Sabtu, 20 Juni 2015

Ada di antara mereka yang mengklaim merasakan cinta kepada Allah dan meyakini bahwa jiwa mereka tergila-gila kepada Allah. Bisa jadi mereka berimajinasi tentang Allah dan berfantasi yang pada dasarnya bid’ah atau kafir. Seperti mengklaim cinta kepada Allah sebelum memahami hakikat cinta itu dengan baik. Atau mengaku cinta Allah tapi tidak lepas dari perbuatan yang dibenci Allah, lebih tertarik pada hawa nafsu dan mengesampingkan perintah Allah, atau meninggalkan beberapa perkara karena malu terhadap orang lain dan bukan karena malu kepada Allah. Ia mengaku cinta Allah, tapi melakukan itu semua dan tidak sadar bahwa semuanya bertolak belakang dengan ikrar cinta kepada Allah.

-Sa’id Hawwa dalam buku “Tazkiyatun Nafs : Konsep dan Kajian Komprehensif dalam Aplikasi Menyucikan Jiwa”

Merasa tertampar dengan kutipan di atas dari buku Tazkiyatun Nafs karya Sa'id Hawwa. Belakangan, seringkali diri ini merasa mencintai Allah. Tapi, mungkin hanya merasa. Cinta itu, tidak berimbas pada ibadah-ibadah yang dilakukan kesehariannya -hingga tak membuahkan akhlak yang baik. Cinta itu, hanya berbatas pada lisan yang kerap kali berbohong, juga hati yang masih sering enggan untuk jujur, pada makhluk atau bahkan pada Sang Khaliq. Cinta itu ... bahkan mungkin termasuk ke dalam salah satu kebohongan yang sering terlontar dari diri ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar