Tampilkan postingan dengan label kuliah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kuliah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 03 Juli 2019

Bapak #1

[7/3, 04:13] Setyani Nurul Ch.: Bapak
[7/3, 04:13] Setyani Nurul Ch.: Aku capek
[7/3, 04:13] Setyani Nurul Ch.: 😭😭😭😭😭
[7/3, 04:13] Setyani Nurul Ch.: Pengen udahan
[7/3, 04:16] Bapak: Halah
[7/3, 04:16] Bapak: 😁
[7/3, 04:20] Bapak: Ternyata hidup itu ya memang begitu.  Keseharian yg dihadapi ya gitu itu....  Capek,  bosen,  kesel....
Biasanya kalo kena sindrom gini orang2 itu berkawan dg kecapekan,  kebosanan untuk melewatinya..  Ga tau gimana caranya...
Ya memang begitu kemsna pun,  dimanapun,  tetap akan dikejar oleh perasaan itu.
[7/3, 04:21] Bapak: Cuekin aja mereka,  sampe mereka bosen,  capek,  menggoda kita....
[7/3, 04:22] Bapak: 😁😁😁😁👆😍👋👋👋
[7/3, 04:22] Bapak: 🤛👊👊👊🤓

Minggu, 09 Juni 2019

Tidak Terbiasa

meski sudah dua belas tahun bersekolah 'jauh' dari rumah, entah kenapa rasanya tetap tidak terbiasa ketika kemudian harus 'kembali ke sekolah'.

tetap saja rasanya sesak ketika saya salim dengan oang tua untuk kemudian berangkat kembali ke sekolah. nggak sekali dua kali, di perjalanan saya nangis,entah itu di kereta, kalau saya dari depok (ke solo, waktu MTs atau ke Jogja, waktu kuliah) atau bahkan di motor (kalau saya balik dari Salatiga ke Jogja). Udah gitu, di asrama atau di kosan, kadang-kadang saya lanjut nangis lagi.

Saya hampir selalu mengabari kalau sudah sampai di tempat via text. Saya nggak berani nelpon, takutnya jebol. nangis lagi.

Terus, baru saja menjejakkan kaki di sekolah, tapi rasanya sudah ingin kembali ke rumah.

Ah, saya. ingin. pulang.




NB : iya, saya emang secengeng itu.


Minggu, 24 Maret 2019

Tentang KKN

Sudah berjalan 2 pekan KKN. Ternyata tidak semenyenangkan itu. Pun tidak setidakmenyenangkan itu.

namanya juga hidup, ada menyenangkannya, ada yang tidak menyenangkannya.

H-36 KKN
Desa Serut, Gedangsari, Gunungkidul

Rabu, 14 November 2018

November tahun ini, dan tahun-tahun sebelumnya

November tahun ini, saya berjuang menyelesaikan stase obgyn yang luar biasa. Luar biasa jaganya (sekali shift 30 jam), luar biasa konsulen-konsulennya, luar biasa tugas-tugasnya, dan sudah barang tentu luar biasa capeknya -fisik maupun mental. it took so much energy just to wake up in the morning, and then went straigth to the hospital to have morning shift. Saya, mungkin selama koas 6-7 bulan ini, paling banyak nangis ya pas obgyn ini. (nggak tau ya besok-besok gimana, hehe). terus udah gitu masih mikir, 'kok ada ya orang masih mau jadi spesialis obgyn?' wkwkw -ini mah emang dasar saya nya aja yang males wkwkw.

Di November-november sebelumnya, saya nggak menyangka saya ada di tahap ini. Masuk koas, ketemu temen-temen baru. Kesulitan mencari jadwal liqo. Pulang dari RS langsung tidur. Kadang-kadang saya masih merasa ini nggak nyata. Kehidupan koas saya seperti masih di angan-angan.

November tahun sebelumnya, di tanggal-tanggal segini saya sedang sibuk menyiapkan seminar hasil, kemudian sidang skripsi seminggu setelahnya, dan revisi-revisi. Sidang-yang saya nggak bilang siapa-siapa selain Allah dan afifah (wkwk). Saya bahkan nggak bilang ibu bapak dan keluarga, just because-kalau saya bilang, saya takut orang-orang akan mulai bilang, 'santai aja, tyani, besok tuh bakal ... bla bla bla ..' atau saya takut orang-orang akan mulai meledek 'ciee yang mau sidang' dsb dsb, yang akan bikin saya kepikiran banget kalo saya mau sidang lalu setelahnya koas. And that's why saya baru bilang-bilang dan mengumumkan ke orang-orang justru setelah saya selesai sidang. itupun ke orang-orang kontrakan, ke temen liqo, sama ke keluarga aja. Jadi masih banyak yang tanya, meskipun setelah sidang, 'Tyani, apa kabar skripsinya?' lalu saya bisa jawab, 'Alhamdulillah, baik.'

November sebelumnya lagi, saya sedang berjuang melawan kecemasan yang berlebihan akan skripsi saya yang nggak maju (dan ditambah kecemasan-kecemasan terkait organisasi, jabatan, dan lain sebagainya juga) yang membawa saya pada pengalaman berharga yang saya nggak mau ngulangin lagi : Depresi. Meski depresi ringan, tapi nggak ringan untuk yang menjalankan. di malam-malam di mana saya jatuh tertidur cepat dengan harapan saya nggak terbangun malamnya, tapi justru sebaliknya. Saya bangun satu jam sejak saya tidur, kemudian tidak bisa tidur lagi hingga pagi. di jam-jam di mana saya terbangun itulah dimana pikiran-pikiran negatif masuk tanpa filter.

it was scary. Dan kalau bisa, tidak usah terulang lagi.

di November-november sebelum tahun ini, saya benar-benar tidak berani memikirkan bahwa saya sedang koas, menjalani keseharian di rumah sakit dalam kondisi tertekan.

Tapi kenyataannya hari ini, November tahun ini : saya sedang koas, dalam kondisi tertekan setiap harinya di rumah sakit, but it's okay. it's okay.

ps : saya menantikan november-november lainnya di tahun-tahun berikutnya. tidak ada maksud khusus sebenarnya tentang november, tapi entah kenapa ada banyak kejadian di bulan november.

Selasa, 07 November 2017

[Saya dan Mbak S] Memori #3


ini omurice. Jelas bukan saya yang bikin. Saya mah cuma bisa masak emih pake telor, ato goreng-goreng makanan instan macam sosis atau nugget wkwk. Saya tuh susah banget makan, lebih tepatnya sering abai sama makan. Tapi temen saya satu kamar di kontrakan Baytul Quds part 2 (iya part 2, pas rumahnya masih di jalan sulawesi), namanya Nisa selalu jadi orang yang ngeladenin aku di kontrakan soal makan memakan ini.

Sebenarnya saya nggak expect sampai sering dimasakin sama Nisa gitu. Tapi kayaknya Nisa nya yang sangat amat terlalu perhatian sama temen kamarnya ini. Bisa jadi dia juga yang paling sering nanyain, 'Ty, udah makan?'

Y Rabb, Allah tuh kurang baik apa coba sama saya? Dikasih temen-temen superb yang kayak gini T.T

Senin, 06 November 2017

[Saya dan Mbak S] Memori #2



Saya sempet donlot-donlotin foto-foto semacam ini, dipajang di hape, biar saya inget bahwa saya bisa menyelesaikan semua ini. Biar saya inget kalo saya sedang berjuang melawan banyak hal, dan menerima banyak hal.

Sabtu, 04 November 2017

[Saya dan Mbak S] Memori #1 : Jadwal


Ini adalah foto Jadwal yang dibikinin Nida'. Nida' ini temen sekamar saya sekarang, temen SMA dulu, temen sekampus juga. Temen ngereceh bareng. Berapa kali ya Nida' bikinin aku sama 'Afifah jadwal nykripsi, tapi ya cuma awal-awal jadwal aja yang berjalan, selebihnya aku kabur wkwk.

Terus nida' juga yang sering reminderin jadwalnya. e tapi terusan pas dia masuk statse koas besar, kita sesama lupa jadwal wkwk.

:)

Kamis, 02 Februari 2017

Cerita Skripsi : Membaca dan Menulis

Menulis itu perkara apa yang ia baca.
.
.
Kalau membaca saja tidak mau, bagaimana mau menulis?

***

Ini ceritanya sedang merenungkan keyword seperti apa yang harus dipakai supaya bisa dapet jurnal atau bacaan yang tepat.

Selasa, 17 Januari 2017

Ketakutan

Setiap orang punya ketakutannya masing-masing.
Yang belum lulus, takut menghadapi ujian, takut menghadap dosen, takut kalau tugas tidak selesai, takut kalau hari esok datang tapi skripsi belum juga ada progress, takut tidak lulus, dan takut-takut lainnya.

Yang sudah lulus, takut menghadapi lingkungan baru, takut menghadapi orang baru, takut nggak dapet kerja, takut kinerja tidak sesuai ekspektasi, dan takut-takut lainnya.

Semuanya takut. Semuanya punya ketakutannya masing-masing. So, it will be fine. Karena yang punya perasaan itu banyak. Yang senasib dan sepenanggungan banyak.

Senin, 16 Januari 2017

meng-uninstall corel


akhirnya coreldraw dan kawan-kawan corel lainnya saya uninstall -demi-untuk-laptop-yang-tidak-lemot. *Tapitetepajanggakrelamenguninstalladobecreativesuitenya*

sedih sebenernya. Tapi kalo ga meng-uninstall program berat ini nanti laptopnya lemot mulu, nanti skripsinyanggakdikerjainterusdenganalasanlaptoplemot.
 T.T

Apakah ngaruh?
.
.
Yah, lumayanlah

Sabtu, 31 Desember 2016

Mencapai Ujungnya #2

Sementara saya bengong, bimbang, bingung, waktu tetap berjalan. Semakin terasa cepat setiap harinya. Tau-tau, 2016 sudah mencapai ujungnya.

Sementara TV saya menyala menyetel film High Strung, laptop saya memutar lagu-lagu pentatonix, dan HP bergetar perkara notif-notif yang entah penting entah tidak, waktu tetap berjalan. Pun ketika saya menulis atau pun tidak.

2016 sudah mencapai ujungnya.

Sepanjang tahun 2016 ini, rasa cemas dan depresi silih berganti datang. Ya, pokoknya kondisi saya kalau tidak sedang cemas ya sedang depresi. Kadang-kadang saya mual, kadang-kadang saya muntah. Sesekali pula menangis tanpa sebab. Sesekali yang lain saya cuma diam menghadap laptop. Sesekali ingin berteriak kencang. Sesekali hanya berguling-guling.

Saya merasa tidak bergerak sesenti pun dari sejak saya masuk tahun 2016 hingga kini. Skripsi saya gitu-gitu aja. Blog pun jarang terisi. Bimo forsalamm nggak maju-maju juga. Urusan di FLP pun begitu-begitu aja. Saya banyak menghilang tahun ini. Menghilang dari peredaran sosial media mau pun forum-forum ketemu langsung. Kapasitas diri pun tidak banyak ter-upgrade. Kalau sudah seperti ini, jangan tanya soal ruhiyah dan tarbawi.

Saya banyak nggak jujur sama diri saya tahun ini. Saya banyak menyalahkan diri saya sendiri tahun ini. Saya banyak iri dengan orang lain tahun ini. Saya membenci diri saya sendiri tahun ini. Saya banyak nggak bersyukur tahun ini.

Dan saya merasa sangat buruk rupa tahun ini.

Saya melupakan betapa menyenangkannya menulis. Membayangkan setiap adegan dalam kepala dan menceritakannya kembali pada khalayak melalui tulisan.Yang ada di kepala saya cuma dua ; (1) kenapa saya sangat nggak mau ngerjain skripsi (sampai pada taraf 'rasanya pengen nggak lulus aja'), dan (2) gimana caranya ngejalanin amanah saya tanpa merasa bahwa itu beban?

well, tapi saya ngerasa ya hal-hal itu pada akhirnya cuma ngeblunder di kepala. Saya lari terus dari kenyataan. Saya lari dari amanah, saya lari dari skripsi. Saya lari dari diri sendiri. Saya nggak pernah benar-benar ambil langkah ataupun sikap terhadap diri saya. Katanya, kalau kita nggak keras sama diri kita sendiri, lingkungan akan keras pada kita. Dan, itu mungkin yang saya rasakan selama 2016, terutama pada 6 bulan terakhir.

Semakin saya berpikir skripsi, semakin saya nggak mau ngerjain. Dan semakin saya mikir bahwa amanah bukan beban, semakin saya kebebani. Saya mikir : saya kenapa?

Ada apa dengan saya? Saya nggak menikmati membaca maupun menulis. Kalau pun saya baca, it's all just an act. Kalau pun saya nulis, rasanya nggak dari hati dan nggak jujur. something is wrong.

Terus saya keasyikan mikir tentang kenapa saya hingga akhirnya banyak hal yang terbengkalai selama 2016 ini. Saya depresi, tapi nggak berani ngomong sama siapa pun. Kalo di depan orang tetep aja senyum. Tetep aja ketawa, begitu ditinggal sendirian nangis. Mau cerita sama orang bingung, orang saya sendiri aja ga tau saya kenapa. Dan seringnya takut mengganggu. Mau cerita ke Bapak takut, takut buat khawatir.

Kemudian suatu ketika, di masa-masa di mana saya benar-benar depresi, saya sholat. Saya meyakinkan diri saya sendiri buat jujur sama Allah. Jujur sama diri sendiri. Saya cerita semuanya (ya meski tidak terlisankan), saya minta bantuan sama Allah. Nggak tau bentuknya apa, terserah Allah aja. Karena saya tahu kalau saya mencoba menyelesaikan pikiran saya sendirian saya tidak mampu.

Selang dua atau tiga hari, saya bertemu dengan seorang senior di FLP, Uni Yova namanya; dan di situlah saya merasa, ini nashrullah; ini pertolongan Allah yang saya minta (ternyata memang semudah itu minta sama Allah, semudah itu Allah kasih; tinggal kita mau minta atau nggak, kita mau memantaskan diri untuk dikabulkan permintaan kita atau nggak). Kembali tentang Uni Yova, Beliau sedang menyelesaikan magister psikologi klinis. Waktu tinggal berdua aja, Uni langsung tanya, "Dek, gimana?" Dan tumpahlah semua keluhan ditambah tangisan (padahal itu di perpusat T.T). Singkat cerita, Uni mengambil kesimpulan, "Dek, kamu itu sebenarnya nggak mau ngerjain skripsi atau udah nggak mau lulus?"

Saya mikir, saya mikir, saya mikir.

Dan setelah dipikir-pikir (meski sudah malas mikir), saya berkesimpulan bahwa sebenarnya yang membuat saya nggak mau skripsi bukan karena topik tidak menarik, tapi karena saya sudah nggak tertarik dengan lulus. Selidik punya selidik, ini bermula dari niat saya yang sudah nggak lagi lurus.

Begini, mungkin orang mikir, apa sih lebay banget. but, hey, niat itu sama dengan tujuan. Awal kita menetapkan niat adalah awal kita menetapkan tujuan. Tapi memang, niat yang sepaket dengan tujuan ini perlu diperbaiki dan diperbaharui setiap harinya, karena hati manusia mudah berubah dan terombang-ambing. Karena hati manusia mudah ragu, mudah bimbang.

Waktu itu, Uni Yova bilang, "Kalo aku sih, Dek, sekarang ngerjain thesis udah bukan buat siapa-siapa lagi, tapi buat kebahagiaan diriku sendiri." Saya jadi mikir, apa selama ini saya nggak bahagia selama setahun ini karena saya melakukan banyak hal buat orang lain? Bukan buat diri saya sendiri?

Saya jadi inget, pernah baca di suatu tempat, yang intinya dia bilang kalau kita melakukan sesuatu karena orang lain itu tidak akan membuat kita bahagia. Saya dulu mikir, kok gitu sih? Bukannya kita hidup untuk menolong orang lain ya? Tapi kemudian, setelah mengalami ini itu sepanjang tahun ini, saya jadi mikir, emang gitu yah.

Jadi gini, ada dua hal yang berbeda di sini 'melakukan sesuatu karena orang lain' atau 'melakukan sesuatu untuk menolong orang lain'. Melakukan sesuatu untuk menolong orang lain akan balik ke kita. "fain ahsantum ahsantum li anfusikum" (Al-ISra' :7). Setiap kebaikan akan balik ke kita sendiri. Tapi melakukan sesuatu karena orang lain nggak banyak memberikan apa pun. Dan, bisa jadi malah berujung pada kecewa. Mungkin saya perlu mengingat kata Murabbi saya dulu, setiap apapun yang dikerjakan niatnya untuk Allah, tidak ada rasa kecewa. Bila kita masih kecewa, mungkin niat kita belum selurus itu.

Tahun ini, saya kecewa sama diri saya sendiri. Saya kecewa dengan apa yang saya lakukan. Dan buruknya lagi saya kecewa dengan banyak orang. Bahkan mungkin tanpa sadar saya sudah kecewa sama Allah yang memberikan kondisi seperti ini pada saya. Astaghfirullah ...

Mungkin saya sering diingatkan untuk memperbaharui niat saat liqo, saat syuro, tapi ya untuk keperluan itu aja, untuk hari itu dan saat itu saja. Kemudian saya jadi lupa memperbaharui niat jangka panjang saya. Buat (si)apa saya hidup? Buat (si)apa saya kuliah? Buat (si)apa saya bermanah? Buat (si)apa saya menikah? Buat (si)apa saya berumah tangga? Buat (si)apa saya bekerja dan lain sebagainya  ...

Dan mungkin dari sanalah saya jadi lalai terhadap apa yang perlu saya kerjakan. Mana yang butuh dikerjakan dan mana yang saya ingin kerjakan.

Kondisi di mana saya udah nggak kuliah lagi tapi masih harus skripsi itu membuat saya jadi jarang bertemu orang-orang shalih-shalihah, dan seringnya membuat saya lalai. Alhamdulillahnya, Allah masih mau ngasih saya amanah di tahun ini, yang itu berarti, saya masih ngumpul sama orang-orang yang memikirkan umat, paling tidak sepekan hingga dua pekan sekali dalam syuro ataupun dalam agenda lainnya. Tapi ya kalau saya lagi kabur dari amanah, ya sudah, lalai aja terus.

Karena lupa dengan tujuan seharusnya antara Adz-Dzariyaat: 56 ataupun Al Baqarah : 30, saya jadi sering mencari-cari alasan untuk melakukan sesuatu. Di amanah karen disuruh murabbilah, kuliah karena disuruh orang tualah. Meski pun itu hal yang benar, tapi saya sepakat dengan murabbi saya, kalau masih ada celah pada diri kita untuk selain Dzat Yang Maha Kuasa, tentu ada celah untuk kecewa.

Misal, kita manut orang tua untuk menyelesaikan kuliah. Bilangnya biar orang tua kita bangga, iya kalo beneran bangga, kalau ternyata orang tua kita malah nuntut terus tanpa pernah bangga terhadap prestasi anaknya (well, bukan orang tua saya tapi), gimana? Bisa jadi kita malah jadi kecewa pada orang tua kita. That's it.  Saya lupa kalau saya pernah bilang ke orang, niat kita melakukan sesuatu buat orang tua itu benar, ketika kita memang mengingat bahwa ridhallah fii ridha walidayn. Tapi ketika kita terbatas cuma pada biar orang tua kita bangga atau biar orang tua kita bahagia, itu mungkin yang perlu ditambahkan. Itu mungkin yang membuatnya menjadi bukan niat tertinggi.

Dan sebenarnya, kita memang melakukan kebaikan, nulis skripsi, beramanah, kuliah, ngeliqoi, syuro, dan kebaikan lainnya bukan buat siapa-siapa. Tapi buat diri sendiri. Buat kebahagiaan diri kita sendiri. Dan setelah melalui ini itulah saya akhirnya paham apa makna 'buat kebahagiaan diri sendiri'.

Orang tua kita bahagia ketika kita lulus, itu pun karena kita bahagia. Orang lain bahagia ketika kita bahagia. Jangan dibalik, kita bahagia ketika orang lain bahagia. Motivasi eksternal adalah motivasi terendah untuk menjadi motor penggerak bagi hati, badan, maupun otak kita. Bahagia itu menular memang. Tapi kalau cuma ngeliat kebahagiaan orang lain, sementara diri sendiri nggak bahagia, lama-lama yang muncul jadi envy. Perasaan iri, dengki, dan sejenisnya.

Jadi, saya mencapai kesimpulan, buat diri sendiri bahagia dulu, baru kita bisa bahagia untuk orang lain. Bisa tulus bahagianya buat orang lain.

Saya nolongin orang, saya ngeliqoi, saya beramanah, saya kuliah sampai saya nraktir orang bukan buat siapa-siapa. Tapi buat saya sendiri. Supaya saya ada effort untuk menunjukkan pada Allah, bahwa saya pantas untuk mendapatkan kebahagiaan karena saya sudah berbuat baik, di dunia maupun di akhirat. Saya pantas berbahagia untuk semua kebaikan yang saya lakukan. Saya boleh berbahagia untuk semua kebaikan yang saya lakukan. Saya berhak berbahagia untuk semua kebaikan yang saya lakukan. Saya cuma ingin bahagia karena Allah menilai saya pantas, dengan melakukan kebaikan yang sebanyak-banyak. Kebahagiaan hakiki. Yang berlanjut hingga akhirat.

Mungkin, nasihat-nasihat itu klise untuk diucapkan, tapi jelas sekali sulit buat dipraktekan. Semacam, bersyukur, ikhlas, qonaah adalah kunci menuju kebahagiaan itu sendiri. Dan, setelah melewati tahun 2016 hingga akhir, saya paham, hal-hal tersebut cuma bisa dilakukan ketika tujuan kita straight tertuju pada Allah, dan niat kita memang karena Allah. Ternyata, semuanya memang bersumber dan berakhir pada Allah, Dzat Yang Awal dan Yang Akhir (Huwal awwalu wal aakhiru).

Dan kebahagiaan itu ternyata sesederhana kita senantiasa dekat sama Allah.

Alhamdulillah 'alaa kulli hal, 2016 sudah mencapai ujungnya. Seburuk-buruknya saya tahun ini, Allah masih membuka hati saya untuk menerima pelajaran. Meski saya slow learner, karena butuh setahun untuk memahami ini -_-. But, mungkin disitu ujiannya. Katanya ujian bisa memuliakan derajat seseorang, atau justru menghinakannya. Semoga buat saya hasilnya bukan opsi yang terakhir. Begitu juga dengan siapapun yang membaca ini.

Semoga Allah masih kasih kesempatan saya buat memperbaiki banyak hal, menyiapkan lebih banyak bekal, meluruskan kembali segala niat yang sudah melenceng jauh, karena meski ini ujung dari tahun ini, tapi, siapa tahu? Bisa jadi setelah menulis ini saya meregang nyawa? Who knows?

Tapi karena katanya, bekerjalah seakan kamu hidup selamanya, dan beribadahlah seakan kamu mati besok; mari memperbaiki plan hidup jangka panjang. Manusia merencanakan, Allah menentukan.

Wallahu a'lam bish shawwab.

*segala yang ditulis di sini cuma pendapat pribadi.
Mohon maaf untuk semua pihak yang terdzholimi sepanjang tahun ini, semua pihak yang sudah sangat saya repotin karena depresi saya, semua pihak yang sudah mengkhawatirkan saya. Terima kasih, terima kasih buat supportnya, paling tidak, saya tahu, saya tidak pernah sendirian. :). Jazaakumullah khayran katsiiran. Cuma Allah yang bisa balas, karena Dia Yang Maha Memiliki. Dia Yang Maha Segalanya.

~    

Senin, 29 Agustus 2016

Wis, udah : Refleksi Mahasiswa Tingkat Akhir #1

Rentang periode Agustus-September ini, nggak cuma satu dua orang teman saya yang telah menyelesaikan studi sarjana satunya. Alhamdulillah wa baarakallah. Semoga ilmunya berkah, bagi dirinya, juga bagi orang lain. Saya -yang sudah mulai kehilangan semangat untuk kuliah dan menyelesaikan studinya ini, mau nggak mau keseret-seret untuk segera menyelesaikan tugas akhir karena gemes ditanyain mulu, "Kamu sih kapan wisuda?" atau bahkan ada yang ngasih selamat, meski skripsi belum tersentuh sejak seminar proposal beberapa bulan lalu, "Selamat ya Kak ..." terus dilanjutin, "Selamat siang .." -______-

Memang, kondisi dimana kita sudah-nggak-ada-kelas-lagi-dan-tinggal-ngerjain-tugas-akhir sebenarnya adalah kondisi berbahaya, terutama buat saya. Begitu ada jam-jam kosong, rasanya pengen dipenuhin, dengan les ini, les itu, ikutan nyantri di sini dan sebagainya -sebagai kompensasi waktu yang saya sulit dapatkan selama masa kuliah yang padat dan penuh reschedule.

Tapi, ya gitu, ketika waktu-waktunya sudah dipenuhi, justru, skripsi ini nggak kepegang. Kadang saya berpikir, kenapa segitu susahnya ngerjain skripsi, sementara saya suka banget nulis. Kenapa segitu susahnya ngerjain skripsi, sementara, saya merasa segitu menyenangkannya mengerjakan karya tulis ilmiah waktu MTs dan MA (iyakah? haha). Dan, meski seringkali kesulitanya itu sebenarnya datang dari diri sendiri yang kurang baca, plus menunda-nunda; tapi kadang-kadang malah jadi menyalahkan yang lain, dosennya beginilah, topiknya lalalili lah dan seterusnya, dan seterusnya.

Padahal, kata Bapak, "Semakin ditunda akan semakin berat,"

well said. Memang begitu ternyata, semakin saya menunda, semakin semakin semakin berat terasa. (tapi tetep aja nggak dikerjain, wkwkwk).

Sebenernya masih pengen nulis banyak seputar ini sih. Tapi malah ngebundet di pikiran. wis, udah, pokok e dikerjakan sik ....

Sabtu, 30 April 2016

Orang-orang Keren

Sebenarnya nggak hari ini saja saya merasa berada di antara orang-orang keren, orang-orang yang kece badai. Mungkin kesadaran itu saya dapat karena saya masuk IC, dan lulus dari sana.

Di IC, temen-temen saya itu meski keliatannya petakilan, ngeselin, jayus, aneh, nggak jelas, tapi mereka itu orang-orang yang namanya hampir nggak pernah absen dari prestasi, baik saat di IC ataupun di kampus. Mulai dari OSN sampai yang skala internasional. Terus, di kampus juga nggak kalah ... Ada juga yang tiap tahunnya jadi pengajar OSN di sekolah entah apa, dan anak didiknya juga sampai taraf OSN. Ada juga yang tiap tahunnya ke luar negeri untuk exchange (eh, ada nggak ya? hehe). Ada juga yang tiap tahunnya ikut PIMNAS. Ada... dan itu nggak cuma satu dua orang.

Itu temen-temen IC. Sekarang pun, di lingkungan teman-teman kampus, Bimo Forsalamm, pun teman-teman FLP juga, isinya orang-orang keren sampai bikin saya minder. Pake banget.

Mungkin nulis gini efek dari kemarin dapet kabar seorang adek di bimo mau ngisi seminar internal. Terus minggu lalu juga dapat kabar seorang adek di FLP jadi semifinalis lomba paper. Terus beberapa waktu lalu juga dapat kabar seorang adek yang lain pergi ke Jepang untuk exchange. Dan lain lain, dan lain lain

Dan di posisi saya saat ini di bimo forsalamm pun -tanpa sengaja- ternyata saya merekrut orang-orang yang lebih kece dari saya .-. ... yang lebih banyak karyanya dari saya, yang ilmu kepenulisan dan jurnalistiknya lebih mantep dari saya ....

pun di FLP juga ... haha. Terus rasanya pengen menyeduh diri sendiri, katena tetiba ngerasa jadi butiran jasjus -yang tinggal diseduh aja jadi .. T^T

meski minder -luar biasa amat sangat minder dengan orang-orang kece di sekitar saya; tapi saya bersyukur ada di lingkungan ini. karena saya jadi banyak belajar dari orang-orang kece ini. Meski saya nya belum kece kayak mereka, semoga suatu saat nanti saya bisa juga jadi orang keren; dan bikin orang lain juga jadi keren :"

*btw, punya rasa minder yang kebangetan itu agak menyulitkan langkah untuk bergerak. jadi, jangan ditiru ya haha
**dan, btw lagi .. sebenarnya saya juga nggak punya patokan dan definisi yang pakem dan jelas tentang apa itu keren, wkwkwk ... tapi percaya deh kalo kalian kenal orang-orang yang saya kenal, pasti kalian juga akan merasa mereka sangat keren.

Jumat, 29 Januari 2016

Kerja . . .

Akhir-akhir ini obrolan nggak akan jauh-jauh dari TA dan juga kerja atau koas (kalo ngomong sama anak jurusan).

Selain anak-anak yang habis lulus masih harus ambil sekolah profesi, macam jurusan saya, atau jurusan sebelah, atau fakultas sebelah (sebut saja anak medika, haha); satu per satu orang sudah mulai merancang usai wisuda mereka akan kemana?

Bahkan teman saya yang baru akan ambil skripsi semester ini pun galaunya nggak jauh-jauh dari sana. habis lulus mau ngapain? Karena kita-kita yang sudah menjejak tingkat akhir kuliah atau bahkan sudah bergelar mahasiswa tua atau mahasiswa bangkotan ini sudah menjejak level akhir dari pendidikan formal utama -terutama kalo mau keterima kerja yang lumayan (S2, S3 atau profesi sebagai tambahan kecuali anak-anak medika). Setelah ini, mungkin sudah harus terjun ke masyarakat, kerja, menggantikan ibu-ibu dan ayah-ayah kami yang berjuang. Siklus kehidupan terus bergulir, sementara kami masih menyocokkan diri dengan kuliah, TA dan akan kerja apa nantinya.

Saya pun meski belajar di fakultas dengan sekolah keprofesian, nggak sekali dua kali berpikir untuk nggak jaid dokter. Apalagi teman-teman yang kuliah di jurusan bukan ilmu terapan (FK itu ilmu terapan, lainnya ilmu murni semacam MIPA, atau biologi, dkk).

Baru-baru ini saya lagi baca komik Ansatsu Kyoushitsu, komik tentang sebuah kelas terbelakang di sebuah SMP elit. Kelas 3 E, kelas yang punya guru yang -sebut saja unik. Oh, saya nggak akan ngereview komik itu di sini, (haha). Yang saya titik beratkan adalah, adegan dimana anak-anak 3E ini harus mengumpulkan formulir rencana karir mereka dan mendiskusikannya dengan wali kelas, serta ada komunikasi antara orang tua dan wali kelas. Dari situ saya memahami bahwa di luar negeri anak-anak sudah mendapat bimbingan karir, bahkan sejak mereka SMP. Lalu, SMA mana yang akan jadi tujuan mereka akan ditentukan bersama dengan mereka mau masuk univ mana (CMIIW, cuma baca manga sama anime soalnya, haha). Saya nggak tau, sekarang di Indonesia di sekolah dasar maupun menengah apakah sudah seperti itu juga atau nggak. Tapi, waktu jaman saya SMA (atau bahkan SMP) saya nggak dapet bimbingan karir. Saya cuma dapet bimbingan masuk univ. Haha ...

Itu saya, yang dapet bimbingan konseling pendidikan dari guru BK superkecesuperkerennya Ic, Bu Rini. Bagaimana dengan sekolah yang biasa-biasa aja? Pada akhirnya, kebanyakan dari kami menentukan kerja ya dekat-dekat periode wisuda. Mulai berpikir mau kerja apa, mau menyambung hidup dan lepas dari orang tua dengan penghasilan yang kayak apa. Mau menghidupi keluarga dengan profesi yang seperti apa. Dan ya jadinya begini lah indonesia (halah, apadah hahaha)

Lalu, di akhir begini, saya jadi sadar kenapa Jogja dibilang kota pelajar. Karena isinya memang dipenuhi oleh orang-orang yang ingin belajar, mahasiswa, pelajar. Bukan orang-orang yang ingin bekerja. Setelah dirasa cukup belajar dari kota ini, mereka wisuda, mereka mendapat kerja atau bekerja di luar daerah jogja. Ada yang memang balik ke kota sendiri, mengabdi di tanah kelahiran, ada yang tuntutan beasiswa daerah, ada yang memang dapet kerjanya di luar jogja.

Aah, satu per satu orang meninggalkan jogja ...  

Menghindar

Hari in dua orang teman SMA saya pendadaran. Nida' sesama anak FK, dan satu lagi Isti, anak sasindo UGM. Doanya dan pertanyaannya pasti nggak akan berubah, 'Kapan ty nyusul pake item putih? Semoga disegerakan ya' ... Saya mengamini baik jahr maupun sirr dengan setulus hati, dengan keikhlasan (haha) ...

Mungkin memang doa-doa orang-orang yang sedang saya butuhkan. Doa-doa dan kalimat-kalimat yang bisa jadi pembangkit tenaga cinta (halah) buat menggerakkan seluruh jiwa dan raga saya buat bertahan di depan skripsi. Buat saya, mengerjakan karya tulis kayak gini, penelitian kayak gini harusnya udah bukan lagi masalah, karena sejak SMP bikin karya tulis macam skripsi gini udah saya lakuin.

Cumannya, saya baru sadar sejak saya terapi phobia dulu, kalau saya tipikal orang avoidance. Tipikal bocah-bocah yang doyan lari (dari kenyataan dan dari amanah) hahaha. Dan baru akan nggak lari ketika kepepet. Masalahnya mengerjakan skripsi itu nggak didetlen tanggal. Nggak dikejar dosen. Nggak ditekan siapa-siapa. Jadi, sayanya terlalu nyantai buat terus-terusan lari (dari skripsi).

Saya jadi inget, kakak saya pernah bilang, skripsi itu adalah ajang kita ngelawan diri kita sendiri. Ajang buat ngalahin hawa nafsu buat males-malesan, buat lari dari skripsi.

Tapi menghindar dari yang wajib itu mudah banget ya? haha *ketawa miris ceritanya

Yang susah adalah konsekuensinya. Konsekuensi ketika akhirnya harus ngerjain skripsi sendiri, konsekuensi makin stress ketika ngeliat satu per satu temen udah pendadaran, dan ternyata tersisa seorang diri yang belum pendadaran ... dan konsekuensi-konsekuensi lainnya.

terus, kenapa masih menghindar? (ceritanya nanya ke diri sendiri)

aaah, akhir-akhir ini jadi terlalu sering melegalkan pikiran-pikiran negatif yang mengganggu untuk melakukan ketidakbaikan, sepertinya ..

Rabu, 06 Januari 2016

Januari #2

Sepertinya, bulan januari tahun ini tidak  seperti bulan januari lainnya, yang saya lewati dengan hahahihi di rumah adem ayem dan leyeh-leyeh.

Liburan kali ini, aturannya kuliah saya sudah kelar sejak desember lalu. Tapi saya memutuskan untuk tidak pulang. Membereskan remed-remed; membereskan OSCE kompre; membereskan skripsi -yang entah kenapa terasa nggak beres-beres. Dan membereskan hal-hal di luar akademik.

Bulan ini sepertinya akan jadi bulan dengan kebaperan tingkat dewa karena akumulasi stress di akhir kuliah. Hahaha. Bisa dilihat, akhir-akhir ini jadi lebih mudah emosi karena hal-hal kecil. Saya nggak akan heran kalo di bulan ini jerawat bisa akan tumbuh lebih banyak ketimbang biasanya. haha.

Meski kata Bapak jangan stress; tapi sulit sekali untuk mencerna kalimat itu untuk saat-saat ini. Itu seperti kamu dibilangin buat jangan nangis, tapi kamu udah nangis. yah begitulah ....

Sepertinya (lagi), januari kali ini akan jadi bulan yang panjang~
Semoga bisa menikmatinya dengan mensyukuri segala hal yang terjadi. Mensyukuri ketidaktahuan dan kebodohan karena tidak bertanya sebelumnya. Mensyukuri pengalaman menunggu dosen berjam-jam di depan lab. Mensyukuri setiap pembelajaran dari remed-remed. Mensyukuri proses pembalajaran OSCE kompre. Mensyukuri periode stress di bulan januari ini.

Semoga, saya tidak lupa bersyukur, tidak jengah bersyukur di tengah-tengah semua kehebohan agenda bulan ini. Sehingga di akhir nanti, apapun hasilnya, apapun yang terjadi, saya tidak kecewa terhadap diri saya.

Sehingga, di akhir nanti, ketika saya sudah diperbolehkan untuk pulang karena telah selesai semua urusan; saya bisa tersenyum dan mentertawakan hari-hari di bulan januari tahun ini :"

Aah, jangan lupa bahagia ...

Note ; akhir-akhir ini isi blognya memang hanya tentang ujian dan skripsi. Maklum mahasiswa tingkat akhir. Baper dengan segala hal terkait ujian dan skripsi. haha. Sudahlah, sudah, yudisium 1 sudah direlakan kok ~ haha

Bapak ; nggak papa dek, masih ada waktu-waktu lain untuk lulus. :" (well, semua bergantung pada apakah Allah sudah melihatmu siap untuk lulus)