Sudah tujuh tahun tahun saya bersama blog ini. Bersama nama pena fatiyatul islam juga. Blog ini, meski isinya banyak tidak bermanfaatnya, dan bukan dibuat untuk tujuan berbagi, tapi saya sangat sangat sangat sangat sayang dan menyukai blog ini. Blog yang isinya hanya sampah ini. Saya banyak menuangkan perasaan saya di sini, juga kesukaan saya untuk berceerita. Saya sangat suka bercerita, hingga kayaknya kalo temenan sama saya, orang bisa bosen dengerin saya ngebawel. Jadilah bog ini tempat pelarian bagi cerita-cerita di otak saya yang segan saya ceritakan ke orang karena takut mengganggu. Blog ini ada untuk saya. Semacam forum diskusi saya dengan diri saya sendiri. (Haha).
Aah, saya sangat suka menulis. Suka sekali. Hingga ketika saya dalam kondisi cemas dan mendadak gagu untuk menulis, rasanya sedih. Saya ingin sekali menulis, tapi kecemasan saya lebih kuat daripada keinginan saya.
But, lately I've been worrying a lot. Memasuki usia 20an, rasanya saya jadi lebih mencemaskan banyak hal. Karenanya, saya jadi kehilangan banyak momen, banyak waktu yang (mungkin seharusnya) menyenangkan.
Pada dasarnya, saya memang orang pencemas. Ada gen-gen pencemas yang diturunkan kepada saya. Lalu kemudian ditambah faktor lingkungan, jadilah pencemas ini jadi sifat, attitude, atau sejenisnya.
Saya kira, saat saya di Assalaam adalah waktu-waktu paling mencemaskan yang saya alami. Harus bangun sebelum shubuh untuk kemudian ke masjid, harus sekolah jam sekian, harus ke masjid dzuhur jam sekian dan seterusnya dan seterusnya. Meski sampai kelas 3 MTs di sana pun, saya masih sering merasa cemas dengan pengaturan waktu-yang seharusnya sudah familiar itu. Dan di Assalaam, sejujurnya, saya nggak punya banyak temen. Hanya beberapa orang yang saya deket, benar-benar bisa dihitung jari.
Tapi, yang menyenangkan dari usia SMP adalah, yang saya khawatirkan hanya tentang belajar, tentang nilai, tentang prestasi, juga tentang ibadah. Dan karena saya di pondok termasuk anak yang lurus dan dulu merasa nggak butuh kenal dengan santriwan di gedung seberang, jadi sebenarnya saya termasuk yang hidupnya adem ayem. Saya minim pelanggaran, tapi minim prestasi juga. Minim temen juga (kok sedih ya, haha).
Waktu di IC, saya agak sedikit lebih santai, karena peraturannya lebih mengalir tanpa paksaan. Jam-jamnya pun tidak sehectic di Assalaam. Hanya saja, di IC, pasti tiap tahun mengalami yang namanya cemas-takut tidak lulus.
Tapi karena terbiasa di lungkungan yang teratur dan homogen, masa-masa di kuliah jadi lebih berat buat saya. Ada banyak unexpected moment, unexpected person, dan unexpected-unexpected lainnya. Saya jadi ;ebih sering cemas. Ditambah lagi ada faktor dari keluarga juga.
And it even worse for the past 3 years. Ketika usia saya berubah dari belasan menjadi dua puluhan, rasanya uwah. Dan ternyata ada lebih banyak kejutan di usia-usia ini, yang ternyata, secara mental, saya nggak cukup kuat. Hingga puncaknya, sekitar bulan november 2016, di mana saya mengalami menta breakdown yang sangat parah. Dan ternyata di tahun setelahnya itu tidak langsung membaik. Saya jadi lebih sering menarik diri dari kehidupan sosial saya. -literally menarik diri. dari dunia nyata maupun dunia maya.
Belakangan saya merasa paranoid. Sepertinya saya harus menenangkan diri dari dunia maya, dan mulai kembali bersosialisasi. Jadi, saya bepikiran untuk, either menutup blog ini atau membuatnya menjadi pivat dalam waktu dekat. Supaya saya menulis tanpa takut dilihat orang lain. Karena belakangan saya benar-benar merasa paranoid dengan semua kecemasan saya ini.
Supaya paling tidak saya menulis lagi, meski tidak terpublish. Supaya paling tidak saya punya keberanian lagi untuk menjelajah ke dalam pikiran dan hati saya.
Jadi untuk sementara waktu, hingga saya kembali menjadi baik-baik saja, selamat tinggal. :)
tyaniiiiiii *lalu lanjut ke wasap
BalasHapusSemoga jadi makin semangat nulis lagi...
BalasHapusKeep Hamasah (^_^)9