You've done great today, Tyani. Good Job. Kamu udah nemenin Nisa krs, juga ke skill lab. Kamu juga udah berusaha ngumpulin skripsi softcopy ke perpus.
You've done great. :D
It's okay. Pasti berat ya. Pasti sesak saat harus jalan ke kampus. Nggak sia-sia kok hari ini.
Terima kasih ya, Tyani, udah berjuang dan nggak menyerah
Terima kasih sudah tersenyum hari ini.
Rabu, 31 Januari 2018
Terima Kasih
Terima kasih ya, Tyani, sudah berjuang sampai hari ini. Sudah berjuang juga nawarin bantuan ke temen-temen yang belum selesai skripsinya. Terima kasih ya, Tyani, kamu nggak menyerah pada dirimu juga pada teman-temanmu.
Terima kasih ya, Tyani, meski lelah, meski rasanya sesak dan ingin menghilang saja, meski berat, meski rasanya selalu ingin menangis, terima kasih ya Tyani, sudah mengusahakan tersenyum, bertemu orang yang tidak ingin kamu temui, mendorong orang untuk nggak menyerah. Terima kasih ya Tyani sudah mau terbuka sama orang.
Aaah, terima kasih ya, Tyani.
You deserve my thanks. Maaf ya, Tyani, selama ini nggak pernah berterimakasih sama diri sendiri.
even if there's no one thank you, I'll be the one who thanked you. Okay?
Terima kasih ya, Tyani, meski lelah, meski rasanya sesak dan ingin menghilang saja, meski berat, meski rasanya selalu ingin menangis, terima kasih ya Tyani, sudah mengusahakan tersenyum, bertemu orang yang tidak ingin kamu temui, mendorong orang untuk nggak menyerah. Terima kasih ya Tyani sudah mau terbuka sama orang.
Aaah, terima kasih ya, Tyani.
You deserve my thanks. Maaf ya, Tyani, selama ini nggak pernah berterimakasih sama diri sendiri.
even if there's no one thank you, I'll be the one who thanked you. Okay?
Senin, 29 Januari 2018
Rendah Diri
Jangan-jangan, sebenarnya yang merusak diri kita adalah diri kita sendiri; dengan kerendahan diri ; kita; dengan kecurigaan kita pada orang; dengan prasangka-prasangka buruk pada diri kita sendiri.
Aaah, kita benar-benar belum bisa menghargai diri sendiri. Memangnya siapa yang akan menyayangi diri ini kalau bukan kita sendiri?
Aah, sayang. Ya, sayang ... sayang sekali; padahal bahagia itu hak kita bersama. Disayangi itu hak kita bersama. Dicintai itu hak kita bersama.
Tapi bahkan, diri sendiri saja tidak menyayangi badan dan jiwanya. Lantas, apa orang lain bisa menyayangimu yang seperti itu?
Mari bertanya pada diri sendiri. Agar kita belajar caranya mencintai diri sendiri.
Selamat menyelami pikiran dan hati kembali, tyani.
Aaah, kita benar-benar belum bisa menghargai diri sendiri. Memangnya siapa yang akan menyayangi diri ini kalau bukan kita sendiri?
Aah, sayang. Ya, sayang ... sayang sekali; padahal bahagia itu hak kita bersama. Disayangi itu hak kita bersama. Dicintai itu hak kita bersama.
Tapi bahkan, diri sendiri saja tidak menyayangi badan dan jiwanya. Lantas, apa orang lain bisa menyayangimu yang seperti itu?
Mari bertanya pada diri sendiri. Agar kita belajar caranya mencintai diri sendiri.
Selamat menyelami pikiran dan hati kembali, tyani.
NHW #1: Tentang Belajar
Kalau boleh cerita sedikit, saya adalah mahasiswi kedokteran semester 11 yang baru saja menyelesaikan skripsi. Saya bahkan baru akan masuk pendidikan profesi (dokter muda/koas), sementara teman-teman saya sudah hampir menyelesaikannya. Saya memiliki tingkat cemas yang mungkin lebih tinggi dibanding orang biasanya. Suatu waktu, saya pernah didiagnosis dengan social anxiety, suatu gangguan mental minor, di mana seseorang mengalami kecemasan berlebihan jika berhadapan dengan orang lain.
Sekitar satu semester sebelumnya, saya didiagnosis dengan depresi sedang-berat. Saat episode depresif berlangsung, saya setiap malamnya tidak dapat memejamkan mata saya pun mengistirahatkan pikiran saya. Setiap malamnya pula saya berpikir untuk bunuh diri.Kalau hari ini saya masih utuh jiwa dan raga, tidak lain dan tidak bukan itu atas izinnya Allah. Hanya kebaikannya Allah saja yang bisa membuat saya bernafas hingga hari ini.
Sebelum episode depresi itu terjadi, ada banyaaaak sekali hal yang ingin saya pelajari. Saya ingin belajar menyetir mobil, saya ingin memperlancar bahasa inggris saya yang belepotan, saya ingin belajar coding, saya ingin belajar webdesain dan html. Tapi rupanya, saya depresi, semua itu hilang begitu saja. Semua keinginan saya menguap setiap harinya selama malam-malam di mana saya berjuang melawan kenginginan saya untuk mengakhiri hidup saya.
Maka, saat saya mendaftar IIP batch 4, saya sebenarnya ingin sekali belajar. Saya suka sekali menulis. Tapi, saat itu saya sedang recovery dari periode depresif. Dan untuk bercerita, menulis, belajar, saat itu sangat berat buat saya. Yang seharusnya ini menjadi sesuatu yang menyenangkan, malah jadi beban mental untuk saya.
Time flies. Satu tahun saya pelan-pelan mencoba mengembalikan diri saya. Dalam masa recovery itu, saya berhasil menyelesaikan skripsi saya yang tertunda dalam waktu yang sangaaaaat lambat. Tapi rasanya, untuk mnegerjakan satu hal saja, sudah menguras banyak energi saya. Karena saya tipikal orang introvert, alhasil untuk mengembalikan energi itu, saya lebih menyendiri, menghindari orang-orang.
Lalu, hari ini, saya kembali masuk ke dalam kelas matrikulasi IIP. Dan hari ini pun, saya masih membangun semangat untuk belajar lagi. Saya ingin belajar, meski hingga hair terakhir pengumpulan NHW ini saya belum terpikir secara spesifik apa yang saya ingin pelajari. Saya di sini ingin menimbun semangat, bersama dengan para ibu yang bersemangat dalam belajar.
Tapi ada satu hal yang sangat saya ingin pelajari dan lakukan hari ini. Saya ingin belajar berani. Berani menyapa, berani menjawab, berani berbicara, berani menginginkan sesuatu. Iya, keberanian yang hilang bersamaan dengan timbulnya kecemasan saya (yang membuat saya didiagnosis social anxiety). Lalu dengan keberanian ini, saya ingin punya keberanian-keberanian yang lain untuk bermimpi setinggi-tingginya.
Sekitar satu semester sebelumnya, saya didiagnosis dengan depresi sedang-berat. Saat episode depresif berlangsung, saya setiap malamnya tidak dapat memejamkan mata saya pun mengistirahatkan pikiran saya. Setiap malamnya pula saya berpikir untuk bunuh diri.Kalau hari ini saya masih utuh jiwa dan raga, tidak lain dan tidak bukan itu atas izinnya Allah. Hanya kebaikannya Allah saja yang bisa membuat saya bernafas hingga hari ini.
Sebelum episode depresi itu terjadi, ada banyaaaak sekali hal yang ingin saya pelajari. Saya ingin belajar menyetir mobil, saya ingin memperlancar bahasa inggris saya yang belepotan, saya ingin belajar coding, saya ingin belajar webdesain dan html. Tapi rupanya, saya depresi, semua itu hilang begitu saja. Semua keinginan saya menguap setiap harinya selama malam-malam di mana saya berjuang melawan kenginginan saya untuk mengakhiri hidup saya.
Maka, saat saya mendaftar IIP batch 4, saya sebenarnya ingin sekali belajar. Saya suka sekali menulis. Tapi, saat itu saya sedang recovery dari periode depresif. Dan untuk bercerita, menulis, belajar, saat itu sangat berat buat saya. Yang seharusnya ini menjadi sesuatu yang menyenangkan, malah jadi beban mental untuk saya.
Time flies. Satu tahun saya pelan-pelan mencoba mengembalikan diri saya. Dalam masa recovery itu, saya berhasil menyelesaikan skripsi saya yang tertunda dalam waktu yang sangaaaaat lambat. Tapi rasanya, untuk mnegerjakan satu hal saja, sudah menguras banyak energi saya. Karena saya tipikal orang introvert, alhasil untuk mengembalikan energi itu, saya lebih menyendiri, menghindari orang-orang.
Lalu, hari ini, saya kembali masuk ke dalam kelas matrikulasi IIP. Dan hari ini pun, saya masih membangun semangat untuk belajar lagi. Saya ingin belajar, meski hingga hair terakhir pengumpulan NHW ini saya belum terpikir secara spesifik apa yang saya ingin pelajari. Saya di sini ingin menimbun semangat, bersama dengan para ibu yang bersemangat dalam belajar.
Tapi ada satu hal yang sangat saya ingin pelajari dan lakukan hari ini. Saya ingin belajar berani. Berani menyapa, berani menjawab, berani berbicara, berani menginginkan sesuatu. Iya, keberanian yang hilang bersamaan dengan timbulnya kecemasan saya (yang membuat saya didiagnosis social anxiety). Lalu dengan keberanian ini, saya ingin punya keberanian-keberanian yang lain untuk bermimpi setinggi-tingginya.
Yogyakarta, 29 Januari 2018
Minggu, 28 Januari 2018
Tidak Ada Bunga Hari Itu
Tipikial perempuan, pasti akan senang jika mendapt sebuket bunga, saya pun. Sayangnya hingga menginjak usia 23 tahun, buket yang dinanti itu tidak pernah datang di saat yang dinantikan.
Waktu seorang teman wisuda bulan Februari 2016, saya turut meramaikan di Gedung Sabha Pramana bersama teman-teman lain. Merencanakan bunga dan hadiah macam apa yang akan kita berikan. Saat setelah keramaian terjadi, saya ingat sekali saya bilang, "Aah, nanti siapa ya yang akan datang di wisuda, pendadaran saya? Sebenernya saya takut tidak ada yang menanti saya di luar sana. Tidak ada pula yang memberi hadiah atau bunga sebagai bentuk tanda -minimal- 'saya pernah kenal kamu'."
But that's it.
Berbulan-bulan setelahnya. Tepatnya 20 November 2017, saya jalan sendiri ke kampus. Membawa makanan untuk dosen yang akhirnya tidak dimakan. Saya sekarang menyesal hari itu saya tidak membawa bunga untuk saya sendiri, karena hari itu benar-benar tidak ada bunga. Tidak ada selebrasi.
Sengaja saya tidak mengatakan apapun pada siapapun. Bukan apa-apa, agar hati yang lemah ini tidak berekspektasi apapun pada apapun atau siapapun. Sehingga jika memang tidak ada selebrasi hari itu, tidak apa. Saya merayakannya sendiri, dengan es krim, dengan perjalanan. Jika memang tidak ada bunga hari itu, tidak apa. Karena, meski menginginkannya, saya tahu hal itu tetap tidak akan ada. Terutama jika mengingat saya seharusnya sudah sidang 2 tahun lalu, dan pada hari itu semua teman saya sudah koas. Dan saya sudah pasa lembaga.
Aah, saya ternyata memang tidak punya teman ya? haha.
Tapi tidak apa, saya akan berteman dengan diri saya sendiri. Agar saya ingat bahwa yang bisa mendukung hidup saya cuma saya sendiri. dan yang bisa menarik diri saya dari keterpurukan juga cuma diri saya sendiri.
Tidak apa. Karena saya kuat, meski saya sendiri. Saya harus kuat.
Waktu seorang teman wisuda bulan Februari 2016, saya turut meramaikan di Gedung Sabha Pramana bersama teman-teman lain. Merencanakan bunga dan hadiah macam apa yang akan kita berikan. Saat setelah keramaian terjadi, saya ingat sekali saya bilang, "Aah, nanti siapa ya yang akan datang di wisuda, pendadaran saya? Sebenernya saya takut tidak ada yang menanti saya di luar sana. Tidak ada pula yang memberi hadiah atau bunga sebagai bentuk tanda -minimal- 'saya pernah kenal kamu'."
But that's it.
Berbulan-bulan setelahnya. Tepatnya 20 November 2017, saya jalan sendiri ke kampus. Membawa makanan untuk dosen yang akhirnya tidak dimakan. Saya sekarang menyesal hari itu saya tidak membawa bunga untuk saya sendiri, karena hari itu benar-benar tidak ada bunga. Tidak ada selebrasi.
Sengaja saya tidak mengatakan apapun pada siapapun. Bukan apa-apa, agar hati yang lemah ini tidak berekspektasi apapun pada apapun atau siapapun. Sehingga jika memang tidak ada selebrasi hari itu, tidak apa. Saya merayakannya sendiri, dengan es krim, dengan perjalanan. Jika memang tidak ada bunga hari itu, tidak apa. Karena, meski menginginkannya, saya tahu hal itu tetap tidak akan ada. Terutama jika mengingat saya seharusnya sudah sidang 2 tahun lalu, dan pada hari itu semua teman saya sudah koas. Dan saya sudah pasa lembaga.
Aah, saya ternyata memang tidak punya teman ya? haha.
Tapi tidak apa, saya akan berteman dengan diri saya sendiri. Agar saya ingat bahwa yang bisa mendukung hidup saya cuma saya sendiri. dan yang bisa menarik diri saya dari keterpurukan juga cuma diri saya sendiri.
Tidak apa. Karena saya kuat, meski saya sendiri. Saya harus kuat.
Hilang
Aku harus menyusun semua dalam tatanan yang rapih. Tapi entah mengapa rasa cemasku menggusur semuanya. Aku cemas kenapa? Aku kenapa cemas? Rasanya resah.
tik tok tik tok tik tok.
Aah, aku ingin mengakhiri semua kecemasan ini. :(
Aku ingin berharap, tapi aku harus menghilangkan semua harapan tidak jelas yang hanya akan membuatku cemas. Aku tidak ingin kepentok ekspektasi kemudian tidak antisipasi terhadap realita. Aaah, aku ingin menghilang saja.
Tidak bolehkah?
Rasaya aku nyaman dalam persembunyiannyaku.
Aku takut bertemu orang. Aku takut mengganggu. Aku takut menjadi orang yang annoying. Aku kehilangan diriku dalam ketakutan ini.
Aah, aku sudah hilang.
Dulu sekali, rasanya, aku takut untuk hilang dari ingatan orang.
Tapi, kini apa yang perlu ditakutkan? Toh, aku memang tidak punya siapa-siapa.
Toh aku memang tidak ada di ingatan siapa-siapa.
Jadi, bolehkah aku menghilang saja?
tik tok tik tok tik tok.
Aah, aku ingin mengakhiri semua kecemasan ini. :(
Aku ingin berharap, tapi aku harus menghilangkan semua harapan tidak jelas yang hanya akan membuatku cemas. Aku tidak ingin kepentok ekspektasi kemudian tidak antisipasi terhadap realita. Aaah, aku ingin menghilang saja.
Tidak bolehkah?
Rasaya aku nyaman dalam persembunyiannyaku.
Aku takut bertemu orang. Aku takut mengganggu. Aku takut menjadi orang yang annoying. Aku kehilangan diriku dalam ketakutan ini.
Aah, aku sudah hilang.
Dulu sekali, rasanya, aku takut untuk hilang dari ingatan orang.
Tapi, kini apa yang perlu ditakutkan? Toh, aku memang tidak punya siapa-siapa.
Toh aku memang tidak ada di ingatan siapa-siapa.
Jadi, bolehkah aku menghilang saja?
Sabtu, 27 Januari 2018
Support
Biasanya, di saat di mana aku paling membutuhkan dukungan, di saat itu pula aku harus berjuang sendirian.
will there another round for crying week? :(
will there another round for crying week? :(
Jumat, 26 Januari 2018
The Anxiety Within Me
Lately, I've been regretting a lot. I missed a lot of opportunity. I tend to procrastinate everything.
Aah, the anxiety is killing me slowly.
I want to be brave. I want to take the opportunity. I want to keep walking, keep running, even if I'm alone. Can't I?
Would they call me inconsiderate if I left them behind me.
I want to run. I want to fly as high as other, or even higher.
It's been so long since my heart beats fast, like when i joined a competition or making a story. I've been longing for that feeling.
Aah ... I want to get rid this anxiety.
will the opportunity come to me?
Aah, the anxiety is killing me slowly.
I want to be brave. I want to take the opportunity. I want to keep walking, keep running, even if I'm alone. Can't I?
Would they call me inconsiderate if I left them behind me.
I want to run. I want to fly as high as other, or even higher.
It's been so long since my heart beats fast, like when i joined a competition or making a story. I've been longing for that feeling.
Aah ... I want to get rid this anxiety.
will the opportunity come to me?
Mengalahkan Ketakutan dan Kecemasan
Ya Allah, bantu aku.
Bantu aku untuk mengalahkan kecemasan dan ketakutan ini.
Ya Allah, genggam tanganku agar hilang semua keraguanku.
Ya Allah, aku benar-benar takut, benar-benar cemas.
Ya Allah, kumohon, peluk aku dalam kecemasanku, agar tumbuhlah yakinku akan segala takdir-Mu.
Bantu aku untuk mengalahkan kecemasan dan ketakutan ini.
Ya Allah, genggam tanganku agar hilang semua keraguanku.
Ya Allah, aku benar-benar takut, benar-benar cemas.
Ya Allah, kumohon, peluk aku dalam kecemasanku, agar tumbuhlah yakinku akan segala takdir-Mu.
Lately
Lately I've been so scared for writing something. It seems I'm having paranoia for being watched or talked. That's why I decided to make my blog private, so that I still can write my thought.
I thought so ..
But, it seems I'm afraid of my own thought. I'm afraid that I will find myself worse. I'm afraid to admit my own feelings. Thus, I'm afraid that people my know what lies in my heart and my head.
I'm sorry for being worse. I'm sorry for not being better. I;m sorry for being ugly. I'm sorry, myself, for having this anxiety and inferior complex.
I, actually, wanted to life beautifully. I wanted to be a beautiful girl, physically, spiritually, mentally.
Can I?
I thought so ..
But, it seems I'm afraid of my own thought. I'm afraid that I will find myself worse. I'm afraid to admit my own feelings. Thus, I'm afraid that people my know what lies in my heart and my head.
I'm sorry for being worse. I'm sorry for not being better. I;m sorry for being ugly. I'm sorry, myself, for having this anxiety and inferior complex.
I, actually, wanted to life beautifully. I wanted to be a beautiful girl, physically, spiritually, mentally.
Can I?
Rabu, 24 Januari 2018
Halo (lagi) dan (mungkin) Selamat Tinggal
Sudah tujuh tahun tahun saya bersama blog ini. Bersama nama pena fatiyatul islam juga. Blog ini, meski isinya banyak tidak bermanfaatnya, dan bukan dibuat untuk tujuan berbagi, tapi saya sangat sangat sangat sangat sayang dan menyukai blog ini. Blog yang isinya hanya sampah ini. Saya banyak menuangkan perasaan saya di sini, juga kesukaan saya untuk berceerita. Saya sangat suka bercerita, hingga kayaknya kalo temenan sama saya, orang bisa bosen dengerin saya ngebawel. Jadilah bog ini tempat pelarian bagi cerita-cerita di otak saya yang segan saya ceritakan ke orang karena takut mengganggu. Blog ini ada untuk saya. Semacam forum diskusi saya dengan diri saya sendiri. (Haha).
Aah, saya sangat suka menulis. Suka sekali. Hingga ketika saya dalam kondisi cemas dan mendadak gagu untuk menulis, rasanya sedih. Saya ingin sekali menulis, tapi kecemasan saya lebih kuat daripada keinginan saya.
But, lately I've been worrying a lot. Memasuki usia 20an, rasanya saya jadi lebih mencemaskan banyak hal. Karenanya, saya jadi kehilangan banyak momen, banyak waktu yang (mungkin seharusnya) menyenangkan.
Pada dasarnya, saya memang orang pencemas. Ada gen-gen pencemas yang diturunkan kepada saya. Lalu kemudian ditambah faktor lingkungan, jadilah pencemas ini jadi sifat, attitude, atau sejenisnya.
Saya kira, saat saya di Assalaam adalah waktu-waktu paling mencemaskan yang saya alami. Harus bangun sebelum shubuh untuk kemudian ke masjid, harus sekolah jam sekian, harus ke masjid dzuhur jam sekian dan seterusnya dan seterusnya. Meski sampai kelas 3 MTs di sana pun, saya masih sering merasa cemas dengan pengaturan waktu-yang seharusnya sudah familiar itu. Dan di Assalaam, sejujurnya, saya nggak punya banyak temen. Hanya beberapa orang yang saya deket, benar-benar bisa dihitung jari.
Tapi, yang menyenangkan dari usia SMP adalah, yang saya khawatirkan hanya tentang belajar, tentang nilai, tentang prestasi, juga tentang ibadah. Dan karena saya di pondok termasuk anak yang lurus dan dulu merasa nggak butuh kenal dengan santriwan di gedung seberang, jadi sebenarnya saya termasuk yang hidupnya adem ayem. Saya minim pelanggaran, tapi minim prestasi juga. Minim temen juga (kok sedih ya, haha).
Waktu di IC, saya agak sedikit lebih santai, karena peraturannya lebih mengalir tanpa paksaan. Jam-jamnya pun tidak sehectic di Assalaam. Hanya saja, di IC, pasti tiap tahun mengalami yang namanya cemas-takut tidak lulus.
Tapi karena terbiasa di lungkungan yang teratur dan homogen, masa-masa di kuliah jadi lebih berat buat saya. Ada banyak unexpected moment, unexpected person, dan unexpected-unexpected lainnya. Saya jadi ;ebih sering cemas. Ditambah lagi ada faktor dari keluarga juga.
And it even worse for the past 3 years. Ketika usia saya berubah dari belasan menjadi dua puluhan, rasanya uwah. Dan ternyata ada lebih banyak kejutan di usia-usia ini, yang ternyata, secara mental, saya nggak cukup kuat. Hingga puncaknya, sekitar bulan november 2016, di mana saya mengalami menta breakdown yang sangat parah. Dan ternyata di tahun setelahnya itu tidak langsung membaik. Saya jadi lebih sering menarik diri dari kehidupan sosial saya. -literally menarik diri. dari dunia nyata maupun dunia maya.
Belakangan saya merasa paranoid. Sepertinya saya harus menenangkan diri dari dunia maya, dan mulai kembali bersosialisasi. Jadi, saya bepikiran untuk, either menutup blog ini atau membuatnya menjadi pivat dalam waktu dekat. Supaya saya menulis tanpa takut dilihat orang lain. Karena belakangan saya benar-benar merasa paranoid dengan semua kecemasan saya ini.
Supaya paling tidak saya menulis lagi, meski tidak terpublish. Supaya paling tidak saya punya keberanian lagi untuk menjelajah ke dalam pikiran dan hati saya.
Jadi untuk sementara waktu, hingga saya kembali menjadi baik-baik saja, selamat tinggal. :)
Aah, saya sangat suka menulis. Suka sekali. Hingga ketika saya dalam kondisi cemas dan mendadak gagu untuk menulis, rasanya sedih. Saya ingin sekali menulis, tapi kecemasan saya lebih kuat daripada keinginan saya.
But, lately I've been worrying a lot. Memasuki usia 20an, rasanya saya jadi lebih mencemaskan banyak hal. Karenanya, saya jadi kehilangan banyak momen, banyak waktu yang (mungkin seharusnya) menyenangkan.
Pada dasarnya, saya memang orang pencemas. Ada gen-gen pencemas yang diturunkan kepada saya. Lalu kemudian ditambah faktor lingkungan, jadilah pencemas ini jadi sifat, attitude, atau sejenisnya.
Saya kira, saat saya di Assalaam adalah waktu-waktu paling mencemaskan yang saya alami. Harus bangun sebelum shubuh untuk kemudian ke masjid, harus sekolah jam sekian, harus ke masjid dzuhur jam sekian dan seterusnya dan seterusnya. Meski sampai kelas 3 MTs di sana pun, saya masih sering merasa cemas dengan pengaturan waktu-yang seharusnya sudah familiar itu. Dan di Assalaam, sejujurnya, saya nggak punya banyak temen. Hanya beberapa orang yang saya deket, benar-benar bisa dihitung jari.
Tapi, yang menyenangkan dari usia SMP adalah, yang saya khawatirkan hanya tentang belajar, tentang nilai, tentang prestasi, juga tentang ibadah. Dan karena saya di pondok termasuk anak yang lurus dan dulu merasa nggak butuh kenal dengan santriwan di gedung seberang, jadi sebenarnya saya termasuk yang hidupnya adem ayem. Saya minim pelanggaran, tapi minim prestasi juga. Minim temen juga (kok sedih ya, haha).
Waktu di IC, saya agak sedikit lebih santai, karena peraturannya lebih mengalir tanpa paksaan. Jam-jamnya pun tidak sehectic di Assalaam. Hanya saja, di IC, pasti tiap tahun mengalami yang namanya cemas-takut tidak lulus.
Tapi karena terbiasa di lungkungan yang teratur dan homogen, masa-masa di kuliah jadi lebih berat buat saya. Ada banyak unexpected moment, unexpected person, dan unexpected-unexpected lainnya. Saya jadi ;ebih sering cemas. Ditambah lagi ada faktor dari keluarga juga.
And it even worse for the past 3 years. Ketika usia saya berubah dari belasan menjadi dua puluhan, rasanya uwah. Dan ternyata ada lebih banyak kejutan di usia-usia ini, yang ternyata, secara mental, saya nggak cukup kuat. Hingga puncaknya, sekitar bulan november 2016, di mana saya mengalami menta breakdown yang sangat parah. Dan ternyata di tahun setelahnya itu tidak langsung membaik. Saya jadi lebih sering menarik diri dari kehidupan sosial saya. -literally menarik diri. dari dunia nyata maupun dunia maya.
Belakangan saya merasa paranoid. Sepertinya saya harus menenangkan diri dari dunia maya, dan mulai kembali bersosialisasi. Jadi, saya bepikiran untuk, either menutup blog ini atau membuatnya menjadi pivat dalam waktu dekat. Supaya saya menulis tanpa takut dilihat orang lain. Karena belakangan saya benar-benar merasa paranoid dengan semua kecemasan saya ini.
Supaya paling tidak saya menulis lagi, meski tidak terpublish. Supaya paling tidak saya punya keberanian lagi untuk menjelajah ke dalam pikiran dan hati saya.
Jadi untuk sementara waktu, hingga saya kembali menjadi baik-baik saja, selamat tinggal. :)
Jumat, 05 Januari 2018
Langganan:
Postingan (Atom)