Tampilkan postingan dengan label FLP Jogja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label FLP Jogja. Tampilkan semua postingan

Selasa, 14 Juni 2016

Namanya Rayhan

Rayhan ini seorang adik di kelas Sanggar Menulis Cahaya, Perpustakan Kota Yogyakarta. SMC ini adalah program kerja sama antara Forum Lingkar Pena Yogyakarta dengan Perpustakaan Kota. Sudah sekitar sebulan ini saya menjadi tentor menulis di kelas hari Jumatnya, meski sebenarnya kemampuan menulis saya masih sangat jauh dari kata Kece. Dan di sanalah saya bertemu dengan banyak adik, salah satunya Rayhan ini.

Rayhan sebenarnya sama seperti anak SD laki-laki pada umumnya, yang belum tentu penurut, suka ngejahilin teman-temannya, pun ditambah dia suka protes. Yang protes "Mbak, udah dong Mbak, ndang ditutup, ayo mulih." atau "Mbak, uwis tho Mbak, aku arep main komputer," atau "Mbak, aku wegah nulis," dan sebagainya. Nggak sekali dua kali juga teman-temannya dijahili, terutama teman-teman perempuan, yang acapkali menimbulkan adu mulut yang heboh antara dia (saja) versus teman-teman putrinya di kelas. 

Tapi, seprotes-protesnya, ada suatu hari dimana saya kagum sekali sama anak ini. Dibalik kelakuan bocahnya dia; ada kedewasaan yang sampai sekarang saya masih wow. Haha. Jadi, di kelas saya ini saya menerapkan sistem bintang. Satu bintang untuk setiap satu tulisan yang ditulis di buku tugas mereka; entah itu ditulis hari H, ataupun ditulis saat di rumah. Setiap kali terkumpul 5 bintang, yang itu artinya terkumpul 5 tulisan; maka boleh ditukar dengan satu item berupa alat tulis ataupun buku dengan budget yang setara. Di awal, saya tidak bilang ke adik-adik akan ditukar dengan apa 5 bintang itu. nah, ketika, sudah banyak adik yang bintangnya hampir mencapai 5, adik-adik yang perempuan ribut bertanya, "Mbak, Mbak bintangnya ditukaer apa Mbak?" Bahkan ada yang protes (meski barangnya belum dikasih), "Mbak, jangan alat tulis doong," dan yang semirip itulah. Tiba-tiba ditengah riuh rendah itu Rayhan nyeplos, "Uwis tho, wis dikasih ki bersyukur, iso ne protes wae," Masya Allah, adik sekecil ini -kelas 5 SD saja sudah paham konsep bersyukur; dan belakangan saya tahu bahwa nilai Rayhan di sekolah sebenarnya masih di bawah teman-teman putri (yang satu sekolah dengannya); tapi ia tidak lepas dari kata bersyukur itu.

Satu hal lagi yang membuat saya terenyuh adalah, pertemuan pekan lalu, bintang Rayhan sudah mencapai 5, yah dengan berbagai macam tulisan. Yang paling panjang adalah ketika dia menuliskan tentang perang Baratayudha, mecapai 2 lembar buku tulis yang besar. Dan yang paling pendek paling hanya 3 baris. Tapi tetap saya kasih bintang, apresiasi atas usahanya dan keinginannya untuk datang ke kelas dan menulis, di saat teman-temannya yang putra sudah mulai malas datang ke kelas. 

Karena hari itu juga kondisi badan saya lagi agak tidak fit, jadi saya hanya menjabarkan sedikit materi, lalu membebaskan adik-adik mau menulis atau mau membaca, kalau sudah selesai baik itu menulis atau membaca silakan lapor ke saya untuk dapat bintang yang lainnya lagi. Rayhan waktu itu memilih untuk membaca, saat selesai di lapor -yang saya minta untuk menceritakan ulang tentang buku yang ia baca. Selesai itu, dia tiba-tiba bilang, "Mbak, aku uwis limo yo bintange",

Saya bilang, "Iyaa, Ray, mau dituker apa?"

Dia jawab (sambil gambar di kertas presensi saya), "Mbak, bintangku dituker spidol 12 warna yo; kanggo adikku. Adikku ngegambar soalnya Mbak." lagi-lagi saya dibuat terpukau; di saat-saat teman -teman lainnya sibuk mengandai-andai item apa yang akan jadi milikinya, Rayhan ini justru minta sesuatu dan sesuatu itu bukan untuk dirinya, tapi untuk adiknya. Di balik segala keributan yang ia buat, ia adalah seorang penyayang. Penyayang pada Rabbnya, juga pada manusia. 

irham man fil ardhi yarhamka man fiissamaa'i   
Sayangilah olehmu yang ada di bumi, maka kamu akan disayangi oleh Yang Di langit.

Saya bersyukur waktu itu saya mengambil tawaran menggantikan Mbak Lian untuk jadi tentor menulis di SMC ini, hingga akhirnya saya belajar banyak dari adik-adik ini, dan salah satunya adalah Rayhan ini. Jangan kapok ya dek, haha :)

Belajar dari mana pun. Belajar dari apa pun. Belajar dari sekarang. Selamat berproses menjadi lebih baik. :)
#29HariMenulisCinta
Ketinggalan kemarin.
Btw, sebenarnya ini tulisan hari jumat, baru selesai sekarang --"

Sabtu, 30 April 2016

Orang-orang Keren

Sebenarnya nggak hari ini saja saya merasa berada di antara orang-orang keren, orang-orang yang kece badai. Mungkin kesadaran itu saya dapat karena saya masuk IC, dan lulus dari sana.

Di IC, temen-temen saya itu meski keliatannya petakilan, ngeselin, jayus, aneh, nggak jelas, tapi mereka itu orang-orang yang namanya hampir nggak pernah absen dari prestasi, baik saat di IC ataupun di kampus. Mulai dari OSN sampai yang skala internasional. Terus, di kampus juga nggak kalah ... Ada juga yang tiap tahunnya jadi pengajar OSN di sekolah entah apa, dan anak didiknya juga sampai taraf OSN. Ada juga yang tiap tahunnya ke luar negeri untuk exchange (eh, ada nggak ya? hehe). Ada juga yang tiap tahunnya ikut PIMNAS. Ada... dan itu nggak cuma satu dua orang.

Itu temen-temen IC. Sekarang pun, di lingkungan teman-teman kampus, Bimo Forsalamm, pun teman-teman FLP juga, isinya orang-orang keren sampai bikin saya minder. Pake banget.

Mungkin nulis gini efek dari kemarin dapet kabar seorang adek di bimo mau ngisi seminar internal. Terus minggu lalu juga dapat kabar seorang adek di FLP jadi semifinalis lomba paper. Terus beberapa waktu lalu juga dapat kabar seorang adek yang lain pergi ke Jepang untuk exchange. Dan lain lain, dan lain lain

Dan di posisi saya saat ini di bimo forsalamm pun -tanpa sengaja- ternyata saya merekrut orang-orang yang lebih kece dari saya .-. ... yang lebih banyak karyanya dari saya, yang ilmu kepenulisan dan jurnalistiknya lebih mantep dari saya ....

pun di FLP juga ... haha. Terus rasanya pengen menyeduh diri sendiri, katena tetiba ngerasa jadi butiran jasjus -yang tinggal diseduh aja jadi .. T^T

meski minder -luar biasa amat sangat minder dengan orang-orang kece di sekitar saya; tapi saya bersyukur ada di lingkungan ini. karena saya jadi banyak belajar dari orang-orang kece ini. Meski saya nya belum kece kayak mereka, semoga suatu saat nanti saya bisa juga jadi orang keren; dan bikin orang lain juga jadi keren :"

*btw, punya rasa minder yang kebangetan itu agak menyulitkan langkah untuk bergerak. jadi, jangan ditiru ya haha
**dan, btw lagi .. sebenarnya saya juga nggak punya patokan dan definisi yang pakem dan jelas tentang apa itu keren, wkwkwk ... tapi percaya deh kalo kalian kenal orang-orang yang saya kenal, pasti kalian juga akan merasa mereka sangat keren.

Senin, 11 Januari 2016

Anak-Anak Senja







Tak ada senja yang tak indah, jika bersamamu
Anak-anak Senja ...

9.1.2016
Kebun Binatang Gembira loka
D.I. Yogyakarta

Minggu, 04 Oktober 2015

Menjadi Peduli

Tertanggal kemarin malam, seorang teman mengepost di salah satu grup whatsapp, seperti ini : Mau nanya

"Tak usahlah kita memperdulikan orang yang tak peduli dengan kita"
 adakah yang salah dengan kalimat ini?
*jawab besok aja kalau berkenan

Pertanyaan ini teggelam oleh pengumuman lomba menulis  akhirnya. Sebenarnya saya punya pemikiran tentang ini, tapi saya sepertinya enggan muncul di grup massal selain untuk memberi emoticon terompet (haha).

Saya juga pernah punya pertanyaan yang sama. Dengan kalimat yang sama, tapi yang kalimat 'jawab besok aja'-nya nggak ada. Haha. Di satu sisi, seperti jawaban seorang teman, nggak ada yang salah dengan kalimat ini. Tapi toh ini semua bergantung pada individu masing-masing akhirnya. Bergantung pada pilihan hidupnya, because life is choice. Apakah ketika ada yang kita akan tetap memperdulikan orang yang bahkan nggak sedikit pun peduli dengan kita, atau kita memilih bersikap yang sama dengan orang tersebut. Dia tidak peduli dengan kita, so, kita juga tidak perlu peduli dengan mereka.

Kalimat ini pun, salah atau tidaknya akan bergantung pada konteks situasi dan kondisinya. Saya merasa kalimat ini sangat salah ketika konteksnya adalah mengajak kepada kebaikan dan melarang pada kemunkaran, atau lebih simpelnya bolehlah disebut dalam dakwah. Dalam berdakwah, orang setidak peduli apa pun, toh kita tetap harus, wajib, kudu, berdakwah ke orang tersebut, karena kita nggak tau pintu hidayah yang mana yang akan dibukakan oleh Allah untuknya. Rasulullah pun begitu, tetap mengajak orang-orang mentauhidkan Allah, meski orang-orang tersebut menolak, juga tidak peduli alias abai. Kita pun, sebagai pewaris risalah para nabi punya kewajiban yang sama. Memperdulikan orang yang tidak peduli. Membuat orang-orang yang tidak peduli ini agar jadi peduli. Dan jangan sampai yang sudah peduli malah jadi nggak peduli.

Saya jadi ingat waktu forum pekanan, di suatu pagi, dimana kami membahas tentang kesabaran, ada salah seorang teman yang bilang, bahwa 'mengajak orang itu nggak ada kata selesai, nggak ada kata orangnya udah nggak bisa diajak lagi, atau orangnya udah nggak bisa diapa-apain lagi nih', kalau sudah begitu, berarti kitanya yang mungkin sedang lelah. Orang itu masih bisa diajak sebenarnya, setidakpeduli apapun ia, kita mengenal Umar bin Khattab, kita mengenal Khalid bin Walid yang sangat memusuhi Islam, tapi berkat kesabaran Rasulullah dan para sahabat dalam mengajak pada ketauhidan, akhirnya Allah membukakan pintu hati keduany hingga kini kita mengenalnya sebagai salah satu sosok sahabat Rasul yang sangat membela Islam.

Iya itu. Tapi kalo konteks lainnya adalah misal kita mau pakai baju, atau kita mau presentasi atau apa, terus kita mengkhawatirkan presepsi orang alias kita takut dengan tanggapan orang, padahal orang lain juga belum tentu peduli atau bahkan nggak peduli sama sekali, ya yang kayak gini mah buat apa peduli. Eh, atau ini jadinya malah 'Tidak usah memperdulikan tanggapan orang, toh mereka belum tentu peduli'. Haha. Yah, jadi beda konteks deh. Haha.

Yah, pokoknya intinya gitulah.

Kamis, 09 Juli 2015

Buka Puasa Bareng selama di Jogja, Ramadhan 2015




2 foto di atas waktu buka puasa bareng JSC Crew, salah satu acaranya FLP,  di kafe Kalender :) ~

Yang di atas ini waktu reuni sama anak-anak kelas Olymp, MTs PPMI Assalaam. Dan sekarang kelas olymp sudah ditiadakan, haha ~ cuma tiga generasi. Dan orang-orang ini adalah generasi kedua ~


2 foto di atas waktu buka bareng gycen jogja di rumah Imaw (lagi), yang sudah bisa dipastikan berlimpah makanannya walopun kita nggak ngeluarin duit sepeser pun haha ~


2 foto di atas waktu buka puasa bareng anak-anak SELUSIN, Forsalamm 2012, di PPMi Asma Amanina, dengan game yang nggak jelas bikinan Nadiyah, dengan orasi dari Fajar (emang orasi apaan? .-.), dengan soto dan berujung pada dikerjain sama Nina T.T


2 foto di atas diambil pas waktu buka bareng anak-anak HAMKA (kelompok PDKT FLP XV) plusplus di rumahnya Mbak Ines, Banguntapan Bantul. Sebenernya masih ada 45 foto lain yang masih tersimpan (sampe capek fotonya T.T, haha), tapi saya ambil yang menurut saya paling jelas aja haha ... merasakan taraweh dalam 30 menit, yang udah waswas karena suara imamnya nggak kedengeran, plusplus serunya ketawa bareng temen-temen HAMKA hahaha

Foto terakhir diambil pas waktu buka puasa bareng IAIC Joglosemar regional Jogja di rumahnya Kak Chendra dan Kak Ica (pasangan IC-IC nih, haha) ~




Yaudah itu aja sih, cuma pengen pamer kalo Ramadhan tahun ini masih selo (soalnya belom tentu Ramadhan tahun depan seselo ini T.T, doakan akan koas, amiin), *dasartukangpamer* haha ... 
Dan lagi, sayanya karena ada detlen nulis, sementara saya belum menulis apapun di word yang sedari kemarin masih kosong dengan latar warna ungu ... saya harus nulis apa ya? .-.