Rabu, 24 Juni 2015

#TidakPenting #2

Akhir-akhir ini jogja kelewat dingin. Terlalu dingin. Sampai setiap bangun pagi hari, kalau tidur tanpa selimut lapis dua dan jaket, atau kadang-kadang harus juga dilengkapi dengan kaus kaki dan sarung tangan, sudah bisa dipastikan akan menggigil. Susah memang punya tubuh yang punya treshold sensori dingin yang rendah, terlalu mudah kedinginan. Mudah menggigil. Mungkin bisa jadi itu juga salah satu mengapa diri ini tidak suka dengan kegiatan -apapun- yang berlokasi di daerah dingin. Jogjanya dingin. Bagaimana dengan Depok?

Akhirnya memutuskan untuk membatalkan tiket tertanggal 23 Juni 2015 yang sudah dibeli sejak sekitar sebulan lalu dengan random, di tengah-tengah kuliah sore-sore. Yang dipicu dengan pertanyaan, "Udah beli tiket pulang?". Karena untuk pertama kalinya Ramadhan di Jogja tanpa adanya ujian OSCE. Objective Structural Clinical Examination -yang kalau dibahasain pakai bahasa yang lebih mudah dicerna jadi : Ujian praktik keterampilan klinik. Ujian yang menghabiskan energi paling banyak dalam setahun. Juga menghabiskan uang paling banyak, karena persiapannya harus juga mempersiapkan alat-alat medis yang harganya cukup menghabiskan uang bulanan. Latihan ujiannya sudah dimulai sejak satu semester sebelumnya bersama asisten mahasiswa, dilanjut saat jeda dari sejak ujian blok terakhir tahun ajaran itu hingga giliran OSCE secara berkelompok dengan kelompoknya masing-masing. Merencanakan kapan akan latihan sendiri, dimana, kapan, dengan siapa saja. Dan setiap kali latihan akan mengulang-ulang kalimat (yang sekarang sudah hampir jadi program otomatis dalam diri ini) "Selamat pagi/siang, pak/bu, perkenalkan saya dokter Setyani yang berjaga pagi/siang ini, dengan Bapak/Ibu siapa? Umurnya berapa Pak/Bu? Tinggalnya dimana? Pekerjaannya apa? Bagaimana Pak/Bu, ada yang bisa saya bantu? dst ... dst ..." sudah semacam teller bank atau resepsionis di front office.

Waktu KRS-an kemarin, baru sadar saat ada yang bertanya di grup line angkatan, "Eh semester depan yang diambil blok apa aja? 4.1, 4.2, 4.3 aja? Nggak ada OSCE dan skripsi ya?" Dan semua (eh nggak tau deng semua atau nggak, diri ini cuma rajin nyecroll precakapan dengan sepintas) mengiyakan. Dan diri ini baru ingat, kalau, ya ini hanya kalau -karena semua bisa berubah, toh kuasa hati dan kendalinya ada di tangan Yang Maha Kuasa- semester depan benar-benar menjadi semester terakhir di S1, maka setelahnya OSCE bukan lagi OSCE KBK 1 atau 2 atau 3, tapi sudah OSCE kompre. Komprehensif. Menyeluruh. Apa yang diujikan mencakup apa-apa yang diujikan di tahun pertama, kedua, dan ketiga. Ditambah apa yang akan diberikan di tahun keempat tentang kegawatdaruratan. Berarti akan bertemu lagi (mungkin) dengan materi sirkumsisi, aseptik prosedur, pemasangan IUD/implant, menolong persalinan, dan lain-lain, dan lain-lain yang sekarang -bisa dibilang- hampir lupa. Lalu, OSCE kompre, sebagaimana OSCE KBK 3 yang akan berlangsung besok usai lebaran, harus sudah mencakup komponen 'diagnosis', 'differential diagnosis', dan 'terapi'. Padahal merasa belum paham banyak patofisiolgi penyakit, merasa masih lupa ingat cara menulis resep obat, apalagi mengingat kalau sakit ini -maka obatnya ini untuk lini pertama, lini keduanya, dan lini-lini berikutnya.

Ah iya,ya, jadi dokter itu, buat masuk kuliahnya gampang. Yang susah itu keluarnya. -___-". Entahlah, apakah diri ini akan bisa lulus dalam satu kali OSCE kompre dan ujian UKDI nantinya, eh namanya bukan UKDI lagi deng, sudah jadi ... lupa, yang jelas singkatannya lebih panjang dari hanya sekedar UKDI alias uji komprehensif dokter indonesia, biasa Indonesia mah, udah disingkat, singkatannya juga masih aja tetep panjang. Hadeeeuh ...

Sebenarnya, tadinya mau cerita kalau diri ini memilih untuk membuang kesempatan pulang cepat, tapi entah kenapa malah menggalau tentang OSCE kompre yang jaraknya tinggal satu semester lagi. Dan setelah itu koas. Oh iya, bisa jadi karena barusan mimpi kalau diri ini menjalani hari pertamanya di koas dengan penuh kebingungan dan malah mengikuti barisan mahasiswa baru bukannya dokter muda yang baru. Duh, ... semoga bukan pertanda yang tidak-tidak, hanya sekadar bunga mimpi yang lewat tanpa izin.

Atau bisa jadi efek telepon orang tua tadi pagi, saat izin untuk mengundurkan pulang dan mengabarkan bahwa diri ini -officially- diterima di pondok pesantren mahasiswi di jogja. Keduanya hanya meminta jaminan, bahwa si anak bungsu ini mampu menyelesaikan studinya hingga jadi dokter jika berniat mengambil tawaran yang baru saja diberikan. Jaminan agar diri ini benar-benar menjadi dokter. Benar-benar menjadi dokter.

Tidak sekali, dua kali diri ini berpikir untuk berhenti saja dari dokter-dokteran ini. Kemudian tanpa melanjutkan ke jenjang keprofesian, mengambil kuliah lagi yang tidak ada hubungannya dengan menjadi dokter. Ilmu perpustakaan misalnya, atau komunikasi, atau malah DKV sekalian? Tapi, sepertinya banyak yang mengharapkan diri yang masih bocah ini untuk menjadi dokter. Mungkin termasuk juga diri ini. Perlahan mulai mengharap apa yang sudah dipelajarinya selama tiga tahun terakhir dengan jatuh bangun (walaupun lebih banyak jatuhnya, daripada bangunnya) bisa membuahkan manfaat, minimal untuk keluarganya sendiri. Bagaimana pun, 'Al-ilmu bilaa 'amalin ka syajarotin bilaa tsamarin'. Ilmu tanpa amal bagai pohon tanpa buah. Dan kalau meminjam bahasanya Bapak, ya ... diri ini sudah kadung basah, mengapa tak sekalian menyelam? Siapa tau menemukan rahasia-rahasia keindahan yang orang tidak menyelam tidak ketahui. Siapa tahu dengan menjadi dokter ada hal-hal yang menyenangkan di sana. (Ya pasti ada sih, hanya saja sekarang memang lebih besar ketakutannya ketimbang senangnya).

Sekolah tiga tahun di bidang ini, saat tahun ketiga -pada blok dengan judul 'lifestyle related complaint'- saat setiap mahasiswa diharuskan mengisi questionnare SRQ -yang diri ini sudah lupa kepanjangannya apa- ternyata membuahkan skor 12. Padahal cut off point nya 6. Dua poin lagi, bisa jadi diri ini sudah masuk fase awal skizofrenia. Bukan berharap. Hanya menjabarkan fakta. Semoga kuliah dan menjadi dokter bukan hanya ilusi dan imajinasi karena ternyata diri ini sudah terjangkit skizofrenia. Kuliahnya sudah susah, biayanya juga tidak sedikit, jangan disia-siakan. Sayang kan? (yah, walaupun, diri ini percaya bahwa tidak ada kuliah yang mudah jika kamu tidak suka dengan kuliahnya, juga tidak ada pendidikan yang murah di Indonesia jika mau bersekolah di sekolah bagus).

Yah begitulah, memang tulisan ini hanya tulisan tidak penting, yang sebenarnya bukan nomor kedua, tapi memang semua tulisan di blog ini lebih banyak tulisan tidak pentingnya daripada tulisan berkualitasnya. Hanya sekadar untuk mengurai keruwetan dan ketakutan-ketakutan dari pikiran-pikiran yang mampir sejak terbangun tepat di jam 23.53 tadi. Hanya salah satu tulisan random dari banyaknya tulisan-tulisan random yang ada di blog ini, baik yang sudah diposting ataupun masih berupa draft.

Jadi begitu. Diri ini menunda kepulangan. Kemudian jadi mengingat bahwa untuk pertama kalinya ujian OSCE tidak di bulan Ramadhan, dan bahwa semester depan adalah semester terakhir di masa studi S1 ini. Dan betapa alur pemikiran seseorang tidak mudah dipahami, bahkan oleh diri sendiri. -_____________-".

Sudahlah, sudah malam ...

Sebentar lagi sahur.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar