga, yang juga pasti bukan hal yang mudah. Belum lagi yang sudah menikah, sambil kuliah, sambil organisasi, sambil kerja.

Dulu Fitri pernah tanya, yang saya juga nggak tau jawabannya apa, "Ty, gimana sih caranya tau kita siap nikah?" waktu itu saya jawab sembarang aja. Tapi mungkin, ketika kita siap nanti, akan tau sendiri. Ketika siap untuk memikirkan tidak hanya diri sendiri, tapi juga diri orang lain yang akan jadi pasangan kita, juga yang bakal jadi anak-anak kita nantinya. Saya juga nggak tau sebentuk siap menikah itu seperti apa. Kriteria umum dan khusus nya ada atau nggak. Tapi, saya jadi inget katanya Nikari, yang itu kata sepupunya, kira-kira begini redaksinya, "suatu saat nanti kita akan butuh untuk menikah, bukan karena teman-teman kita yang lain udah pada nikah atau bukan karena kita terus ditanya, 'kapan nikah?'"

Tapi, mungkin untuk mencapai kesiapan dan kebutuhan seperti yang dibilang Nikari, butuh tahapan, dan butuh kejadian, apapun kejadiannya. Dan masing-masing orang berbeda. Jadi mungkin, pertanyaan "Apa sih yang membuat seseorang siap menikah?" tidak bisa ditanyakan ke orang lain. Tapi ditanyakan pada diri sendiri.

Btw, baarakallahulakumaa wa baaraka 'alaykuma wa jama'a baynakumaa fii khayr Eja dan calon suami :) Pernikahan ke -5. maaf ya, kami bahkan nggak terbersit sedikit pun kalo kamu yang bakal nikah --" . semoga dilancarkan segala urusan sampai hari H dan seterusnya.

Wis, udah : Refleksi Mahasiswa Tingkat Akhir #1

Rentang periode Agustus-September ini, nggak cuma satu dua orang teman saya yang telah menyelesaikan studi sarjana satunya. Alhamdulillah wa baarakallah. Semoga ilmunya berkah, bagi dirinya, juga bagi orang lain. Saya -yang sudah mulai kehilangan semangat untuk kuliah dan menyelesaikan studinya ini, mau nggak mau keseret-seret untuk segera menyelesaikan tugas akhir karena gemes ditanyain mulu, "Kamu sih kapan wisuda?" atau bahkan ada yang ngasih selamat, meski skripsi belum tersentuh sejak seminar proposal beberapa bulan lalu, "Selamat ya Kak ..." terus dilanjutin, "Selamat siang .." -______-

Memang, kondisi dimana kita sudah-nggak-ada-kelas-lagi-dan-tinggal-ngerjain-tugas-akhir sebenarnya adalah kondisi berbahaya, terutama buat saya. Begitu ada jam-jam kosong, rasanya pengen dipenuhin, dengan les ini, les itu, ikutan nyantri di sini dan sebagainya -sebagai kompensasi waktu yang saya sulit dapatkan selama masa kuliah yang padat dan penuh reschedule.

Tapi, ya gitu, ketika waktu-waktunya sudah dipenuhi, justru, skripsi ini nggak kepegang. Kadang saya berpikir, kenapa segitu susahnya ngerjain skripsi, sementara saya suka banget nulis. Kenapa segitu susahnya ngerjain skripsi, sementara, saya merasa segitu menyenangkannya mengerjakan karya tulis ilmiah waktu MTs dan MA (iyakah? haha). Dan, meski seringkali kesulitanya itu sebenarnya datang dari diri sendiri yang kurang baca, plus menunda-nunda; tapi kadang-kadang malah jadi menyalahkan yang lain, dosennya beginilah, topiknya lalalili lah dan seterusnya, dan seterusnya.

Padahal, kata Bapak, "Semakin ditunda akan semakin berat,"

well said. Memang begitu ternyata, semakin saya menunda, semakin semakin semakin berat terasa. (tapi tetep aja nggak dikerjain, wkwkwk).

Sebenernya masih pengen nulis banyak seputar ini sih. Tapi malah ngebundet di pikiran. wis, udah, pokok e dikerjakan sik ....

Rabu, 17 Agustus 2016

Mencapai Bintangku [Tata AFI Junior]



kulihat malam terbentang
berhiaskan sribu bintang
diantara bintang yang bersinar
satu pasti milikku
walau jauh dan tak terbatas
pastilah didirku mampu

doa dan restumu
bagaikan seribu sayap
menghantarku membumbungku
terbang melayang
meraih bintang yang bersinar
di langit tinggi
mencapai bintangku
pasti akan kugapai cita cita

kerlipmu mengajaklu terbang
menggapai cita masa depan
diantara bintang yang bersinar
satu pasti milikku
walau jauh dan tak terbatas
pastilah didirku mampu

doa dan restumu
bagaikan seribu sayap
menghantarku membumbungku
terbang melayang
meraih bintang yang bersinar
di langit tinggi
mencapai bintangku
meraih cita cita

meraih bintang yang bersinar di langit tinggi

Kamis, 11 Agustus 2016

Jangan Kalah

Kalau kamu malas, kamu udah kalah sama diri sendiri. Kalau sekarang aja kamu udah kalah, ke depannya kamu bisa terpuruk. Dunia pasca kampus itu lebih sulit lagi perjuangannya. Lebih heboh lagi ujiannya. Jangan kalah.

-Bapak, sembari menunggu kereta datang.

di rumah memang menyenangkan. Tapi kadang melenakan. Karena amal saya nggak di sini.

*bersiap kembali beramal.
Semoga Allah menguatkan hati-hati yang lemah akan dunia.

Rabu, 10 Agustus 2016

Kebersihan Sebagian dari Iman

Seminggu lagi Kak Nda akan masuk SMP di sebuah pondok pesantren. Dan hari ini Bunda mengajak Kak Nda belanja kebutuhan untuk sebulan. Tadinya, Bunda hanya mengajak Kak Nda biar nggak ramai. Tapi eh tapi, entah kenapa semuanya jadi ikut. Adik yang pertama rewel minta diajak, akhirnya Abi memutuskan belanjanya habis Abi pulang dari kantor. Dan jadilah semua ikut, bahkan Bang Dya yang sebenarnya diam saja.

"Sini Kak, Kakak mau deterjen yang kayak gimana?" Panggil Bunda. Kak Nda menghampiri diikuti Adik.

"Nggak tau Bun, baiknya yang kayak gimana? Kalau yang kayak di rumah gimana?" Kak Nda balik bertanya.

"Hmm, kalau di rumah kan kita pakai mesin cuci. Kalau besok Kakak di pondok nggak ada mesin cuci, Kak. Harus nyuci sendiri pakai tangan, kayak pas dulu Bunda ajarin. Jadi, milih deterjennya yang nggak panas di tangan aja. Nah, misalnya ini." Bunda mengambil satu deterjen dari jejeran deterjen.

"Hmm, wangi ya Bun!" Seru Adik tiba-tiba.

Bunda tersenyum, "Iya Dik, wangi. Tapi ya Kak, Dik, sewangi apa pun deterjennya, kalo kita bilasnya nggak bersih, jemurnya belum kering udah diambil, atau bahkan jemurnya kelamaan sampai berhari-hari, baunya malah jadi apek."

"Oh gitu Bun?" Ujar Kak Nda dan Adik hampir bersamaan.

"Kakak kispray-nya mau yang mana?" Tanya Bunda lagi.

"Hmm, yang mana Bun. Kakak bingung. Banyak banget yang harus dipilih. Deterjen, kispray, pewangi, shampoo, sabun, odol ..." Kak Nda mulai menghitung dengan jarinya.

Bunda tertawa kecil, "Kan Kak Nda bakal hidup nggak sama Bunda sampai tiga tahun ke depan. Jadi nanti, untuk bulan-bulan berikutnya Kakak nggak bingung lagi kalau menentukan mau pakai deterjen yang mana, sabun yang mana, sampo yang mana, daan lain hal. Ini baru Kakak mau masuk pondok, belum kalo Kak Nda nanti jadi ibu, lebih banyak lagi Kak yang harus dibeli dan dipilih sebaik mungkin untuk keluarga." Jelas Bunda.

"Iih, Bunda, Kak Nda masuk SMP aja belum..." protes Kak Nda. Bunda tertawa lagi. Sebenarnya ada sesak sedikit terselip dalam tawa Bunda. Belum rela melepas anak sulungnya untuk hidup jauh dari dirinya.

"Kak, shampo-nya mau disamain aja sama di rumah?" Tanya Bunda lagi.

"Iya deh Bun, Kakak bingung sih."

"Kak, nanti pas di pondok itu, kegiatan dan jadwalnya kan sudah diatur. Jadi, Kak Nda dikira-kira ya waktunya cukup atau nggak kalau mau shampo-an. Jangan rambutnya masih basah, eh gara-gara mepet mau kegiatan terus langsung pakai jilbab, Nanti malah Kakak bisa pusing. Bisa ketombean jiga Kak rambutnya kalau kayak gitu. Bahkan mungkin bisa kutuan. Kakak nggak mau kan rambutnya kutuan? Nanti gatel terus loh."

"Hiii, nggak mau Buun.."

"Iiih, kutuuu..." seru Adik menambah dramatis pernyataan Bunda.

"Tapi, jangan nggak keramasan juga cuma gara-gara kegiatannya sangat padat. Sepadat-padatnya kegiatan, kalau kita mau meluangkan waktu pasti ada waktu kok Kak. Paling nggak tiga hari sekali lah ya keramas. Jangan nggak keramas, nanti bau rambutnya, eh malah mendzholimi temen sekamar."

"Iya, Bun ..."

"Kalau kata pepatah arab, Kak, menjaga kebersihan itu sebagian dari iman. Dengan menjaga kebersihan lingkungan, kita jadi nyaman buat beribadah, buat belajar, juga buat istirahat. Tapi Kak, jangan lupa juga untuk menjaga kebersihan diri. Dengan menjaga kebersihan diri, kita menjaga hubungan kita dengan orang lain; karena orang lain nyaman dengan kita yang bersih."

"Menjaga hubungan itu maksudnya gimana Bun?" Celetuk Adik tiba-tiba.

"Iya Adik, coba deh misalnya, Bunda nggak mandi berhari-hariii, terus nggak nggak ganti baju berharii-hari, nggak keramas, nggak sikat gigi, pokoknya jorok deh. Adik mau nggak deket-deket sama Bunda?"

"Hiii ... berkutu lho Bunda!" Seru Adik,

"Hahaha, iya gitu jadi Kak, Dik. Dengan menjaga kebersihan diri sendiri kita sedang memberikan hak tubuh kita, juga sedang menjaga persahabatan kita dengan orang lain. Dan lagi ya Kak, kita kan nggak tau jalan rejeki kita, bisa jadi dengan menjaga kebersihan ini ada rejeki yang Allah kasih ke kita."

"Eh maksudnya gimana Bun?" kali ini Kak Nda yang bingung.

"Jadi, siapa tau orang yang nyaman dengan kita karena diri kita bersih, itulah yang akan membantu kita waktu kita susah, ya kan nggak tau kan Kak?"

"Ooh .." Kak Nda manggut-manggut. Pun Adik, meski masih belum terlalu paham penjelasan Bunda. Bunda gemas, kemudian mengelus-elus kepala Kak Nda dan Adik.

"Bun, udah belum belanjanya? Abang laper Bun ..." Tiba-tiba Bang Dya yang sedari tadi liat-liat alat tulis ditemani Abi datang menghampiri. Mungkin lelah menunggu ketiga perempuan ini belanja sekaligus ngobrol.

"Ahaha, sudah yuk. Sudah semua kan ya Kak Nda? Kita makan habis ini." Ajak Bunda.

"Ayuk Buun!" Jawab Kak Nda dan Adik. 

*** 

Untuk Kak Nda, Bang Dya, dan Adik, selamat mengeksplor dunia :)
Menjaga kebersihan berarti kita sedang menunaikan hak atas diri sendiri.