Tampilkan postingan dengan label Tentang Pikiran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tentang Pikiran. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 31 Desember 2016

Mencapai Ujungnya #2

Sementara saya bengong, bimbang, bingung, waktu tetap berjalan. Semakin terasa cepat setiap harinya. Tau-tau, 2016 sudah mencapai ujungnya.

Sementara TV saya menyala menyetel film High Strung, laptop saya memutar lagu-lagu pentatonix, dan HP bergetar perkara notif-notif yang entah penting entah tidak, waktu tetap berjalan. Pun ketika saya menulis atau pun tidak.

2016 sudah mencapai ujungnya.

Sepanjang tahun 2016 ini, rasa cemas dan depresi silih berganti datang. Ya, pokoknya kondisi saya kalau tidak sedang cemas ya sedang depresi. Kadang-kadang saya mual, kadang-kadang saya muntah. Sesekali pula menangis tanpa sebab. Sesekali yang lain saya cuma diam menghadap laptop. Sesekali ingin berteriak kencang. Sesekali hanya berguling-guling.

Saya merasa tidak bergerak sesenti pun dari sejak saya masuk tahun 2016 hingga kini. Skripsi saya gitu-gitu aja. Blog pun jarang terisi. Bimo forsalamm nggak maju-maju juga. Urusan di FLP pun begitu-begitu aja. Saya banyak menghilang tahun ini. Menghilang dari peredaran sosial media mau pun forum-forum ketemu langsung. Kapasitas diri pun tidak banyak ter-upgrade. Kalau sudah seperti ini, jangan tanya soal ruhiyah dan tarbawi.

Saya banyak nggak jujur sama diri saya tahun ini. Saya banyak menyalahkan diri saya sendiri tahun ini. Saya banyak iri dengan orang lain tahun ini. Saya membenci diri saya sendiri tahun ini. Saya banyak nggak bersyukur tahun ini.

Dan saya merasa sangat buruk rupa tahun ini.

Saya melupakan betapa menyenangkannya menulis. Membayangkan setiap adegan dalam kepala dan menceritakannya kembali pada khalayak melalui tulisan.Yang ada di kepala saya cuma dua ; (1) kenapa saya sangat nggak mau ngerjain skripsi (sampai pada taraf 'rasanya pengen nggak lulus aja'), dan (2) gimana caranya ngejalanin amanah saya tanpa merasa bahwa itu beban?

well, tapi saya ngerasa ya hal-hal itu pada akhirnya cuma ngeblunder di kepala. Saya lari terus dari kenyataan. Saya lari dari amanah, saya lari dari skripsi. Saya lari dari diri sendiri. Saya nggak pernah benar-benar ambil langkah ataupun sikap terhadap diri saya. Katanya, kalau kita nggak keras sama diri kita sendiri, lingkungan akan keras pada kita. Dan, itu mungkin yang saya rasakan selama 2016, terutama pada 6 bulan terakhir.

Semakin saya berpikir skripsi, semakin saya nggak mau ngerjain. Dan semakin saya mikir bahwa amanah bukan beban, semakin saya kebebani. Saya mikir : saya kenapa?

Ada apa dengan saya? Saya nggak menikmati membaca maupun menulis. Kalau pun saya baca, it's all just an act. Kalau pun saya nulis, rasanya nggak dari hati dan nggak jujur. something is wrong.

Terus saya keasyikan mikir tentang kenapa saya hingga akhirnya banyak hal yang terbengkalai selama 2016 ini. Saya depresi, tapi nggak berani ngomong sama siapa pun. Kalo di depan orang tetep aja senyum. Tetep aja ketawa, begitu ditinggal sendirian nangis. Mau cerita sama orang bingung, orang saya sendiri aja ga tau saya kenapa. Dan seringnya takut mengganggu. Mau cerita ke Bapak takut, takut buat khawatir.

Kemudian suatu ketika, di masa-masa di mana saya benar-benar depresi, saya sholat. Saya meyakinkan diri saya sendiri buat jujur sama Allah. Jujur sama diri sendiri. Saya cerita semuanya (ya meski tidak terlisankan), saya minta bantuan sama Allah. Nggak tau bentuknya apa, terserah Allah aja. Karena saya tahu kalau saya mencoba menyelesaikan pikiran saya sendirian saya tidak mampu.

Selang dua atau tiga hari, saya bertemu dengan seorang senior di FLP, Uni Yova namanya; dan di situlah saya merasa, ini nashrullah; ini pertolongan Allah yang saya minta (ternyata memang semudah itu minta sama Allah, semudah itu Allah kasih; tinggal kita mau minta atau nggak, kita mau memantaskan diri untuk dikabulkan permintaan kita atau nggak). Kembali tentang Uni Yova, Beliau sedang menyelesaikan magister psikologi klinis. Waktu tinggal berdua aja, Uni langsung tanya, "Dek, gimana?" Dan tumpahlah semua keluhan ditambah tangisan (padahal itu di perpusat T.T). Singkat cerita, Uni mengambil kesimpulan, "Dek, kamu itu sebenarnya nggak mau ngerjain skripsi atau udah nggak mau lulus?"

Saya mikir, saya mikir, saya mikir.

Dan setelah dipikir-pikir (meski sudah malas mikir), saya berkesimpulan bahwa sebenarnya yang membuat saya nggak mau skripsi bukan karena topik tidak menarik, tapi karena saya sudah nggak tertarik dengan lulus. Selidik punya selidik, ini bermula dari niat saya yang sudah nggak lagi lurus.

Begini, mungkin orang mikir, apa sih lebay banget. but, hey, niat itu sama dengan tujuan. Awal kita menetapkan niat adalah awal kita menetapkan tujuan. Tapi memang, niat yang sepaket dengan tujuan ini perlu diperbaiki dan diperbaharui setiap harinya, karena hati manusia mudah berubah dan terombang-ambing. Karena hati manusia mudah ragu, mudah bimbang.

Waktu itu, Uni Yova bilang, "Kalo aku sih, Dek, sekarang ngerjain thesis udah bukan buat siapa-siapa lagi, tapi buat kebahagiaan diriku sendiri." Saya jadi mikir, apa selama ini saya nggak bahagia selama setahun ini karena saya melakukan banyak hal buat orang lain? Bukan buat diri saya sendiri?

Saya jadi inget, pernah baca di suatu tempat, yang intinya dia bilang kalau kita melakukan sesuatu karena orang lain itu tidak akan membuat kita bahagia. Saya dulu mikir, kok gitu sih? Bukannya kita hidup untuk menolong orang lain ya? Tapi kemudian, setelah mengalami ini itu sepanjang tahun ini, saya jadi mikir, emang gitu yah.

Jadi gini, ada dua hal yang berbeda di sini 'melakukan sesuatu karena orang lain' atau 'melakukan sesuatu untuk menolong orang lain'. Melakukan sesuatu untuk menolong orang lain akan balik ke kita. "fain ahsantum ahsantum li anfusikum" (Al-ISra' :7). Setiap kebaikan akan balik ke kita sendiri. Tapi melakukan sesuatu karena orang lain nggak banyak memberikan apa pun. Dan, bisa jadi malah berujung pada kecewa. Mungkin saya perlu mengingat kata Murabbi saya dulu, setiap apapun yang dikerjakan niatnya untuk Allah, tidak ada rasa kecewa. Bila kita masih kecewa, mungkin niat kita belum selurus itu.

Tahun ini, saya kecewa sama diri saya sendiri. Saya kecewa dengan apa yang saya lakukan. Dan buruknya lagi saya kecewa dengan banyak orang. Bahkan mungkin tanpa sadar saya sudah kecewa sama Allah yang memberikan kondisi seperti ini pada saya. Astaghfirullah ...

Mungkin saya sering diingatkan untuk memperbaharui niat saat liqo, saat syuro, tapi ya untuk keperluan itu aja, untuk hari itu dan saat itu saja. Kemudian saya jadi lupa memperbaharui niat jangka panjang saya. Buat (si)apa saya hidup? Buat (si)apa saya kuliah? Buat (si)apa saya bermanah? Buat (si)apa saya menikah? Buat (si)apa saya berumah tangga? Buat (si)apa saya bekerja dan lain sebagainya  ...

Dan mungkin dari sanalah saya jadi lalai terhadap apa yang perlu saya kerjakan. Mana yang butuh dikerjakan dan mana yang saya ingin kerjakan.

Kondisi di mana saya udah nggak kuliah lagi tapi masih harus skripsi itu membuat saya jadi jarang bertemu orang-orang shalih-shalihah, dan seringnya membuat saya lalai. Alhamdulillahnya, Allah masih mau ngasih saya amanah di tahun ini, yang itu berarti, saya masih ngumpul sama orang-orang yang memikirkan umat, paling tidak sepekan hingga dua pekan sekali dalam syuro ataupun dalam agenda lainnya. Tapi ya kalau saya lagi kabur dari amanah, ya sudah, lalai aja terus.

Karena lupa dengan tujuan seharusnya antara Adz-Dzariyaat: 56 ataupun Al Baqarah : 30, saya jadi sering mencari-cari alasan untuk melakukan sesuatu. Di amanah karen disuruh murabbilah, kuliah karena disuruh orang tualah. Meski pun itu hal yang benar, tapi saya sepakat dengan murabbi saya, kalau masih ada celah pada diri kita untuk selain Dzat Yang Maha Kuasa, tentu ada celah untuk kecewa.

Misal, kita manut orang tua untuk menyelesaikan kuliah. Bilangnya biar orang tua kita bangga, iya kalo beneran bangga, kalau ternyata orang tua kita malah nuntut terus tanpa pernah bangga terhadap prestasi anaknya (well, bukan orang tua saya tapi), gimana? Bisa jadi kita malah jadi kecewa pada orang tua kita. That's it.  Saya lupa kalau saya pernah bilang ke orang, niat kita melakukan sesuatu buat orang tua itu benar, ketika kita memang mengingat bahwa ridhallah fii ridha walidayn. Tapi ketika kita terbatas cuma pada biar orang tua kita bangga atau biar orang tua kita bahagia, itu mungkin yang perlu ditambahkan. Itu mungkin yang membuatnya menjadi bukan niat tertinggi.

Dan sebenarnya, kita memang melakukan kebaikan, nulis skripsi, beramanah, kuliah, ngeliqoi, syuro, dan kebaikan lainnya bukan buat siapa-siapa. Tapi buat diri sendiri. Buat kebahagiaan diri kita sendiri. Dan setelah melalui ini itulah saya akhirnya paham apa makna 'buat kebahagiaan diri sendiri'.

Orang tua kita bahagia ketika kita lulus, itu pun karena kita bahagia. Orang lain bahagia ketika kita bahagia. Jangan dibalik, kita bahagia ketika orang lain bahagia. Motivasi eksternal adalah motivasi terendah untuk menjadi motor penggerak bagi hati, badan, maupun otak kita. Bahagia itu menular memang. Tapi kalau cuma ngeliat kebahagiaan orang lain, sementara diri sendiri nggak bahagia, lama-lama yang muncul jadi envy. Perasaan iri, dengki, dan sejenisnya.

Jadi, saya mencapai kesimpulan, buat diri sendiri bahagia dulu, baru kita bisa bahagia untuk orang lain. Bisa tulus bahagianya buat orang lain.

Saya nolongin orang, saya ngeliqoi, saya beramanah, saya kuliah sampai saya nraktir orang bukan buat siapa-siapa. Tapi buat saya sendiri. Supaya saya ada effort untuk menunjukkan pada Allah, bahwa saya pantas untuk mendapatkan kebahagiaan karena saya sudah berbuat baik, di dunia maupun di akhirat. Saya pantas berbahagia untuk semua kebaikan yang saya lakukan. Saya boleh berbahagia untuk semua kebaikan yang saya lakukan. Saya berhak berbahagia untuk semua kebaikan yang saya lakukan. Saya cuma ingin bahagia karena Allah menilai saya pantas, dengan melakukan kebaikan yang sebanyak-banyak. Kebahagiaan hakiki. Yang berlanjut hingga akhirat.

Mungkin, nasihat-nasihat itu klise untuk diucapkan, tapi jelas sekali sulit buat dipraktekan. Semacam, bersyukur, ikhlas, qonaah adalah kunci menuju kebahagiaan itu sendiri. Dan, setelah melewati tahun 2016 hingga akhir, saya paham, hal-hal tersebut cuma bisa dilakukan ketika tujuan kita straight tertuju pada Allah, dan niat kita memang karena Allah. Ternyata, semuanya memang bersumber dan berakhir pada Allah, Dzat Yang Awal dan Yang Akhir (Huwal awwalu wal aakhiru).

Dan kebahagiaan itu ternyata sesederhana kita senantiasa dekat sama Allah.

Alhamdulillah 'alaa kulli hal, 2016 sudah mencapai ujungnya. Seburuk-buruknya saya tahun ini, Allah masih membuka hati saya untuk menerima pelajaran. Meski saya slow learner, karena butuh setahun untuk memahami ini -_-. But, mungkin disitu ujiannya. Katanya ujian bisa memuliakan derajat seseorang, atau justru menghinakannya. Semoga buat saya hasilnya bukan opsi yang terakhir. Begitu juga dengan siapapun yang membaca ini.

Semoga Allah masih kasih kesempatan saya buat memperbaiki banyak hal, menyiapkan lebih banyak bekal, meluruskan kembali segala niat yang sudah melenceng jauh, karena meski ini ujung dari tahun ini, tapi, siapa tahu? Bisa jadi setelah menulis ini saya meregang nyawa? Who knows?

Tapi karena katanya, bekerjalah seakan kamu hidup selamanya, dan beribadahlah seakan kamu mati besok; mari memperbaiki plan hidup jangka panjang. Manusia merencanakan, Allah menentukan.

Wallahu a'lam bish shawwab.

*segala yang ditulis di sini cuma pendapat pribadi.
Mohon maaf untuk semua pihak yang terdzholimi sepanjang tahun ini, semua pihak yang sudah sangat saya repotin karena depresi saya, semua pihak yang sudah mengkhawatirkan saya. Terima kasih, terima kasih buat supportnya, paling tidak, saya tahu, saya tidak pernah sendirian. :). Jazaakumullah khayran katsiiran. Cuma Allah yang bisa balas, karena Dia Yang Maha Memiliki. Dia Yang Maha Segalanya.

~    

Selasa, 01 Desember 2015

Paham

Ada banyak hal yang saya nggak paham begitu menginjakkan kaki di dunia perkuliahan. Dulu, saya banyak mempertanyakan hal-hal yang saya nggak paham ini. Tapi nggak banyak juga yng saya dapatkan jawabannya. Semakin saya tanyakan, semakin saya binung, dan seringpula justru jawaban itu ada ketika saya tidak menanyakannya. Tapi menjalakannya.

Jadi, sekarang meski tidak paham mengapa, saya memilih untuk tetap berjalan, sambil berdoa semoga Allah berkenan memperdalam pemahaman saya agar saya peka terhadap petunjuk-Nya. Dan biasanya jalan ini lebih mudah mendapat kepahaman, ketimbang terus-terusan bertanya, tanpa bertindak apapun.

Ihdinash shiraathal mustaqiim ...


Rabu, 28 Oktober 2015

Jatuh Cinta pada Ide Tentang Seseorang

Awalnya judul ini gue dapetin di buku Teman Imaji-nya Kak Mutia Prawitasari. Ketika Kica, si tokoh utama diperingatkan oleh Kak Rasya agar jangan jatuh cinta pada ide tentang seseorang. Tapi, setelah kemaren ngerandom bareng anak kampus dan berujung pada nobar film Paper Town-nya John Green, gue jadi mengingat kalimat itu lagi.

Film Paper Town ini dengan cukup jelas menggambarkan kalimat yang gue pake sebagai judul. Jatuh cinta pada ide tentang seseorang. Film ini berkisah tentang Quentine yang biasa dipanggil Q dengan Margo, tetangganya yang baru. Bagaimana Q, laki-laki yang -sangat tidak mau terlibat masalah- jatuh cinta pada Margo -yang selalu tertarik akan misteri. Bagi Q, karena ketertarikan Margo akan misteri, ia menjadi bagian dari misteri itu. Bagi Q, Margo adalah misteri. Semua orang, termasuk Q memandang Margo sebagai sesosok gadis sempurna, yang sangat menikmati kehidupannya. Ia enjoy dengan petualangan-petualangan yang dibuat oleh dirinya sendiri. Ia melakukan perjalanan yang tidak pernah dilakukan oleh anak SMA dengan bahagia. Dan ia memiliki segalanya, teman, pacar, perhatian, populer. Semakin keduanya beranjak dewasa, semakin keduanya tidak pernah berbicara. Hingga suatu ketika Margo menyelinap diam-diam ke kamar Q melalui jendela. Memintanya menjadi partnert 'balas dendam' nya atas perselingkuhan pacarnya. Q tidak menyangka hari itu akan datang. Hari dimana akhirnya mereka berdua berbicara kembali.

Lalu, sehari setelah kejadian balas dendam itu, Margo menghilang. Entah kemana. Anehnya, ia meninggalkan petunjuk pada Q, kemana ia menghilang. Dari sanalah Q -dibantu oleh teman-temannya mulai mencari Margo dengan segala petunjuk yang ada. Di akhir cerita, akhirnya Q bertemu dengan Margo setelah memutuskan menunggu di Paper Town. Dan menyatakan cintanya pada Margo.

Tapi, Margo mulai perlahan menjelaskan ini itu yang membuat Q sadar bahwa, yang ia  cintai adalah Margo yang ada dalam pikirannya. Yang ia cintai adalah ide tentang Margo yang ia bangun. Dan mungkin bukan Margo itu sendiri.

Begitu. Dan setelah dari sana, beberapa temen kecewa karena akhirnya gitu aja. Tapi menurut gue ceritanya bagus. Pemaknaannya bagus. Mungkin banyak yang mengangkat tema tentang cinta, either itu happy end atau sad end. Tapi, Paper Town nggak happy end, tapi juga nggak sad end. John Green membuatnya akhirnya menjadi adil. Adil untuk Margo yang ingin menemukan dirinya -yang bukan image yang ia bangun selama ini. Adil untuk Q yang akhirnya sadar bahwa ia bukan jatuh cinta pada Margo, tapi pada ide tentang Margo.

Mungkin, di kehidupan sehari-hari pun, nggak jarang terjadi. Yang namanya jatuh cinta pada ide tentang seseorang. Seringkali orang membangun image dalam dirinya sendiri tentang seseorang yang ia cintai secara berlebihan. Melebih-lebihkannya, menyimpannya dengan sangat rapih. Padahal jangan-jangan, orang yang kita cintai tidak benar-benar seperti apa yang kita bayangkan. Pada akhirnya, karena kita membangun image baik yang berlebihan itu, kita juga jadi membangun image diri kita yang bukan diri kita. Alias kita jadi -tidak-menjadi-diri-sendiri-saat kita mencintai.

Dan, lebih jangan-jangan lagi adalah, jangan-jangan jatuh cinta itu cuma ada dalam pikiran kita. Bukan hati kita ...


Ternyata, jatuh cinta itu tidak sederhana.

Minggu, 04 Oktober 2015

Menjadi Peduli

Tertanggal kemarin malam, seorang teman mengepost di salah satu grup whatsapp, seperti ini : Mau nanya

"Tak usahlah kita memperdulikan orang yang tak peduli dengan kita"
 adakah yang salah dengan kalimat ini?
*jawab besok aja kalau berkenan

Pertanyaan ini teggelam oleh pengumuman lomba menulis  akhirnya. Sebenarnya saya punya pemikiran tentang ini, tapi saya sepertinya enggan muncul di grup massal selain untuk memberi emoticon terompet (haha).

Saya juga pernah punya pertanyaan yang sama. Dengan kalimat yang sama, tapi yang kalimat 'jawab besok aja'-nya nggak ada. Haha. Di satu sisi, seperti jawaban seorang teman, nggak ada yang salah dengan kalimat ini. Tapi toh ini semua bergantung pada individu masing-masing akhirnya. Bergantung pada pilihan hidupnya, because life is choice. Apakah ketika ada yang kita akan tetap memperdulikan orang yang bahkan nggak sedikit pun peduli dengan kita, atau kita memilih bersikap yang sama dengan orang tersebut. Dia tidak peduli dengan kita, so, kita juga tidak perlu peduli dengan mereka.

Kalimat ini pun, salah atau tidaknya akan bergantung pada konteks situasi dan kondisinya. Saya merasa kalimat ini sangat salah ketika konteksnya adalah mengajak kepada kebaikan dan melarang pada kemunkaran, atau lebih simpelnya bolehlah disebut dalam dakwah. Dalam berdakwah, orang setidak peduli apa pun, toh kita tetap harus, wajib, kudu, berdakwah ke orang tersebut, karena kita nggak tau pintu hidayah yang mana yang akan dibukakan oleh Allah untuknya. Rasulullah pun begitu, tetap mengajak orang-orang mentauhidkan Allah, meski orang-orang tersebut menolak, juga tidak peduli alias abai. Kita pun, sebagai pewaris risalah para nabi punya kewajiban yang sama. Memperdulikan orang yang tidak peduli. Membuat orang-orang yang tidak peduli ini agar jadi peduli. Dan jangan sampai yang sudah peduli malah jadi nggak peduli.

Saya jadi ingat waktu forum pekanan, di suatu pagi, dimana kami membahas tentang kesabaran, ada salah seorang teman yang bilang, bahwa 'mengajak orang itu nggak ada kata selesai, nggak ada kata orangnya udah nggak bisa diajak lagi, atau orangnya udah nggak bisa diapa-apain lagi nih', kalau sudah begitu, berarti kitanya yang mungkin sedang lelah. Orang itu masih bisa diajak sebenarnya, setidakpeduli apapun ia, kita mengenal Umar bin Khattab, kita mengenal Khalid bin Walid yang sangat memusuhi Islam, tapi berkat kesabaran Rasulullah dan para sahabat dalam mengajak pada ketauhidan, akhirnya Allah membukakan pintu hati keduany hingga kini kita mengenalnya sebagai salah satu sosok sahabat Rasul yang sangat membela Islam.

Iya itu. Tapi kalo konteks lainnya adalah misal kita mau pakai baju, atau kita mau presentasi atau apa, terus kita mengkhawatirkan presepsi orang alias kita takut dengan tanggapan orang, padahal orang lain juga belum tentu peduli atau bahkan nggak peduli sama sekali, ya yang kayak gini mah buat apa peduli. Eh, atau ini jadinya malah 'Tidak usah memperdulikan tanggapan orang, toh mereka belum tentu peduli'. Haha. Yah, jadi beda konteks deh. Haha.

Yah, pokoknya intinya gitulah.

Jumat, 18 September 2015

Jangan Melupakan

Bila ada kejadian yang tidak menyenangkan di masa lalu, yang harusnya dilakukan bukanlah melupakan masa lalunya. Bukan pula melupakan diri sendiri atau hal-hal yang berkaitan dengan masa lalu. Tapi maafkanlah. Maafkan orang lain yang berbuat tidak menyenangkan padamu di masa lalu. Maafkan lingkungan di masa lalu yang membuatmu menjadi seperti ini. Dan utamanya, maafkan diri sendiri yang mungkin berbuat tidak menyenangkan di masa lalu.

Karena, melupakan bukanlah solusi. Melupakan hampir sama dengan menghindari situasi. Dan sebenarnya akan selalu ada ruang -yang entah kapan akan muncul- untuk kita mengingat kembali masa lalu yang menurut kita tidak menyenangkan itu. Dan bila sewaktu-waktu tuang itu muncul di tempat dan waktu yang tidak tepat, akan membuat diri kita gagap akan masa kini, langkah kita mendadak jadi tertahan oleh masa lalu. Mau tidak mau, disadari atau tidak, jika kita hanya melupakan masa lalu tanpa memaafkannya, kita akan selalu terkekang dengannya.

Sementara bila memaafkan, itu berarti kita telah menerima. Menerima masa lalu sebagai bagian dari diri sendiri. Menerima diri kita yang tidak sempurna. Mungkin, itu yang disebut dengan berdamai dengan hati?

Senin, 27 Juli 2015

Hari ini harusnya . . .

Hari ini harusnya saya jalan ke kontrakan Baytul Quds. Terus gabung buat belajar rame-rame buat persiapan OSCE. Kalo liat di grup line muslimah community nya pendidikan dokter reguler 2012 sama grup line nya baytul quds sih udah sangat rame postingan tentang materi-materi OSCE (eh tapi kayaknya sih, haha, dua grup itu termasuk grup yang notifnya udah sampe sekitar 900-an tapi nggak pernah saya buka, haha).

Harusnya hari ini saya bisa jalan ke toko alat menjahit dan mencari alat-alat rajut buat bikin kadonya Uni. Udah nyari sih lokasi tokonya dimana lewat internet yang pas-pasan. Dan kalo mengingat alamatnya, sepertinya tokonya hanya sepelemparan batu dari kontrakan saya yang sekarang.

Harusnya hari ini saya bisa nulis beberapa kalimat buat antologi karya nya anak-anak senja. Idenya baru aja dapet tadi pagi karena chat whatsappnya dek Nia, adek sepupu paling kecil yang masih duduk di bangku kelas 5 SD, di grup Cucu Kenari yang nanya, "Mbak, Quotes itu apa mbak?". Dan ceritanya juga sudah terkonstruksi sedikit-sedikit dalam bayangan saya, sudah mulai muncul nama-nama pemain yang akan berperan di dalamnya pula.

Harusnya hari ini saya bisa menyelesaikan membaca buku Drunken Monster -catatan harian Pidi Baiq, yang baru aja saya beli. Meskipun menurut saya font nya nggak enak dibaca, tapi gaya menulisnya lucu dan sangat random, bikin saya tetep pengen baca, nggak ketebak kata-kata selanjutnya yang akan dipilih oleh penulisnya apa.

Tapi itu semua hanya harusnya. Akhirnya, semua yang harusnya tadi tidak saya lakukan sampai detik saya menulis tulisan ini. Aah kamu Ty, 'azzam nya nggak kuat nih buat jadi orang yang bermanfaat. Masih lebih suka bermalas-malasan ketimbang berpayah-payah dalam kebaikan. Padahal katanya kewajiban kita itu lebih banyak daripada waktu yang kita punya. Dan katanya nikmat waktu luang dan kesehatan adalah dua nikmat yang seringkali dilalaikan oleh manusia. dan lagi katanya, memanfatkan waktu luang dengan kebaikan adalah salah satu cara mensyukurinya. Jadi?


Jumat, 10 Juli 2015

Tuhanmu Lebih Berhak

Tuhanmu lebih berhak atas semua perhatianmu, ruang-ruang yang ada di pikiranmu, juga ruang-ruang yang ada di hatimu.

Ia -yang Maha Segalanya- lebih berhak atas itu ketimbang angan-anganmu akan kehidupan dunia yang tak menjanjikan apa pun; atau ekspektasi-ekspektasi manusia yang belum tentu terpenuhi; atau kekhawatiran-kekhawatiran yang seringkali tak berdasar; atau kecemasan-kecemasan yang muncul atas imajinasimu semata ...

Duhai,

Tuhanmu lebih berhak atas semua perhatianmu, ruang-ruang yang ada di pikiranmu, juga ruang-ruang yang ada di hatimu.

Tuhanmu lebih berhak atasnya . . .