Tipikial perempuan, pasti akan senang jika mendapt sebuket bunga, saya pun. Sayangnya hingga menginjak usia 23 tahun, buket yang dinanti itu tidak pernah datang di saat yang dinantikan.
Waktu seorang teman wisuda bulan Februari 2016, saya turut meramaikan di Gedung Sabha Pramana bersama teman-teman lain. Merencanakan bunga dan hadiah macam apa yang akan kita berikan. Saat setelah keramaian terjadi, saya ingat sekali saya bilang, "Aah, nanti siapa ya yang akan datang di wisuda, pendadaran saya? Sebenernya saya takut tidak ada yang menanti saya di luar sana. Tidak ada pula yang memberi hadiah atau bunga sebagai bentuk tanda -minimal- 'saya pernah kenal kamu'."
But that's it.
Berbulan-bulan setelahnya. Tepatnya 20 November 2017, saya jalan sendiri ke kampus. Membawa makanan untuk dosen yang akhirnya tidak dimakan. Saya sekarang menyesal hari itu saya tidak membawa bunga untuk saya sendiri, karena hari itu benar-benar tidak ada bunga. Tidak ada selebrasi.
Sengaja saya tidak mengatakan apapun pada siapapun. Bukan apa-apa, agar hati yang lemah ini tidak berekspektasi apapun pada apapun atau siapapun. Sehingga jika memang tidak ada selebrasi hari itu, tidak apa. Saya merayakannya sendiri, dengan es krim, dengan perjalanan. Jika memang tidak ada bunga hari itu, tidak apa. Karena, meski menginginkannya, saya tahu hal itu tetap tidak akan ada. Terutama jika mengingat saya seharusnya sudah sidang 2 tahun lalu, dan pada hari itu semua teman saya sudah koas. Dan saya sudah pasa lembaga.
Aah, saya ternyata memang tidak punya teman ya? haha.
Tapi tidak apa, saya akan berteman dengan diri saya sendiri. Agar saya ingat bahwa yang bisa mendukung hidup saya cuma saya sendiri. dan yang bisa menarik diri saya dari keterpurukan juga cuma diri saya sendiri.
Tidak apa. Karena saya kuat, meski saya sendiri. Saya harus kuat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar