Sekitar satu semester sebelumnya, saya didiagnosis dengan depresi sedang-berat. Saat episode depresif berlangsung, saya setiap malamnya tidak dapat memejamkan mata saya pun mengistirahatkan pikiran saya. Setiap malamnya pula saya berpikir untuk bunuh diri.Kalau hari ini saya masih utuh jiwa dan raga, tidak lain dan tidak bukan itu atas izinnya Allah. Hanya kebaikannya Allah saja yang bisa membuat saya bernafas hingga hari ini.
Sebelum episode depresi itu terjadi, ada banyaaaak sekali hal yang ingin saya pelajari. Saya ingin belajar menyetir mobil, saya ingin memperlancar bahasa inggris saya yang belepotan, saya ingin belajar coding, saya ingin belajar webdesain dan html. Tapi rupanya, saya depresi, semua itu hilang begitu saja. Semua keinginan saya menguap setiap harinya selama malam-malam di mana saya berjuang melawan kenginginan saya untuk mengakhiri hidup saya.
Maka, saat saya mendaftar IIP batch 4, saya sebenarnya ingin sekali belajar. Saya suka sekali menulis. Tapi, saat itu saya sedang recovery dari periode depresif. Dan untuk bercerita, menulis, belajar, saat itu sangat berat buat saya. Yang seharusnya ini menjadi sesuatu yang menyenangkan, malah jadi beban mental untuk saya.
Time flies. Satu tahun saya pelan-pelan mencoba mengembalikan diri saya. Dalam masa recovery itu, saya berhasil menyelesaikan skripsi saya yang tertunda dalam waktu yang sangaaaaat lambat. Tapi rasanya, untuk mnegerjakan satu hal saja, sudah menguras banyak energi saya. Karena saya tipikal orang introvert, alhasil untuk mengembalikan energi itu, saya lebih menyendiri, menghindari orang-orang.
Lalu, hari ini, saya kembali masuk ke dalam kelas matrikulasi IIP. Dan hari ini pun, saya masih membangun semangat untuk belajar lagi. Saya ingin belajar, meski hingga hair terakhir pengumpulan NHW ini saya belum terpikir secara spesifik apa yang saya ingin pelajari. Saya di sini ingin menimbun semangat, bersama dengan para ibu yang bersemangat dalam belajar.
Tapi ada satu hal yang sangat saya ingin pelajari dan lakukan hari ini. Saya ingin belajar berani. Berani menyapa, berani menjawab, berani berbicara, berani menginginkan sesuatu. Iya, keberanian yang hilang bersamaan dengan timbulnya kecemasan saya (yang membuat saya didiagnosis social anxiety). Lalu dengan keberanian ini, saya ingin punya keberanian-keberanian yang lain untuk bermimpi setinggi-tingginya.
Yogyakarta, 29 Januari 2018
Tidak ada komentar:
Posting Komentar