Hari itu, si empunya kaus kaki memilih membalut sepasang kaus kaki krem itu dengan sandal jepit warna hitam karena ia hendak pelesir bersama teman-temannya ke pantai selatan. Singkat cerita, setelah perjalanan yang cukup menghabiskan waktu dan tenaga karena ternyata baik dirinya maupun teman-temannya tidak cukup tahu jalan ke pantai selatan, sampailah si empu kaus kaki di Pantai Drini. Sebenarnya, tujuannya bukan pantai ini, tapi pantai yang berada di sebelahnya (?) atau sebelahnya lagi (?) atau ... sebelahnya lagi? Ya, pokoknya sebenarnya pantai ini bukan pantai yang ingin ia kunjungi, hanya saja, lelah sudah menyapa ketika harus menebak-nebak jalan manalagi dan sejauh apalagi yang harus dilewati untuk sampai ke sana. Jadilah, si empu kaus kaki dan teman-temannya memutuskan untuk berbelok ketika menemukan plang "pantai Drini".
Dan di sanalah kisah ini memilih latar tempat. Pagi itu, senyumnya merekah ketika melihat jilatan ombak yang menepi hingga sepanjang pesisir pantai basah. Si empu kaus kaki tidak bisa menahan dirinya untuk ikut menyapa ombak, ketika melihat dua teman lainnya langsung berlari menghampiri ombak ketika sampai. Tanpa tedeng aling-aling, dan tidak menyadari bahwa dua orang teman lainnya menghampiri ombak tanpa melepas alas kaki dan kaus kaki, si empu kaus kaki melepas sandal hitamnya dan kaus kaki kremnya. Ia tinggalkan sepasang kaus kaki dan sepasang sandal itu cukup jauh dari jangkauan ombak pagi itu, berjajar bersama tas-tas teman-temannya, juga seorang teman yang memilih tidak ingin basah.
Jangkauan ombak memang hanya samapi situ ketika si empu kaus kaki akhirnya ikut turun menuju ombak-ombak yang bersahut-sahutan. Tapi, begitu matahari mulai meninggi, bergeser sedikit dari tempat dimana ia bersinar beberapa waktu saat si empu kaus kaki sampai di Pantai ini, ternyata ombaknya sedikit-sedikit menggeser jangkauannya pula. Dan di saat si empu kaus kaki masih asyik bermain-main dengan ombak di satu sisi pantai ini, satu orang teman sibuk menulis di pasir tentang entah apa -sekalipun tahu ombak pasti akan menghapusnya, satu orang masih menikmati duduk di pinggiran bersama tas-tas -memilih untuk tidak basah, dan satu lagi asyik bengong menatap jauh ke garis horizon yang membagi antara laut dan langit itu, saat itulah mendadak ombak menjadi lebih jauh lagi jangkauannya. Si ombak tidak tanggung-tanggung, ia mencapai tas-tas yang -tadi- ditaruh cukup jauh dari jangkauan ombak, pun ia melahap sandal-sandal yang ditinggal di samping tas-tas itu, juga ... sepasang kaus kaki krem.
Mendadak, paniklah tiga orang yang sadar akan ombak. Yang tadi masih duduk-duduk santai, spontan berdiri menghindari ombak, tapi ombak lebih dulu datang, dan basahlah ia, bersama tas-tas yang berisi gadget-gadget canggih. Yang tadi masih sibuk menulis di pasir pantai kaget karena ombak benar-benar menghapus tulisannya dan kemudian sadar bahwa tas-tas yang ditaruh di pinggir -tadi- kini sudah tidak lagi dipinggir karena terjangkau oleh ombak. Dan yang tadi masih asyik bengong memandangi cakrawala, begitu sadar, bersegera menangkap sandal-sandal yang terbawa ombak ke tengah. Hanya saja, tidak ada yang sadar, baik tiga orang tadi, ataupun si empu kaus kaki, bahwa sebelah kaus kaki krem tadi sudah terbawa ombak lebih jauh daripada sandal-sandal, juga lebih jauh daripada pasir-pasir yang terbawa ombak.
Si empu kaus kaki benar-benar tidak sadar, hingga ketiga orang lainnya memanggilnya. Ia bahkan tidak memperhatikan tentang sepasang kaus kakinya yang kini tinggal sebelah. Hingga ombak menyapa lagi sampai ke tempat dimana ia berdiri kini, membawa sebelah pasang dari kaus kaki krem yang masih tertinggal di pesisir, membuat sebelah pasang lainnya tak sendiri terombang-ambing di tengah lautan yang menuju laut lepas itu.
Mengetahui bahwa ternyata kedua belah kaus kakinya terseret ombak entah kemana, ia hanya tertawa. Dan begitulah, karena memang kaus kaki itu sebenarnya bukan kaus kaki yang paling ia sukai. Juga bukan yang paling istimewa menurutnya.
***
| si empu kaus kaki :) |
![]() |
| Seseorang yang sibuk menuliskan namanya di pasir :') |
![]() |
| Seseorang yang memilih untuk tidak basah, tapi basah juga akhirnya :v |
7 Juni 2015
Pantai Drini, Gunung Kidul, Yogyakarta
Bersama si empu kaus kaki,
Juga seseorang yang masih berusaha menuliskan namanya di atas pasir sekalipun tahu ombak akan menghapusnya,
Juga
seseorang yang memilih untuk tidak basah, walaupun akhirnya ombak
merasa perlu iseng terhadapnya hingga tidak hanya dirinya yang basah,
tapi juga tas dan gagdet yang kini beristirahat,
Dan
saya sendiri, sang pendongeng yang memilih sibuk menatap garis horizon
cakrawala yang walaupun tampak tipis tapi ia ada. Ada batas antara laut
dan langit.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar