Selasa, 31 Desember 2019

Kamis, 19 Desember 2019

menata

aku harus mulai dari mana?

.
.............
.
.
..................

aku harusnya menata pikiranku, menata hati juga, menata prioritas.
setahun belakang, sulit sekali rasanya
terutama ketika menjalani segalanya hanya untuk menggugurkan kewajiban
karena takut akan konsekuensi
mungkin saya sudah lelah sehingga semua prioritas terbalik
ah, saya sudah tidak lagi punya prioritas

Jumat, 13 Desember 2019

Selasa, 10 Desember 2019

bertahan sebentar lagi ya, sayang, setelah hari ini terlewati, tersisa 3 hari lagi ....

bertahan ya ..

Minggu, 08 Desember 2019

At the end of the day, 
You will be alone ...


Berisik

Dunia ini berisik sekali sih
Meski sudah menutup telinga
Rasanya tetap berisik

BERISIK
BERISIK
BERISIK

Bisa diam sebentar tidak? 

Berantakan

Kamarku berantakan
Pikiranku berantakan
Hidupku berantakan

Tapi
Ketika aku mencoba merapikan
Semuanya jadi lebih berantakan

Jumat, 20 September 2019

Selasa, 06 Agustus 2019

Jangan terburu-buru, Tyani.

Kalem. Nggak akan ada yang tertinggal ataupun meninggalkan. Kalem.

Selasa, 30 Juli 2019

mungkin, untuk orang introvert, ada yang lebih menyenangkan dan melegakan ketimbang bercerita pada orang lain; yakni bercerita pada diri sendiri.

Minggu, 07 Juli 2019

pengen ketemu ...

pengen ketemu ibu
pengen ketemu bapak
pengen ketemu mba ucil
pengen ketemu mas ibal
pengen ketemu nikari
pengen ketemu fitri
pengen ketemu  mba khal
pengen ketemu mba sifa
pengen ketemu mba mus
pengen ketemu mba wulan
pengen ketemu mba rima
pengen ketemu mba nea
pengen ketemu disho
pengen ketemu amel
pengen ketemu enes
pengen ketemu mba lita
pengen ketemu ara
pengen ketemu dek nia
pengen ketemu dek adhia
pengen ketemu teh melly
pengen ketemu dek nizam
pengen ketemu bulik utik sama om arif
pengen ketemu kak billa
pengen ketemu maryam
pengen ketemu izzah
pengen ketemu izza
pengen ketemu vilah
pengen ketemu mba henny
pengen ketemu mba triani
pengen ketemu mba aliya
pengen ketemu mba syarof
pengen ketemu anak-anak gycen
pengen ketemu hilya
pengen ketemu itta
pengen ketemu iffah
pengen ketemu reni
pengen ketemu mba alfina
pengen ketemu nadia
pengen ketemu nadiyah
pengen ketemu upi
pengen ketemu atikah
pengen ketemu mba ines
pengen ketemu rena
pengen ketemu naylah
pengen ketemu qonita
pengen ketemu mba arinda
pengen ketemu mba uli
pengen ketemu mba hanifah
pengen ketemu mba rofi
pengen ketemu mba rima
pengen ketemu akhwat fk 2012
pengen ketemu nisa
pengen ketemu kelompok 18103
pengen ketemu nida' sama 'afifah
.
.
maish banyak, tapi pegel ngetik.
pengen ketemu orang-orang.

*kendala anak yang nggak suka ngechat dan telpon....

Jumat, 05 Juli 2019

hidup tidak pernah menjadi mudah, tyani.

kamu yang jadi kuat.



kamu. yang. jadi. kuat.

Rabu, 03 Juli 2019

Bapak #1

[7/3, 04:13] Setyani Nurul Ch.: Bapak
[7/3, 04:13] Setyani Nurul Ch.: Aku capek
[7/3, 04:13] Setyani Nurul Ch.: 😭😭😭😭😭
[7/3, 04:13] Setyani Nurul Ch.: Pengen udahan
[7/3, 04:16] Bapak: Halah
[7/3, 04:16] Bapak: 😁
[7/3, 04:20] Bapak: Ternyata hidup itu ya memang begitu.  Keseharian yg dihadapi ya gitu itu....  Capek,  bosen,  kesel....
Biasanya kalo kena sindrom gini orang2 itu berkawan dg kecapekan,  kebosanan untuk melewatinya..  Ga tau gimana caranya...
Ya memang begitu kemsna pun,  dimanapun,  tetap akan dikejar oleh perasaan itu.
[7/3, 04:21] Bapak: Cuekin aja mereka,  sampe mereka bosen,  capek,  menggoda kita....
[7/3, 04:22] Bapak: 😁😁😁😁👆😍👋👋👋
[7/3, 04:22] Bapak: 🤛👊👊👊🤓

Minggu, 23 Juni 2019

bertemu dengan orang-orang yang berada di inner circle itu mengurangi kecemasan ya ...



Minggu, 09 Juni 2019

Tidak terbiasa #2

Meski sudah setahun lebih dua bulan koas, rasanya masih belum terbiasa dengan segala pernak pernik kekoasan. bertemu dengan -real-life-patient-, berinteraksi dengan perawat dan tenaga kesehatan lain di rumah sakit. Lalu, dipanggil dokter. Semuanya, entah kenapa rasanya masih belu terbiasa.

hari pertama saat masuk stase baru, hari pertama di jejaring, hari pertama setelah libur selalu memberikan rasa cemas yang lebih dari biasanya. Kadang-kadang sampai membuat tidur tidak nyenyak. Sampai kapan ya kira-kira saya akan seperti ini? Apakah setelah koas selesai saya akan terbiasa dipanggil dokter? atau apakah akan sama saja?

Atau jangan-jangan dalam diri saya, saya menolak keadaan saya sendiri/. alias nggak sadar diri atau nggak mau mengakui- kalau tanggung jawab saya bertambah seiring berjalannya waktu. tanggung jawab sebagai tenaga kesehatan. sebagai dokter.

mungkin, seperti biasa, saya berpikir terlalu jauh. Saya udah mikir, setelah iship nanti saya nggak mau kerja di rumah sakit, atau nggak mau jadi spesialis. tapi, yang hari ini saya nggak pikirin. yang hari ini saya nggak nikmatin prosesnya. yang hari ini, meski statusnya koas tapi saya juga punya tanggung jawab berinteraksi dengan -real-life-patient- yang berarti saya juga bisa membuat kondisi pasien lebih baik atau bahkan lebih buruk karena kebodohan saya.

Sejujurnya, di tengah-tengah menjalani koas, saya jadi kehilangan diri saya sendiri, saya jadi bertanya-tanya, saya nih kenapa sih? Saya nih mau ngapain sih koas? katanya saya mau lanjut S2 dan terjun ke komunitas? ngapain sih masih koas? tapi masih mau iship? seberapa butuh sih saya sama gelar dokternya? seberapa butuh sih saya sama surat izin praktik? kemarin kenapa sih saya mau masuk FK?

mungkin, saya lagi masuk masa-masa quarter life crisis dimana saya banyak mempertanyakan langkah yang saya ambil sendiri.. Padahal, harusnya dipikir dan dijalanin. Kalo kebanyakan mikir jadi nggak jalan.

Di saat yang bersamaan, saya jenuh. jenuh dengan koas, jenuh dengan kehidupan koas yang 'hambar' alias nggelinding. Saya sih yang bikin jadi gelinding. ehtapi koas yang nggak gelinfding tuh yang kayak apa ya?

Saya juga jenuh karena sudah terlalu lama berada di suatu tempat. waktu SMP, setelah tiga tahun di solo, saya beranjak ke tangsel, kemudian setelah tiga tahun saya beranjak lagi ke Jogja. dan di Jogja ini, saya sudah enam tahun? hampir tujuh tahun.

tapi gimana ya? saya merasa berkewajiban menyelesaikan apa yang sudah saya pilih. Dan kalaupun saya memilih untuk beristirahat kemudian mundur koasnya, saya nggak yakin saya akan dapat lingkungan yang lebih baik dari ini. udah gitu, semakin saya mundur, bisa jadi saya akan tambah jenuh.

Selain itu ada rasa iri juga sama teman-teman yang sudah mulai bekerja, berkarya dan berpenghasilan.

kehidupan koas tuh membuat saya fokus hanya pada diri saya. fokus untuk urusan terkait akademik lebih tepatnya. (karena toh ibadah dan rawat diri kadang-kadang nggak fokus, apa karena saya yang kurang baik dalam memanage diri?). Saya usreek aja sama urusan itu itu aja. kasus, tutorial, refleksi kasus. itu lagi itu lagi. tapi saya merasa bersalah kalau saya baca hal lain, atau nonton drama misalnya. (meski saya tetep ngelakuin sih, jadi semacam guilty l=pleasure). Sementara, ilmu saya tertinggal di bangku kuliah S1, alias nggak ada yang nyantol. jadi kalo ditanya saya juga nggak banyak tau teori, apalagi praktiknya. terus ujung-ujungnya saya jadi mempertanyakan banyak hal lagi.

Saya lelah bertanya sama diri saya sendiri. toh, saya nggak punya jawabannya juga. Saya lelah merasa tidak terbiasa dengan hal-hal yang biasa ini. Saya lelah hidup dengan pikiran yang berlebihan. Saya ingin menerima diri saya sendiri.

Saya ingin menerima kalau saya itu lagi koas, hidupnya ya berkisar di rumah sakit dengan segala laporan kasusnya, namanya juga mahasiswa profesi. Jangan pefeksionis, tyani. nanti cemas. jangan keras kepala, cuma bikin susah hidup. nggak papa kok nggak bisa jawab pertanyaan konsulen, namanya juga masih belajar. nggak papa juga baca buku lain selain buku fk, diluangkan waktu untuk menambah wawasan. ibadahnya juga, jangan terburu-buru, tidak ada yang mengejar kamu.

Tyani, tenang. kamu punya Allah.
Tidak perlu terburu-buru.
At ta'ani minallahi, wal ajalatu minasy syaithan.

Tidak perlu terburu-buru.

Tidak Terbiasa

meski sudah dua belas tahun bersekolah 'jauh' dari rumah, entah kenapa rasanya tetap tidak terbiasa ketika kemudian harus 'kembali ke sekolah'.

tetap saja rasanya sesak ketika saya salim dengan oang tua untuk kemudian berangkat kembali ke sekolah. nggak sekali dua kali, di perjalanan saya nangis,entah itu di kereta, kalau saya dari depok (ke solo, waktu MTs atau ke Jogja, waktu kuliah) atau bahkan di motor (kalau saya balik dari Salatiga ke Jogja). Udah gitu, di asrama atau di kosan, kadang-kadang saya lanjut nangis lagi.

Saya hampir selalu mengabari kalau sudah sampai di tempat via text. Saya nggak berani nelpon, takutnya jebol. nangis lagi.

Terus, baru saja menjejakkan kaki di sekolah, tapi rasanya sudah ingin kembali ke rumah.

Ah, saya. ingin. pulang.




NB : iya, saya emang secengeng itu.


Selasa, 14 Mei 2019

poblem orang dengan kecemasan berlebihan

rasanya ingin menulis banyak untuk menumpahkan segala kecemasan yang dari kemarin nangkring dan menguasai pikiranku.

tapi, buat menulisnya juga ... kadung cemas duluan sebelum nulis. tapi, tapi, tapi, kalau nggak nulis juga cemas.

Rabu, 08 Mei 2019

"Besok kalau kalian jadi orang tua, jangan pernah ngelarang anakmu pulang. Karena antara kamu yang pulang, sama orang tuamu yang dateng ke kos atau rumahmu itu rasanya beda banget."

-dr Imam, Sp.B di pengarahan orientasi klinik bedah Sardjito.

Minggu, 14 April 2019

Tentang KKN #2

masih sekitar 15 hari lagi KKN.

Once again, I realized that I'm not good at dealing with people.

It;s tiring. meeting new people is tiring. and scary.



Minggu, 24 Maret 2019

Tentang KKN

Sudah berjalan 2 pekan KKN. Ternyata tidak semenyenangkan itu. Pun tidak setidakmenyenangkan itu.

namanya juga hidup, ada menyenangkannya, ada yang tidak menyenangkannya.

H-36 KKN
Desa Serut, Gedangsari, Gunungkidul

Kamis, 21 Maret 2019

Ya Allah, berikan Tyani kesabaran dan ketenangan ...
H-39 Selesai KKN

Senin, 18 Maret 2019

This afternoon
we rode the bicycle
through the wind
and the trees
and the weeds
and rice fields were behind us

the sound of nature
the scent of the wet soilthe cold on the surface of my skin
it seems weird

but it's nice.


H-43 selesai KKN
Desa Serut, Gedangsari, Gunungkidul



Senin, 11 Maret 2019

KKN

akhirnya merasakan KKN juga, hari ini penerjunan. hari ini hari pertama. semoga tidak ada konflik aneh-aneh ataupun yang heboh.


Desa Serut, Gunungkidul.
H-50 selesai KKN

Kamis, 14 Februari 2019

bukan kepencet ataupun salah ketik

nshSBCANJCACSNKLACNCNLBWJBKHQITHPOQETPQEJFKLDNNVDlkNlnvalkndvlankanlksanandiwjiaiawioawriwajsnvnszjvjkzsbvjkzbvkjzvbkjzbvkjdzbkhdajfijiwjojoqropiwopkfopwqjfeknfsancmccbzmnbxcnvbhvsfgakhsslkjdwojoqoroiehteqthiwopjwokpoqkrwmflamwflmalmlkamsklnlsanngkjdgn,nz,bvmxbvslaj;aj'j[fkpw]o]qo0492u194jriowhr38htohaeliengvkzn,zbvjbdfjkshflajwjriajorawj

Rabu, 23 Januari 2019

Semangat :)


Semangat buat besok, pipeeh :))
biar kita foto kayak gini, tapi yang kamu yang pake selempang ..

mari akhiri semua yang membebani. :)
biar kita bahagia ...

mari membahagiakan diri kita, supaya kita bisa bikin orang lain bahagia :)



btw, aku nungguin kamu sidang loh peh buat uplot foto ini wkwk .. (padahal mah pipehnya ga akan baca blog ini juga wkwk) ..

Kamis, 17 Januari 2019

Denial dan Acceptance #2

Sekarang lagi ngetrend 10 year challenge itu ya di sosial media.

Saya jadi ikut ikutan mengingat, 10 tahun lalu saya lagi ngapain, lalu mengingat perjalanan hidup 10 tahun belakang. Kalau 10 tahun yg laku itu tahun 2009, yg berarti itu saya lagi kelas X, lagi unyu-unyu nya jadi anak MA (iya bukan SMA), berarti saya sudah meninggalkan rumah sekitar 13 tahun. WOW. Itu lebih dari separo umur saya.

Kalau membandingkan diri saya sekarnag dan lalu, rasanya, semakin bertambah usia semakin banyak yang dipikirin, sampai hal-hal nggak remeh temeh aja dipikirin. Padahal dulu pas di pondok, pas di IC juga, rasanya beban untuk tetep rengkin atas (pas di pondok), dan beban untuk tetep naik kelas (pas di IC) udah sebesar itu, udh sampe maagh seribg kambuh, udah sampe nangis-nangis bombay. Tapi kalau sekarang, pas flashback ke belakang, wah dulu enak ya, cuma mikir lulus aja. Wkwk.

Kalau sekarang mikirnya udah lebih luas lagi. Tentang diri sendiri yang nggak cuma tentang lulus. Iya lulus juga sih. Mikir habis ini mau kerja apa kuliah lagi, mau nikah kapan, terus tentang dakwah yang seharusnya dilakukan, tentang pilihan-pilihan yang semakin bertaburan.

Lalu, mungkin secara emosional dan kognitif saya berkembang ketika menghadapi ornag yang lebih macam-macam lagi selama di kampus, dari kelompok yang beragam.

Sekarang saya juga semakin sulit menerima diri sendiri. Entah karena apa. Waktu MTs dan MA, ada satu titik puncak setelah denial yang panjang, saya menerima diri saya sendiri. Saya menerima bahkan ketika saya tidak mampu mengerjakan matematika atau pun fisika dengan baik sebagaimana yang saya lakukan saat MTs. 

Tapi saat kuliah, sejak awal hingga sekarang, saya belum menemukan titik penerimaan pada diri saya. Menerima diri saya sebagai mahasiswa FK, menerima dengan legowo bahwa waktu yang saya miliki tidak sebanyak mahasiswa sosial, menerima bahwa saya harus belajar setiap hari, menerima bahwa waktu tidur saya berkurang, menerima bahwa hidup saya bukan cuma punya diri saya, tapi punya pasien, punya orang lain.

Saya belum bisa menerima itu....

Sehingga, setiap harinya saya berantem sama diri saya. Meyakinkan bahwa diri saya harus belajar, tapi pengen tidur. Saya harus ngerjain tugas-tugas, tapi saya pengen main. Lalu saya pengen tilawah tapi tugas masih numpuk, terus saya jadi sering bingung dengan prioritas. Lalu karena bingung, jadi lebih mudah meninggalkan. Tugas ditinggalkan, belajar ditinggalkan, ibadah ditinggalkan. Semua ditinggalkan. Terus saya milih tidur karena itu paling mudah untuk dilakukan.

Lalu paginya saya cemas. Tapi sorenya terulang lagi hal yg sebelumnya. Dan teruuus seperti itu hingga hari ini.

Saya jadi bingung, saya ini ngapain sih? Saya di fk nih ngapain sih? Saya di rumah sakit tuh ngapain sih? Saya koas nih ngapain sih?

Saya terus-terusan denial. Saya pengen menerima diri saya sendiri. Saya sudah sadar nih, cuma tinggal action nya aja yqng susah.

Emang bener ya kata orang, ngomong tuh lbh gampang daripada praktiknya. Teori tuh lebih mudah diucapkan daripada dipraktikan.

Ya Allah, saya pengen balik .... (Ini random sih, tapi saya beneran pengen balik .. ke Allah).

Ditulis di IGD RSA

Jangan membenci, tyani.
diterima aja.

diterima semua kondisinya, diterima aja.

Selasa, 15 Januari 2019

Denial dan Acceptance

kemarin, saat liqo, murabbi saya membahas tentang prokastinasi, salah satu bagian dari sebuah buku, cuma saya lupa bukunya apa.inti bahasannya salah satunya adalah, sebelum menghilangkan dan membenci sikap prokastinasi alias menunda-nunda ini, ya kita terima dulu kalo kita, sebagai manusia, sewajarnya emang punya sifat, bibit, benih prokastinasi. diterima dulu, baru, dibenerin. Kalau kita terus-terusan membenci sifat prokastinasi yang ada dalam diri kita, sifat itu justru ga akan selesai.

kemudian, saya jadi relate. bahwa sampai detik ini saya masih denial kalau saya anak koas, mahasiswa kedokteran, yang waktunya banyak tersita di rumah sakit dan tugas-tugas. saya kelabakan dengan fakta bahwa waktu saya nggak sebanyak dulu lagi. bayangin dong, udah dari jalan setengah koas, yang berarti udah jalan 11 bulan koas, saya masih denial. Apa nggak capek hidup saya?

capek. banget. setiap harinya capek mental menghadapi orang-orang di rumah sakit baik itu konsulen, residen, perawat, pasien, ataupun koas lainnya, capek tugas-tugas, capek jaga, masih capek melawan diri sendiri. ya ampun, berat banget si hidup kamu ty wkwk semua-mua dipikirin.

Apalagi, saya sering berpikiran kalau, nantinya saya nggak akan jadi dokter karena saya punya keinginan yang lain. jadilah saya menyeret langkah dalam menjalani kehidupan koas. saya benar-benar kosong.ilmunya kosong, enggan belajar. spiritualnya juga kosong, bingung beradaptasinya dengan waktu yang emang sempit. saya jadi bingung. lama-lama saya jadi membenci diri saya. saya benci diri saya yang ogah-ogahan belajar, saya benci diri saya yang ogah-ogahan ibadah-terutama sejak koas.

sejak koas, hidup saya berubah 180 derajat. saya jadi banyak bingungnya. kehilangan tujuan juga, lalu sembari menggeh-menggeh untuk catch up dengan yang lain, saya menggeh-menggeh juga untuk catch up dengan diri saya yang dulu, yang paling tidak -amalan yauminya terjalani. thus, saya jadi benci diri saya yang memilih untuk koas ketimbang lanjut S2 IKM, saya jadi membenci diri saya sendiri yang sudah emmilih koas tapi enggan menjalani, atau menjalaninya dengan bodoh plus ogah-ogahan, plus minderan.

Lalu, sejak koas juga saya merasa sering nggak punya waktu untuk diri sendiri, dan itu yang sulit, sementara saya suka banget menghabiskan waktu sendirian, -terutama untuk hal yang nggak berguna, dan untuk menenangkan diri juga pikiran. jadilah saya terus-terusan denial kalo saya udah koas.

saya tanpa sadar sering berpikir bahwa apa yang saya lakukan ini salah. tanpa sadar saya menyesali keinginan saya untuk koas, melupakan tujuan awal saya koas : menaklukan diri sendiri. dan karenanya saya sering berpikir untuk nggak jadi dokter setelah ini, yang berimbas pada semakin ogah-ogahan ngejalanin koas. padahal koas cuma dua tahun kalo dibandingin sama masa S1 yang 3,5-4 tahun, ya ini separonyalah. dan saya juga udah menghabiskan separonya, tinggal separo dari separo. tapi, saya masih gini-gini aja, malah semakin ogah-ogahan. lalu saya jadi semakin membenci diri saya dari hari ke hari.

dan wow, it's tiring. yaiyalah saya capek, tiap hari berantem sama diri sendiri, tiap hari mencemaskan hal-hal yang nggak ada kaitannya dengan hari ini. berpikirnya kejauhan. kejauhan ke depan juga ke belakang. bikin saya terjebak di antara masa depan dan masa lalu, tapi tidak hari ini. padahal, hari ini saya hidup. saya hidup di hari ini. Bukan di masa lalu, juga bukan di masa depan.bahkan, saya nggak tau euy, di masa depan, ketika saya memutuskan untuk melanjutkan jadi dokter atau tidak -apakah saya masih hidup atau tidak.

saya ingin berdamai dengan diri saya sendiri. saya ingin sadar bahwa saya sedang koas, dan menerima seutuhnya hidup saya yang berjalan lebih 'lambat' daripada teman-teman seusia saya. saya ingin bisa menerima diri saya tanpa membencinya. menerima diri saya pencemas, mudah panik, dan segala keburukan lainnya.

saya ingin menerima diri saya.

Rabu, 09 Januari 2019

Sudah Januari (lagi)

saya mau cerita, ngalor ngidul ... jadi,

Januari sudah berlalu 9 hari ... wktu saya di stase IPD, saya ingat pernah bilang kalau sampai akhir tahun (2018) saya masih ogah-ogahan belajar buat koas, kayaknya saya nggak jadi dokter aja, daripada membahayakan nyawa banyak orang.

And here I am. Sudah Januari, masih belum mau belajar. Masih merasa koas nggelinding aja nggak papa. Masih ogah-ogahan untuk berangkat koas. Dan bahkan sudah kehilangan tujuan kenapa saya mau koas.

kemarin, saat kajian rutin di kosan (iya, di kosan saya kajian rutin per bulan), pengampu materi sempat menyinggung bahwa dalam Al-Quran Allah sudah -entah berapa kali mengulang agar manusia menggunakan akalnya. untuk berpikir, untuk menjadi lebih baik, untuk beribadah pun untuk menjadi khalifah di muka bumi.

Rasanya saya tertohok. Saya, sejujurnya, belum pernah menggunakan akal saya dengan maksimal. Saya udah nggak tau lagi batasannya apakah saya sekadar malas, apakah saya cemas sehingga saya menunda segalanya, apakah saya panik sehingga merasa tidak mampu mencerna semua materi yang harusnya saya pelajari atau apa?

saya sering berpikir untuk kembali ke psikolog lagi. entah, mungkin butuh katarsis. dan juga penanganan. terutama untuk kecemasan yang setiap hari datang tanpa henti. Dan mengalahkan diri saya. Saya jadi takut berbicara, saya jadi merasa rendah, merasa tidak berguna.

belakangan saya juga lebih sering meninggakan amalan yaumiyyah. membuat amalan yang emang sudah bolong-bolong menjadi semakin lebar bolongnya. Saya merasakan benar-benar, betapa mudahnya meninggalkan ibadah, dan betapa sulitnya membangun kebiasaan itu kembali.

Sesungguhnya saya rindu. rindu sama Allah, rindu ke kajian, dan berkumpul dengan orang shaleh. benar-benar ya ketika kewajiban tersisa perkara akademik, profesi lagi, rasanya futurnya bisa sebegitunya. sulit mencari waktu shalat, shuit mencari waktu ke kajian, nggak ada temen seperjuangan yang sekufu, sulit nyari waktu liqo. apalagi waktu awal-awal liqo saya semept nggak liqo, karena waktunya nggak pernah match. dimana saat itu saya jadi bingung, saya harus memprioritaskan saya sendiri atau teman-teman seliqo? sejak saya lama nggak liqo itu (sekarang udah mulai teratur lagi sih), saya jadi berhenti membaca berita dan update informasi, khawatir tidak mampu memfilter informasi dengan logika iman yang semakin terkikis. tapi ternyata, hal yang seperti ini berimbas pada keapatisan yang semakin menjadi-jadi.

Ah, saya merasa sedang menyalahkan situasi dan orang lain. saya pengen sih nyalahin diri sendiri-kayak biasanya, kayak, ah tyani, kamu nih imannya kurang kuat, ibadahnya kurang kenceng, dan segala kurang-kurang lainnya. tapi entah mengapa, saya capek. saya capek luar biasa, physically, mentally, emotionally. saya rasanya kangen sama masa dimana saya masih berusaha mengejar ketertinggalan, berusaha menjadi baik setiap harinya. sementara, hari ini, bahkan saya sudah malas memikirkan jalannya hari esok, saya sudah malas berpikir. padahal saya tahu, nggak akan ada yang memikirkannya untuk saya (menurut ngana?).

belakangan saya pengen pulang. bukan apa-apa, cuma pengen dukungan moral aja. hatinya lagi sempit, imannya lagi jatuh, pikirannya lagi dangkal. pengennya ngeliat bapak ibu mbak mas yangjuga sama-sama berjuang setiap harinya. kalo di kos, setiap pulang dari rumah sakit dan kembali ke kosan, terus mentok dinding, ujung-ujungnya main hp, for fun. tanpa ada unsur pencerdasan sama sekali. kadang-kadang saya malah cenderung menghindari hal-hal edukasi di hp.

saya jadi inget aktu ketemu mbak syarof tempo hari. waktu itu saya bilang, 'mbak, saya nih udah terlalu jauh nyasarna. saya rasanya pengen pulang. tapi saya nggak tau jalannya, atau mungkin saya udah lupa.' (bayangin dong, orang udah mau nikah, masih saya repotin. orang yang udah nikah aja masih saya repotin macam mbak mus dan mbak wul wkwkw, apalagi yang baru mau nikah). Mbak syarof bilang,  'sebenernya kamu udah tau ty, jalan pulangnya. kamu cuma butuh diingetin aja'.

mungkin memang iya. berhubung, selama koas beberapa bulan ke belakang, saya jarang sekali berkumpul dengan orang shaleh macam mbak syarof, dan mbak-mbak lainnya, atau teman-teman liqo, sehingga, nggak ada yang ngingetin saya. ya udah, akhirnya saya terus aja jalan, wandering ke sana kemana. kemana coba?

sesungguhnya saya capek. saya ingn ketenangan. ketenangan yang saya dapat dari kepecayaan saya ke Pencipta saya, Yang Menggenggam takdir saya. Saya ingin ketenangan yang saya dapatkan dari kecintaan saya sama Tuhan saya, yang saya sembah setiap hari, yang saya panggil kalo sayalagi bingung, kaget, sedih, gembira. saya ingin ketenangan dari Kewibawaan Allah yang setiap hari melingkupi dunia yang kecil ini.

saya pengen balik. meski dengan menyeret langkah. tolong tarik saya, dong, siapapun, supaya saya nggak merasa sendirian, dan akhirnya tergeletak begitu aja. 

saya ingin ketenangan ketika saya harus belajar, membaca, di rumah sakit, maupun di kosan. saya tau sih, kalau wktu konsentrasi saya belakangan sangat bekurang, mungkin ada faktor dari kecemasan-kecemasan saya berperan di dalamnya. saya juga jadi mudah lupa, apalagi kalo ditanya konsulen. efek saya cemas, panik, serta minder. udah jadi satu paket lengkap. kalo udah kayak gini, mau udah belajar semalemnya juga tetep aja nggak bisa jawab.

saya capek ngerasa begini. saya capek ngomong saya capek. setiap hari saya ngomong saya capek. setiap telpon rumah, ngechat rumah, ngecah mbak, mas, juga isinya sama, cuma bilang saya capek. wkwk. mungkin yang baca dengerin juga sama capeknya sama saya ngeliat/denger saya ngomong capek.

saya pengen belajar (lagi). saya pengen tidak tebruru-buu dan kemrungsung. saya ingin tenang. dari tenang, saya ingin bisa berani. dari berani, saya ingin bermanfaat untuk orang lain. supaya capek saya Lillah. supaya, perjuangan saya selama ini nggak menguap begitu aja.

Ya Allah, saya mau ketenangan. Juga keberanian.

Ya Allah, maaf ya, saya kerjannya ngeluh mulu, nggak habis sholat,, sehari-hari, di blog, dimanaaaapun. maaf ya Allah ... saya juga maunya nggak ngeluh. tapi susah ternyata. jadi baik itu susah.

pengen jadi invisible men. haha (random sekali sih ini).

yasudah, saya banyak tugas, tapi malah milih ngeblog. ya karena tadi capek itu sih wkwk ... yasudahlah. saya capek ngomong capek. sebelum keluar lagi katanya, kayaknya harus mengakhiri tulisan ini di sini.

Ya Allah, saya ingin ketenangan. juga keberanian.