Selasa, 24 Februari 2015

Surat Cinta dari Seorang Teman : Pintu Pertama

22 Februari 2015

Barangkali aku dan kau sama.  Aku dan kau-kita. Kita adalah orang yang berasal dari koloni evolusi hemisfer dextra. Kita adalah lulusan departemen hipersomnia. Kita adalah agen rahasia dari akademi DLN (Dead Liners). Kita adalah perawan terhadap kantin medika satu. Kita adalah imigran dari kota kubu buku (kalau tidak bisa pulang, kita akan pergi ke toga mas); (untuk sekedar mengobati homesick). Kita adalah pemburu sendok-garpu di restoran Jepang karena payah sumpit. Dan kita adalah Dzawin Rangers yang tertawa melihat humor cerdas paduan pesanteren dan isu masa kini.

Barangkali aku dan kau sama. Jika dihadapkan dengan Harrison dan Ilana Tan, mana yang kau pilih? Jika dihadapkan dengan lembar laporan patologi anatomi dan HVS kosong-yang bisa ditulisi beberapa imajinasi dan delusi fiktif secara bebas-mana yang kau pilih? Atau jika dihadapkan dengan rekaman kuliah dan lagu Taylor Swift, mana yang kau pilih?
Hanya saja, kita sudah memilih pintu pertama dan pilihan pertamalah yang harus kita tinjau terlebih dahulu. Meski sedikit lebih sulit, apakah kita bisa mengabaikannya begitu saja?
Pintu pertama telah terbuka. Pintu itu sudah terlanjur terbuka, meski itu terjadi karena kita sekadar mengintip saja.

Orang tua. Saudara. Tetangga. Teman.

Mereka semua percaya dan menunggu masa depan kita dari sini. Ambil satu contoh. Mas Eja. Dia sakit panas. Demam. Kau bahkan bukan Bye-Bye fever atau paracetamol, tapi dia mempercayakan demamnya-masalahnya, padamu. Bagaimanapun dia percaya bahwa kau mampu diandalkan dan itulah yang akan orang-orang pahami  begitu namamu disebut.
Apa yang paling kau khawatirkan? Darah-ups, maaf. Dokter Martin Ellingham dalam serial Doc Martin juga memiliki Haemophobia sama sepertimu. Dan dokter itu justru nekat bekerja sebagai vascular surgeon di Imperial College London. Memang hanya film. Orang bilang dunia nyata itu berbeda dengan Film! Hei, tapi toh zaman sekarnag semuanya-keduanya-berbeda tipis atau bahkan saling terbalik. Banyak fiksi yang tercipta dari fakta. Dan adapun fakta yang diimbuhi fiksi agar tampak lebih menarik. Kebohongan seakan bukan lagi dosa. Justru tabu jika dunia tetap bertahan sebagai perjaka jujur yang masih belum pubertas.

Karena sebagai manusia, kita daiajarkan untuk selalu bersyukur, maka syukurilah phobiamu itu. Kau berharap untuk tidak melihat cairan itu, lalu bagaiman dengan para dokter yang buta warna? Mereka justru menawarkan apapun demi melihat warna merah. Ada website bernama colourmed.com (kebetulan aku pernah mampir karena curiga apakah aku ini benar-benar normal atau tidak. Abu-abu = oranye), di sana adalah tempat para dokter merindukan warna merah, ingin meliha erytema pada kulit pasien atau warna erytrosit lewat mikroskop binocular. Jadi, apapun itu syukuri saja.

Ingatlah bahwa kata hatimu memilih untuk bertahan di sini. Seperti kata coach Taylor dalam Friday Light Nights : You listen to people that love you and you listen to people that you trust. Most of all, you listen yourself. Jadi, di sinilah kau berada sekarang, berkat kata hatimu sendiri. Kau bukannya salah jurusan atau sedang tersesat. Kau bukannya duduk di kursi yang kebetulan tersisa di sni, tapi kursi itu memang tersedia untukmu. Ada nametag di bagian posterior kursi. Setyani bacanya. Sebenarnya ada imbuhan –Cho di belakangnya, tapi sudah dicoret panitia karena namamu yang dibuthukan harus legal, bukan display name di whatsapp.

Kuberitahu, hidup ini lucu. Katakanlah ada 2 pintu di depanmu.

Satu pintu menuju masa depan sebagai dokter dan satu pintu lainnya berisi impian besarmu yang lain-hal yang benar-benar kau sukai setengah mati dan tidak akan pernah bosan kau lakukan. Lalu kau memilih pintu pertama, mengetuknya (dan Tuhan mempersilahkanmu masuk dengan cara yang paling baik), membukanya, dan mengintipnya sebentar. Kemudian kau masuk dan melihat tempat duduk di tribun depan sudah terisi. Kau melihat ada seorang gadis dengan (katakanlah) baju warna orange abu-abu, dia duduk tidak terallu depan ataupun terlalu belakang, tempat duduk teraman-nyaman yang ada di sana. Dan kau memilih untuk berhenti kemudian duduuk di sebelahnya. Gadis itu mencintai Indonesia, Jepang, dan sekitarnya (baca : Korea Selatan); mencintai Teenlit karena itu membuatnya bertahan untuk berjiwa remaja dan melupakan sejenak beban sebagai orang dewasa; mencintai endorfin yang dihasilkan saat tertawa; serta agak berlebihan dalam beberapa hal.

Setelah berkenalan, kau mulai mendengarkan dokter berbicara di depan sana, dengan background .ppt yang sudah diaktifkan mode slide show-nya. Belakangan, rasanya SONY lebih menarik perhatianmu daripada presentasi yang ada di depan sana. Dan kelihatannya kau mulai bosan dan menyesal sudah memilih masuk ke pintu pertama, bukannya pintu kedua.

Hei, tapi cobalah ingat bahwa kursi itu sengaja disediakan untukmu. Dan kalaupun kau semenyesal itu harus mengikuti jadawl kelewat padat, bisakah kau menganggap, ketika kau membuka pintu itu, kau tidak salah sama sekali? Karena dengan memilih pintu pertama, kau bisa bertemu dengan orang yang duduk di sebelahmu, ET yang mungkin satu planet denganmu dan kau bisa mendengarnya bicara, “Ty, kalau nyanyi itu diikutin nadanya, jangan bikin nada sendiri kayak gitu. Ayo ulangi lagi. Satu-dua-tiga!”

Hidup itu lucu. Tidak ada langkah yang salah. Kau bertemu denganku. Itu langkah yang benar dan kau tidak salah jurusan. Karena kalau kau salah, aku juga salah. Sementara aku tidak merasa salah sama sekali di sini. Semoga.

Kuberitahu sekali lagi. Kau tidak sedang tersesat, Nona. Tetap lihat ke arah depan dan berjalan maju. Akan kuusahakan tetap berada di sebelahmu sampai nanti. Jadi, teruslah berusaha, Kau yang berasal dari Bintang yang sama ...

flazia
 -------------------------------------------------------------------------------------------------

Surat ini aslinya ditulis tangan sebanyak 5 halaman kertas A5, terselip di antara halaman-halaman buku Filosofi Kopi yang dikembalikannya pada hari itu. Saya ketik ulang tanpa mengubah setiap ejaan yang ia gunakan-bahkan yang salah-hanya untuk kepuasan hati, hanya untuk menyerap setiap kata yang menjadi dukungannya buat saya-dengan baik, agar saya mampu mencerna setiap huruf yang ia tulis dengan tulisan khasnya di tiap lembar kertas yang berwarna kuning, yang saya yakin ia sobek dari buku catatan yang selama ini ia pakai untuk menulis hal selain kuliah. Apapun alasannya, termasuk alasan belum menyelesaikan proposal skripsi, saya rasanya senang menerima "kado" yang ia berikan untuk saya. "kado" dukungan moriil yang, jujur saja, sedang sangat saya butuhkan untuk tetap menapak di jalan saya saat ini ...

3 komentar: