November tahun ini, saya berjuang menyelesaikan stase obgyn yang luar biasa. Luar biasa jaganya (sekali shift 30 jam), luar biasa konsulen-konsulennya, luar biasa tugas-tugasnya, dan sudah barang tentu luar biasa capeknya -fisik maupun mental. it took so much energy just to wake up in the morning, and then went straigth to the hospital to have morning shift. Saya, mungkin selama koas 6-7 bulan ini, paling banyak nangis ya pas obgyn ini. (nggak tau ya besok-besok gimana, hehe). terus udah gitu masih mikir, 'kok ada ya orang masih mau jadi spesialis obgyn?' wkwkw -ini mah emang dasar saya nya aja yang males wkwkw.
Di November-november sebelumnya, saya nggak menyangka saya ada di tahap ini. Masuk koas, ketemu temen-temen baru. Kesulitan mencari jadwal liqo. Pulang dari RS langsung tidur. Kadang-kadang saya masih merasa ini nggak nyata. Kehidupan koas saya seperti masih di angan-angan.
November tahun sebelumnya, di tanggal-tanggal segini saya sedang sibuk menyiapkan seminar hasil, kemudian sidang skripsi seminggu setelahnya, dan revisi-revisi. Sidang-yang saya nggak bilang siapa-siapa selain Allah dan afifah (wkwk). Saya bahkan nggak bilang ibu bapak dan keluarga, just because-kalau saya bilang, saya takut orang-orang akan mulai bilang, 'santai aja, tyani, besok tuh bakal ... bla bla bla ..' atau saya takut orang-orang akan mulai meledek 'ciee yang mau sidang' dsb dsb, yang akan bikin saya kepikiran banget kalo saya mau sidang lalu setelahnya koas. And that's why saya baru bilang-bilang dan mengumumkan ke orang-orang justru setelah saya selesai sidang. itupun ke orang-orang kontrakan, ke temen liqo, sama ke keluarga aja. Jadi masih banyak yang tanya, meskipun setelah sidang, 'Tyani, apa kabar skripsinya?' lalu saya bisa jawab, 'Alhamdulillah, baik.'
November sebelumnya lagi, saya sedang berjuang melawan kecemasan yang berlebihan akan skripsi saya yang nggak maju (dan ditambah kecemasan-kecemasan terkait organisasi, jabatan, dan lain sebagainya juga) yang membawa saya pada pengalaman berharga yang saya nggak mau ngulangin lagi : Depresi. Meski depresi ringan, tapi nggak ringan untuk yang menjalankan. di malam-malam di mana saya jatuh tertidur cepat dengan harapan saya nggak terbangun malamnya, tapi justru sebaliknya. Saya bangun satu jam sejak saya tidur, kemudian tidak bisa tidur lagi hingga pagi. di jam-jam di mana saya terbangun itulah dimana pikiran-pikiran negatif masuk tanpa filter.
it was scary. Dan kalau bisa, tidak usah terulang lagi.
di November-november sebelum tahun ini, saya benar-benar tidak berani memikirkan bahwa saya sedang koas, menjalani keseharian di rumah sakit dalam kondisi tertekan.
Tapi kenyataannya hari ini, November tahun ini : saya sedang koas, dalam kondisi tertekan setiap harinya di rumah sakit, but it's okay. it's okay.
ps : saya menantikan november-november lainnya di tahun-tahun berikutnya. tidak ada maksud khusus sebenarnya tentang november, tapi entah kenapa ada banyak kejadian di bulan november.
Tampilkan postingan dengan label Random. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Random. Tampilkan semua postingan
Rabu, 14 November 2018
Sabtu, 31 Desember 2016
Mencapai Ujungnya #2
Sementara saya bengong, bimbang, bingung, waktu tetap berjalan. Semakin terasa cepat setiap harinya. Tau-tau, 2016 sudah mencapai ujungnya.
Sementara TV saya menyala menyetel film High Strung, laptop saya memutar lagu-lagu pentatonix, dan HP bergetar perkara notif-notif yang entah penting entah tidak, waktu tetap berjalan. Pun ketika saya menulis atau pun tidak.
2016 sudah mencapai ujungnya.
Sepanjang tahun 2016 ini, rasa cemas dan depresi silih berganti datang. Ya, pokoknya kondisi saya kalau tidak sedang cemas ya sedang depresi. Kadang-kadang saya mual, kadang-kadang saya muntah. Sesekali pula menangis tanpa sebab. Sesekali yang lain saya cuma diam menghadap laptop. Sesekali ingin berteriak kencang. Sesekali hanya berguling-guling.
Saya merasa tidak bergerak sesenti pun dari sejak saya masuk tahun 2016 hingga kini. Skripsi saya gitu-gitu aja. Blog pun jarang terisi. Bimo forsalamm nggak maju-maju juga. Urusan di FLP pun begitu-begitu aja. Saya banyak menghilang tahun ini. Menghilang dari peredaran sosial media mau pun forum-forum ketemu langsung. Kapasitas diri pun tidak banyak ter-upgrade. Kalau sudah seperti ini, jangan tanya soal ruhiyah dan tarbawi.
Saya banyak nggak jujur sama diri saya tahun ini. Saya banyak menyalahkan diri saya sendiri tahun ini. Saya banyak iri dengan orang lain tahun ini. Saya membenci diri saya sendiri tahun ini. Saya banyak nggak bersyukur tahun ini.
Dan saya merasa sangat buruk rupa tahun ini.
Saya melupakan betapa menyenangkannya menulis. Membayangkan setiap adegan dalam kepala dan menceritakannya kembali pada khalayak melalui tulisan.Yang ada di kepala saya cuma dua ; (1) kenapa saya sangat nggak mau ngerjain skripsi (sampai pada taraf 'rasanya pengen nggak lulus aja'), dan (2) gimana caranya ngejalanin amanah saya tanpa merasa bahwa itu beban?
well, tapi saya ngerasa ya hal-hal itu pada akhirnya cuma ngeblunder di kepala. Saya lari terus dari kenyataan. Saya lari dari amanah, saya lari dari skripsi. Saya lari dari diri sendiri. Saya nggak pernah benar-benar ambil langkah ataupun sikap terhadap diri saya. Katanya, kalau kita nggak keras sama diri kita sendiri, lingkungan akan keras pada kita. Dan, itu mungkin yang saya rasakan selama 2016, terutama pada 6 bulan terakhir.
Semakin saya berpikir skripsi, semakin saya nggak mau ngerjain. Dan semakin saya mikir bahwa amanah bukan beban, semakin saya kebebani. Saya mikir : saya kenapa?
Ada apa dengan saya? Saya nggak menikmati membaca maupun menulis. Kalau pun saya baca, it's all just an act. Kalau pun saya nulis, rasanya nggak dari hati dan nggak jujur. something is wrong.
Terus saya keasyikan mikir tentang kenapa saya hingga akhirnya banyak hal yang terbengkalai selama 2016 ini. Saya depresi, tapi nggak berani ngomong sama siapa pun. Kalo di depan orang tetep aja senyum. Tetep aja ketawa, begitu ditinggal sendirian nangis. Mau cerita sama orang bingung, orang saya sendiri aja ga tau saya kenapa. Dan seringnya takut mengganggu. Mau cerita ke Bapak takut, takut buat khawatir.
Kemudian suatu ketika, di masa-masa di mana saya benar-benar depresi, saya sholat. Saya meyakinkan diri saya sendiri buat jujur sama Allah. Jujur sama diri sendiri. Saya cerita semuanya (ya meski tidak terlisankan), saya minta bantuan sama Allah. Nggak tau bentuknya apa, terserah Allah aja. Karena saya tahu kalau saya mencoba menyelesaikan pikiran saya sendirian saya tidak mampu.
Selang dua atau tiga hari, saya bertemu dengan seorang senior di FLP, Uni Yova namanya; dan di situlah saya merasa, ini nashrullah; ini pertolongan Allah yang saya minta (ternyata memang semudah itu minta sama Allah, semudah itu Allah kasih; tinggal kita mau minta atau nggak, kita mau memantaskan diri untuk dikabulkan permintaan kita atau nggak). Kembali tentang Uni Yova, Beliau sedang menyelesaikan magister psikologi klinis. Waktu tinggal berdua aja, Uni langsung tanya, "Dek, gimana?" Dan tumpahlah semua keluhan ditambah tangisan (padahal itu di perpusat T.T). Singkat cerita, Uni mengambil kesimpulan, "Dek, kamu itu sebenarnya nggak mau ngerjain skripsi atau udah nggak mau lulus?"
Saya mikir, saya mikir, saya mikir.
Dan setelah dipikir-pikir (meski sudah malas mikir), saya berkesimpulan bahwa sebenarnya yang membuat saya nggak mau skripsi bukan karena topik tidak menarik, tapi karena saya sudah nggak tertarik dengan lulus. Selidik punya selidik, ini bermula dari niat saya yang sudah nggak lagi lurus.
Begini, mungkin orang mikir, apa sih lebay banget. but, hey, niat itu sama dengan tujuan. Awal kita menetapkan niat adalah awal kita menetapkan tujuan. Tapi memang, niat yang sepaket dengan tujuan ini perlu diperbaiki dan diperbaharui setiap harinya, karena hati manusia mudah berubah dan terombang-ambing. Karena hati manusia mudah ragu, mudah bimbang.
Waktu itu, Uni Yova bilang, "Kalo aku sih, Dek, sekarang ngerjain thesis udah bukan buat siapa-siapa lagi, tapi buat kebahagiaan diriku sendiri." Saya jadi mikir, apa selama ini saya nggak bahagia selama setahun ini karena saya melakukan banyak hal buat orang lain? Bukan buat diri saya sendiri?
Saya jadi inget, pernah baca di suatu tempat, yang intinya dia bilang kalau kita melakukan sesuatu karena orang lain itu tidak akan membuat kita bahagia. Saya dulu mikir, kok gitu sih? Bukannya kita hidup untuk menolong orang lain ya? Tapi kemudian, setelah mengalami ini itu sepanjang tahun ini, saya jadi mikir, emang gitu yah.
Jadi gini, ada dua hal yang berbeda di sini 'melakukan sesuatu karena orang lain' atau 'melakukan sesuatu untuk menolong orang lain'. Melakukan sesuatu untuk menolong orang lain akan balik ke kita. "fain ahsantum ahsantum li anfusikum" (Al-ISra' :7). Setiap kebaikan akan balik ke kita sendiri. Tapi melakukan sesuatu karena orang lain nggak banyak memberikan apa pun. Dan, bisa jadi malah berujung pada kecewa. Mungkin saya perlu mengingat kata Murabbi saya dulu, setiap apapun yang dikerjakan niatnya untuk Allah, tidak ada rasa kecewa. Bila kita masih kecewa, mungkin niat kita belum selurus itu.
Tahun ini, saya kecewa sama diri saya sendiri. Saya kecewa dengan apa yang saya lakukan. Dan buruknya lagi saya kecewa dengan banyak orang. Bahkan mungkin tanpa sadar saya sudah kecewa sama Allah yang memberikan kondisi seperti ini pada saya. Astaghfirullah ...
Mungkin saya sering diingatkan untuk memperbaharui niat saat liqo, saat syuro, tapi ya untuk keperluan itu aja, untuk hari itu dan saat itu saja. Kemudian saya jadi lupa memperbaharui niat jangka panjang saya. Buat (si)apa saya hidup? Buat (si)apa saya kuliah? Buat (si)apa saya bermanah? Buat (si)apa saya menikah? Buat (si)apa saya berumah tangga? Buat (si)apa saya bekerja dan lain sebagainya ...
Dan mungkin dari sanalah saya jadi lalai terhadap apa yang perlu saya kerjakan. Mana yang butuh dikerjakan dan mana yang saya ingin kerjakan.
Kondisi di mana saya udah nggak kuliah lagi tapi masih harus skripsi itu membuat saya jadi jarang bertemu orang-orang shalih-shalihah, dan seringnya membuat saya lalai. Alhamdulillahnya, Allah masih mau ngasih saya amanah di tahun ini, yang itu berarti, saya masih ngumpul sama orang-orang yang memikirkan umat, paling tidak sepekan hingga dua pekan sekali dalam syuro ataupun dalam agenda lainnya. Tapi ya kalau saya lagi kabur dari amanah, ya sudah, lalai aja terus.
Karena lupa dengan tujuan seharusnya antara Adz-Dzariyaat: 56 ataupun Al Baqarah : 30, saya jadi sering mencari-cari alasan untuk melakukan sesuatu. Di amanah karen disuruh murabbilah, kuliah karena disuruh orang tualah. Meski pun itu hal yang benar, tapi saya sepakat dengan murabbi saya, kalau masih ada celah pada diri kita untuk selain Dzat Yang Maha Kuasa, tentu ada celah untuk kecewa.
Misal, kita manut orang tua untuk menyelesaikan kuliah. Bilangnya biar orang tua kita bangga, iya kalo beneran bangga, kalau ternyata orang tua kita malah nuntut terus tanpa pernah bangga terhadap prestasi anaknya (well, bukan orang tua saya tapi), gimana? Bisa jadi kita malah jadi kecewa pada orang tua kita. That's it. Saya lupa kalau saya pernah bilang ke orang, niat kita melakukan sesuatu buat orang tua itu benar, ketika kita memang mengingat bahwa ridhallah fii ridha walidayn. Tapi ketika kita terbatas cuma pada biar orang tua kita bangga atau biar orang tua kita bahagia, itu mungkin yang perlu ditambahkan. Itu mungkin yang membuatnya menjadi bukan niat tertinggi.
Dan sebenarnya, kita memang melakukan kebaikan, nulis skripsi, beramanah, kuliah, ngeliqoi, syuro, dan kebaikan lainnya bukan buat siapa-siapa. Tapi buat diri sendiri. Buat kebahagiaan diri kita sendiri. Dan setelah melalui ini itulah saya akhirnya paham apa makna 'buat kebahagiaan diri sendiri'.
Orang tua kita bahagia ketika kita lulus, itu pun karena kita bahagia. Orang lain bahagia ketika kita bahagia. Jangan dibalik, kita bahagia ketika orang lain bahagia. Motivasi eksternal adalah motivasi terendah untuk menjadi motor penggerak bagi hati, badan, maupun otak kita. Bahagia itu menular memang. Tapi kalau cuma ngeliat kebahagiaan orang lain, sementara diri sendiri nggak bahagia, lama-lama yang muncul jadi envy. Perasaan iri, dengki, dan sejenisnya.
Jadi, saya mencapai kesimpulan, buat diri sendiri bahagia dulu, baru kita bisa bahagia untuk orang lain. Bisa tulus bahagianya buat orang lain.
Saya nolongin orang, saya ngeliqoi, saya beramanah, saya kuliah sampai saya nraktir orang bukan buat siapa-siapa. Tapi buat saya sendiri. Supaya saya ada effort untuk menunjukkan pada Allah, bahwa saya pantas untuk mendapatkan kebahagiaan karena saya sudah berbuat baik, di dunia maupun di akhirat. Saya pantas berbahagia untuk semua kebaikan yang saya lakukan. Saya boleh berbahagia untuk semua kebaikan yang saya lakukan. Saya berhak berbahagia untuk semua kebaikan yang saya lakukan. Saya cuma ingin bahagia karena Allah menilai saya pantas, dengan melakukan kebaikan yang sebanyak-banyak. Kebahagiaan hakiki. Yang berlanjut hingga akhirat.
Mungkin, nasihat-nasihat itu klise untuk diucapkan, tapi jelas sekali sulit buat dipraktekan. Semacam, bersyukur, ikhlas, qonaah adalah kunci menuju kebahagiaan itu sendiri. Dan, setelah melewati tahun 2016 hingga akhir, saya paham, hal-hal tersebut cuma bisa dilakukan ketika tujuan kita straight tertuju pada Allah, dan niat kita memang karena Allah. Ternyata, semuanya memang bersumber dan berakhir pada Allah, Dzat Yang Awal dan Yang Akhir (Huwal awwalu wal aakhiru).
Dan kebahagiaan itu ternyata sesederhana kita senantiasa dekat sama Allah.
Alhamdulillah 'alaa kulli hal, 2016 sudah mencapai ujungnya. Seburuk-buruknya saya tahun ini, Allah masih membuka hati saya untuk menerima pelajaran. Meski saya slow learner, karena butuh setahun untuk memahami ini -_-. But, mungkin disitu ujiannya. Katanya ujian bisa memuliakan derajat seseorang, atau justru menghinakannya. Semoga buat saya hasilnya bukan opsi yang terakhir. Begitu juga dengan siapapun yang membaca ini.
Semoga Allah masih kasih kesempatan saya buat memperbaiki banyak hal, menyiapkan lebih banyak bekal, meluruskan kembali segala niat yang sudah melenceng jauh, karena meski ini ujung dari tahun ini, tapi, siapa tahu? Bisa jadi setelah menulis ini saya meregang nyawa? Who knows?
Tapi karena katanya, bekerjalah seakan kamu hidup selamanya, dan beribadahlah seakan kamu mati besok; mari memperbaiki plan hidup jangka panjang. Manusia merencanakan, Allah menentukan.
Wallahu a'lam bish shawwab.
*segala yang ditulis di sini cuma pendapat pribadi.
Mohon maaf untuk semua pihak yang terdzholimi sepanjang tahun ini, semua pihak yang sudah sangat saya repotin karena depresi saya, semua pihak yang sudah mengkhawatirkan saya. Terima kasih, terima kasih buat supportnya, paling tidak, saya tahu, saya tidak pernah sendirian. :). Jazaakumullah khayran katsiiran. Cuma Allah yang bisa balas, karena Dia Yang Maha Memiliki. Dia Yang Maha Segalanya.
~
Jumat, 16 Desember 2016
Mencapai ujungnya
2016 sudah mencapai ujungnya.
Kukira aku juga ikut bergerak maju.
Tapi ternyata, sesenti pun aku tak beranjak
dari tempatku berdiri
di awal tahun ini
cemas dan depresi
silih berganti
memenuhi ruang kosong
yang seharusnya diisi
bukan dengan kesedihan
sepertiga hidup sudah habis
sisa dua per tiga
yang entah akan terjalani
atau justru berakhir esok
atau detik berikutnya
2016 sudah mencapai ujungnya
sisa dua pertiga hidup ini
mau diapakan?
meski katanya kegelapan juga hadiah
hanya saja, kepahaman tidak
selalu langsung datang
detik itu juga
bisa jadi tahun depan
bisa jadi windu depan
bisa jadi abad depan
perjuangan tidak boleh putus,
katanya
tapi untuk bergerak saja
harus menyeret langkah
semangat,
katanya
tapi jangankan berpikir semangat
berpikir hidup saja
tersengal
lalu,
benci
pada
diri
sendiri
semakin
dalam
2016 sudah mencapai ujungnya,
.
.
dan kita merayakan kepanikan akan harapan yang belum tuntas
Kukira aku juga ikut bergerak maju.
Tapi ternyata, sesenti pun aku tak beranjak
dari tempatku berdiri
di awal tahun ini
cemas dan depresi
silih berganti
memenuhi ruang kosong
yang seharusnya diisi
bukan dengan kesedihan
sepertiga hidup sudah habis
sisa dua per tiga
yang entah akan terjalani
atau justru berakhir esok
atau detik berikutnya
2016 sudah mencapai ujungnya
sisa dua pertiga hidup ini
mau diapakan?
meski katanya kegelapan juga hadiah
hanya saja, kepahaman tidak
selalu langsung datang
detik itu juga
bisa jadi tahun depan
bisa jadi windu depan
bisa jadi abad depan
perjuangan tidak boleh putus,
katanya
tapi untuk bergerak saja
harus menyeret langkah
semangat,
katanya
tapi jangankan berpikir semangat
berpikir hidup saja
tersengal
lalu,
benci
pada
diri
sendiri
semakin
dalam
2016 sudah mencapai ujungnya,
.
.
dan kita merayakan kepanikan akan harapan yang belum tuntas
Senin, 26 Oktober 2015
Meletus
Aku kira, balon hijau yang kemarin meletus, sudah sepenuhnya meletus. Sudah semua udaranya keluar dan memecah belah dinding karet si balon.
Ternyata tidak.
Balonnya tidak benar-benar meletus. Ia tidak pecah. Hanya udaranya saja yang keluar melalui pintu masuk. Tapi masih ada sisa udara di dalamnya.
Dan kini, balon itu diisi udara lagi. Lagi. Lagi. Lagi. Lagi. Lagi. Lagi....
Dan entah masih butuh berapa "Lagi" untuk menggambarkannya,
Hingga pemiliknya tak sadar, balonnya sebentar lagi (mungkin) pecah.
Ternyata tidak.
Balonnya tidak benar-benar meletus. Ia tidak pecah. Hanya udaranya saja yang keluar melalui pintu masuk. Tapi masih ada sisa udara di dalamnya.
Dan kini, balon itu diisi udara lagi. Lagi. Lagi. Lagi. Lagi. Lagi. Lagi....
Dan entah masih butuh berapa "Lagi" untuk menggambarkannya,
Hingga pemiliknya tak sadar, balonnya sebentar lagi (mungkin) pecah.
DOR!
Jumat, 23 Oktober 2015
Janji
Jumat lalu, melalui telepon seluler
"Dek, kamu besok ada kuliah?"
"Nggak, Bu. Tapi besok pagi tyani ngisi. Terus siangnya tyani ngurusim acara krn panitia."
"Oh besok Ibu sama Bapak balik ke Depok. Kalo kamu kosong Ibu mampirin Jogja. Kalo km sibuk ibu lgsg ke Depok."
"....."
"Gitu ya Dek?"
"Hari Minggu aja Ibu ke sininya ..."
"Ibu senin ada jadwal ngaji, Bapak udah mulai detlen majalah"
"....."
"ya kamu kan sibuk toh ..."
"Mmm siang deh bu ke sininya. Nnti tyani kan cuma konsum, siang udah selesai palingan ..."
"Eh jangaan.. Kalo ada kerjaan gitu dikerjain sampai selesai lah, dek .."
"....."
"Nanti Ibu ke tempatmu kalo Ibu Bapak ke jogja aja ya ..."
"...."
Nanti itu kapan ya?
Kapan ya terakhir kali percaya sama kata 'nanti'?
Kapan terakhir kali benar-benar percaya sama janji?
Kalau sudah begini, cuma bisa berdoa, semoga masih bisa bertemu, entah besok, lusa, satu bulan lagi, satu semester lagi, atau bahkan bertahun-tahun kemudian saat diri ini menyandang gelar baru ...
Semoga, semoga, Ya Allah ...
Minggu, 27 September 2015
Besok itu ...
Besok itu responsi farmako. Empat hari setelahnya ujian blok.
Lusa angkut-angkut barang ke kontrakan baru. Meski belum ada barang yang selesai di packing.
Tapi, kalo sendirian di kontrkan gini, mau ngapa-ngapain jadi ogah-ogahan yak. Bersyukur di awal kuliah di jogja nggak memutuskan untuk ngekos sendirian. Entah jadi apa kerjaan saya ... *meski ga tau ada hubungannya atau nggak* yasudahlah ...
Belajar Ty ...
Lusa angkut-angkut barang ke kontrakan baru. Meski belum ada barang yang selesai di packing.
Tapi, kalo sendirian di kontrkan gini, mau ngapa-ngapain jadi ogah-ogahan yak. Bersyukur di awal kuliah di jogja nggak memutuskan untuk ngekos sendirian. Entah jadi apa kerjaan saya ... *meski ga tau ada hubungannya atau nggak* yasudahlah ...
Belajar Ty ...
Rabu, 16 September 2015
Jas Koas #2
Saya : Za, aku kayaknya mau bikin jas koas di tempat Ibu mu aja Za. Boleh?
Izza : Oh, boleh Ty Boleh.
Saya : Nanti aku langsung fitting di tempat Ibumu atau gimana, Za?
Izza : Langsung lah Ty. Emang mau dimana lagi?
Saya : Okay, sekalian biar aku bisa ketemu Ibumu. Aku pengen ketemu Ibumu.
-terus mendadak hening-
Saya : Eh kok, berasa aku mau ngelamar kamu ya?
Izza : Haha, iya, makanya aku jadi hening haha ..
Orang yang saya ceritakan di atas namanya Izza. Fildzah Izzazi Achmadi, seorang teman yang baru saya kenal di bangku kuliah, dan ternyata memasuki tahun keempat ini tetap jadi teman sebelah saya kalo lagi kuliah, haha. Awalnya sih karena kami teman satu kelompok tutorial dan praktikum selama dua tahun, dan punya hobi yang nggak jauh beda, menulis dan membaca, termasuk juga baca manga dan anime jepang.
Yang saya lihat Izza adalah seorang yang sangat menyayangi orang tuanya, terlebih lagi Ibunya. Waktu masih satu tutorial, saya demen banget ngerecokin Izza kalo lagi makan siang. Suka minta makan siangnya yang dibekali sama Ibu. Ngeliat Izza ngebekal, jadi kangen rumah aja. Kangen jaman SD (yaelah, Ty jauh amat, haha). Di balik kesederhanaannya dan kerendahanhatinya, Izza adalah seorang pekerja keras. Ia bukan ornag yang mudah menyerah, pun bukan orang yang mudah mengeluh. Sejujurnya saya banyak mindernya sama beliau. Minder karena saya masih sering angkuh, juga arogan juga sombong atau hal-hal yang sejenislah, padahal nilai akademik nggak seberapa, prestasi nggak ada, karya apalagi. Kebalikanlah sama Izza. Meski dari prestasi kita sebelas dua belas (haha), tapi karya Izza nyata. Ia sudah melahirkan sekitar 3 novel dan beberapa antologi karya yang sudah dibukukan meski nggak ikut-ikutan forum kepenulisan seperti saya ini. Kalau kayak gini nih yang bikin saya jadi ngerasa sombong. Nyombongin organisasi padahal karya nggak ada. #pfffft
Saya kagum banget sama ini orang. Memang kalau dibandingkan sama anak IC, yang udah tinggal bareng selama tiga tahun dan lanjut bareng-bareng di kuliah, kenal sama Izza belum seberapalah, tapi, rasanya saya banyak banget dapat pelajaran, dapet dorongan motivasi, dapet teman seperjalanan yang keren kayak Beliau. *duh, semoga orangnya ga baca, takut nanti dia terbang nggak balik-balik, kuliahnya masih banyak euy, haha*.
Dan kalau ketemu orang keren kayak gini, saya jadi pengen tau orang tuanya kayak gimana, pengen tau lingkungan rumah yang membesarkan dirinya kayak apa. Termasuk Ibunya Izza ini (karena posisinya saat masuk kuliah, Ibu Izza menjadi single parent). Saya ingin tahu Ratu hebat macam apa yang mampu membesarkan pribadi yang seperti Izza ini. Pekerja keras yang humble banget, juga humoris, juga menyenangkan. :)
Semoga bisa mendapatkan kesempatan bertemu Beliau -dulu-dulu saya cuma rajin ngasih salam ke Ibunya Izza. Haha.
*cuman pengen cerita aja*
Izza : Oh, boleh Ty Boleh.
Saya : Nanti aku langsung fitting di tempat Ibumu atau gimana, Za?
Izza : Langsung lah Ty. Emang mau dimana lagi?
Saya : Okay, sekalian biar aku bisa ketemu Ibumu. Aku pengen ketemu Ibumu.
-terus mendadak hening-
Saya : Eh kok, berasa aku mau ngelamar kamu ya?
Izza : Haha, iya, makanya aku jadi hening haha ..
Orang yang saya ceritakan di atas namanya Izza. Fildzah Izzazi Achmadi, seorang teman yang baru saya kenal di bangku kuliah, dan ternyata memasuki tahun keempat ini tetap jadi teman sebelah saya kalo lagi kuliah, haha. Awalnya sih karena kami teman satu kelompok tutorial dan praktikum selama dua tahun, dan punya hobi yang nggak jauh beda, menulis dan membaca, termasuk juga baca manga dan anime jepang.
Yang saya lihat Izza adalah seorang yang sangat menyayangi orang tuanya, terlebih lagi Ibunya. Waktu masih satu tutorial, saya demen banget ngerecokin Izza kalo lagi makan siang. Suka minta makan siangnya yang dibekali sama Ibu. Ngeliat Izza ngebekal, jadi kangen rumah aja. Kangen jaman SD (yaelah, Ty jauh amat, haha). Di balik kesederhanaannya dan kerendahanhatinya, Izza adalah seorang pekerja keras. Ia bukan ornag yang mudah menyerah, pun bukan orang yang mudah mengeluh. Sejujurnya saya banyak mindernya sama beliau. Minder karena saya masih sering angkuh, juga arogan juga sombong atau hal-hal yang sejenislah, padahal nilai akademik nggak seberapa, prestasi nggak ada, karya apalagi. Kebalikanlah sama Izza. Meski dari prestasi kita sebelas dua belas (haha), tapi karya Izza nyata. Ia sudah melahirkan sekitar 3 novel dan beberapa antologi karya yang sudah dibukukan meski nggak ikut-ikutan forum kepenulisan seperti saya ini. Kalau kayak gini nih yang bikin saya jadi ngerasa sombong. Nyombongin organisasi padahal karya nggak ada. #pfffft
Saya kagum banget sama ini orang. Memang kalau dibandingkan sama anak IC, yang udah tinggal bareng selama tiga tahun dan lanjut bareng-bareng di kuliah, kenal sama Izza belum seberapalah, tapi, rasanya saya banyak banget dapat pelajaran, dapet dorongan motivasi, dapet teman seperjalanan yang keren kayak Beliau. *duh, semoga orangnya ga baca, takut nanti dia terbang nggak balik-balik, kuliahnya masih banyak euy, haha*.
Dan kalau ketemu orang keren kayak gini, saya jadi pengen tau orang tuanya kayak gimana, pengen tau lingkungan rumah yang membesarkan dirinya kayak apa. Termasuk Ibunya Izza ini (karena posisinya saat masuk kuliah, Ibu Izza menjadi single parent). Saya ingin tahu Ratu hebat macam apa yang mampu membesarkan pribadi yang seperti Izza ini. Pekerja keras yang humble banget, juga humoris, juga menyenangkan. :)
Semoga bisa mendapatkan kesempatan bertemu Beliau -dulu-dulu saya cuma rajin ngasih salam ke Ibunya Izza. Haha.
*cuman pengen cerita aja*
Iri
Jarang-jarang saya buka timeline facebook. Dan hari ini atas dasar iseng dan bosan ditambah kosongnya jadwal kuliah, akhirnya saya membuka sosmed yang emang jarang saya buka itu. Jelas notifnya ga banyak, karena saya emang bukan orang penting dan jarang posting sesuatu di facebook. Saya scroll lah timeline facebook sampai time yang saya ga tau itu kapan, haha.
Ngeliat banyak banget foto wisudaanya kakak kelas juga temen-temen yang kuliahnya ambil D3, terus foto teman-teman yang habis dari negara inilah negara itulah, juga foto teman yang sedang beraktvitas kece di organisasi ini itu, atau yang habis KKN. Aah, iri rasanya melihat mereka.
Sementara semua orang bergerak melangakah dari tempatnya berdiri sekarang, sementara itu pula saya merasa bahwa saya tidak bergerak kemana-kemana. Hanya berdiri di tempat yang sama, dengan kegalauan yang sama, dan mungkin dilengkapi dengan rasa tidak bersyukur. Masih berusaha menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan yang kelewat cepat, meski tahu satu-satunya cara untuk menyesuaikan diri adalah juga dengan turut berubah, turut melangkah meninggalkan diri saya yang saat ini.
Sudah tahun keempat. Sudah mau lanjut ke jenjang studi berikutnya. Sudah bukan jamannya lagi galau tidak jelas yang bahkan tidak tahu galau kenapa dan solusinya apa, haha. Bergerak, Ty. Bergerak bersama perubahan yang lain. Meski harus menyeret langkah kaki atau merangkak, bergerak Ty. Bergerak meninggalkan diri yang hari ini menuju diri yang lebih baik.
Aku tahu kamu bisa, Ty.
*Semoga wisuda Mei 2016 bukan hanya wacana*
Ngeliat banyak banget foto wisudaanya kakak kelas juga temen-temen yang kuliahnya ambil D3, terus foto teman-teman yang habis dari negara inilah negara itulah, juga foto teman yang sedang beraktvitas kece di organisasi ini itu, atau yang habis KKN. Aah, iri rasanya melihat mereka.
Sementara semua orang bergerak melangakah dari tempatnya berdiri sekarang, sementara itu pula saya merasa bahwa saya tidak bergerak kemana-kemana. Hanya berdiri di tempat yang sama, dengan kegalauan yang sama, dan mungkin dilengkapi dengan rasa tidak bersyukur. Masih berusaha menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan yang kelewat cepat, meski tahu satu-satunya cara untuk menyesuaikan diri adalah juga dengan turut berubah, turut melangkah meninggalkan diri saya yang saat ini.
Sudah tahun keempat. Sudah mau lanjut ke jenjang studi berikutnya. Sudah bukan jamannya lagi galau tidak jelas yang bahkan tidak tahu galau kenapa dan solusinya apa, haha. Bergerak, Ty. Bergerak bersama perubahan yang lain. Meski harus menyeret langkah kaki atau merangkak, bergerak Ty. Bergerak meninggalkan diri yang hari ini menuju diri yang lebih baik.
Aku tahu kamu bisa, Ty.
*Semoga wisuda Mei 2016 bukan hanya wacana*
Senin, 27 Juli 2015
Hari ini harusnya . . .
Hari ini harusnya saya jalan ke kontrakan Baytul Quds. Terus gabung buat belajar rame-rame buat persiapan OSCE. Kalo liat di grup line muslimah community nya pendidikan dokter reguler 2012 sama grup line nya baytul quds sih udah sangat rame postingan tentang materi-materi OSCE (eh tapi kayaknya sih, haha, dua grup itu termasuk grup yang notifnya udah sampe sekitar 900-an tapi nggak pernah saya buka, haha).
Harusnya hari ini saya bisa jalan ke toko alat menjahit dan mencari alat-alat rajut buat bikin kadonya Uni. Udah nyari sih lokasi tokonya dimana lewat internet yang pas-pasan. Dan kalo mengingat alamatnya, sepertinya tokonya hanya sepelemparan batu dari kontrakan saya yang sekarang.
Harusnya hari ini saya bisa nulis beberapa kalimat buat antologi karya nya anak-anak senja. Idenya baru aja dapet tadi pagi karena chat whatsappnya dek Nia, adek sepupu paling kecil yang masih duduk di bangku kelas 5 SD, di grup Cucu Kenari yang nanya, "Mbak, Quotes itu apa mbak?". Dan ceritanya juga sudah terkonstruksi sedikit-sedikit dalam bayangan saya, sudah mulai muncul nama-nama pemain yang akan berperan di dalamnya pula.
Harusnya hari ini saya bisa menyelesaikan membaca buku Drunken Monster -catatan harian Pidi Baiq, yang baru aja saya beli. Meskipun menurut saya font nya nggak enak dibaca, tapi gaya menulisnya lucu dan sangat random, bikin saya tetep pengen baca, nggak ketebak kata-kata selanjutnya yang akan dipilih oleh penulisnya apa.
Tapi itu semua hanya harusnya. Akhirnya, semua yang harusnya tadi tidak saya lakukan sampai detik saya menulis tulisan ini. Aah kamu Ty, 'azzam nya nggak kuat nih buat jadi orang yang bermanfaat. Masih lebih suka bermalas-malasan ketimbang berpayah-payah dalam kebaikan. Padahal katanya kewajiban kita itu lebih banyak daripada waktu yang kita punya. Dan katanya nikmat waktu luang dan kesehatan adalah dua nikmat yang seringkali dilalaikan oleh manusia. dan lagi katanya, memanfatkan waktu luang dengan kebaikan adalah salah satu cara mensyukurinya. Jadi?
Harusnya hari ini saya bisa jalan ke toko alat menjahit dan mencari alat-alat rajut buat bikin kadonya Uni. Udah nyari sih lokasi tokonya dimana lewat internet yang pas-pasan. Dan kalo mengingat alamatnya, sepertinya tokonya hanya sepelemparan batu dari kontrakan saya yang sekarang.
Harusnya hari ini saya bisa nulis beberapa kalimat buat antologi karya nya anak-anak senja. Idenya baru aja dapet tadi pagi karena chat whatsappnya dek Nia, adek sepupu paling kecil yang masih duduk di bangku kelas 5 SD, di grup Cucu Kenari yang nanya, "Mbak, Quotes itu apa mbak?". Dan ceritanya juga sudah terkonstruksi sedikit-sedikit dalam bayangan saya, sudah mulai muncul nama-nama pemain yang akan berperan di dalamnya pula.
Harusnya hari ini saya bisa menyelesaikan membaca buku Drunken Monster -catatan harian Pidi Baiq, yang baru aja saya beli. Meskipun menurut saya font nya nggak enak dibaca, tapi gaya menulisnya lucu dan sangat random, bikin saya tetep pengen baca, nggak ketebak kata-kata selanjutnya yang akan dipilih oleh penulisnya apa.
Tapi itu semua hanya harusnya. Akhirnya, semua yang harusnya tadi tidak saya lakukan sampai detik saya menulis tulisan ini. Aah kamu Ty, 'azzam nya nggak kuat nih buat jadi orang yang bermanfaat. Masih lebih suka bermalas-malasan ketimbang berpayah-payah dalam kebaikan. Padahal katanya kewajiban kita itu lebih banyak daripada waktu yang kita punya. Dan katanya nikmat waktu luang dan kesehatan adalah dua nikmat yang seringkali dilalaikan oleh manusia. dan lagi katanya, memanfatkan waktu luang dengan kebaikan adalah salah satu cara mensyukurinya. Jadi?
Sabtu, 25 Juli 2015
Sudah di Jogja lagi . . .
Saya sudah di Jogja lagi. Sejak jam 2 tadi siang. Sengaja dateng lebih cepat, selian karena mau OSCE dan harus mengagendakan belajar bareng temen-temen juga biar ada yang nganter ke jogja haha, karena bisa dipastikan setiap habis dari salatiga bawaannya nggak mungkin cuma satu-dua tas. Dan terbuktilah praduga saya (halah bahasanya haha). Bahkan eyang saya rela-rela nya membagi beras persediaan rumah di Salatiga buat saya (ya, intinya sih saya mau bilang saya dibawain beras segala -,-). Padahal alat-alat masak kayaknya hampir semua dibawa Disho KKN di Entikong. Mending kalo Disho KKN nya di Kulonprogo atau Bantul, bisa pinjem bentar. Lah ini harus nyebrang pulau e ... Dan saya belum pernah naik pesawat (terus kenapa? .-.) haha.
Sebenernya nggak ada niatan buat ngerandom di sini. Tapi berhubung daritadi saya udah bosen ngescroll tumblr, twitter, facebook, line; dan japrian saya nggak dibales sama orang-orang (yaiyalah siapa gitu yang mau ngejawab japrian jam setengah dua belas malem -,-) haha, akhirnya tangan dan pikiran saya mendarat di sini. Sekaligus mengisi blog yang tak tersentuh selama lebaran kemarin.
Hari ini saya sampai di Jogja. Begitu kembali melewati jalan-jalan yang sudah sangat saya hafal setelah tiga tahun melewatinya, mendadak saya pengen balik lagi ke Depok (lah?) haha. Apalagi waktu menjejakkan kembali ke kontrakan yang sangat lengang karena ditinggal KKN para penghuninya (kecuali saya). Terus langsung ditinggal pula sama Bapak Ibu dan Mbak Ucha. (Yaiyalah, udah nggak jamannya lagi Tyani ditungguin, haha, emangnya kayak pas masih di Assalaam, haha). Dan malam ini setelah tertidur selama dua jam sejak jam 20.00 dan terbangun di jam 22.15, saya mendadak nggak bisa tidur lagi. Ya dan akhirnya cuma scroll medsos dan nggak menghasilkan apapun. Padahal banyak buku yang bisa dibaca dan emang ada beberapa buku yang belum terbaca sejak berpindah tangan dari penjualnya ke saya.
Saya jadi kangen banyak hal. Kangen sama anak-anak kontrakan. Kangen sama cucu-cucu kenari yang sepanjang lebaran kemaren kalo jalan-jalan -entah kenapa nggak lepas dari lagu goyang dumang- (-,-). Kangen sama Depok. Kangen sama temen-temen satu lingkaran. Kangen sama adek-adek. Kangen sama temen-teman FLP. Kangen sama tidur dan makan (lah?). Kangen ngerandom tengah malem ke orang-orang dan dibales, kayak pas jaman-jamannya di IC waktu liburan.
Iya ya, jadi inget setiap kali liburan pas masih di Assalaam sampai di IC, entah kenapa mode nya langsung berubah jadi nokturnal. Dan ternyata itu nggak cuma saya aja. Temen-temen juga gitu. terbukti kalo siang-siang sms slow response. Pas malem, bahkan ada yang semacam ngebroadcast 'ada yang masih bangun?' dan itu jam satu malam. Ahahaha. Dulu juga, kalo pas kebangun tengah malem gitu dan online facebook, beuukh hampir satu angkatan onlen fb juga tengah malem itu ahahaha.
Tapi begitu kuliah, susah banget namanya begadang. Bahkan buat ngerjain laprak pun lebih milih ngerjain pagi -pagi atau bahkan disambi pas kuliah. Mentang-mentang dosen nggak perhatiin mahasiswanya pada dengerin atau nggak. Semakin ke sini kemampuan procastinator saya semakin keren (Lah?). Bukannya bangga, cuma sedih aja. Pengennya sih nggak gitu. Ya tapi cuma pengen, belum berazzam ahahaha (payah -,-). Makanya saya salut sama orang-orang yang mampu nggak tidur berhari-hari buat ngerjain laprak, belajar ujian atau nykripsi. Bahkan saya proposal skripsi saya aja terbengkalai sejak jaman baheula hingga detik ini saya menulis ini (ahahahaha).
Sebenarnya kemarin-kemarin pas di Salatiga, dalam otak saya, saya sudah menyusun apa saja yang ingin saya lakukan di Jogja. Tapi begitu sampai di jogja, mendadak saya jadi mengkhawatirkan banyak hal membuat perut panas dan nggak bisa tidur. Salah satunya adalah sendiri di kontrakan. Nggak biasanya saya ngerasa sekhawatir ini begitu sendirian di kontrakan. Padahal ini bukan yang pertama kali, sebelum-sebelumnya karena jadwal masuk dan liburnya sering beda sama fakultas lain, jadi di kontrakan sendirian pun bukan issue yang baru buat saya. Harusnya. Atau ini efek dari anak-anak gycen yang lagi pada KKN? (orang-orang yang biasa dimintain tolong dan ngeramein pada KKN T.T, semacam Afifah, terus Afifah, terus . . . Afifah? Ahahaha, bilang aja saya kangen bocah satu itu ahahaha, yang emang biasa nemenin saya pas saya kegiliran sendirian di kontrakan).
Yasudahlah. Saya mau nulis random sampai jam berapa ya ini? Rasa kantuknya masih enggan untuk datang menghampiri. Padahal pagi-pagi nanti saya harus ke puskemas. .-.
Dan laptopnya udah mulai panas karena sejak maghrib tadi memutar playlist di laptop. sengaja, buat meramaikan kontrakan yang sepi dari keramaian (jiaaaah, haha). Karena laptopnya mulai panas, itu berarti laptopnya udah mulai lemot dan sering not responding T.T. Padahal saya masih mau menumpahkan keresahan, kekhawatiran, kecemasan, atau apalah itu (njiyee bahasanya ahahaha) di atas tuts-tuts keyboard yang tak bersalah ini (apalah ini bahasanya -,-; beneran randomnya).
Saya kangen baca blognya fitri nih, selama KKN dia cuma apdet sekali buat pamit. Habis kalo fitri nulis, tulisannya keren banget sih, nggak kayak seseorang yang ngerandom di blognya gitu, sampai tengah malem gitu. Haha. Kangen baca tumblrnya nikari tapi kalo nggak dari dasbor males bacanya karena template tumblr nikari sangat pink .-. ahahha. Kangen kepo blog-blognya anak FLP dan baca tulisan-tulisannya yang warna-warni :) dan berbobot, nggak kayak blognya siapaaa gitu isinya curcol dan random doang ahahahaha. Kangen baca blog-blognya anak gycen, yang kebanyakan udah pada nggak aktif, menyisakan beberapa orang yang masih keliatan terbit tulisannya di dasbor saya semacam Gian, Pyan, Fitri, Maryam, Nikari, Arum, Aisyi, terus Anis baru mulai ngisi lagi ..., oh Izzah juga yang isi blognya tentang bagaimana berumah tangga (ahahahaha, ciye Izzah yang udah nggak jomblo -,-).
Saya pengen nulis yang lain. Buat web yang terbengkalai, buat tagihan detlen anak-anak senja, tapi yang keluar di otak saya cuma hal-hal random yang tertuangakn di tulisan ini sejak tadi. Yaudahlah ya, katanya kan nulis itu kayak buka keran air. Kalo kerannya nggak dibuka, airnya nggak keluar. Kalo kita nggak mulai nulis, yang idenya nggak keluar. Jadi, mending saya awali niatan-niatan saya nulis-nulis yang lain itu dengan kerandoman saya di malam yang sunyi ini #tsaaah.
Jadi, saya udah ngobrolin apa aja? Hahaha, saking randomnya sampe nggak ngeh saya udah nulis apa aja. Ayo dong yang pada KKN cepetan pada balik Jogja. Saya pengen denger ceritanya masing-masing :'). Pasti seruu. Saya mah KKN nya kapan. Skripsi dulu. Pendadaran dulu. Wisuda dulu. Koas dulu. KKN. Ntar ceritanya di angkatan 2012 udah pada udahan, saya mah baru bakal ribet-ribet KKN-an. -,-.
Wah ciye, yang udah masuk tahun ke-4 kuliah. Tahun terakhir di S1. Setelah itu profesi. Jadi inget pas lebaran kemaren. Orang-orang, kakak-kakak sepupu dan kakak saya pada bilang, 'mohon maaf lahir batin, mohon maaf jangan tanya kapan kawin'. Giliran saya, 'mohon maaf lahir batin, mohon maaf jangan tanya kapan lulus'. Hahaha. Bahkan adek sepupu saya yang dua tahun di bawah saya udah kerja dan kemaren udah turut andil ngasih THR ke adek-adek. Dan adek sepupu saya yang usianya empat tahun di bawah saya oktober ini lulus kuliah T.T (yaiya sih mereka kan nggak megikuti jenjang studir formal gaya Indonesia alias homeschooling, terus lulus SMP langsung cuss kuliah di Singapura, ya bisa dijelaskanlah kenapa mereka lulus duluan daripada saya, orang-orang keren mereka. Saya mah apalah).
Habis OSCE, apa saya balik ke Depok lagi aja ya? daripada menghabiskan uang buat makan di Jogja. Di depok kan makan gratis. .-.. Bayar sih, tapi bukan saya juga yang bayar. Eciee yang udah tahun ke-empat. Jadi yang paling tua di jurusan. .-. .Inget banget dulu pas masih tahun pertama-tahun kedua sering banget iseng kalo ketemu mbak Wulan, Mbak Mus, Mbak Adhin, Mbak Khal, dan Mbak-mbak lainnya bilang 'Eciyee mbak-mbak tahun terakhir' Ahahaha, terus habis itu langsung saya nya kena 'Astgahfirullah' dari mbak-mbak sholihat ini ahahaha. Dan itu rasanya baru kemaren saya masih ngisengin mbak-mbak ini. Masih ngerepotin mbak-mbak ini. Dan sekarang harus mau dan emang seharusnya gitu -jadi orang yang direpotkan. Jadi inget kata Bu Dini waktu saya masih kelas tiga MA. Beliau bilang 'Ya hidup ini emang penuh kata 'tahu-tahu'' Tahu,-tahu udah kuliah, tahu-tahu udah lulus, tahu-tahu udah nikah, tahu-tahu udah punya anak dan seterusnya. Ya tapi, hidup ini singkat kok, kata Mbak Alfina. hahaha
Hahaha, yasudah, udah dapet temen ngobrol. Nikari yang tiba-tiba kebangun,. Mungkin hadirnya Nikari adalah sebentuk jawaban doa saya ke Allah yang minta ditemenin malam ini :')
Sebenernya nggak ada niatan buat ngerandom di sini. Tapi berhubung daritadi saya udah bosen ngescroll tumblr, twitter, facebook, line; dan japrian saya nggak dibales sama orang-orang (yaiyalah siapa gitu yang mau ngejawab japrian jam setengah dua belas malem -,-) haha, akhirnya tangan dan pikiran saya mendarat di sini. Sekaligus mengisi blog yang tak tersentuh selama lebaran kemarin.
Hari ini saya sampai di Jogja. Begitu kembali melewati jalan-jalan yang sudah sangat saya hafal setelah tiga tahun melewatinya, mendadak saya pengen balik lagi ke Depok (lah?) haha. Apalagi waktu menjejakkan kembali ke kontrakan yang sangat lengang karena ditinggal KKN para penghuninya (kecuali saya). Terus langsung ditinggal pula sama Bapak Ibu dan Mbak Ucha. (Yaiyalah, udah nggak jamannya lagi Tyani ditungguin, haha, emangnya kayak pas masih di Assalaam, haha). Dan malam ini setelah tertidur selama dua jam sejak jam 20.00 dan terbangun di jam 22.15, saya mendadak nggak bisa tidur lagi. Ya dan akhirnya cuma scroll medsos dan nggak menghasilkan apapun. Padahal banyak buku yang bisa dibaca dan emang ada beberapa buku yang belum terbaca sejak berpindah tangan dari penjualnya ke saya.
Saya jadi kangen banyak hal. Kangen sama anak-anak kontrakan. Kangen sama cucu-cucu kenari yang sepanjang lebaran kemaren kalo jalan-jalan -entah kenapa nggak lepas dari lagu goyang dumang- (-,-). Kangen sama Depok. Kangen sama temen-temen satu lingkaran. Kangen sama adek-adek. Kangen sama temen-teman FLP. Kangen sama tidur dan makan (lah?). Kangen ngerandom tengah malem ke orang-orang dan dibales, kayak pas jaman-jamannya di IC waktu liburan.
Iya ya, jadi inget setiap kali liburan pas masih di Assalaam sampai di IC, entah kenapa mode nya langsung berubah jadi nokturnal. Dan ternyata itu nggak cuma saya aja. Temen-temen juga gitu. terbukti kalo siang-siang sms slow response. Pas malem, bahkan ada yang semacam ngebroadcast 'ada yang masih bangun?' dan itu jam satu malam. Ahahaha. Dulu juga, kalo pas kebangun tengah malem gitu dan online facebook, beuukh hampir satu angkatan onlen fb juga tengah malem itu ahahaha.
Tapi begitu kuliah, susah banget namanya begadang. Bahkan buat ngerjain laprak pun lebih milih ngerjain pagi -pagi atau bahkan disambi pas kuliah. Mentang-mentang dosen nggak perhatiin mahasiswanya pada dengerin atau nggak. Semakin ke sini kemampuan procastinator saya semakin keren (Lah?). Bukannya bangga, cuma sedih aja. Pengennya sih nggak gitu. Ya tapi cuma pengen, belum berazzam ahahaha (payah -,-). Makanya saya salut sama orang-orang yang mampu nggak tidur berhari-hari buat ngerjain laprak, belajar ujian atau nykripsi. Bahkan saya proposal skripsi saya aja terbengkalai sejak jaman baheula hingga detik ini saya menulis ini (ahahahaha).
Sebenarnya kemarin-kemarin pas di Salatiga, dalam otak saya, saya sudah menyusun apa saja yang ingin saya lakukan di Jogja. Tapi begitu sampai di jogja, mendadak saya jadi mengkhawatirkan banyak hal membuat perut panas dan nggak bisa tidur. Salah satunya adalah sendiri di kontrakan. Nggak biasanya saya ngerasa sekhawatir ini begitu sendirian di kontrakan. Padahal ini bukan yang pertama kali, sebelum-sebelumnya karena jadwal masuk dan liburnya sering beda sama fakultas lain, jadi di kontrakan sendirian pun bukan issue yang baru buat saya. Harusnya. Atau ini efek dari anak-anak gycen yang lagi pada KKN? (orang-orang yang biasa dimintain tolong dan ngeramein pada KKN T.T, semacam Afifah, terus Afifah, terus . . . Afifah? Ahahaha, bilang aja saya kangen bocah satu itu ahahaha, yang emang biasa nemenin saya pas saya kegiliran sendirian di kontrakan).
Yasudahlah. Saya mau nulis random sampai jam berapa ya ini? Rasa kantuknya masih enggan untuk datang menghampiri. Padahal pagi-pagi nanti saya harus ke puskemas. .-.
Dan laptopnya udah mulai panas karena sejak maghrib tadi memutar playlist di laptop. sengaja, buat meramaikan kontrakan yang sepi dari keramaian (jiaaaah, haha). Karena laptopnya mulai panas, itu berarti laptopnya udah mulai lemot dan sering not responding T.T. Padahal saya masih mau menumpahkan keresahan, kekhawatiran, kecemasan, atau apalah itu (njiyee bahasanya ahahaha) di atas tuts-tuts keyboard yang tak bersalah ini (apalah ini bahasanya -,-; beneran randomnya).
Saya kangen baca blognya fitri nih, selama KKN dia cuma apdet sekali buat pamit. Habis kalo fitri nulis, tulisannya keren banget sih, nggak kayak seseorang yang ngerandom di blognya gitu, sampai tengah malem gitu. Haha. Kangen baca tumblrnya nikari tapi kalo nggak dari dasbor males bacanya karena template tumblr nikari sangat pink .-. ahahha. Kangen kepo blog-blognya anak FLP dan baca tulisan-tulisannya yang warna-warni :) dan berbobot, nggak kayak blognya siapaaa gitu isinya curcol dan random doang ahahahaha. Kangen baca blog-blognya anak gycen, yang kebanyakan udah pada nggak aktif, menyisakan beberapa orang yang masih keliatan terbit tulisannya di dasbor saya semacam Gian, Pyan, Fitri, Maryam, Nikari, Arum, Aisyi, terus Anis baru mulai ngisi lagi ..., oh Izzah juga yang isi blognya tentang bagaimana berumah tangga (ahahahaha, ciye Izzah yang udah nggak jomblo -,-).
Saya pengen nulis yang lain. Buat web yang terbengkalai, buat tagihan detlen anak-anak senja, tapi yang keluar di otak saya cuma hal-hal random yang tertuangakn di tulisan ini sejak tadi. Yaudahlah ya, katanya kan nulis itu kayak buka keran air. Kalo kerannya nggak dibuka, airnya nggak keluar. Kalo kita nggak mulai nulis, yang idenya nggak keluar. Jadi, mending saya awali niatan-niatan saya nulis-nulis yang lain itu dengan kerandoman saya di malam yang sunyi ini #tsaaah.
Jadi, saya udah ngobrolin apa aja? Hahaha, saking randomnya sampe nggak ngeh saya udah nulis apa aja. Ayo dong yang pada KKN cepetan pada balik Jogja. Saya pengen denger ceritanya masing-masing :'). Pasti seruu. Saya mah KKN nya kapan. Skripsi dulu. Pendadaran dulu. Wisuda dulu. Koas dulu. KKN. Ntar ceritanya di angkatan 2012 udah pada udahan, saya mah baru bakal ribet-ribet KKN-an. -,-.
Wah ciye, yang udah masuk tahun ke-4 kuliah. Tahun terakhir di S1. Setelah itu profesi. Jadi inget pas lebaran kemaren. Orang-orang, kakak-kakak sepupu dan kakak saya pada bilang, 'mohon maaf lahir batin, mohon maaf jangan tanya kapan kawin'. Giliran saya, 'mohon maaf lahir batin, mohon maaf jangan tanya kapan lulus'. Hahaha. Bahkan adek sepupu saya yang dua tahun di bawah saya udah kerja dan kemaren udah turut andil ngasih THR ke adek-adek. Dan adek sepupu saya yang usianya empat tahun di bawah saya oktober ini lulus kuliah T.T (yaiya sih mereka kan nggak megikuti jenjang studir formal gaya Indonesia alias homeschooling, terus lulus SMP langsung cuss kuliah di Singapura, ya bisa dijelaskanlah kenapa mereka lulus duluan daripada saya, orang-orang keren mereka. Saya mah apalah).
Habis OSCE, apa saya balik ke Depok lagi aja ya? daripada menghabiskan uang buat makan di Jogja. Di depok kan makan gratis. .-.. Bayar sih, tapi bukan saya juga yang bayar. Eciee yang udah tahun ke-empat. Jadi yang paling tua di jurusan. .-. .Inget banget dulu pas masih tahun pertama-tahun kedua sering banget iseng kalo ketemu mbak Wulan, Mbak Mus, Mbak Adhin, Mbak Khal, dan Mbak-mbak lainnya bilang 'Eciyee mbak-mbak tahun terakhir' Ahahaha, terus habis itu langsung saya nya kena 'Astgahfirullah' dari mbak-mbak sholihat ini ahahaha. Dan itu rasanya baru kemaren saya masih ngisengin mbak-mbak ini. Masih ngerepotin mbak-mbak ini. Dan sekarang harus mau dan emang seharusnya gitu -jadi orang yang direpotkan. Jadi inget kata Bu Dini waktu saya masih kelas tiga MA. Beliau bilang 'Ya hidup ini emang penuh kata 'tahu-tahu'' Tahu,-tahu udah kuliah, tahu-tahu udah lulus, tahu-tahu udah nikah, tahu-tahu udah punya anak dan seterusnya. Ya tapi, hidup ini singkat kok, kata Mbak Alfina. hahaha
Hahaha, yasudah, udah dapet temen ngobrol. Nikari yang tiba-tiba kebangun,. Mungkin hadirnya Nikari adalah sebentuk jawaban doa saya ke Allah yang minta ditemenin malam ini :')
Label:
Jogja,
keluarga,
kuliah,
Liburan,
Me,
menulis,
Mudik,
Random,
rumah,
ugm,
warna-warni kehidupanku
Kamis, 09 Juli 2015
Buka Puasa Bareng selama di Jogja, Ramadhan 2015
2 foto di atas waktu buka puasa bareng JSC Crew, salah satu acaranya FLP, di kafe Kalender :) ~
Yang di atas ini waktu reuni sama anak-anak kelas Olymp, MTs PPMI Assalaam. Dan sekarang kelas olymp sudah ditiadakan, haha ~ cuma tiga generasi. Dan orang-orang ini adalah generasi kedua ~
2 foto di atas waktu buka bareng gycen jogja di rumah Imaw (lagi), yang sudah bisa dipastikan berlimpah makanannya walopun kita nggak ngeluarin duit sepeser pun haha ~
2 foto di atas waktu buka puasa bareng anak-anak SELUSIN, Forsalamm 2012, di PPMi Asma Amanina, dengan game yang nggak jelas bikinan Nadiyah, dengan orasi dari Fajar (emang orasi apaan? .-.), dengan soto dan berujung pada dikerjain sama Nina T.T
2 foto di atas diambil pas waktu buka bareng anak-anak HAMKA (kelompok PDKT FLP XV) plusplus di rumahnya Mbak Ines, Banguntapan Bantul. Sebenernya masih ada 45 foto lain yang masih tersimpan (sampe capek fotonya T.T, haha), tapi saya ambil yang menurut saya paling jelas aja haha ... merasakan taraweh dalam 30 menit, yang udah waswas karena suara imamnya nggak kedengeran, plusplus serunya ketawa bareng temen-temen HAMKA hahaha
Foto terakhir diambil pas waktu buka puasa bareng IAIC Joglosemar regional Jogja di rumahnya Kak Chendra dan Kak Ica (pasangan IC-IC nih, haha) ~
Yaudah itu aja sih, cuma pengen pamer kalo Ramadhan tahun ini masih selo (soalnya belom tentu Ramadhan tahun depan seselo ini T.T, doakan akan koas, amiin), *dasartukangpamer* haha ...
Dan lagi, sayanya karena ada detlen nulis, sementara saya belum menulis apapun di word yang sedari kemarin masih kosong dengan latar warna ungu ... saya harus nulis apa ya? .-.
Baju Baru
Kalau habis pulang dari rumah, pasti ada baju baru yang dibawain Ibu dari rumah, dan kalau dipake kuliah langsung jadi sasaran ledekan temen-temen, 'ciyeee baju baru ...'. Saya jawab enteng aja, 'Baju Ibu gue nih haha ...'
Jadi ceritanya tiap liburan akan selalu sama, karena setiap liburan ke rumah, saya nggak bawa baju pergi (biasanya), dan cuma bawa kaos oblong semua, jadi kalo mau pergi ke suatu tempat terus saya pake kaos, ibu pasti sewot,'Dek, kok pake kaos? Yang rapih dong'. Terus saya jawab enteng, 'Cuma bawa kaos, Bu'. Terus Ibu pasti grusak grusuk masuk kamar lagi, buka-buka lemari, keluar dengan baju di tangan, 'Nih, pake ganti pake ini, punya Ibu. Buat kamu aja.' Haha ... dan selalu kayak gitu.
Makanya, kalau temen-temen kontrakan ngeliat saya pulang cuma bawa satu ransel sama satu goodie bag, tapi balik dari depok pasti bawaanya bisa dua kali lipat lebih banyak, ya karena itu salah satunya haha ...
Ibu saya :')
Jadi ceritanya tiap liburan akan selalu sama, karena setiap liburan ke rumah, saya nggak bawa baju pergi (biasanya), dan cuma bawa kaos oblong semua, jadi kalo mau pergi ke suatu tempat terus saya pake kaos, ibu pasti sewot,'Dek, kok pake kaos? Yang rapih dong'. Terus saya jawab enteng, 'Cuma bawa kaos, Bu'. Terus Ibu pasti grusak grusuk masuk kamar lagi, buka-buka lemari, keluar dengan baju di tangan, 'Nih, pake ganti pake ini, punya Ibu. Buat kamu aja.' Haha ... dan selalu kayak gitu.
Makanya, kalau temen-temen kontrakan ngeliat saya pulang cuma bawa satu ransel sama satu goodie bag, tapi balik dari depok pasti bawaanya bisa dua kali lipat lebih banyak, ya karena itu salah satunya haha ...
Ibu saya :')
Masih Tetap Anak Bungsu
Foto-foto di atas diambil waktu buka bareng keluarganya Adek Sepupu (Dek Nia) di GDC kemaren Minggu. Jadi ceritanya, malam sebelumnya, saya dengan spontan dan malu-malu (alaah, apa pula malu-malu ini wkwkwkwk) bilang ke Ibu, 'Bu, buka bareng yuk. Kan Mas Iqbal jarang ikutan buka puasa di rumah.' Dan alhasil Ibu yang nyuruh saya bilang ke Mas Iqbal. Dan benarlah adanya, bahwa Mas Iqbal -si orang tersibuk di rumah itu- udah punya acara buka bareng anak BEM hari minggu sore. :(
Tadinya, akhirnya Ibu bilang, 'yaudah buka di rumah aja, tapi masaknya yang agak mewah, biar Mas Iqbal bisa ikut'. Dan seterusnya, dan seterusnya sampai Bapak bilang, 'Loh katanya mau buka di tempatnya Dek Nia?' Dan seterusnya, dan seterusnya, dan sampailah kita pada keputusan buka bareng di rumah Dek Nia.
Saya takut-takut bilangnya ke Mas Iqbal, sebenarnya. Habis kan saya yang mengajukan agenda dadakan, padahal saya tau Mas Iqbal adalah orang super sibuk, dan udah mana saya juga belum bilang Mbak Uca, karena beliau liqo seharian. Tapi, waktu saya bilang ke Mas Iqbal via wa kalo jadinya buka bareng di tempat dek Nia, eh tiba-tiba Mas Iqbal bilang, 'yaudah nanti gue pulang jam set4 an, tungguin yak.'
Padahal saya udah pasrah kalo Mas Iqbal nggak bisa juga. Tapi, beliau tetep mengusahakan mengabulkan permintaan saya yang random hari itu. Begitu pun Mbak Uca. Di situ saya baru sadar (lah, selama ini kemana aja buu? -,-) Kalau saya memang masih anak bungsu keluarga ini yang kalo minta apa-apa, hampir selalu di-iya-in, selama mintanya yang gampang-gampang. Sejak kecil, dari tiga bersaudara ini kalo punya permintaan yang aneh-aneh, pasti saya adalah jubir buat kakak-kakak saya ke orang tua, dengan alasan, 'Dek, kalo elo yang minta pasti dibolehin deh sama Bapak Ibu'. Ahahahaha ... Di situ kadang saya merasa ...
Iya ya, sejauh apapun saya pergi, selama apapun saya nggak di rumah, hal-hal tersebut tidak mengurangi rasa sayang kakak-kakak saya, Bapak, Ibu ke saya. Justru, semakin jauh, rasa memiliki itu justru semakin kuat. apalagi sudah pada lewat dua puluhan semua usianya. Pasti udah pada mulai mikir, bisa bareng-bareng sama keluarga Depok ini juga mungkin nggak akan lama lagi, tahun depan ada yang koas, Mas Iqbal pun kerjanya dari habis subuh udah berangkat pulangnya malem banget, Mbak Uca udah mulai dinas-dinas di rumah sakit. Wah, kita sudah mulai sibuk ... Semoga masa sibuk ini tidak mengurangi rasa bakti dan rasa sayang kami sama Bapak Ibu :') ...
Selasa, 30 Juni 2015
Pesan yang Tidak Pernah Sampai
Pesan itu sebenarnya hanya pesan singkat yang mungkin hanya sepanjang sekian ratus karakter. Berisikan identitas pengirim juga tujuannya. Hanya saja, pesan itu tidak pernah sampai pada si empunya telepon seluler di belahan bumi lainnya. Entah berapa kali pesan itu dikirim ulang, dengan bahasa yang sama ataupun berbeda, dengan diksi dan rima yang sama ataupun berbeda, hasilnya tetap sama. Nihil. Pesan singkat itu tidak pernah sampai pada telepon genggam di seberang sana. Entah karena apa. Apakah cuaca mempengaruhi sampai atau tidaknya pesan itu? Apakah suasana hati si empu telepon genggam termasuk salah satu faktornya? Apakah Bulan Ramadhan mempengaruhi sinyal-sinyal untuk semakin melambat dalam mengirimkan pesan karena mungkin sinyal-sinyal itu sudah terlalu lelah diaktifkan selama 24 jam nonstop dari sahur hingga menunggu buka dan usai buka hingga sahur lagi. Yang mana?
Entahlah, yang jelas, pesan singkat itu tidak pernah sampai . . .
*Balada SMS yang tidak pernah sampai ke Dosen Pembimbing Skripsi, T.T ... yang juga tidak selalu stand by di Lab. Duh, dok ... saya harus gimana, euy? T.T
Entahlah, yang jelas, pesan singkat itu tidak pernah sampai . . .
*Balada SMS yang tidak pernah sampai ke Dosen Pembimbing Skripsi, T.T ... yang juga tidak selalu stand by di Lab. Duh, dok ... saya harus gimana, euy? T.T
Rabu, 24 Juni 2015
Menggarap Skripsi
-Kata Mas Iqbal, entah kapan lupa, sekitar tahun lalu saat beliau masih berjuang dengan skripsinya, dan berhasil lulus di bulan Agustus tahun lalu.Ngerjain skripsi itu adalah melawan diri sendiri.
Sekarang giliran saya.
Segera menyusul, Insya Allah. 2016.
Setelah itu, jas dokter muda menanti untuk dikenakan.
Semoga ada cerita yang lebih indah ketimbang hanya sekadar mengeluh di rumah ini. :)
#TidakPenting #2
Akhir-akhir ini jogja kelewat dingin. Terlalu dingin. Sampai setiap bangun pagi hari, kalau tidur tanpa selimut lapis dua dan jaket, atau kadang-kadang harus juga dilengkapi dengan kaus kaki dan sarung tangan, sudah bisa dipastikan akan menggigil. Susah memang punya tubuh yang punya treshold sensori dingin yang rendah, terlalu mudah kedinginan. Mudah menggigil. Mungkin bisa jadi itu juga salah satu mengapa diri ini tidak suka dengan kegiatan -apapun- yang berlokasi di daerah dingin. Jogjanya dingin. Bagaimana dengan Depok?
Akhirnya memutuskan untuk membatalkan tiket tertanggal 23 Juni 2015 yang sudah dibeli sejak sekitar sebulan lalu dengan random, di tengah-tengah kuliah sore-sore. Yang dipicu dengan pertanyaan, "Udah beli tiket pulang?". Karena untuk pertama kalinya Ramadhan di Jogja tanpa adanya ujian OSCE. Objective Structural Clinical Examination -yang kalau dibahasain pakai bahasa yang lebih mudah dicerna jadi : Ujian praktik keterampilan klinik. Ujian yang menghabiskan energi paling banyak dalam setahun. Juga menghabiskan uang paling banyak, karena persiapannya harus juga mempersiapkan alat-alat medis yang harganya cukup menghabiskan uang bulanan. Latihan ujiannya sudah dimulai sejak satu semester sebelumnya bersama asisten mahasiswa, dilanjut saat jeda dari sejak ujian blok terakhir tahun ajaran itu hingga giliran OSCE secara berkelompok dengan kelompoknya masing-masing. Merencanakan kapan akan latihan sendiri, dimana, kapan, dengan siapa saja. Dan setiap kali latihan akan mengulang-ulang kalimat (yang sekarang sudah hampir jadi program otomatis dalam diri ini) "Selamat pagi/siang, pak/bu, perkenalkan saya dokter Setyani yang berjaga pagi/siang ini, dengan Bapak/Ibu siapa? Umurnya berapa Pak/Bu? Tinggalnya dimana? Pekerjaannya apa? Bagaimana Pak/Bu, ada yang bisa saya bantu? dst ... dst ..." sudah semacam teller bank atau resepsionis di front office.
Waktu KRS-an kemarin, baru sadar saat ada yang bertanya di grup line angkatan, "Eh semester depan yang diambil blok apa aja? 4.1, 4.2, 4.3 aja? Nggak ada OSCE dan skripsi ya?" Dan semua (eh nggak tau deng semua atau nggak, diri ini cuma rajin nyecroll precakapan dengan sepintas) mengiyakan. Dan diri ini baru ingat, kalau, ya ini hanya kalau -karena semua bisa berubah, toh kuasa hati dan kendalinya ada di tangan Yang Maha Kuasa- semester depan benar-benar menjadi semester terakhir di S1, maka setelahnya OSCE bukan lagi OSCE KBK 1 atau 2 atau 3, tapi sudah OSCE kompre. Komprehensif. Menyeluruh. Apa yang diujikan mencakup apa-apa yang diujikan di tahun pertama, kedua, dan ketiga. Ditambah apa yang akan diberikan di tahun keempat tentang kegawatdaruratan. Berarti akan bertemu lagi (mungkin) dengan materi sirkumsisi, aseptik prosedur, pemasangan IUD/implant, menolong persalinan, dan lain-lain, dan lain-lain yang sekarang -bisa dibilang- hampir lupa. Lalu, OSCE kompre, sebagaimana OSCE KBK 3 yang akan berlangsung besok usai lebaran, harus sudah mencakup komponen 'diagnosis', 'differential diagnosis', dan 'terapi'. Padahal merasa belum paham banyak patofisiolgi penyakit, merasa masih lupa ingat cara menulis resep obat, apalagi mengingat kalau sakit ini -maka obatnya ini untuk lini pertama, lini keduanya, dan lini-lini berikutnya.
Ah iya,ya, jadi dokter itu, buat masuk kuliahnya gampang. Yang susah itu keluarnya. -___-". Entahlah, apakah diri ini akan bisa lulus dalam satu kali OSCE kompre dan ujian UKDI nantinya, eh namanya bukan UKDI lagi deng, sudah jadi ... lupa, yang jelas singkatannya lebih panjang dari hanya sekedar UKDI alias uji komprehensif dokter indonesia, biasa Indonesia mah, udah disingkat, singkatannya juga masih aja tetep panjang. Hadeeeuh ...
Sebenarnya, tadinya mau cerita kalau diri ini memilih untuk membuang kesempatan pulang cepat, tapi entah kenapa malah menggalau tentang OSCE kompre yang jaraknya tinggal satu semester lagi. Dan setelah itu koas. Oh iya, bisa jadi karena barusan mimpi kalau diri ini menjalani hari pertamanya di koas dengan penuh kebingungan dan malah mengikuti barisan mahasiswa baru bukannya dokter muda yang baru. Duh, ... semoga bukan pertanda yang tidak-tidak, hanya sekadar bunga mimpi yang lewat tanpa izin.
Atau bisa jadi efek telepon orang tua tadi pagi, saat izin untuk mengundurkan pulang dan mengabarkan bahwa diri ini -officially- diterima di pondok pesantren mahasiswi di jogja. Keduanya hanya meminta jaminan, bahwa si anak bungsu ini mampu menyelesaikan studinya hingga jadi dokter jika berniat mengambil tawaran yang baru saja diberikan. Jaminan agar diri ini benar-benar menjadi dokter. Benar-benar menjadi dokter.
Tidak sekali, dua kali diri ini berpikir untuk berhenti saja dari dokter-dokteran ini. Kemudian tanpa melanjutkan ke jenjang keprofesian, mengambil kuliah lagi yang tidak ada hubungannya dengan menjadi dokter. Ilmu perpustakaan misalnya, atau komunikasi, atau malah DKV sekalian? Tapi, sepertinya banyak yang mengharapkan diri yang masih bocah ini untuk menjadi dokter. Mungkin termasuk juga diri ini. Perlahan mulai mengharap apa yang sudah dipelajarinya selama tiga tahun terakhir dengan jatuh bangun (walaupun lebih banyak jatuhnya, daripada bangunnya) bisa membuahkan manfaat, minimal untuk keluarganya sendiri. Bagaimana pun, 'Al-ilmu bilaa 'amalin ka syajarotin bilaa tsamarin'. Ilmu tanpa amal bagai pohon tanpa buah. Dan kalau meminjam bahasanya Bapak, ya ... diri ini sudah kadung basah, mengapa tak sekalian menyelam? Siapa tau menemukan rahasia-rahasia keindahan yang orang tidak menyelam tidak ketahui. Siapa tahu dengan menjadi dokter ada hal-hal yang menyenangkan di sana. (Ya pasti ada sih, hanya saja sekarang memang lebih besar ketakutannya ketimbang senangnya).
Sekolah tiga tahun di bidang ini, saat tahun ketiga -pada blok dengan judul 'lifestyle related complaint'- saat setiap mahasiswa diharuskan mengisi questionnare SRQ -yang diri ini sudah lupa kepanjangannya apa- ternyata membuahkan skor 12. Padahal cut off point nya 6. Dua poin lagi, bisa jadi diri ini sudah masuk fase awal skizofrenia. Bukan berharap. Hanya menjabarkan fakta. Semoga kuliah dan menjadi dokter bukan hanya ilusi dan imajinasi karena ternyata diri ini sudah terjangkit skizofrenia. Kuliahnya sudah susah, biayanya juga tidak sedikit, jangan disia-siakan. Sayang kan? (yah, walaupun, diri ini percaya bahwa tidak ada kuliah yang mudah jika kamu tidak suka dengan kuliahnya, juga tidak ada pendidikan yang murah di Indonesia jika mau bersekolah di sekolah bagus).
Yah begitulah, memang tulisan ini hanya tulisan tidak penting, yang sebenarnya bukan nomor kedua, tapi memang semua tulisan di blog ini lebih banyak tulisan tidak pentingnya daripada tulisan berkualitasnya. Hanya sekadar untuk mengurai keruwetan dan ketakutan-ketakutan dari pikiran-pikiran yang mampir sejak terbangun tepat di jam 23.53 tadi. Hanya salah satu tulisan random dari banyaknya tulisan-tulisan random yang ada di blog ini, baik yang sudah diposting ataupun masih berupa draft.
Jadi begitu. Diri ini menunda kepulangan. Kemudian jadi mengingat bahwa untuk pertama kalinya ujian OSCE tidak di bulan Ramadhan, dan bahwa semester depan adalah semester terakhir di masa studi S1 ini. Dan betapa alur pemikiran seseorang tidak mudah dipahami, bahkan oleh diri sendiri. -_____________-".
Sudahlah, sudah malam ...
Sebentar lagi sahur.
Akhirnya memutuskan untuk membatalkan tiket tertanggal 23 Juni 2015 yang sudah dibeli sejak sekitar sebulan lalu dengan random, di tengah-tengah kuliah sore-sore. Yang dipicu dengan pertanyaan, "Udah beli tiket pulang?". Karena untuk pertama kalinya Ramadhan di Jogja tanpa adanya ujian OSCE. Objective Structural Clinical Examination -yang kalau dibahasain pakai bahasa yang lebih mudah dicerna jadi : Ujian praktik keterampilan klinik. Ujian yang menghabiskan energi paling banyak dalam setahun. Juga menghabiskan uang paling banyak, karena persiapannya harus juga mempersiapkan alat-alat medis yang harganya cukup menghabiskan uang bulanan. Latihan ujiannya sudah dimulai sejak satu semester sebelumnya bersama asisten mahasiswa, dilanjut saat jeda dari sejak ujian blok terakhir tahun ajaran itu hingga giliran OSCE secara berkelompok dengan kelompoknya masing-masing. Merencanakan kapan akan latihan sendiri, dimana, kapan, dengan siapa saja. Dan setiap kali latihan akan mengulang-ulang kalimat (yang sekarang sudah hampir jadi program otomatis dalam diri ini) "Selamat pagi/siang, pak/bu, perkenalkan saya dokter Setyani yang berjaga pagi/siang ini, dengan Bapak/Ibu siapa? Umurnya berapa Pak/Bu? Tinggalnya dimana? Pekerjaannya apa? Bagaimana Pak/Bu, ada yang bisa saya bantu? dst ... dst ..." sudah semacam teller bank atau resepsionis di front office.
Waktu KRS-an kemarin, baru sadar saat ada yang bertanya di grup line angkatan, "Eh semester depan yang diambil blok apa aja? 4.1, 4.2, 4.3 aja? Nggak ada OSCE dan skripsi ya?" Dan semua (eh nggak tau deng semua atau nggak, diri ini cuma rajin nyecroll precakapan dengan sepintas) mengiyakan. Dan diri ini baru ingat, kalau, ya ini hanya kalau -karena semua bisa berubah, toh kuasa hati dan kendalinya ada di tangan Yang Maha Kuasa- semester depan benar-benar menjadi semester terakhir di S1, maka setelahnya OSCE bukan lagi OSCE KBK 1 atau 2 atau 3, tapi sudah OSCE kompre. Komprehensif. Menyeluruh. Apa yang diujikan mencakup apa-apa yang diujikan di tahun pertama, kedua, dan ketiga. Ditambah apa yang akan diberikan di tahun keempat tentang kegawatdaruratan. Berarti akan bertemu lagi (mungkin) dengan materi sirkumsisi, aseptik prosedur, pemasangan IUD/implant, menolong persalinan, dan lain-lain, dan lain-lain yang sekarang -bisa dibilang- hampir lupa. Lalu, OSCE kompre, sebagaimana OSCE KBK 3 yang akan berlangsung besok usai lebaran, harus sudah mencakup komponen 'diagnosis', 'differential diagnosis', dan 'terapi'. Padahal merasa belum paham banyak patofisiolgi penyakit, merasa masih lupa ingat cara menulis resep obat, apalagi mengingat kalau sakit ini -maka obatnya ini untuk lini pertama, lini keduanya, dan lini-lini berikutnya.
Ah iya,ya, jadi dokter itu, buat masuk kuliahnya gampang. Yang susah itu keluarnya. -___-". Entahlah, apakah diri ini akan bisa lulus dalam satu kali OSCE kompre dan ujian UKDI nantinya, eh namanya bukan UKDI lagi deng, sudah jadi ... lupa, yang jelas singkatannya lebih panjang dari hanya sekedar UKDI alias uji komprehensif dokter indonesia, biasa Indonesia mah, udah disingkat, singkatannya juga masih aja tetep panjang. Hadeeeuh ...
Sebenarnya, tadinya mau cerita kalau diri ini memilih untuk membuang kesempatan pulang cepat, tapi entah kenapa malah menggalau tentang OSCE kompre yang jaraknya tinggal satu semester lagi. Dan setelah itu koas. Oh iya, bisa jadi karena barusan mimpi kalau diri ini menjalani hari pertamanya di koas dengan penuh kebingungan dan malah mengikuti barisan mahasiswa baru bukannya dokter muda yang baru. Duh, ... semoga bukan pertanda yang tidak-tidak, hanya sekadar bunga mimpi yang lewat tanpa izin.
Atau bisa jadi efek telepon orang tua tadi pagi, saat izin untuk mengundurkan pulang dan mengabarkan bahwa diri ini -officially- diterima di pondok pesantren mahasiswi di jogja. Keduanya hanya meminta jaminan, bahwa si anak bungsu ini mampu menyelesaikan studinya hingga jadi dokter jika berniat mengambil tawaran yang baru saja diberikan. Jaminan agar diri ini benar-benar menjadi dokter. Benar-benar menjadi dokter.
Tidak sekali, dua kali diri ini berpikir untuk berhenti saja dari dokter-dokteran ini. Kemudian tanpa melanjutkan ke jenjang keprofesian, mengambil kuliah lagi yang tidak ada hubungannya dengan menjadi dokter. Ilmu perpustakaan misalnya, atau komunikasi, atau malah DKV sekalian? Tapi, sepertinya banyak yang mengharapkan diri yang masih bocah ini untuk menjadi dokter. Mungkin termasuk juga diri ini. Perlahan mulai mengharap apa yang sudah dipelajarinya selama tiga tahun terakhir dengan jatuh bangun (walaupun lebih banyak jatuhnya, daripada bangunnya) bisa membuahkan manfaat, minimal untuk keluarganya sendiri. Bagaimana pun, 'Al-ilmu bilaa 'amalin ka syajarotin bilaa tsamarin'. Ilmu tanpa amal bagai pohon tanpa buah. Dan kalau meminjam bahasanya Bapak, ya ... diri ini sudah kadung basah, mengapa tak sekalian menyelam? Siapa tau menemukan rahasia-rahasia keindahan yang orang tidak menyelam tidak ketahui. Siapa tahu dengan menjadi dokter ada hal-hal yang menyenangkan di sana. (Ya pasti ada sih, hanya saja sekarang memang lebih besar ketakutannya ketimbang senangnya).
Sekolah tiga tahun di bidang ini, saat tahun ketiga -pada blok dengan judul 'lifestyle related complaint'- saat setiap mahasiswa diharuskan mengisi questionnare SRQ -yang diri ini sudah lupa kepanjangannya apa- ternyata membuahkan skor 12. Padahal cut off point nya 6. Dua poin lagi, bisa jadi diri ini sudah masuk fase awal skizofrenia. Bukan berharap. Hanya menjabarkan fakta. Semoga kuliah dan menjadi dokter bukan hanya ilusi dan imajinasi karena ternyata diri ini sudah terjangkit skizofrenia. Kuliahnya sudah susah, biayanya juga tidak sedikit, jangan disia-siakan. Sayang kan? (yah, walaupun, diri ini percaya bahwa tidak ada kuliah yang mudah jika kamu tidak suka dengan kuliahnya, juga tidak ada pendidikan yang murah di Indonesia jika mau bersekolah di sekolah bagus).
Yah begitulah, memang tulisan ini hanya tulisan tidak penting, yang sebenarnya bukan nomor kedua, tapi memang semua tulisan di blog ini lebih banyak tulisan tidak pentingnya daripada tulisan berkualitasnya. Hanya sekadar untuk mengurai keruwetan dan ketakutan-ketakutan dari pikiran-pikiran yang mampir sejak terbangun tepat di jam 23.53 tadi. Hanya salah satu tulisan random dari banyaknya tulisan-tulisan random yang ada di blog ini, baik yang sudah diposting ataupun masih berupa draft.
Jadi begitu. Diri ini menunda kepulangan. Kemudian jadi mengingat bahwa untuk pertama kalinya ujian OSCE tidak di bulan Ramadhan, dan bahwa semester depan adalah semester terakhir di masa studi S1 ini. Dan betapa alur pemikiran seseorang tidak mudah dipahami, bahkan oleh diri sendiri. -_____________-".
Sudahlah, sudah malam ...
Sebentar lagi sahur.
Selasa, 26 November 2013
Semuanya Lelah
Saya tahu, semuanya sedang lelah ... Semuanya, mungkin, saat ini sedang dalam titik terlelahnya, Dimana yang satu enggan menanggapi perkataan lainnya, inginnya menggeleng tak setuju, tapi yang keluar justru amuk emosi dalam hati. karena lelah ... inginnya mengangguk setuju dengan semangat, namun hanya anggukan lemah, pasrah yang terlihat ... karena semuanya sedang lelah.
Semuanya sedang lelah ...
Beberapa mencoba tersenyum. Memaksakan diri mungkin. Untuk membuat yang lain tersenyum, tapi yang ada hanya senyum tegang, senyum yang tak senyum. Karena semuanya sedang lelah.
Semua aktivitas beberapa bulan, beberapa minggu, beberapa hari terakhir mungkin memang menyedot habis semua perhatian kita, energi, senyum, dan semua hal positif dari kita. Hingga menyisakan lelah dalam hati...
Semuanya bertanya, kapan berakhir? kapan selesai? Semua menjerit, semua mengeluh, semua Lelah ...
Kau juga merasakannya juga kan?
Karenanya, aku mohon, tidak perlu lagi ada dzhan di antara kita, tidak perlu ada debat di antara kita, tidak perlu ada lagi pertengkaran-pertengkaran tak berarti di antara kita ... Kita cari solusinya tanpa harus mengerutkan wajah, menengangkan urat nadi dan semua aktivitas yang membuat semua keadaan ini semakin melelahkan ...
Kau juga merasakannya kan? Semua atmosfer kelelahan ini ... Sudah ya? Sudah, kita tak perlu lagi adu mulut, adu pendapat, adu argumen, tidak perlu lagi saling menyalahkan, saling tuduh, saling tikam ... sudah ya? Sudah cukup ...
Sudah ya?
Karena kita semua lelah ... Karenanya, biarkan, paling tidak sedikit kedamaian untuk diri sendiri dengan menghindari setiap dzhan, dan setiap debat ... cukup terima saja ... terima saja ... Ada saatnya kita paham kenapa harus selelah ini, kalau tidak sekarang, mungkin esok hari, mungkin lusa, mungkin atau hari-hari berikutnya ...
Ada saatnya kita akan paham, Ada saatnya ....
Semuanya sedang lelah ...
Beberapa mencoba tersenyum. Memaksakan diri mungkin. Untuk membuat yang lain tersenyum, tapi yang ada hanya senyum tegang, senyum yang tak senyum. Karena semuanya sedang lelah.
Semua aktivitas beberapa bulan, beberapa minggu, beberapa hari terakhir mungkin memang menyedot habis semua perhatian kita, energi, senyum, dan semua hal positif dari kita. Hingga menyisakan lelah dalam hati...
Semuanya bertanya, kapan berakhir? kapan selesai? Semua menjerit, semua mengeluh, semua Lelah ...
Kau juga merasakannya juga kan?
Karenanya, aku mohon, tidak perlu lagi ada dzhan di antara kita, tidak perlu ada debat di antara kita, tidak perlu ada lagi pertengkaran-pertengkaran tak berarti di antara kita ... Kita cari solusinya tanpa harus mengerutkan wajah, menengangkan urat nadi dan semua aktivitas yang membuat semua keadaan ini semakin melelahkan ...
Kau juga merasakannya kan? Semua atmosfer kelelahan ini ... Sudah ya? Sudah, kita tak perlu lagi adu mulut, adu pendapat, adu argumen, tidak perlu lagi saling menyalahkan, saling tuduh, saling tikam ... sudah ya? Sudah cukup ...
Sudah ya?
Karena kita semua lelah ... Karenanya, biarkan, paling tidak sedikit kedamaian untuk diri sendiri dengan menghindari setiap dzhan, dan setiap debat ... cukup terima saja ... terima saja ... Ada saatnya kita paham kenapa harus selelah ini, kalau tidak sekarang, mungkin esok hari, mungkin lusa, mungkin atau hari-hari berikutnya ...
Ada saatnya kita akan paham, Ada saatnya ....
Senin, 18 November 2013
Random nomer sekian
well, rasanya udah lama banget nggak ngerandom di blog. Dan mungkin ini juga karena rasa 'capek' gue yang menyerang gue akhir-akhir ini. Iya, emang gue akhir-akhir ini sering ngerasa capek. bukan secara fisik. Kalo capek secara fisik mah bisa hilang dengan tidur, tapi capek mental?
Jadi ceritanya, kuliah dan kegiatan kampus yang udah jalan beberapa bulan ini, entah kenapa banyak banget menyita perhatian gue. Entah karena posisi dan tanggung jawab yang udah mulai beda karena udah punya 'adik', dan karenanya, karena menerima posisi dan amanah yang beda itu dalam keadaan nggak siap, akhirnya gue jadi canggung. Atau entah karena sebab lain ...
Jadi karena lelah yang semakin menjadi-jadi setiap harinya, hampir semua amanah terbengkalai (oke, gue sadar kok gue nggak profesional), sms dari kakak2 di kampus nggak gue bales, telpon nggak gue angkat, dan segala macam lainnya. Kadang-kadang di saat yang seperti itu, mestinya gue bisa gambar atau nulis buat menuangkan semua perasaan dan pikiran, tapi mungkin karena guenya yang udah terlalu capek dengan semua teknis yang nggak selesai-selesai dibahas, akhirnya ekspresi itu nggak keluar. Gue sempat mengalami rasa dimana gue stagnan. Nggak bisa nulis apapun. Tangan gue kaku sampe rasanya apapun yang gue gambar nggak pas dengan bayangan gue. Semuanya jelek. Semuanya aneh. Gue mikir. Mungkin, ini ada hubungannya sama rasa 'capek' gue.
Iya emang, sejak masuk kuliah tahun kedua ini, gue ngerasa, gue ngak punya banyak waktu buat diri gue sendiri. Cuma sekali. Itupun nggak berakhir dengan bahagia. Entah karena guenya yang nggak meluangkan waktu, entah karena gue yang akhir-akhir ini sulit nolak, atau entahlah ...
Dan alhasil, semua lelah itu numpuk di otak, di hati, di badan sampai menjamur. Gue bosen sama semuanya, gue capek. Dan hal itu berujung pada gue kuliah, gue ngelakuin pekerjaan udah kayak robot dan kayak orang buta. terprogram, dan nggak tahu kemana dan buat apa ngerjain hal tersebut. Hal ini berujung pada gue yang ngerasa kehilangan sama diri gue sendiri. Lhah, bingung kan? Iya, gue sendiri juga bingung. Gue bingung mencari diri gue. Gue kehilangan diri gue sendiri ...
Akhirnya gue memutuskan untuk 'memberikan waktu untuk diri sendiri'. Gue bolos kuliah hari kamis dan jumat yang cuma masuk 1 jam seharinya, cuma buat memberikan waktu untuk berpikir dan sedikit bermalas-malasan. Serta sedikit menjauh dari hiruk pikuk keadaan kampus yang kondusif buat mikir. Tapi nggak berhasil. Yang ada gue malah nangis. Capek. Capek dan capek, dan akhirnya dua hari bolos cuma habis buat mengeluh. Gue menyimpulkan, kalo gue harus menjauh dari kampus, nggak bahkan yang lebih ekstrem, menjauh dari jogja untuk mendinginkan kepala gue, dan untuk berpikir lebih rasional. Yah, terserah kalo mau bilang gue mau 'lari'. Untung banget hari Roadshoaw bertepatan dengan jadwal kosong minggu depannya, dan langsung gue tangkep kesempatan ini, untuk berdiam diri di Depok barang cuma 2-3 hari. Gue rasa cukup. Cukup buat mikir, cukup untuk mendinginkan kepala, cukup untuk kembali memupuk semangat, dan segala cukup lainnya ....
Kalau akhirnya nggak merasa cukup? Maka, yang diperlukan akhirnya adalah bersyukur untuk menjadikannya cukup ...
Dan well, di sinilah gue akhirnya. di rumah. memberikan porsi lebih banyak untuk diri sendiri dan keluarga. Memupuk semangat dengan ketemu temen-temen IC dan adek-adek IC yang semangat nanya-nanya kehidupan kampus. Semangat mereka bikin gue mikir kembali, dulu, saat gue masih berada di posisi mereka, gue punya semangat yang sama. Dan masa baru dua tahun semangat itu udah melempem? Emangnya kerupuk? Ketemu adek-adek IC bikin gue mikir lagi tentang tujuan gue masuk kampus, dan macam-macam tujuan lainnya melalui keputusan-keputusan yang udah gue ambil ...
Bertemu keluarga gue lagi setelah sekian lama bikin gue mikir lagi, keputusan-keputusan yang udah dan akan gue ambil. Gue refleksikan dari kehidupan keluarga ini dulu dan sekarang, yang gue yakin sedikit banyak akan mempengaruhi kehidupan gue ke depannya ...
Well, benar kan, yang gue butuhkan hanya keluar dari rutinitas dan teknis yang semakin mengungkung setiap harinya, dan memberikan porsi lebih untuk diri sendiri untuk akhirnya menemukan kembali diri gue? untuk akhirnya menghilangkan lelah ini ...
Buktinya? Buktinya gue bisa nulis sepanjang ini lagi ... walaupun isinya ngerandom ....
hope this is not the end ...
Jadi ceritanya, kuliah dan kegiatan kampus yang udah jalan beberapa bulan ini, entah kenapa banyak banget menyita perhatian gue. Entah karena posisi dan tanggung jawab yang udah mulai beda karena udah punya 'adik', dan karenanya, karena menerima posisi dan amanah yang beda itu dalam keadaan nggak siap, akhirnya gue jadi canggung. Atau entah karena sebab lain ...
Jadi karena lelah yang semakin menjadi-jadi setiap harinya, hampir semua amanah terbengkalai (oke, gue sadar kok gue nggak profesional), sms dari kakak2 di kampus nggak gue bales, telpon nggak gue angkat, dan segala macam lainnya. Kadang-kadang di saat yang seperti itu, mestinya gue bisa gambar atau nulis buat menuangkan semua perasaan dan pikiran, tapi mungkin karena guenya yang udah terlalu capek dengan semua teknis yang nggak selesai-selesai dibahas, akhirnya ekspresi itu nggak keluar. Gue sempat mengalami rasa dimana gue stagnan. Nggak bisa nulis apapun. Tangan gue kaku sampe rasanya apapun yang gue gambar nggak pas dengan bayangan gue. Semuanya jelek. Semuanya aneh. Gue mikir. Mungkin, ini ada hubungannya sama rasa 'capek' gue.
Iya emang, sejak masuk kuliah tahun kedua ini, gue ngerasa, gue ngak punya banyak waktu buat diri gue sendiri. Cuma sekali. Itupun nggak berakhir dengan bahagia. Entah karena guenya yang nggak meluangkan waktu, entah karena gue yang akhir-akhir ini sulit nolak, atau entahlah ...
Dan alhasil, semua lelah itu numpuk di otak, di hati, di badan sampai menjamur. Gue bosen sama semuanya, gue capek. Dan hal itu berujung pada gue kuliah, gue ngelakuin pekerjaan udah kayak robot dan kayak orang buta. terprogram, dan nggak tahu kemana dan buat apa ngerjain hal tersebut. Hal ini berujung pada gue yang ngerasa kehilangan sama diri gue sendiri. Lhah, bingung kan? Iya, gue sendiri juga bingung. Gue bingung mencari diri gue. Gue kehilangan diri gue sendiri ...
Akhirnya gue memutuskan untuk 'memberikan waktu untuk diri sendiri'. Gue bolos kuliah hari kamis dan jumat yang cuma masuk 1 jam seharinya, cuma buat memberikan waktu untuk berpikir dan sedikit bermalas-malasan. Serta sedikit menjauh dari hiruk pikuk keadaan kampus yang kondusif buat mikir. Tapi nggak berhasil. Yang ada gue malah nangis. Capek. Capek dan capek, dan akhirnya dua hari bolos cuma habis buat mengeluh. Gue menyimpulkan, kalo gue harus menjauh dari kampus, nggak bahkan yang lebih ekstrem, menjauh dari jogja untuk mendinginkan kepala gue, dan untuk berpikir lebih rasional. Yah, terserah kalo mau bilang gue mau 'lari'. Untung banget hari Roadshoaw bertepatan dengan jadwal kosong minggu depannya, dan langsung gue tangkep kesempatan ini, untuk berdiam diri di Depok barang cuma 2-3 hari. Gue rasa cukup. Cukup buat mikir, cukup untuk mendinginkan kepala, cukup untuk kembali memupuk semangat, dan segala cukup lainnya ....
Kalau akhirnya nggak merasa cukup? Maka, yang diperlukan akhirnya adalah bersyukur untuk menjadikannya cukup ...
Dan well, di sinilah gue akhirnya. di rumah. memberikan porsi lebih banyak untuk diri sendiri dan keluarga. Memupuk semangat dengan ketemu temen-temen IC dan adek-adek IC yang semangat nanya-nanya kehidupan kampus. Semangat mereka bikin gue mikir kembali, dulu, saat gue masih berada di posisi mereka, gue punya semangat yang sama. Dan masa baru dua tahun semangat itu udah melempem? Emangnya kerupuk? Ketemu adek-adek IC bikin gue mikir lagi tentang tujuan gue masuk kampus, dan macam-macam tujuan lainnya melalui keputusan-keputusan yang udah gue ambil ...
Bertemu keluarga gue lagi setelah sekian lama bikin gue mikir lagi, keputusan-keputusan yang udah dan akan gue ambil. Gue refleksikan dari kehidupan keluarga ini dulu dan sekarang, yang gue yakin sedikit banyak akan mempengaruhi kehidupan gue ke depannya ...
Well, benar kan, yang gue butuhkan hanya keluar dari rutinitas dan teknis yang semakin mengungkung setiap harinya, dan memberikan porsi lebih untuk diri sendiri untuk akhirnya menemukan kembali diri gue? untuk akhirnya menghilangkan lelah ini ...
Buktinya? Buktinya gue bisa nulis sepanjang ini lagi ... walaupun isinya ngerandom ....
hope this is not the end ...
Jumat, 14 Juni 2013
setiap kali mendengarnya dimainkan secara langsung di hadapan saya, napas saya selalu langsung tercekat seolah semua oksigen yang ada di bumi tak mencukupi untuk konsumsi paru-paru saya,,
begitu juga ketika saya memposisikan diri untuk memulai lagi memainkannya ...
Kapan saya bisa memainkannya lagi?
saya merindukan ketika suara-suara gesekan itu dihasilkan oleh tangan-tangan saya, yang entah sudah berapa tahun saya tinggalkan ...
Namun, tetap saja seketika saya memikirkan untuk memainkannya, napas saya langsung tercekat kembali ...
Saya ingin bisa berdamai ...
begitu juga ketika saya memposisikan diri untuk memulai lagi memainkannya ...
Kapan saya bisa memainkannya lagi?
saya merindukan ketika suara-suara gesekan itu dihasilkan oleh tangan-tangan saya, yang entah sudah berapa tahun saya tinggalkan ...
Namun, tetap saja seketika saya memikirkan untuk memainkannya, napas saya langsung tercekat kembali ...
Saya ingin bisa berdamai ...
Selasa, 11 Juni 2013
Lelah ...
iya, saya memang sedang lelah akhir-akhir ini. Lelah untuk satu hal terutama, yang saya juga sedang mencari akar masalah dan penyelesaiannya ...
Jadi, kalau akhir-akhir ini saya sering membangkang, ya mungkin karena rasa lelah yang berkepanjangan itu .. yang saya juga lupa kapan mulainya, dan entah kapan akan berakhir ...
Terlalu banyak ekspektasi yang tak terbayarkan oleh realita, terlalu banyak karya tak terapresiasi, terlalu banyak pertanyaan tak terjawab, dan ide yang biarkan lewat begitu saja ...
Saya lelah .. idealita mungkin tak selalu sama dengan realita, tapi kalau di tempat lain saya bisa mendapat suatu realita yang bisa disebut indah, mengapa di sini tidak?
Saya tidak mau menyalahkan siapa-siapa, karena toh, saya juga salah, ketika ternyata iman saya masih compang-camping, karena itu akan berefek pada keikhlasan dan pelurusan niat serta pengistiqomahan saya ...
Saya juga tidak ingin menyalahkan siapapun itu yang posisinya berada di atas atau sejajar dengan saya, karena sebenarnya semua merasa sama. Satu dalam keterpecahan, sebut saja begitu.
Dan ketika semua merasa seperti ini, apakah agenda kultural cukup? Saya juga tidak tahu ... Saya juga masih mencari jawabnya.
Dan sejauh ini, yang saya harapkan hanya sebuah apresiasi dan pengakuan eksistensi terhadap kemampuan saya ...
Lagi-lagi, lagi-lagi, eksistensi karya saya 'mati' di satu tempat,,
Karenanya saya tidak akan pernah merasa hidup jika saya terus menetap, karena eksistensi karya berkerabat dekat dengan eksistensi diri, akhirnya konsekuensi dari rasa lelah itu adalah saya terbang dan hinggap di lain tempat, di mana saya merasa lebih hidup ............
Sekali lagi, maaf saya merasa lelah ...
*doakan saja ini tidak berkepanjangan yang akhirnya malah membuat saya kecewa yang juga berkepanjangan ..
Jadi, kalau akhir-akhir ini saya sering membangkang, ya mungkin karena rasa lelah yang berkepanjangan itu .. yang saya juga lupa kapan mulainya, dan entah kapan akan berakhir ...
Terlalu banyak ekspektasi yang tak terbayarkan oleh realita, terlalu banyak karya tak terapresiasi, terlalu banyak pertanyaan tak terjawab, dan ide yang biarkan lewat begitu saja ...
Saya lelah .. idealita mungkin tak selalu sama dengan realita, tapi kalau di tempat lain saya bisa mendapat suatu realita yang bisa disebut indah, mengapa di sini tidak?
Saya tidak mau menyalahkan siapa-siapa, karena toh, saya juga salah, ketika ternyata iman saya masih compang-camping, karena itu akan berefek pada keikhlasan dan pelurusan niat serta pengistiqomahan saya ...
Saya juga tidak ingin menyalahkan siapapun itu yang posisinya berada di atas atau sejajar dengan saya, karena sebenarnya semua merasa sama. Satu dalam keterpecahan, sebut saja begitu.
Dan ketika semua merasa seperti ini, apakah agenda kultural cukup? Saya juga tidak tahu ... Saya juga masih mencari jawabnya.
Dan sejauh ini, yang saya harapkan hanya sebuah apresiasi dan pengakuan eksistensi terhadap kemampuan saya ...
Lagi-lagi, lagi-lagi, eksistensi karya saya 'mati' di satu tempat,,
Karenanya saya tidak akan pernah merasa hidup jika saya terus menetap, karena eksistensi karya berkerabat dekat dengan eksistensi diri, akhirnya konsekuensi dari rasa lelah itu adalah saya terbang dan hinggap di lain tempat, di mana saya merasa lebih hidup ............
Sekali lagi, maaf saya merasa lelah ...
*doakan saja ini tidak berkepanjangan yang akhirnya malah membuat saya kecewa yang juga berkepanjangan ..
Langganan:
Postingan (Atom)











