Jadi ceritanya kemarin sore saya ngabuburit sama Mbak Uca dari satu toko buku ke toko buku lainnya di Jalan Margonda yang super duper ramai itu. Walopun ujung-ujungnya saya nggak beli apa-apa di toko buku-toko buku tersebut, tapi saya mendapatkan sesuatu yang menarik di TM book Store, Depok Town Square. Waktu saya dan Mbak Uca sampai di sana, ternyata sedang ada bedah buku 99 Mutiara Hijabers bersama Kang Maman dan Mbak Asti. Terus nyesel gitu saya nya karena pas dateng pas udah mau kelar, tinggal sesi tanya jawab. Tapi, dari sesi tanya jawab itu banyak banget hal yang saya dapat dari Kang Maman ini. Penulis keren gitu yak, hanya dalam waktu beberapa menit ia berbicara, yang mendengar bisa mendapatkan hikmah banyak banget ... (Semoga suatu saat nanti, saya juga bisa menginspirasi seperti beliau-beliau ini .. Amiin).
Waktu itu, ada yang bertanya, kurang lebih pertanyaannya seperti ini, "Kang Maman, bagaimana caranya mampu konsisten untuk menulis dan, jika sedang stagnan untuk menulis apa yang harus dilakukan?" Kemudian, Kang Maman (oh iya, beliau ini notulennya ILK trans7, kalau yang ga tau silakan googling haha) menjawab, "Modal saya menulis itu, apa yang saya baca. Jadi saya mengharuskan diri saya untuk menghabiskan membaca satu buku dalam 3 hari setebal apapun bukunya, jadi, dalam satu bulan, paling nggak saya membaca 10 buku" Lalu, beliau lanjut, "Kalau saya lagi stagnan atau penulis-penulis biasanya nyebutnya Writer's block; saya tinggalin dulu. Saya kerjakan hal lain dulu. Saya alihkan perhatian saya dulu ke lain hal" ... Nah untuk yang terakhir itu beliau menjelaskan, eh nggak tau ini masih penjelasan atau nggak, intinya, apa yang tersaji di depan mata penulis itu harusnya bisa dijadikan inspirasi untuk menulis. Beliau memberi contoh, suatu ketika anaknya menyajikan kopi untuk beliau karena teh sedang habis, padahal beliau tidak suka kopi. Kalau orang biasa pasti akan marah-marah, tapi Kang Maman justru menjadikannya inspirasi untuk menulis hal tersebut dalam 140 karakter alias di twitter yang kalo ga salah bilang bahwa "kopi itu justru terasa sempurna karena pahitnya, begitu juga harusnya hidup" (sepertinya kata-katanya ga persis kayak gini, pokoknya intinya itulah ahaha).
Kereeen. Menurut saya itu keren. Bagaimana beliau mengkontemplasikan apa yang tersaji di depan matanya. Memaknai kehidupan dari sudut pandang yang berbeda dari orang kebanyakan. Dan kemudian membagi inspirasional itu ke orang-orang untuk kembali menginspirasi.
Dari sana saya belajar. Bahwa begitulah seharusnya penulis, ya kan? Harusnya menjadi penulis itu adalah menjadi orang yang senantiasa memaknai hidup, memaknai apa-apa yang terjadi di hadapannya, bahwa tidak ada yang sia-sia dari hidup. Mengkontemplasikan hidup dan merangkainya dalam kata-kata, menyebarkannya melalui tulisan, hingga mampu menginspirasi pembacanya. Menjadikan apa-apa yang ditulisnya menjadi amal jariyah.
Begitukan seharusnya menjadi penulis itu?
Tampilkan postingan dengan label Mimpi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mimpi. Tampilkan semua postingan
Minggu, 05 Juli 2015
Sabtu, 06 April 2013
Sekelumit Impian
Waktu
kumpul anggota BIMO Forsalamm 1434 H perdana kemarin, salah seorang anggota
redaksinya, Kak Muharrir, berkata waktu diminta Mbak Triani untuk mengungkapkan
mimpinya untuk BIMO Forsalamm ke depannya,
Mimpi itu gratis, kan ya? Makanya di sini saya bermimpi yang muluk-muluk, karena katanya mimpi itu gratis ...
Iya,
waktu itu saya mikir, bener juga ya, bermimpi itu gratis, tis. Nggak
bayar, dan nggak dilarang. Nggak ada ketentuan dan nggak ada undang-undangnya.
Nggak realistis juga nggak pa-pa. Kalau mimpi memikirkan realita, ya nggak jadi
mimpi dong ..., karena realita terlalu keras, tugas kita adalah menarik mimpi
ini untuk terwujud dengan menabrak realita yang ada, terabas terus, berhenti
boleh, tapi sebentar aja, buat lihat-lihat kondisi dan langkah apa yang harus
diambil berikutnya ... Tapi berhentinya keterusan, ya nanti nggak jadi tercapai
dong mimpinya ...
Jadi,
sama kayak Kak Muharrir, di sini saya mau menuliskan mimpi-mimpi saya, dan
karena mimpi itu gratis, jadi saya mau bermimpi yang nggak kalah muluk sama Kak
Muharrir yang bermimpi menjadi mentri perindustrian ... hehehehheh ... (yang
baca, mohon di-amin-in ya ..:), terima kasih)
1. Yang
pertama banget, Impian saya dari kecil, yaitu jadi hafidzhoh ... dan karena
sayan nya males-malesan dari jaman kapan tau, akhirnya targetan saya juga
mundur..., sebenernya dulu saya nargetin, umur 20 saya udah jadi hafidzoh, tapi
karena bener-bener masih banyak banget yang harus dihafal dan diulang, jadi
mungkin berubah jadi "di umur 20-an saya akan jadi hafidzhoh"
hehehehehe... Dan akhirnya saya menargetkan, sebelum saya jadi dokter, sayaa
harus udah jadi hafidzhoh, dan itu masih sekitar 5 tahun lagi..lagipula, saya
sudah menjanjikan sebuha mahkota untuk orang tua saya di surga nanti karena
hafalan saya, jadi, SEMANGAT TYANI!!!!
2. Saya
mau belajar di Belanda. Saya mau ambil S2 Biologi di Belanda. Di sana, secara
rinci, saya belum tahu sih mau ngapain, tapi saya terinspirasi dari buku nya
Hanum Rais yang "99 Cahaya di Langit Eropa", saya mau menelusuri jejak
keislaman di Eropa dan merangkumnya jadi satu buku yang nggak kalah bagus dari
bukunya Hanum Rais :) ,, (jadi ini saya mau belajar atau mau jalan-jalan?
hehehehhehhe)
3. Saya
mau dan HARUS balik lagi ke Indonesia. Ngapain? Ya... bayar utang lah ... Indonesaia
sudah memberikan banyak pengajaran pada saya, apalagi waktu di MAN dulu, saya
gratis tis sekolahnya dibiayain sama negara, jadi, saya HARUS balik lagi ke
Indonesia dan berkontribusi di negara saya. Kalau Kak Muharir mau berkontribusi
di negara ini melalu posisi menteri, saya nggak pengen jadi menteri, saya
pengen berkelana menyusuri Indonesia dari desa yang satu ke desa yang lain,
jadi dokter umum di sana sekaligus edukator buat anak-anak dan orang tuanya ...
Saya mungkin nggak ngajarin mereka ilmu fisika yang ribet atau matematika yang
bikin pusing, saya cuma mau mengajarkan ilmu nya Allah, tentang proses yang
terjadi di alam dan mengenalkan ke orang-orang ini tentang Sang Pencipta alam
ini ... Supaya, nggak ada lagi orang yang nggak mengenal Tuhannya, karena Man
'arafa rabbahu, qad 'arafa nafsahu Barang siapa yang mengenal
Tuhannya, maka ia mengenal dirinya sendiri. Kalau kita mengenal diri kita,
untuk apa kita diciptakan, dan kepada siapa kita harus menghamba, niscaya,
dunia ini akan bersih dari kemakshiyatan ...
4. Terus,
mimpi saya berikutnya, Saya mau membangun generasi qur'ani dari rahim saya.
Kalau saya punya anak-anak nanti, saya ingin mengajarkan kepada anak-anak saya,
bahwa apapun masalah yang dihadapi anak-anak saya nantinya, solusinya adalah
Al-Qur'an ... Akan lebih baik jika anak-anak saya nantinya adalah
hafidzh-hafidzhoh ayat-ayat Allah, tapi saya berharap mereka memahami dengan
baik makna Al-Qur'an, fungsinya dan mengapa ada Al-Qur'an, Karena sesunggunya
Al-Qur'an itu firman-Nya, dengan Al-Qur'an Allah berbicara, dan itu mungkin
cara yang paliiiing mudah untuk kita, ummat nabi Muhammad untuk berbicara dan
berinteraksi dengan Sang Penciptanya ... CMIIW.
Segini
dulu deh, saya masih mikir-mikir saya mau bermimpi apalagi...
Mimpi
saya terlalu idealis ya? maklum, mahasiswa hehehehehe... Nggak papa, kalau
terlalu realistis nggak jadi mimpi dong :)
Susah
mencapainya? Iyalah ... Namanya juga mimpi yang muluk, saya juga nggak tau akan
beneran tercapai atau nggak hehehehehhe, makanya Saya selalu berdoa, Semoga
Allah senantiasa menguatkan hati saya, iman saya, jiwa saya, akal saya, fisik
saya, dan meluaskan pemahaman saya terhadap hidup, terhadap apa yang saya
terima setiap harinya, sehingga saya tidak termasuk orang yang merugi ...
Begitu kira-kira
...
Okesip,
Fren, yang penting tuh
DARE TO DREAM!
Langganan:
Postingan (Atom)