Selasa, 09 Juni 2015

Sudah Libur Ternyata #2 : Mencari Padang Ilalang yang Menghilang

Padang ilalang itu telah menghilang ketika tujuh orang ini sampai di sana. Warga sekitar berkata bahwa pemerintah daerah telah membabat habis ilalang-ilalang yang tumbuh liar itu. Begitu mengetahui hal itu, mendadak semangat tujuh orang hari itu padam. Padang ilalang itu telah hilang. Kami memang mencarinya. Tapi ia sudah raib. Bahkan sisa-sisanya sampai tak dapat dikenali, berubah menjadi lapangan luas yang ditumbuhi rumput-rumput liar, dan lebih disukai warga untuk dipakai menggembala domba-domba mereka. 

Tujuh orang yang berkelana hari itu sebenarnya tidak hanya mencari padang ilalang -yang entah ada entah tiada. Perjalanan tujuh orang ini (bukan kurcaci, karena orang-orang ini memang sama sekali tidak kecil, tidak pendek, juga tidak menyebalkan, walaupun pendongeng tidak tahu apakah kurcaci memang menyebalkan?) sebenarnya sudah berlangsung sejak beberapa jam sebelumnya, dan padang ilalang adalah tujuan hampir terakhir ketujuh-tujuhnya. Tapi, karena ketika ketujuhnya menemukan bahwa padang ilalang telah menghilang, maka lengkaplah kekecewaan dan keputusasaan perjalanan hari itu.

Jadi ceritanya, berjam-jam sebelum itu, ketujuhnya sepakat untuk melajukan mobil mereka ke kulon progo, mencari spot terbaik untuk space yang akan mereka isi dengan foto ketujuhnya (dan tiga orang lain yang tidak bisa ikut hari itu) di buku tahunan yang akan menjadi bukti bahwa mereka pernah ada dan pernah menjalani studi di fakultas yang bersebrangan dengan RSUP dr. Sardjito itu. Nglinggo yang berada di Kulon Progo adalah tempat pertama yang menjadi tujuan ketujuhnya. Di awal, ketujuhnya masih bersemangat membayangkan kebun teh itu. Bahwa jika mampu mencapai tempatnya, berfoto di tengah kebun teh sepertinya tidak jelek.

Bayangan dan semangat itu mendadak purna mendapati perjalanan ke Nglinggo tak semulus jalanan aspal ringroad. Dengan meraba-raba jalan menuju ke Nglinggo (karena ternyata, seseorang yang paling tahu jalan ternyata tak bisa membaca peta GPS) empat orang di antaranya komat-kamit berdoa sesuai dengan kepercayaan masing-masing, berharap jalanan yang laiknya lagu pembuka kartun Ninja Hattori itu tidak serta membawa ketujuhnya pulang dengan ambulans dan Tim SAR.

Ada dua mobil yang dibawa oleh tujuh orang ini. Satu mobil berisikan tiga orang yang kesemuanya adalah orang yang kelewat santai. Dan satu mobil berisi empat orang yang kesemuanya adalah orang-orang yang seringkali kelewat panik. Dan, -entah bisa disebut beruntung atau tidak- pendongeng berada di mobil kedua, selaku mobil penunjuk jalan. Seorang teman yang saat itu bertugas menyetir mobil membuat keempatnya semakin panik ketika dengan tiba-tiba ia berkata begitu tahu jalanan yang naik turun ini entah dimana ujungnya, 'Doakan asthmaku tidak kambuh di tengah jalan ya'. -________________-".

Yah begitulah, perjalanan yang menegangkan itu menghabiskan waktu 2 jam, dan menghabiskan entah berapa kilokalori dari masing-masing orang yang hadir saat itu. Kebun teh Nglinggo. Pada akhirnya ketujuhnya sampai di sana dengan mata berbinar bercampur lelah dan perut mual akibat jalanan yang berputar tiada henti.

Hanya lima belas menit waktu yang ketujuhnya habiskan di atas sana, di kawasan kebun teh yang pinggir-pinggirnya dipagari oleh pagar bambu. Dan dalam waktu lima belas menit itu ketujuhnya sepakat untuk mencoret opsi kebun teh sebagai latar foto. Ia memang bagus, hanya saja, tidak sebanding dengan perjalanan 2 jam naik yang harus ditempuh.

Jelang zuhur, ketujuhnya turun gunung. Melewati jalanan yang sama -yang entah kenapa terasa lebih cepat ketika balik ketimbang saat naik. Usai menepi di salah satu musholla untuk shalat zuhur, ketujuhnya sepakat untuk mengunjungi lapangan golf hyatt, kemudian ke maguwo untuk mencari padang ilalang.Tapi toh, akhirnya lapangan golf hyatt juga dicoret dari opsi karena harga yang tak mampu diampu oleh kocek mahasiswa. Harapan terakhir adalah padang ilalang, yang seperti sudah dibilang, entah ada entah tiada.

Kedua mobil itu melaju kencang di jalanan ring road utara. Tidak lagi ragu-ragu seperti saat menaiki jalanan Kulon Progo tadi pagi. Sampai di tempat yang seharusnya ada padang ilalang, ketujuhnya terdiam, bertanya-tanya satu sama lain, 'dimana? dimana padang ilalang yang dielu-elukan itu?'. Kedua mobil berkeliling area sekitar, hingga akhirnya menyerah dan bertanya pada warga, 'dimanakah padang ilalang yang dulu tumbuh subur di sana?'

Dan ternyata, padang ilalang itu telah menghilang, menyisakan gurat lelah dan putus asa di wajah ketujuhnya. Sudahlah ...

***

8 Juni 2015
Bersama 6 orang lainnya anak-anak kelompok tutorial #11 Pendidikan Dokter Reguler 2012 :)      

Tidak ada komentar:

Posting Komentar