Meski sudah setahun lebih dua bulan koas, rasanya masih belum terbiasa dengan segala pernak pernik kekoasan. bertemu dengan -real-life-patient-, berinteraksi dengan perawat dan tenaga kesehatan lain di rumah sakit. Lalu, dipanggil dokter. Semuanya, entah kenapa rasanya masih belu terbiasa.
hari pertama saat masuk stase baru, hari pertama di jejaring, hari pertama setelah libur selalu memberikan rasa cemas yang lebih dari biasanya. Kadang-kadang sampai membuat tidur tidak nyenyak. Sampai kapan ya kira-kira saya akan seperti ini? Apakah setelah koas selesai saya akan terbiasa dipanggil dokter? atau apakah akan sama saja?
Atau jangan-jangan dalam diri saya, saya menolak keadaan saya sendiri/. alias nggak sadar diri atau nggak mau mengakui- kalau tanggung jawab saya bertambah seiring berjalannya waktu. tanggung jawab sebagai tenaga kesehatan. sebagai dokter.
mungkin, seperti biasa, saya berpikir terlalu jauh. Saya udah mikir, setelah iship nanti saya nggak mau kerja di rumah sakit, atau nggak mau jadi spesialis. tapi, yang hari ini saya nggak pikirin. yang hari ini saya nggak nikmatin prosesnya. yang hari ini, meski statusnya koas tapi saya juga punya tanggung jawab berinteraksi dengan -real-life-patient- yang berarti saya juga bisa membuat kondisi pasien lebih baik atau bahkan lebih buruk karena kebodohan saya.
Sejujurnya, di tengah-tengah menjalani koas, saya jadi kehilangan diri saya sendiri, saya jadi bertanya-tanya, saya nih kenapa sih? Saya nih mau ngapain sih koas? katanya saya mau lanjut S2 dan terjun ke komunitas? ngapain sih masih koas? tapi masih mau iship? seberapa butuh sih saya sama gelar dokternya? seberapa butuh sih saya sama surat izin praktik? kemarin kenapa sih saya mau masuk FK?
mungkin, saya lagi masuk masa-masa quarter life crisis dimana saya banyak mempertanyakan langkah yang saya ambil sendiri.. Padahal, harusnya dipikir dan dijalanin. Kalo kebanyakan mikir jadi nggak jalan.
Di saat yang bersamaan, saya jenuh. jenuh dengan koas, jenuh dengan kehidupan koas yang 'hambar' alias nggelinding. Saya sih yang bikin jadi gelinding. ehtapi koas yang nggak gelinfding tuh yang kayak apa ya?
Saya juga jenuh karena sudah terlalu lama berada di suatu tempat. waktu SMP, setelah tiga tahun di solo, saya beranjak ke tangsel, kemudian setelah tiga tahun saya beranjak lagi ke Jogja. dan di Jogja ini, saya sudah enam tahun? hampir tujuh tahun.
tapi gimana ya? saya merasa berkewajiban menyelesaikan apa yang sudah saya pilih. Dan kalaupun saya memilih untuk beristirahat kemudian mundur koasnya, saya nggak yakin saya akan dapat lingkungan yang lebih baik dari ini. udah gitu, semakin saya mundur, bisa jadi saya akan tambah jenuh.
Selain itu ada rasa iri juga sama teman-teman yang sudah mulai bekerja, berkarya dan berpenghasilan.
kehidupan koas tuh membuat saya fokus hanya pada diri saya. fokus untuk urusan terkait akademik lebih tepatnya. (karena toh ibadah dan rawat diri kadang-kadang nggak fokus, apa karena saya yang kurang baik dalam memanage diri?). Saya usreek aja sama urusan itu itu aja. kasus, tutorial, refleksi kasus. itu lagi itu lagi. tapi saya merasa bersalah kalau saya baca hal lain, atau nonton drama misalnya. (meski saya tetep ngelakuin sih, jadi semacam guilty l=pleasure). Sementara, ilmu saya tertinggal di bangku kuliah S1, alias nggak ada yang nyantol. jadi kalo ditanya saya juga nggak banyak tau teori, apalagi praktiknya. terus ujung-ujungnya saya jadi mempertanyakan banyak hal lagi.
Saya lelah bertanya sama diri saya sendiri. toh, saya nggak punya jawabannya juga. Saya lelah merasa tidak terbiasa dengan hal-hal yang biasa ini. Saya lelah hidup dengan pikiran yang berlebihan. Saya ingin menerima diri saya sendiri.
Saya ingin menerima kalau saya itu lagi koas, hidupnya ya berkisar di rumah sakit dengan segala laporan kasusnya, namanya juga mahasiswa profesi. Jangan pefeksionis, tyani. nanti cemas. jangan keras kepala, cuma bikin susah hidup. nggak papa kok nggak bisa jawab pertanyaan konsulen, namanya juga masih belajar. nggak papa juga baca buku lain selain buku fk, diluangkan waktu untuk menambah wawasan. ibadahnya juga, jangan terburu-buru, tidak ada yang mengejar kamu.
Tyani, tenang. kamu punya Allah.
Tidak perlu terburu-buru.
At ta'ani minallahi, wal ajalatu minasy syaithan.
Tidak perlu terburu-buru.
Peluk tyani sambil berlinang air mata.. semoga Allah kuatkan dan Allah mudahkan selalu ya tii :")
BalasHapus