Dua minggu sudah berjalan sejak hari pertama saya masuk semester 6. Semester 6 ya ... Semester depan semester 7, setelah itu koas. kira-kira satu tahun lagi, purna sudah masa studi saya di S1, setelah itu lanjut studi profesi sebagai dokter muda atau yang lebih dikenal dengan sebutan koas?
Sejak saya memutuskn utnuk masuk fakultas kedokteran 2,5 tahun lalu, saya tahu, hidup saya di kampus nggak akan mudah, karena saya takut darah. Dan, yah ternyata ada lebih banyak ketakutan di samping hanya takut darah, yang saya baru sadari ketika saya masuk kuliah. Mungkin, saya berasarama selama 6 tahun ikut ambil dalam terbentuknya rasa takut saya. Atau sayanya yang emang terlalu penakut?
Di kampus yang kehidupannya sama sekali tidak ideal, setiap harinya selalu berubah, setiap harinya ada hal baru, dan setiap harinya selalu ada ketakutan baru yang muncul. Dan semakin dekat dengan kelulusan, beberapa ketakutan menjadi tampak nyata dan jelas.
Misalnya saja, bahwa ketika menjadi dokter, saya harus berhadapan dengan pasien, memberi tindakan medis, terapi dan edukasi. Saya takut, bagaimana jika saya terlalu lambat mendiagnosis, atau bahkan lebih buruk lagi, saya salah diagnosis, bagaimana jika saya salah memberi tindakan dan/atau obat untuk pasien? Bagaimana jika, ketika dalam masa perawatan dengan saya, ada pasien yang meninggal karena saya salah memberikan obat? atau karena saya salah mendiagnosis?
Itu hanya sepersekian ketakutan saya. Dan setiap satu ketakutan muncul, akan ada ketakutan-ketaukan lain yang mengikuti. Jujur, saya takut. Saya takut untuk jadi mahasiswa profesi, saya takut untuk jadi dokter. Bahkan, untuk sekadar ICP (integrted Clinical Practice atau semacam magang?) di puskemas daerah saja, saya takut. Dan semakin dekat dengan kelulusan, setiap ketakutan saya, menjadi tampak lebih nyata, dan lebih dekat.
Orang bilang, mungkin, saya memiliki kadar anxietas yang agak berlebih dibanding orang kebiasaan, yang mungkin kalau sudah parah, akan bisa membawa saya pada diagnosis mengidap gangguan kepribadian anxiety disorder. Dan karenanya, ada yang bilang, saya keliatan kayak orang depresi. Haha .. calon dokter yang depresi?
Sekarang saya percaya bahwa, tidak ada hal yang baik yang datang dari pengumuman keterima di fakultas kedokteran, selain pengumuman itu sendiri, hahaha ...
Waktu saya bilang, ke Bapak dengan gamblang melalui telpon bahwa saya takut jadi dokter, bapak cuma tanya " terus, kalo nggak jadi dokter kamu mau jadi apa?" sya jawab aja, "nggak tau pak, jadi cleaning service mungkin..." Desperate. Saya mengutrakan setiap ketakutan saya, setiap kembimbangan, keraguan dan kecemasan sampai berurai air mata, karena emang mata saya lagi sakit dan ngantuk hahaha ...
Bapak cuma bilang, "kamu bakat jadi dukun, dek" ... hahaha ... saya percaya sih kalo yang ini, bapak melanjutkan, "karena kamu selalu memprediksi hal-hal yang bahkan belum terjadi di kehidupanmu, jadi dukun aja sono .." hahaha, saran diterima. haha ... iya, dan buruknya lagi, saya selalu memprediksi hal-hal buruk. Mungkin, maskud saya adalah saya ingin mengantisipasi hal terburuk yang akan terjadi, tapi bukannya mengantisapasi dengan segera, sebaliknya, justru ketakuta atas pemikiran-pemikiran saya sendiri itu jauh lebih kuat menguasai diri saya, ketimbang diri saya mengantisipasi ... dan sekali lai, saya harus memakai kata-kata ini, "tidak ada hal baik datang dari memikirkan hal buruk, apalagi hal yang terburuk ..." hahaha ...
ketakutan itu seringkali datang karena pemikiran-pemikiran diri sendiri yang melebih-lebihkan kejadian yang sbeenarnya. otak memanipulasinya, memberi bumbu, sehingga permasalahan kecil terlihat lebih besar dari seharusnya. Karena, ternyata, ketika hal-hal yang kita takuti kita jalani, itu biasa saja ... tidak semengerikan yang pernah saya pikirkan.
Kita hidup hari ini. Walaupun masa depan menanti kita. Tapi, kita hidup hari ini. Yang perlu dikhawatirkan adalah hari ini lebih baik dari kemarin atau tidak? Karena menghadapi dan mnjalani setiap ketakutan kita di hari ini berkali-kali lipat jauh lebih mudah daripada memikirkannya ... kalau kata bapak, karena masalah ada untuk dihadapi, bukan untuk dipikirkan ...
karena kita hidup hari ini. Hari ini, mungkin saya bilang, saya takut jadi dokter. karena hari ini, saya memikirkan setiap ketakutan dan masalah yang otak saya nggak bisa sampai pada penyelesaian dan solusi dari masalah tersebut. Tapi, mungkin beda ceritanya ketika nanti lisensi dokter sudah saya kantongi, ketika sumpah dokter sudah saya ucapkan, mungkin sudah beda ceritanya ... dan mungkin di hari itu, saya sudah punya jawaban dari setiap ketakutan saya hari ini.
Saya akan jadi dokter.
Bu dokterrrr
BalasHapus