Rabu, 14 November 2018
November tahun ini, dan tahun-tahun sebelumnya
Di November-november sebelumnya, saya nggak menyangka saya ada di tahap ini. Masuk koas, ketemu temen-temen baru. Kesulitan mencari jadwal liqo. Pulang dari RS langsung tidur. Kadang-kadang saya masih merasa ini nggak nyata. Kehidupan koas saya seperti masih di angan-angan.
November tahun sebelumnya, di tanggal-tanggal segini saya sedang sibuk menyiapkan seminar hasil, kemudian sidang skripsi seminggu setelahnya, dan revisi-revisi. Sidang-yang saya nggak bilang siapa-siapa selain Allah dan afifah (wkwk). Saya bahkan nggak bilang ibu bapak dan keluarga, just because-kalau saya bilang, saya takut orang-orang akan mulai bilang, 'santai aja, tyani, besok tuh bakal ... bla bla bla ..' atau saya takut orang-orang akan mulai meledek 'ciee yang mau sidang' dsb dsb, yang akan bikin saya kepikiran banget kalo saya mau sidang lalu setelahnya koas. And that's why saya baru bilang-bilang dan mengumumkan ke orang-orang justru setelah saya selesai sidang. itupun ke orang-orang kontrakan, ke temen liqo, sama ke keluarga aja. Jadi masih banyak yang tanya, meskipun setelah sidang, 'Tyani, apa kabar skripsinya?' lalu saya bisa jawab, 'Alhamdulillah, baik.'
November sebelumnya lagi, saya sedang berjuang melawan kecemasan yang berlebihan akan skripsi saya yang nggak maju (dan ditambah kecemasan-kecemasan terkait organisasi, jabatan, dan lain sebagainya juga) yang membawa saya pada pengalaman berharga yang saya nggak mau ngulangin lagi : Depresi. Meski depresi ringan, tapi nggak ringan untuk yang menjalankan. di malam-malam di mana saya jatuh tertidur cepat dengan harapan saya nggak terbangun malamnya, tapi justru sebaliknya. Saya bangun satu jam sejak saya tidur, kemudian tidak bisa tidur lagi hingga pagi. di jam-jam di mana saya terbangun itulah dimana pikiran-pikiran negatif masuk tanpa filter.
it was scary. Dan kalau bisa, tidak usah terulang lagi.
di November-november sebelum tahun ini, saya benar-benar tidak berani memikirkan bahwa saya sedang koas, menjalani keseharian di rumah sakit dalam kondisi tertekan.
Tapi kenyataannya hari ini, November tahun ini : saya sedang koas, dalam kondisi tertekan setiap harinya di rumah sakit, but it's okay. it's okay.
ps : saya menantikan november-november lainnya di tahun-tahun berikutnya. tidak ada maksud khusus sebenarnya tentang november, tapi entah kenapa ada banyak kejadian di bulan november.
Sabtu, 31 Desember 2016
Mencapai Ujungnya #2
Sementara TV saya menyala menyetel film High Strung, laptop saya memutar lagu-lagu pentatonix, dan HP bergetar perkara notif-notif yang entah penting entah tidak, waktu tetap berjalan. Pun ketika saya menulis atau pun tidak.
2016 sudah mencapai ujungnya.
Sepanjang tahun 2016 ini, rasa cemas dan depresi silih berganti datang. Ya, pokoknya kondisi saya kalau tidak sedang cemas ya sedang depresi. Kadang-kadang saya mual, kadang-kadang saya muntah. Sesekali pula menangis tanpa sebab. Sesekali yang lain saya cuma diam menghadap laptop. Sesekali ingin berteriak kencang. Sesekali hanya berguling-guling.
Saya merasa tidak bergerak sesenti pun dari sejak saya masuk tahun 2016 hingga kini. Skripsi saya gitu-gitu aja. Blog pun jarang terisi. Bimo forsalamm nggak maju-maju juga. Urusan di FLP pun begitu-begitu aja. Saya banyak menghilang tahun ini. Menghilang dari peredaran sosial media mau pun forum-forum ketemu langsung. Kapasitas diri pun tidak banyak ter-upgrade. Kalau sudah seperti ini, jangan tanya soal ruhiyah dan tarbawi.
Saya banyak nggak jujur sama diri saya tahun ini. Saya banyak menyalahkan diri saya sendiri tahun ini. Saya banyak iri dengan orang lain tahun ini. Saya membenci diri saya sendiri tahun ini. Saya banyak nggak bersyukur tahun ini.
Dan saya merasa sangat buruk rupa tahun ini.
Saya melupakan betapa menyenangkannya menulis. Membayangkan setiap adegan dalam kepala dan menceritakannya kembali pada khalayak melalui tulisan.Yang ada di kepala saya cuma dua ; (1) kenapa saya sangat nggak mau ngerjain skripsi (sampai pada taraf 'rasanya pengen nggak lulus aja'), dan (2) gimana caranya ngejalanin amanah saya tanpa merasa bahwa itu beban?
well, tapi saya ngerasa ya hal-hal itu pada akhirnya cuma ngeblunder di kepala. Saya lari terus dari kenyataan. Saya lari dari amanah, saya lari dari skripsi. Saya lari dari diri sendiri. Saya nggak pernah benar-benar ambil langkah ataupun sikap terhadap diri saya. Katanya, kalau kita nggak keras sama diri kita sendiri, lingkungan akan keras pada kita. Dan, itu mungkin yang saya rasakan selama 2016, terutama pada 6 bulan terakhir.
Semakin saya berpikir skripsi, semakin saya nggak mau ngerjain. Dan semakin saya mikir bahwa amanah bukan beban, semakin saya kebebani. Saya mikir : saya kenapa?
Ada apa dengan saya? Saya nggak menikmati membaca maupun menulis. Kalau pun saya baca, it's all just an act. Kalau pun saya nulis, rasanya nggak dari hati dan nggak jujur. something is wrong.
Terus saya keasyikan mikir tentang kenapa saya hingga akhirnya banyak hal yang terbengkalai selama 2016 ini. Saya depresi, tapi nggak berani ngomong sama siapa pun. Kalo di depan orang tetep aja senyum. Tetep aja ketawa, begitu ditinggal sendirian nangis. Mau cerita sama orang bingung, orang saya sendiri aja ga tau saya kenapa. Dan seringnya takut mengganggu. Mau cerita ke Bapak takut, takut buat khawatir.
Kemudian suatu ketika, di masa-masa di mana saya benar-benar depresi, saya sholat. Saya meyakinkan diri saya sendiri buat jujur sama Allah. Jujur sama diri sendiri. Saya cerita semuanya (ya meski tidak terlisankan), saya minta bantuan sama Allah. Nggak tau bentuknya apa, terserah Allah aja. Karena saya tahu kalau saya mencoba menyelesaikan pikiran saya sendirian saya tidak mampu.
Selang dua atau tiga hari, saya bertemu dengan seorang senior di FLP, Uni Yova namanya; dan di situlah saya merasa, ini nashrullah; ini pertolongan Allah yang saya minta (ternyata memang semudah itu minta sama Allah, semudah itu Allah kasih; tinggal kita mau minta atau nggak, kita mau memantaskan diri untuk dikabulkan permintaan kita atau nggak). Kembali tentang Uni Yova, Beliau sedang menyelesaikan magister psikologi klinis. Waktu tinggal berdua aja, Uni langsung tanya, "Dek, gimana?" Dan tumpahlah semua keluhan ditambah tangisan (padahal itu di perpusat T.T). Singkat cerita, Uni mengambil kesimpulan, "Dek, kamu itu sebenarnya nggak mau ngerjain skripsi atau udah nggak mau lulus?"
Saya mikir, saya mikir, saya mikir.
Dan setelah dipikir-pikir (meski sudah malas mikir), saya berkesimpulan bahwa sebenarnya yang membuat saya nggak mau skripsi bukan karena topik tidak menarik, tapi karena saya sudah nggak tertarik dengan lulus. Selidik punya selidik, ini bermula dari niat saya yang sudah nggak lagi lurus.
Begini, mungkin orang mikir, apa sih lebay banget. but, hey, niat itu sama dengan tujuan. Awal kita menetapkan niat adalah awal kita menetapkan tujuan. Tapi memang, niat yang sepaket dengan tujuan ini perlu diperbaiki dan diperbaharui setiap harinya, karena hati manusia mudah berubah dan terombang-ambing. Karena hati manusia mudah ragu, mudah bimbang.
Waktu itu, Uni Yova bilang, "Kalo aku sih, Dek, sekarang ngerjain thesis udah bukan buat siapa-siapa lagi, tapi buat kebahagiaan diriku sendiri." Saya jadi mikir, apa selama ini saya nggak bahagia selama setahun ini karena saya melakukan banyak hal buat orang lain? Bukan buat diri saya sendiri?
Saya jadi inget, pernah baca di suatu tempat, yang intinya dia bilang kalau kita melakukan sesuatu karena orang lain itu tidak akan membuat kita bahagia. Saya dulu mikir, kok gitu sih? Bukannya kita hidup untuk menolong orang lain ya? Tapi kemudian, setelah mengalami ini itu sepanjang tahun ini, saya jadi mikir, emang gitu yah.
Jadi gini, ada dua hal yang berbeda di sini 'melakukan sesuatu karena orang lain' atau 'melakukan sesuatu untuk menolong orang lain'. Melakukan sesuatu untuk menolong orang lain akan balik ke kita. "fain ahsantum ahsantum li anfusikum" (Al-ISra' :7). Setiap kebaikan akan balik ke kita sendiri. Tapi melakukan sesuatu karena orang lain nggak banyak memberikan apa pun. Dan, bisa jadi malah berujung pada kecewa. Mungkin saya perlu mengingat kata Murabbi saya dulu, setiap apapun yang dikerjakan niatnya untuk Allah, tidak ada rasa kecewa. Bila kita masih kecewa, mungkin niat kita belum selurus itu.
Tahun ini, saya kecewa sama diri saya sendiri. Saya kecewa dengan apa yang saya lakukan. Dan buruknya lagi saya kecewa dengan banyak orang. Bahkan mungkin tanpa sadar saya sudah kecewa sama Allah yang memberikan kondisi seperti ini pada saya. Astaghfirullah ...
Mungkin saya sering diingatkan untuk memperbaharui niat saat liqo, saat syuro, tapi ya untuk keperluan itu aja, untuk hari itu dan saat itu saja. Kemudian saya jadi lupa memperbaharui niat jangka panjang saya. Buat (si)apa saya hidup? Buat (si)apa saya kuliah? Buat (si)apa saya bermanah? Buat (si)apa saya menikah? Buat (si)apa saya berumah tangga? Buat (si)apa saya bekerja dan lain sebagainya ...
Dan mungkin dari sanalah saya jadi lalai terhadap apa yang perlu saya kerjakan. Mana yang butuh dikerjakan dan mana yang saya ingin kerjakan.
Kondisi di mana saya udah nggak kuliah lagi tapi masih harus skripsi itu membuat saya jadi jarang bertemu orang-orang shalih-shalihah, dan seringnya membuat saya lalai. Alhamdulillahnya, Allah masih mau ngasih saya amanah di tahun ini, yang itu berarti, saya masih ngumpul sama orang-orang yang memikirkan umat, paling tidak sepekan hingga dua pekan sekali dalam syuro ataupun dalam agenda lainnya. Tapi ya kalau saya lagi kabur dari amanah, ya sudah, lalai aja terus.
Karena lupa dengan tujuan seharusnya antara Adz-Dzariyaat: 56 ataupun Al Baqarah : 30, saya jadi sering mencari-cari alasan untuk melakukan sesuatu. Di amanah karen disuruh murabbilah, kuliah karena disuruh orang tualah. Meski pun itu hal yang benar, tapi saya sepakat dengan murabbi saya, kalau masih ada celah pada diri kita untuk selain Dzat Yang Maha Kuasa, tentu ada celah untuk kecewa.
Misal, kita manut orang tua untuk menyelesaikan kuliah. Bilangnya biar orang tua kita bangga, iya kalo beneran bangga, kalau ternyata orang tua kita malah nuntut terus tanpa pernah bangga terhadap prestasi anaknya (well, bukan orang tua saya tapi), gimana? Bisa jadi kita malah jadi kecewa pada orang tua kita. That's it. Saya lupa kalau saya pernah bilang ke orang, niat kita melakukan sesuatu buat orang tua itu benar, ketika kita memang mengingat bahwa ridhallah fii ridha walidayn. Tapi ketika kita terbatas cuma pada biar orang tua kita bangga atau biar orang tua kita bahagia, itu mungkin yang perlu ditambahkan. Itu mungkin yang membuatnya menjadi bukan niat tertinggi.
Dan sebenarnya, kita memang melakukan kebaikan, nulis skripsi, beramanah, kuliah, ngeliqoi, syuro, dan kebaikan lainnya bukan buat siapa-siapa. Tapi buat diri sendiri. Buat kebahagiaan diri kita sendiri. Dan setelah melalui ini itulah saya akhirnya paham apa makna 'buat kebahagiaan diri sendiri'.
Orang tua kita bahagia ketika kita lulus, itu pun karena kita bahagia. Orang lain bahagia ketika kita bahagia. Jangan dibalik, kita bahagia ketika orang lain bahagia. Motivasi eksternal adalah motivasi terendah untuk menjadi motor penggerak bagi hati, badan, maupun otak kita. Bahagia itu menular memang. Tapi kalau cuma ngeliat kebahagiaan orang lain, sementara diri sendiri nggak bahagia, lama-lama yang muncul jadi envy. Perasaan iri, dengki, dan sejenisnya.
Jadi, saya mencapai kesimpulan, buat diri sendiri bahagia dulu, baru kita bisa bahagia untuk orang lain. Bisa tulus bahagianya buat orang lain.
Saya nolongin orang, saya ngeliqoi, saya beramanah, saya kuliah sampai saya nraktir orang bukan buat siapa-siapa. Tapi buat saya sendiri. Supaya saya ada effort untuk menunjukkan pada Allah, bahwa saya pantas untuk mendapatkan kebahagiaan karena saya sudah berbuat baik, di dunia maupun di akhirat. Saya pantas berbahagia untuk semua kebaikan yang saya lakukan. Saya boleh berbahagia untuk semua kebaikan yang saya lakukan. Saya berhak berbahagia untuk semua kebaikan yang saya lakukan. Saya cuma ingin bahagia karena Allah menilai saya pantas, dengan melakukan kebaikan yang sebanyak-banyak. Kebahagiaan hakiki. Yang berlanjut hingga akhirat.
Mungkin, nasihat-nasihat itu klise untuk diucapkan, tapi jelas sekali sulit buat dipraktekan. Semacam, bersyukur, ikhlas, qonaah adalah kunci menuju kebahagiaan itu sendiri. Dan, setelah melewati tahun 2016 hingga akhir, saya paham, hal-hal tersebut cuma bisa dilakukan ketika tujuan kita straight tertuju pada Allah, dan niat kita memang karena Allah. Ternyata, semuanya memang bersumber dan berakhir pada Allah, Dzat Yang Awal dan Yang Akhir (Huwal awwalu wal aakhiru).
Dan kebahagiaan itu ternyata sesederhana kita senantiasa dekat sama Allah.
Alhamdulillah 'alaa kulli hal, 2016 sudah mencapai ujungnya. Seburuk-buruknya saya tahun ini, Allah masih membuka hati saya untuk menerima pelajaran. Meski saya slow learner, karena butuh setahun untuk memahami ini -_-. But, mungkin disitu ujiannya. Katanya ujian bisa memuliakan derajat seseorang, atau justru menghinakannya. Semoga buat saya hasilnya bukan opsi yang terakhir. Begitu juga dengan siapapun yang membaca ini.
Semoga Allah masih kasih kesempatan saya buat memperbaiki banyak hal, menyiapkan lebih banyak bekal, meluruskan kembali segala niat yang sudah melenceng jauh, karena meski ini ujung dari tahun ini, tapi, siapa tahu? Bisa jadi setelah menulis ini saya meregang nyawa? Who knows?
Tapi karena katanya, bekerjalah seakan kamu hidup selamanya, dan beribadahlah seakan kamu mati besok; mari memperbaiki plan hidup jangka panjang. Manusia merencanakan, Allah menentukan.
Wallahu a'lam bish shawwab.
*segala yang ditulis di sini cuma pendapat pribadi.
Mohon maaf untuk semua pihak yang terdzholimi sepanjang tahun ini, semua pihak yang sudah sangat saya repotin karena depresi saya, semua pihak yang sudah mengkhawatirkan saya. Terima kasih, terima kasih buat supportnya, paling tidak, saya tahu, saya tidak pernah sendirian. :). Jazaakumullah khayran katsiiran. Cuma Allah yang bisa balas, karena Dia Yang Maha Memiliki. Dia Yang Maha Segalanya.
~
Rabu, 10 Agustus 2016
Garis lurus
Garis yang lurus tidak selalu lebih dekat daripada garis melengkung dan berkelok
Kata Bapak. Karena ibarat kata, kalo kita minjem duit ke tetangga aja kalo ujug-ujug ngomong bisa jadi justru nggak dikasih, ketimbang kamu cerita ngalor-ngidul dulu, baru ternyata dikasih dengan mudah.
Selasa, 26 Juli 2016
Cinta Pertama
Rabu, 27 April 2016
Almost
Bulan depan di tanggal ini, saya akan bertambah usia, terlepas dari apakah Allah masih mengizinkan saya untuk hidup atau tidak.
Biasanya, tiap tahunnya saya menulis evaluasi setahun ke belakang. entah itu di blog, di laptop, ataupun di notes. Mereview setahun ke belakang saya udah ngapain aja, udah belajar apa aja, udah dapat apa aja, ada perubahan pada pribadi atau nggak; sekaligus saya menulis harapan ke depannya untuk saya sendiri.
Tapi, saya kehilangan catatan tahun lalu. saya nyari di blog ga ada, saya nyari di laptop juga ga ada. Eh belom nyari di notes juga sih haha ... terusan tadi mikir, hmm kalo tahun lalu kelewatan nulis itu bisa jadi wajar sih mengingat akhir mei tahun lalu lagi dalam kondisi sangat hectic ini itu.
waktu itu lagi heboh musywil FLP, lagi heboh di bimo forsalamm juga, lagi riweh jadi finalis lomba esai juga (ciee), dan ada yang lain juga ...
terang aja kalo ga nemu tulisan review setahun. haha. terang aja kalo setahun kr belakang akunya juga lala lili wkwkwk ..
semoga tahun ini nggak kelewat untuk menuliskan review setahun ke belakang. ada begitu banyak hal yang saya lalui selama setahun ke belakang. Banyak sekali. Ada banyak kejadian baru yang juga membawa pemahaman baru bagi saya.
Selama setahun ke belakang yang sangat terasa mungkin ujian tentang kesabaran. Semoga tidak hanya terasa tapi juga bisa menjadi akhlak bagi pribadi saya.
ah tapi, namanya ujian kesabaran, keikhlasan, dan lain-lain itu seumur hidup sih, jadi saya pun nggak bisa bilang kalau saya sudah lulus di sini :)
hari ini bulan depan, semoga bisa menuliskan pelajaran dan perjalanan setahun ke belakang, sekaligus menulis resolusi untuk setahun ke depan dan seterusnya. Tidak hanya saya untuk diri sendiri, tapi juga saya untuk keluarga dan saya untuk dakwah ...
mangatse!
Rabu, 16 September 2015
Iri
Ngeliat banyak banget foto wisudaanya kakak kelas juga temen-temen yang kuliahnya ambil D3, terus foto teman-teman yang habis dari negara inilah negara itulah, juga foto teman yang sedang beraktvitas kece di organisasi ini itu, atau yang habis KKN. Aah, iri rasanya melihat mereka.
Sementara semua orang bergerak melangakah dari tempatnya berdiri sekarang, sementara itu pula saya merasa bahwa saya tidak bergerak kemana-kemana. Hanya berdiri di tempat yang sama, dengan kegalauan yang sama, dan mungkin dilengkapi dengan rasa tidak bersyukur. Masih berusaha menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan yang kelewat cepat, meski tahu satu-satunya cara untuk menyesuaikan diri adalah juga dengan turut berubah, turut melangkah meninggalkan diri saya yang saat ini.
Sudah tahun keempat. Sudah mau lanjut ke jenjang studi berikutnya. Sudah bukan jamannya lagi galau tidak jelas yang bahkan tidak tahu galau kenapa dan solusinya apa, haha. Bergerak, Ty. Bergerak bersama perubahan yang lain. Meski harus menyeret langkah kaki atau merangkak, bergerak Ty. Bergerak meninggalkan diri yang hari ini menuju diri yang lebih baik.
Aku tahu kamu bisa, Ty.
*Semoga wisuda Mei 2016 bukan hanya wacana*
Sabtu, 25 Juli 2015
Sudah di Jogja lagi . . .
Sebenernya nggak ada niatan buat ngerandom di sini. Tapi berhubung daritadi saya udah bosen ngescroll tumblr, twitter, facebook, line; dan japrian saya nggak dibales sama orang-orang (yaiyalah siapa gitu yang mau ngejawab japrian jam setengah dua belas malem -,-) haha, akhirnya tangan dan pikiran saya mendarat di sini. Sekaligus mengisi blog yang tak tersentuh selama lebaran kemarin.
Hari ini saya sampai di Jogja. Begitu kembali melewati jalan-jalan yang sudah sangat saya hafal setelah tiga tahun melewatinya, mendadak saya pengen balik lagi ke Depok (lah?) haha. Apalagi waktu menjejakkan kembali ke kontrakan yang sangat lengang karena ditinggal KKN para penghuninya (kecuali saya). Terus langsung ditinggal pula sama Bapak Ibu dan Mbak Ucha. (Yaiyalah, udah nggak jamannya lagi Tyani ditungguin, haha, emangnya kayak pas masih di Assalaam, haha). Dan malam ini setelah tertidur selama dua jam sejak jam 20.00 dan terbangun di jam 22.15, saya mendadak nggak bisa tidur lagi. Ya dan akhirnya cuma scroll medsos dan nggak menghasilkan apapun. Padahal banyak buku yang bisa dibaca dan emang ada beberapa buku yang belum terbaca sejak berpindah tangan dari penjualnya ke saya.
Saya jadi kangen banyak hal. Kangen sama anak-anak kontrakan. Kangen sama cucu-cucu kenari yang sepanjang lebaran kemaren kalo jalan-jalan -entah kenapa nggak lepas dari lagu goyang dumang- (-,-). Kangen sama Depok. Kangen sama temen-temen satu lingkaran. Kangen sama adek-adek. Kangen sama temen-teman FLP. Kangen sama tidur dan makan (lah?). Kangen ngerandom tengah malem ke orang-orang dan dibales, kayak pas jaman-jamannya di IC waktu liburan.
Iya ya, jadi inget setiap kali liburan pas masih di Assalaam sampai di IC, entah kenapa mode nya langsung berubah jadi nokturnal. Dan ternyata itu nggak cuma saya aja. Temen-temen juga gitu. terbukti kalo siang-siang sms slow response. Pas malem, bahkan ada yang semacam ngebroadcast 'ada yang masih bangun?' dan itu jam satu malam. Ahahaha. Dulu juga, kalo pas kebangun tengah malem gitu dan online facebook, beuukh hampir satu angkatan onlen fb juga tengah malem itu ahahaha.
Tapi begitu kuliah, susah banget namanya begadang. Bahkan buat ngerjain laprak pun lebih milih ngerjain pagi -pagi atau bahkan disambi pas kuliah. Mentang-mentang dosen nggak perhatiin mahasiswanya pada dengerin atau nggak. Semakin ke sini kemampuan procastinator saya semakin keren (Lah?). Bukannya bangga, cuma sedih aja. Pengennya sih nggak gitu. Ya tapi cuma pengen, belum berazzam ahahaha (payah -,-). Makanya saya salut sama orang-orang yang mampu nggak tidur berhari-hari buat ngerjain laprak, belajar ujian atau nykripsi. Bahkan saya proposal skripsi saya aja terbengkalai sejak jaman baheula hingga detik ini saya menulis ini (ahahahaha).
Sebenarnya kemarin-kemarin pas di Salatiga, dalam otak saya, saya sudah menyusun apa saja yang ingin saya lakukan di Jogja. Tapi begitu sampai di jogja, mendadak saya jadi mengkhawatirkan banyak hal membuat perut panas dan nggak bisa tidur. Salah satunya adalah sendiri di kontrakan. Nggak biasanya saya ngerasa sekhawatir ini begitu sendirian di kontrakan. Padahal ini bukan yang pertama kali, sebelum-sebelumnya karena jadwal masuk dan liburnya sering beda sama fakultas lain, jadi di kontrakan sendirian pun bukan issue yang baru buat saya. Harusnya. Atau ini efek dari anak-anak gycen yang lagi pada KKN? (orang-orang yang biasa dimintain tolong dan ngeramein pada KKN T.T, semacam Afifah, terus Afifah, terus . . . Afifah? Ahahaha, bilang aja saya kangen bocah satu itu ahahaha, yang emang biasa nemenin saya pas saya kegiliran sendirian di kontrakan).
Yasudahlah. Saya mau nulis random sampai jam berapa ya ini? Rasa kantuknya masih enggan untuk datang menghampiri. Padahal pagi-pagi nanti saya harus ke puskemas. .-.
Dan laptopnya udah mulai panas karena sejak maghrib tadi memutar playlist di laptop. sengaja, buat meramaikan kontrakan yang sepi dari keramaian (jiaaaah, haha). Karena laptopnya mulai panas, itu berarti laptopnya udah mulai lemot dan sering not responding T.T. Padahal saya masih mau menumpahkan keresahan, kekhawatiran, kecemasan, atau apalah itu (njiyee bahasanya ahahaha) di atas tuts-tuts keyboard yang tak bersalah ini (apalah ini bahasanya -,-; beneran randomnya).
Saya kangen baca blognya fitri nih, selama KKN dia cuma apdet sekali buat pamit. Habis kalo fitri nulis, tulisannya keren banget sih, nggak kayak seseorang yang ngerandom di blognya gitu, sampai tengah malem gitu. Haha. Kangen baca tumblrnya nikari tapi kalo nggak dari dasbor males bacanya karena template tumblr nikari sangat pink .-. ahahha. Kangen kepo blog-blognya anak FLP dan baca tulisan-tulisannya yang warna-warni :) dan berbobot, nggak kayak blognya siapaaa gitu isinya curcol dan random doang ahahahaha. Kangen baca blog-blognya anak gycen, yang kebanyakan udah pada nggak aktif, menyisakan beberapa orang yang masih keliatan terbit tulisannya di dasbor saya semacam Gian, Pyan, Fitri, Maryam, Nikari, Arum, Aisyi, terus Anis baru mulai ngisi lagi ..., oh Izzah juga yang isi blognya tentang bagaimana berumah tangga (ahahahaha, ciye Izzah yang udah nggak jomblo -,-).
Saya pengen nulis yang lain. Buat web yang terbengkalai, buat tagihan detlen anak-anak senja, tapi yang keluar di otak saya cuma hal-hal random yang tertuangakn di tulisan ini sejak tadi. Yaudahlah ya, katanya kan nulis itu kayak buka keran air. Kalo kerannya nggak dibuka, airnya nggak keluar. Kalo kita nggak mulai nulis, yang idenya nggak keluar. Jadi, mending saya awali niatan-niatan saya nulis-nulis yang lain itu dengan kerandoman saya di malam yang sunyi ini #tsaaah.
Jadi, saya udah ngobrolin apa aja? Hahaha, saking randomnya sampe nggak ngeh saya udah nulis apa aja. Ayo dong yang pada KKN cepetan pada balik Jogja. Saya pengen denger ceritanya masing-masing :'). Pasti seruu. Saya mah KKN nya kapan. Skripsi dulu. Pendadaran dulu. Wisuda dulu. Koas dulu. KKN. Ntar ceritanya di angkatan 2012 udah pada udahan, saya mah baru bakal ribet-ribet KKN-an. -,-.
Wah ciye, yang udah masuk tahun ke-4 kuliah. Tahun terakhir di S1. Setelah itu profesi. Jadi inget pas lebaran kemaren. Orang-orang, kakak-kakak sepupu dan kakak saya pada bilang, 'mohon maaf lahir batin, mohon maaf jangan tanya kapan kawin'. Giliran saya, 'mohon maaf lahir batin, mohon maaf jangan tanya kapan lulus'. Hahaha. Bahkan adek sepupu saya yang dua tahun di bawah saya udah kerja dan kemaren udah turut andil ngasih THR ke adek-adek. Dan adek sepupu saya yang usianya empat tahun di bawah saya oktober ini lulus kuliah T.T (yaiya sih mereka kan nggak megikuti jenjang studir formal gaya Indonesia alias homeschooling, terus lulus SMP langsung cuss kuliah di Singapura, ya bisa dijelaskanlah kenapa mereka lulus duluan daripada saya, orang-orang keren mereka. Saya mah apalah).
Habis OSCE, apa saya balik ke Depok lagi aja ya? daripada menghabiskan uang buat makan di Jogja. Di depok kan makan gratis. .-.. Bayar sih, tapi bukan saya juga yang bayar. Eciee yang udah tahun ke-empat. Jadi yang paling tua di jurusan. .-. .Inget banget dulu pas masih tahun pertama-tahun kedua sering banget iseng kalo ketemu mbak Wulan, Mbak Mus, Mbak Adhin, Mbak Khal, dan Mbak-mbak lainnya bilang 'Eciyee mbak-mbak tahun terakhir' Ahahaha, terus habis itu langsung saya nya kena 'Astgahfirullah' dari mbak-mbak sholihat ini ahahaha. Dan itu rasanya baru kemaren saya masih ngisengin mbak-mbak ini. Masih ngerepotin mbak-mbak ini. Dan sekarang harus mau dan emang seharusnya gitu -jadi orang yang direpotkan. Jadi inget kata Bu Dini waktu saya masih kelas tiga MA. Beliau bilang 'Ya hidup ini emang penuh kata 'tahu-tahu'' Tahu,-tahu udah kuliah, tahu-tahu udah lulus, tahu-tahu udah nikah, tahu-tahu udah punya anak dan seterusnya. Ya tapi, hidup ini singkat kok, kata Mbak Alfina. hahaha
Hahaha, yasudah, udah dapet temen ngobrol. Nikari yang tiba-tiba kebangun,. Mungkin hadirnya Nikari adalah sebentuk jawaban doa saya ke Allah yang minta ditemenin malam ini :')
Minggu, 15 Februari 2015
Ketakutan-ketakutan
Sejak saya memutuskn utnuk masuk fakultas kedokteran 2,5 tahun lalu, saya tahu, hidup saya di kampus nggak akan mudah, karena saya takut darah. Dan, yah ternyata ada lebih banyak ketakutan di samping hanya takut darah, yang saya baru sadari ketika saya masuk kuliah. Mungkin, saya berasarama selama 6 tahun ikut ambil dalam terbentuknya rasa takut saya. Atau sayanya yang emang terlalu penakut?
Di kampus yang kehidupannya sama sekali tidak ideal, setiap harinya selalu berubah, setiap harinya ada hal baru, dan setiap harinya selalu ada ketakutan baru yang muncul. Dan semakin dekat dengan kelulusan, beberapa ketakutan menjadi tampak nyata dan jelas.
Misalnya saja, bahwa ketika menjadi dokter, saya harus berhadapan dengan pasien, memberi tindakan medis, terapi dan edukasi. Saya takut, bagaimana jika saya terlalu lambat mendiagnosis, atau bahkan lebih buruk lagi, saya salah diagnosis, bagaimana jika saya salah memberi tindakan dan/atau obat untuk pasien? Bagaimana jika, ketika dalam masa perawatan dengan saya, ada pasien yang meninggal karena saya salah memberikan obat? atau karena saya salah mendiagnosis?
Itu hanya sepersekian ketakutan saya. Dan setiap satu ketakutan muncul, akan ada ketakutan-ketaukan lain yang mengikuti. Jujur, saya takut. Saya takut untuk jadi mahasiswa profesi, saya takut untuk jadi dokter. Bahkan, untuk sekadar ICP (integrted Clinical Practice atau semacam magang?) di puskemas daerah saja, saya takut. Dan semakin dekat dengan kelulusan, setiap ketakutan saya, menjadi tampak lebih nyata, dan lebih dekat.
Orang bilang, mungkin, saya memiliki kadar anxietas yang agak berlebih dibanding orang kebiasaan, yang mungkin kalau sudah parah, akan bisa membawa saya pada diagnosis mengidap gangguan kepribadian anxiety disorder. Dan karenanya, ada yang bilang, saya keliatan kayak orang depresi. Haha .. calon dokter yang depresi?
Sekarang saya percaya bahwa, tidak ada hal yang baik yang datang dari pengumuman keterima di fakultas kedokteran, selain pengumuman itu sendiri, hahaha ...
Waktu saya bilang, ke Bapak dengan gamblang melalui telpon bahwa saya takut jadi dokter, bapak cuma tanya " terus, kalo nggak jadi dokter kamu mau jadi apa?" sya jawab aja, "nggak tau pak, jadi cleaning service mungkin..." Desperate. Saya mengutrakan setiap ketakutan saya, setiap kembimbangan, keraguan dan kecemasan sampai berurai air mata, karena emang mata saya lagi sakit dan ngantuk hahaha ...
Bapak cuma bilang, "kamu bakat jadi dukun, dek" ... hahaha ... saya percaya sih kalo yang ini, bapak melanjutkan, "karena kamu selalu memprediksi hal-hal yang bahkan belum terjadi di kehidupanmu, jadi dukun aja sono .." hahaha, saran diterima. haha ... iya, dan buruknya lagi, saya selalu memprediksi hal-hal buruk. Mungkin, maskud saya adalah saya ingin mengantisipasi hal terburuk yang akan terjadi, tapi bukannya mengantisapasi dengan segera, sebaliknya, justru ketakuta atas pemikiran-pemikiran saya sendiri itu jauh lebih kuat menguasai diri saya, ketimbang diri saya mengantisipasi ... dan sekali lai, saya harus memakai kata-kata ini, "tidak ada hal baik datang dari memikirkan hal buruk, apalagi hal yang terburuk ..." hahaha ...
ketakutan itu seringkali datang karena pemikiran-pemikiran diri sendiri yang melebih-lebihkan kejadian yang sbeenarnya. otak memanipulasinya, memberi bumbu, sehingga permasalahan kecil terlihat lebih besar dari seharusnya. Karena, ternyata, ketika hal-hal yang kita takuti kita jalani, itu biasa saja ... tidak semengerikan yang pernah saya pikirkan.
Kita hidup hari ini. Walaupun masa depan menanti kita. Tapi, kita hidup hari ini. Yang perlu dikhawatirkan adalah hari ini lebih baik dari kemarin atau tidak? Karena menghadapi dan mnjalani setiap ketakutan kita di hari ini berkali-kali lipat jauh lebih mudah daripada memikirkannya ... kalau kata bapak, karena masalah ada untuk dihadapi, bukan untuk dipikirkan ...
karena kita hidup hari ini. Hari ini, mungkin saya bilang, saya takut jadi dokter. karena hari ini, saya memikirkan setiap ketakutan dan masalah yang otak saya nggak bisa sampai pada penyelesaian dan solusi dari masalah tersebut. Tapi, mungkin beda ceritanya ketika nanti lisensi dokter sudah saya kantongi, ketika sumpah dokter sudah saya ucapkan, mungkin sudah beda ceritanya ... dan mungkin di hari itu, saya sudah punya jawaban dari setiap ketakutan saya hari ini.
Saya akan jadi dokter.
Senin, 05 Januari 2015
Sudah 5 tahun ternyata ...
tahun 2010 saya bikin blog ini, tapi tulisan yang di multiply nggak saya pindah. Kalau baca postingan-postingan jadul, banyakan alay sih, hahaha, terus yah banyakan curcol juga, belum tentu bernilai juga kalau dibaca. yah belum tentu ada yang baca juga hehe ...
Kayaknya ada beberapa cerpen teenlit alay yang saya malu bacanya lagi di postingan awal-awal saya bikin blog hahahaha ... ada juga curcol yang sok bijak, ada juga kisah pengalaman nggak penting, ada juga cerita tentang temen-temen satu kelas ... ahahahaha .. makin diinget makin bikin ketawa, makin nunjukkin kalau saya belum jadi penulis yang bermutu ... --a
tapi, sama seperti pertanyaan, "jika diberi kemampuan untuk mengulang waktu, apa yang ingin kau ubah?", jawabannya adalah "tidak ada yang ingin aku ubah". Maka, tulisan-tulisan yang teenlit alay itu, curcol nggak penting itu, ceota tentang temen-temn satu kelas itu juga nggak ingin saya hapus, blog ini udah berjalan bersama saya sejak saya di IC, dimana banyak momen-momen yang nggak cukup jika hanya direkam dengan otak saya, momen-momen itu yang saya bagikan ke temen-temen saya, supaya yang merekamnya tidak hanya saya, tapi juga teman-teman saya ...
Kalau saya baca dari awal, postingan-postingan saya menggambarkan betapa saya telah tumbuh dan berkembang ke arah yang lebih positif, saya rasa. :)
Makanya, saya nggak mau menghapus postingan-postingan alay saya, karena itu bagian dari kehidupan saya, bagian dari rekam jejak hidup saya ...:)
Jumat, 05 September 2014
Happy Graduation, Mas Iqbal!
25 Tahun pernikahan Ibu Bapak
Saat menulis ini, usiaku jelang 20 tahun. Dalam hitungan hari-yg msh bs dihitung dengan jari tangan-saya akan menanggalkan status "late adolescent" dan masuk ke dalam "early adulthood" setidaknya begitu yg saya pelajari.
Dan di usia saya yg 20 tahun ini juga, usia pernikahan Bapak Ibu saya telah mencapai seperempat abad. 25 tahun.
Jujur saja, saya baru tahu kemarin, 21 Mei 2014 lalu kalau ternyata Bapak Ibu menikah di tahun 1989. Yang berarti saat menikah, usia kronologis keduanya adalah 29 tahun.
29 tahun. Lalu, punya anak pertama yg diberi nama Nurza Sari Dhamayanti (perempuan, yg juga kakak pertama saya) di usia 30 tahun. Dua tahun setelahnya, ketika keduanya memasuki usia 32 tahun, keduanya dikaruniai anak kedua, kakak laki-laki saya, yg kemudian diberi nama Iqbal, Muhammad Iqbal Satria. Terakhir saya, dilahirkan dua tahun (atau malah tidak sampai 2 tahun) setelah Mas Iqbal lahir. Diberi nama "Chotimah" yg artinya akhir, dan tidak sengaja benar-benar menjadi penutup dari kakak-beradik ini.
Saya baru ngeh kemarin kalau Ibu hamil di usia-usia yang mendekati usia "awas". Alias mendekati usia yg sebaiknya sudah tidak hamil lagi-menurut yg saya pelajari di kuliah (CMIIW). Di usia-usia ini, hamil menjadi suatu hal yg perlu dimonitor secara berkala, terutama jika sang ibu punya beberapa faktor resiko yang akan memperburuk kejadian kehamilan tersebut. Tapi, Alhamdulillah nya, mungkin kondisi ibu saya fit saat hamil ketiga anaknya, jadi mampu melahirkan anak-anaknya dengan kelahiran normal pula.
Itu Ibu saya. Yang setiap melahirkan anak-anaknya senantiasa sendiri di dalam ruangan tanpa suaminya, Bapak saya. Ya ... Itu sih yang saya dengar dari Ibu. Tapi, mengingat Bapak saya takut jarum suntik dan alat-alat semacamnya, saya jadi percaya aja sama cerita Ibu. Hehehe ...
Itu Ibu saya yang baru pakai jilbab rutin setelah saya masuk TQIT Nurul Fikri Depok (sekarang jadi TKIT Nurul Fikri). Ketimbang saya sudah pakai jilbab sejak SD, hitungannya Ibu saya punya semangat belajar Islam yang besar, bahkan melampaui saya yang masih muda, pun ilmu dan pengetahuannya tidak kalah sama saya yang sudah mondok 3 tahun di pesantren dan lanjut 3 tahun di IC serpong. Kalau saya lagi di rumah, saya libur dari kegiatan liqo, tapi Ibu nggak pernah libur. Ibu senin ikut kajian tafsir, Rabu ikut kelas bahasa Arab (walaupun kata Beliau, sekarang beliau berhenti krn sdh sebulan tidak masuk karena sakit, dan waktu itu nemenin eyang di rumah sakit), dan Kamis liqo. Belum lagi kalau ada kajian di masjid dekat rumah. Saya? Kajian manhaj aja belum tentu datang ...
Itu Ibu saya, yang bahkan saat awal bertemu Bapak, masak saja masih diajari Bapak ... Tapi sekarang ... Masakan-masakannya sudah bisa diacungi dua jempol, atau kalau perlu 4 jempol sekalian...
Lalu Bapak. Bapak saya adalah orang yang paling berpengaruh dalam setiap pemikiran saya yang tercermin dalam setiap perilaku saya. Melalui diskusi-diskusi yang Bapak mulai ketika kami sedang berdua saja, atau beramai-ramai, di sana Bapak menanamkam nilai-nilai Islam dan moral pada anak-anaknya.
Mungkin benar kalimat bahwa cinta pertama anak perempuan adalah pada Ayahnya. Lawan jenis yang saya cintai pertama kali adalah Bapak. Bapak adalah orang pertama yang mendukung saya masuk pondok, pun juga kuliah di Jogja. Dan Bapak juga yang menguatkan hati Ibu untuk mengizinkan saya keluar rumah. Juga menguatkan hati saya untuk bertahan pada pilihan saya.
Bapak pula yang mengasah bakat kami bertiga di bidang lukis dan tulis terutama. Waktu kecil, setiap kali kami bertiga luang dan sedang kumpul, Bapak menggiring ketiganya untuk memegang kertas, krayon, pensil warna dan lain-lain untuk akhirnya menggambar objek yang sudah disusun Bapak. Lalu, setiap ada tugas kepenulisan, Bapak tidak sekadar menyuruh kami menulis sesuai umur kami. Tapi harus di atas itu. Saya ingat, waktu SD, saya pernah dapat tugas menulis kebudayaan masing-masing daerah. Karena Bapak berasal dari Solo, saya memutuskan untuk menulis tentang Solo. Di saat teman-teman saya menulis seperti anak SD pada umumnya, saya menulis tugas tersebut persis seperti makalah-makalah yang saya buat waktu SMA. Atas arahan Bapak, saya menulis tugas tersebut dimulai dari pendahuluan, lalu budaya Jawa, dilanjut budaya Jawa Tengah, baru saya menulis tentang kebudayaan Solo nya. Begitulah Bapak saya mengajarkan saya.
Kini, semangat Bapak mengasah bakat dalam melukis pun masih belum padam. Beliau masih menyibukkan diri dalam Komunitas Lukis Cat Air Indonesia. Dan sekarang gores-gores lukisan cat air nya sudah semakin halus, terhitung sejak pertama kali memulai menggunkan cat air, sekitar dua tahun lalu kalau tidak salah. Mungkin, Bapak sudah melampui aturan 10.000 jam, hingga sudah bisa digolongkan ahli. MUNGKIN lho ...
Begitulah orang tua kami, saya, Mas Iqbal, dan Mbak Nurza mengajari kami. Kini usia keduanya sudah 54 tahun. Kalau menurut WHO sudah bisa disebut lansia kategori
Middle Age atau usia pertengahan (adalah kelompok usia dari 45-59 tahun). Lansia.
Dan, di usia sekarang, sudah berapa persen fungsi organ-organ tubuh keduanya telah berkurang? Mengingat adanya hukum 1%, dimana setiap bertambah satu tahun setelah seseorang memasuki usia 35 tahun, fungsi sebagian besar organ tubuhnya akan berkurang sebanyak 1% (CMIIW). Ditambah lagi kondisi Ibu yang tinggal mengampu satu buah ginjal saja, dan Bapak yang akhir-akhir ini sering stress berlebih pasca meninggalnya Mbah putri dan Mbah kakung Solo, yang berakibat pada perut yang sering sebah.
25 tahun keduanya membangun rumah tangga, hingga kini anak-anaknya sudah mencapai usia dewasa semua. Saya sadar, tidak banyak hal yang bisa dibanggakan dari saya ataupun kakak-kakak saya bagi kedua orang tua kami.
Kami-kami ini tidak sekali dua kali berantem sama Ibu atau Bapak. Nggak sekali dua kali juga mengecewakan keduanya. Mungkin juga nggak sekali dua kali kami lupa bahwa orang tua kami sudah mulai menua. Dimana sekarang mungkin bukan zamannya lagi kami meminta perhatian dari keduanya, tapi justru kamilah yang SEHARUSnya memberi perhatian lebih pada keduanya...
Tapi, untuk saat ini, buat saya yang tinggal jauh dari depok ini mungkin satu-satunya perhatian lebih yang bisa saya lakukan ketika jauh adalah hanya berdoa dan menelpon. Saya selalu nggak tahu kapan saya akan pulang, apalagi nanti ketika jadi dokter.... (amiin)
Karenanya, semoga Allah berkenan mengumpulkan kami sekeluarga kembali, baik di dunia maupun si surgaNya nanti ...
25 Mei 2014
Ditulis pasca hari ulang tahun pernikahan Bapak Ibu yang ke-25, pada tanggal 21 Mei 2014 lalu
Senin, 18 November 2013
Roadshow IAIC 2013
Walaupun dengan keberangkatan yang dramatis, dan ninggalin acara-acara di kampus (emang itu sih salah satu tujuannya haghaghag *jangandicontoh*) akhirnya gue tetap keukeh jalan ke IC dan dilanjut menetap di rumah sampai hari selasa berhubung jadwal kuliah kosong sampai hari kamis.
Dan, seperti setiap kali ke IC sehabis lulus. Selalu ada rindu untuk mengulang setiap detik perjalanan hidup yang udah gue dan teman-teman lakuin di IC. Selalu ada menyesal terselip kenapa dulu nggak memaksimalkan diri ketika berada di asrama tercinta ini. Tapi, yah, namanya juga udah lulus, yang harus dilakukan sekarang adalah mengabdi. Mengabdi buat IC karena IC sudah memberikan banyak hal yang nggak bisa diberikan oleh sekolah lainnya ke anak didikannya. Pendidikan yang memadai, fasilitas, guru-guru, suasana yang nggak pernah bisa didapat dimanapun selain di sini.
Karena IC sudah memberikan banyak hal, dan gue yakin, bukan cuma gue yang ngerasain hal itu, makanya banyak alumni yang akan dengan ringan tangan membantu guru-guru IC setiap kali beliau-beliau ini dalam kesulitan. Banyak alumni yang nggak akan segan-segan membantu adik-adik di IC sebagai bentuk terima kasihnya terhadap sekolah ini. Dan akan begitu seterusnya ...
Karena itu pulalah, nggak akan ada yang dengan enggan mengurusi roadshow. Capek mungkin iya, pusing mungkin iya, tapi buat IC? apa sih yang nggak .... hehehehehe *malah jadi gombal*
Dan buat gue pribadi, kembali ke IC selalu menjadi pendongkrak semangat gue terutama ketika gue dalam keadaan down kayak akhir-akhir ini. Roadshow kemarin, ngeliat antusias adek-adek yang pada mau masuk kedokteran (iya, soalnya yang nanya-nanya ke gue yang pada mau masuk kedokteran) dan semangat mereka buat mencapai cita-cita itu bikin gue ikut semangat lagi. Ngeliat kekhawatiran mereka akan ujian-ujian yang ada di hadapan mereka kayak ngeliat diri gue dulu ... dan itu berarti juga mengingat betapa semangatnya gue dulu, ngotot bahkan, buat masuk fakultas kedokteran.
Tapi sangat disayangkan kita nggak bisa invasi asrama mereka pas malem-malem buat sesi sharing karena nggak dapet izin. hahahaha ... padahal seneng banget bisa liat semangat mereka. Akhirnya acara malam itu diganti sama evaluasi acara. Banyak banget evaluasinya. Gue seneng sih diadain eval, cuma yang gue sesali adalah, evalnya nabrka shalat isya', dan lebih gue sesali adalah, gue nggak mencegah, atau menyetop hal itu terjadi ...
Yah, semoga hal itu terulang lagi ... over all, roadshow kemarin cukup menyenangkan, ditambah pul adapat akabr angakatan gue bakal ketambahan keluarga baru Januari nanti (gue post di tempat lain ya ceriatanya ...) ...
Dan, selalu IC dan pernak-perniknya selalu punya caranya sendiri menghibur setiap 'keluarga'nya, selalu punya caranya sendiri untuk membangkitkan semangat setiap anggota 'keluarga'nya ... :')
Random nomer sekian
Jadi ceritanya, kuliah dan kegiatan kampus yang udah jalan beberapa bulan ini, entah kenapa banyak banget menyita perhatian gue. Entah karena posisi dan tanggung jawab yang udah mulai beda karena udah punya 'adik', dan karenanya, karena menerima posisi dan amanah yang beda itu dalam keadaan nggak siap, akhirnya gue jadi canggung. Atau entah karena sebab lain ...
Jadi karena lelah yang semakin menjadi-jadi setiap harinya, hampir semua amanah terbengkalai (oke, gue sadar kok gue nggak profesional), sms dari kakak2 di kampus nggak gue bales, telpon nggak gue angkat, dan segala macam lainnya. Kadang-kadang di saat yang seperti itu, mestinya gue bisa gambar atau nulis buat menuangkan semua perasaan dan pikiran, tapi mungkin karena guenya yang udah terlalu capek dengan semua teknis yang nggak selesai-selesai dibahas, akhirnya ekspresi itu nggak keluar. Gue sempat mengalami rasa dimana gue stagnan. Nggak bisa nulis apapun. Tangan gue kaku sampe rasanya apapun yang gue gambar nggak pas dengan bayangan gue. Semuanya jelek. Semuanya aneh. Gue mikir. Mungkin, ini ada hubungannya sama rasa 'capek' gue.
Iya emang, sejak masuk kuliah tahun kedua ini, gue ngerasa, gue ngak punya banyak waktu buat diri gue sendiri. Cuma sekali. Itupun nggak berakhir dengan bahagia. Entah karena guenya yang nggak meluangkan waktu, entah karena gue yang akhir-akhir ini sulit nolak, atau entahlah ...
Dan alhasil, semua lelah itu numpuk di otak, di hati, di badan sampai menjamur. Gue bosen sama semuanya, gue capek. Dan hal itu berujung pada gue kuliah, gue ngelakuin pekerjaan udah kayak robot dan kayak orang buta. terprogram, dan nggak tahu kemana dan buat apa ngerjain hal tersebut. Hal ini berujung pada gue yang ngerasa kehilangan sama diri gue sendiri. Lhah, bingung kan? Iya, gue sendiri juga bingung. Gue bingung mencari diri gue. Gue kehilangan diri gue sendiri ...
Akhirnya gue memutuskan untuk 'memberikan waktu untuk diri sendiri'. Gue bolos kuliah hari kamis dan jumat yang cuma masuk 1 jam seharinya, cuma buat memberikan waktu untuk berpikir dan sedikit bermalas-malasan. Serta sedikit menjauh dari hiruk pikuk keadaan kampus yang kondusif buat mikir. Tapi nggak berhasil. Yang ada gue malah nangis. Capek. Capek dan capek, dan akhirnya dua hari bolos cuma habis buat mengeluh. Gue menyimpulkan, kalo gue harus menjauh dari kampus, nggak bahkan yang lebih ekstrem, menjauh dari jogja untuk mendinginkan kepala gue, dan untuk berpikir lebih rasional. Yah, terserah kalo mau bilang gue mau 'lari'. Untung banget hari Roadshoaw bertepatan dengan jadwal kosong minggu depannya, dan langsung gue tangkep kesempatan ini, untuk berdiam diri di Depok barang cuma 2-3 hari. Gue rasa cukup. Cukup buat mikir, cukup untuk mendinginkan kepala, cukup untuk kembali memupuk semangat, dan segala cukup lainnya ....
Kalau akhirnya nggak merasa cukup? Maka, yang diperlukan akhirnya adalah bersyukur untuk menjadikannya cukup ...
Dan well, di sinilah gue akhirnya. di rumah. memberikan porsi lebih banyak untuk diri sendiri dan keluarga. Memupuk semangat dengan ketemu temen-temen IC dan adek-adek IC yang semangat nanya-nanya kehidupan kampus. Semangat mereka bikin gue mikir kembali, dulu, saat gue masih berada di posisi mereka, gue punya semangat yang sama. Dan masa baru dua tahun semangat itu udah melempem? Emangnya kerupuk? Ketemu adek-adek IC bikin gue mikir lagi tentang tujuan gue masuk kampus, dan macam-macam tujuan lainnya melalui keputusan-keputusan yang udah gue ambil ...
Bertemu keluarga gue lagi setelah sekian lama bikin gue mikir lagi, keputusan-keputusan yang udah dan akan gue ambil. Gue refleksikan dari kehidupan keluarga ini dulu dan sekarang, yang gue yakin sedikit banyak akan mempengaruhi kehidupan gue ke depannya ...
Well, benar kan, yang gue butuhkan hanya keluar dari rutinitas dan teknis yang semakin mengungkung setiap harinya, dan memberikan porsi lebih untuk diri sendiri untuk akhirnya menemukan kembali diri gue? untuk akhirnya menghilangkan lelah ini ...
Buktinya? Buktinya gue bisa nulis sepanjang ini lagi ... walaupun isinya ngerandom ....
hope this is not the end ...
Selasa, 13 Agustus 2013
menjejak usia dewasa
semoga Allah menerima semua amal ibadah kita selama ramadhan kemarin dan menjadikan kita termasuk ke dalam orang-orang yang 'kembali' dan 'menang'! ..
Iya, sudah lama juga blog ini saya anggurin (bukan buah anggur ya), nggak kok, alasannya bukan karena saya sibuk, tapi lebih karena saya berpindah ke lain hati (halah), iya saya jadi lebih asik di tumblr, apalagi saya baru ganti tumblr, belum banyak orang yang tau, jadi mu ngepos apaaa juga siapa juga yang peduli ehehehehehe ... (ya kali, yang ini juga mau ngepos apa juga siapa yang peduli ehehehehe).
Oke, jadi sebenernya postingan ini udah kepingin saya post dari entah kapan, tapi baru kesampaian sekarang (karena mulai nganggur, ditinggal keluarga pulang ke depok), dan niatnya mau di post di tumblr biar ah... sudah lah .. toh lagipula tumblr nya berat banget dibuka .. (-->kebanyakan alasan banget ini ...)
yaudahlah daripada saya mulai ngalor ngidul dan tetiba malah jadi banyak nulis yang nggak jelas saya mulai aja.
jadi, ketika saya memasuki usia 19 tahun terhitung 28 Mei lalu, saya mulai banyak mikir tentang kedewasaan, jangan sampai ketika saya masuk usia 20 tahun, dimana orang menyebutnya sebagai dewasa muda, sikap dan pikiran saya masih jauh dari kedewasaan.
Apalagi ketika usia 20 tahun itu, saya juga harus mulai menyiapkan diri untuk berkeluarga (iya, nyiapin mental sama kebiasaan --> ini yang saya sebut dengan "diam-diam tapi progress"). Saya udah harus mulai serius untuk menemukan diri saya, (iya jujur aja, sampai sekarang saya masih kebingungan mendefinisikan jawaban dari pertanyaan "siapa saya?"). Saya juga harus mulai memikirkan visi dan tujuan saya hidup. Walaupun saya sudah tahu tujuan penciptaan manusia adalah untuk beribadah, tapi jujur saja, saya belum benar-benar memaknai hal tersebut.
"Mengetahui" dan "memaknai" jelas beda artinya. Saya punya teori (iya, teori bikinan saya sendiri, jadi jangan coba-coba untuk disitasi buat karya tulis, njih, apalagi buat disertasi.. *ya, kaliiiiiiii*). Jadi, ketika masuk usia anak TK-SD lah ya ... itu waktunya anak-anak tersebut dikenalkan pada tujuan hidup, dan bagaimana caranya untuk mencapai hal tersebut. Cukup dikenalkan, karena sebelum baligh, mereka belum punya kewajiban untuk mengerjakan ibadah mahdhoh. kemudian masuk usia remaja, peralihan anak-anak menuju dewasa, maka mereka seharusnya dalam taraf 'tahu' bukan lagi kenal. Tapi mereka masih mencari cara yang pas untuk menuju tujuan hidup tersebut , seiring dengan pencarian jati diri para remaja tersebut. kemudian, ketika memasuki usia dewasa, seharusnya seseorang sudah dapat memaknai tujuan tersebut. Maksudnya memaknai di sini adalah, bertindak sesuai dengan tujuan, dan ketika dihadapkan pada pilihan pun mereka memilih dengan pasti sesuai apa yang menjadi tujuan hidup, plus dapat memaknai kejadian yang dilewati dalam jalannya mencapai tjuan ..
begitu, ya sebenernya yang paragraf atas itu agak sedikit nggak nyambung, dilewatin aja bacanya juga nggak pa-pa sih ehehehehehe...
Jadi, ceriteranya kurang lebih 10 bulan saya akan memasuki usia dewasa, dan inilah kesempatan terakhir saya untuk lebih memahami diri saya, biar ketika saya benar-benar masuk usia dewasa nanti, saya dapat menjadi lebi bijaksana, tidak lagi disibukkan dengan pencarian jati diri sehingga saya sudah bisa fokus memaknai setiap kejadian yang ada di sekitar saya, dan membuat saya jadi lebih bijaksana.
buat saya, menjadi bijaksana itu sama dengan menjadi dewasa. Penting. Apalagi untuk seorang calon ibu yang akan menjadi 'madrasah' pertama bagi anak-anaknya. Saya harus bisa dengan bijaksana dan cerdas memilih pendidikan yang seperti apa yang baik buat anak-anak saya nantinya, atau sikap mana yang harus saya ambil untuk memberi anak-anak saya pelajaran berharga, agar tidak hanya masuk kuping kanan langsung bablas angineee (halah, korban iklan), tapi juga membekas dalam hati dan aplikatif ...Soalnya, kadang-kadang saya ngerasa, daripada dibilangin, saya lebih suka dicontohin, lhah kalo saya aja begitu, ya anak-anak nantinya juga nggak jauh-jauh lah ya ...
Bijaksana dan dewasa juga penting dalam manajemen emosi dan pikiran. Kalau sekarang saya masih kesulitan dalam memanaj emosi dan pikiran saya hingga akhirnya saya gampang stress yang bikin saya sering muntah-muntah, gimana saya mau memanaj rumah tangga saya, yang jelas jauh lebih rumit dan kompleks ketimbang memanaj diri saya sendiri. Ntar kalo saya lagi stress, semua saya marahin lagi ... *wah, tidak baik, tidak baik, ckkckckckck..*
Makanya, saya walaupun di suruh kuliah di UI, dan ibu sendiri yang minta, saya menolak dengan halus. Saya harus 'pergi' lagi dari rumah, mencari lebih banyak pengalaman, lebih banyak kejadian, bertemu lebih banyak orang, situasi, dan kondisi, hingga setiap yang saya temui itu bisa saya maknai, dan akhirnya saya terbiasa untuk memaknai ...
Bukannya kalo di UI juga bakal ketemu banyak hal? iya sih .. tapi saya nggak akan menghadapi kondisi dimana saya kehabisan beras pas lagi ramadhan, sementara saya tinggal sendirian di kontrakan, serta toko sembako deket rumah udah tutup gara-gara yang punya mudik entah kemana. Saya juga nggak akan menghadapi kondisi dimana saya bertengkar dengan diri saya sendiri karena nggak menemukan jalan keluar untuk masalah saya dan saya nggak bisa minta bantuan orang lain, karena cuma saya yang tahu masalahnya. Kalau saya di UI, jelas orang tua saya pasti tahu persis gimana saya, apa masalah saya soalnya saya tipe orang yang bakal cerita ke orang tua kalo ada apa-apa, dan ada di rumah akan menambah intensitas hal tersebut.
Simpelnya, kalo saya di UI, berarti saya nggak ngekos, nggak jauh dari rumah (yaiyalaaaah ya, orang UI sama rumah cuma 5 menit naik motor, kao nggak macet), kalo saya nggak jauh dari rumah, saya bakal ada di zona aman saya, dan saya bakal tetep dianggap 'adek' atau 'anak bungsu'. Udah bertahun-tahun jauh dari rumah aja, setiap kali balik saya jaid 'anak bungsu' lagi, apalagi kalo saya tiap hari ada di rumah. Saya nggak akan pernah keluar dari zona aman zaya .. eh saya ...
Dengan menantang diri saya untuk keluar dari zona aman saya, kedewasaan tersebut akan lebih cepat menguasai diri saya ..
begitu kira-kira ...
Yah, tapi orang beda-beda sih ...
Rabu, 29 Mei 2013
Terima Kasih :')
Terima kasih untuk doa-doanya, harapan-harapannya ...
Lewat jalur manapun, (halah udah berasa apaan aja), baik yg lewat sms subuh-subuh, sms ngegantung yg lanjutannya di FB di gurp angkatan, yang sms pake narsis, yang lewat telpon (ini mah fix banget dari keluarga haha...), yang lewat wall FB, message FB maupun yang ngumumin di beberapa grup, yang lewat twitter, baik yang nulis langsung ataopun nge retweet, yang lewat kejutan di taman medika dengan alasan nyuruh saya ngisi formulir pemandu AAI, sampai yang naruh kejutan di keranjang sepeda saya (walopun akhirny saya nggak pulang naik sepeda, untung saya ngecek sepeda saya dulu sebelum pulang hehehehe),, atopun yang nereakin selamat ulang tahun di lorong ruang kuliah tepat sebelum ujian :')
Terima kasih semuanya, beberapa ucapan ada yang bikin saya banjir nangis nggak berhenti-henti, bikin sayapengen meluk bantal (lhah?) hahaha...
Semoga Allah mengabulkan semua doa dan harapan yang telah dipanjatkan ... dan di umur baru ini, semoga saya bisa semakin dewasa dalam memaknai hidup :) ...
Kamis, 23 Mei 2013
hujan ...
Senin, 13 Mei 2013
Sabar ty,,
Semuanya ada waktunya, dijalanin aja dulu, buka hati selebar-lebarnya, kelelahanmu bukan apa-apa dibandingkan lelahnya Ibu Bapak untuk mengurusimu, mencari nafkah untukmu
Sabar ya Ty,,
Mungkin memang harus begini jalanmu, nggak pa-pa, cukup pahami ini rencana Allah, skenarionya Allah, maka pasti ada sesuatu yang lebih indah di akhir skenarionya jika kamu mengikutinya dengan baik, dengan ikhlas
Sabar ya Ty,,,
Mungkin hal-hal yang kamu inginkan sekarang, yang menurutmu baik untukmu dan katamu mendesak, sebenarnya mungkin nggak betul-betul mendesak, coba dipikirin lagi, dievaluasi lagi, dimuhasabahi lagi, betulan nggak sebenarnya kamu butuh?
Sabar ya Ty,,,
Kalau emang butuh, usahanya jangan hanya dengan berbicara dan ngedumel, PASTI ada ikhtiar yang bisa kamu lakukan untuk mendapatkannya kan?
Sabar ya Ty,,,
Memang katanya hidup itu berputar, nggak dapat yang kamu inginkan sekarang ya mungkin karena emang bukan rezekimu sekarang, mungkin juga emang bukan giliranmu, nanti PASTI ada giliranmu, PASTI ...
Makanya Ty,, jangan menyerah untuk tetap ikhtiar, jangan berhenti untuk terus berdoa
Karena rencana Allah selalu indah, maka semua ikhtiar dan doamu akan membuahkan hasil yang indah pula pada waktunya :)
...........yang diperlukan hanya kesabaran yang ekstra yang disertai keihlasan ..........
Minggu, 12 Mei 2013
Sekelumit doa di perjalanan
Jumat, 10 Mei 2013
-----
I am in competition with NO ONE. I run my OWN race. I have NO desire to play the game of being better than ANYONE, in anyway, shape or form. I just aim to IMPROVE, to BETTER than I was BEFORE. That's ME, and I'm fine...
Yup, udah nggak tau sejak kapan, mungkin sejak SMA, gue udah nggak ngerasa harus bersaing dengan siapapun kecuali diri gue sendiri. Udah nggak mikir lagi gue berada di rengking berapa, si anu dapate nilai berapa, si itu dapet nilai berapa, apakah gue lebih baik daripada si anu dan si itu, atau gue lebih buruk nilainya.
Gue juga udah lama nggak peduli lagi si anu dapat piala apa, atau medali apa. Gue dapet kesempatan untuk meraup ilmu sebanyak-banyaknya aja, udah gue syukurin banget banget pake sangat. Kalopun gue bisa dapet hal-hal sejenis prestasi, itu berarti adalah side effect dari usaha gue mengkaji ilmu selama ini.
Buat gue, prestasi terbaik yang pernah gue dapatkan adalah, gue bisa masuk MAN INSAN CENDEKIA Serpong. Dimana di sana gue menemukan dan mendapatkan banyak hal... nggak cuma ilmu yangakan disimpan sebagai memori implisit (nah lo gue lupa, CMIIW ya), tapi juga hal-hal lain seperti, 'rumah', 'keluarga', serta 'pemahaman'.
and That's ME ... :)
Sabtu, 06 April 2013
Sekelumit Impian
Mimpi itu gratis, kan ya? Makanya di sini saya bermimpi yang muluk-muluk, karena katanya mimpi itu gratis ...
DARE TO DREAM!

.jpg)