Well, jadi di sini gue mau
menjawab beberapa pertanyaan yang sering diajukan oleh anak-anak SMA ataupun
anak-anak yang penasaran sama mahasiswa FK. Yah, kalo ada jawaban yang
ngaco-ngaco ya maap, soalnya gue juga
bukan mahasiswa FK yang baik wkwkwkwkwk ..
Q1 : Masuk FK susah nggak sih?
A1 : Nggak. Serius nggak, tinggal
masuk gerbangnya aja, bahkan kamu nggak perlu izin satpam.
Q2 : Maksudnya, ujian masuknya susah nggak?
A2 : Nggak, susahan keluarnya.
Soalnya ujian masuknya kan sama kayak fakultas lain dari rumpun IPA. Yang diuji
juga hampir kayak UN SMA, walaupun nggak semua yang diujikan di UN itu bakal
kepake di kuliah.
Q3 : keluarnya susah tuh maksudnya gimana?
A3 : Iya soalnya, pas mau lulus
itu harus bikin skripsi, terus nggak berhenti sampai situ, karena masih ada
ujian OSCE (ujian praktik keterampilan medis) komprehensif, yang menguji
keterampilan medis kita yang udah diajarin sejak semester satu sampe semester
akhir, terus ada juga UKDI atau Ujian Kompetensi Dokter Indonesia, yah semacam
UN-nya dokter lah, yah, maksudku orang ujian perblok aja belom tentu bagus
nilainya, ini harus ngulang semua blok, yah begitulah …
Q4 : Di FK itu belajarnya ada yang pake mayat
ya?
A4 : Iya, untuk di lab anatomi. Di
FK ada semboyan “mortuis vivat docent” yang artinya mayat-mayat yang menemani
belajar anatomi ini adalah dosen kita juga, dengan cara yang lain. Kalau
dosen-dosen yang lain mengajarkan dengan berbicara, kalau mereka, atau kita
menyebutnya ‘cadaver’ mengajarkan kita melalui setiap pengetahuan yang ada di
setiap jengkal tubuhnya. Makanya, setiap dari mahasiswa FK wajib menghormati cadaver, sebagaimana kita menghargai dosen-dosen lainnya.
Q5 : Ntar, ada sesi megang-megang mayat gitu?
A5 : Well, kalau itu tergantung
kebijakan universitasnya. Kalau di kampusku nggak boleh, yang punya hak untuk
ngutak ngatik cadaver itu hanya dokter, dosen, dan asisten dosen. Mungkin takut
malah tambah ancur kali ya hehehe, jadi buat yang statusnya mahasiswa biasa Cuma
dapet kesempatan belajar melalui melihat bagian-bagain yang udah diseksi (dipotong,
dibuka, dll) sama yang berwajib, begitu …
Q6 : Susah nggak sih pelajarannya FK? Katanya
berat ya kuliah di sana?
A6 : Susah atau nggak itu
relatif. Kalo kayak aku yang kesasar, menurutku pelajarannya susah semua
hehehe. Tapi, kayak pelajaran SMA aja, pasti ada yang susah ada yang gampang
bagi yang menjalaninya. Nah, kalau berbiccara dari disiplin ilmu yang beda,
jelas semuanya jadi susah. Sama aja kayak anak FK ngeliat pelajarannya anak
teknik, pasti juga nggak ngedong.
Berat atau nggak itu … menurutku
yang menjadikannya berat adalah tanggung jawab sebagai mahasiswa kedokteran
yang nantinya akan menjadi dokter. Karena dokter akan-istilah kasarnya-‘bermain-main’
dengan nyawa manusia, ya kalau kita sebagai mahasiswa kedokteran nggak dengan
serius mempelajarinya, nantinya pas udah jadi dokter, malah beneran Cuma main-main
lagi …
Q7 : Masih bisa pergi main nggak sih sejak
jadi mahasiswa kedokteran?
A7 : Masih. Masih banyak kok, di
kampusku, yang menyempatkan diri untuk main di weekend-bahkan ke luar kota. Di sela-sela
weekdays juga masih ada yang bisa main kok, tapi biasanya liat-liat juga jadwal
kuliah besok, ya kalo ada responsi praktikum (ujian praktikum) ya, nggak usah
anak FK, anak fakultas lain juga niscaya nggak bakal pada maen.
Q8 : jadi mahasiswa kedokteran masih bisa
berorganisasi nggak, baik di skala fakultas, universitas, ataupun skala yang
lebih luas?
A8 : Masih. Kalau di kampusku,
kalau kita anak FK pasti dapet toleransi yang gede. Tapi, nantinya tetp harus
sepinter-pinternya kita ngatur waktu. Kalau di fakultaku, banyak banget lembaga
mahasiswa, jumlahnya mencapai 13 lembaga kalau nggak salah, dengan seratus
sekian proker dalam setahun. Tuh, masih bisa kan kita ngadain aacara-acara
sekalipun mahasiswa FK? Ya cumannya, kelemahan lembaga di FK, terutama di
kampusku, kalau udah masuk minggu ujian, tiba-tiba sepi gitu orang-orangna,
kalau lagi rapat rutin yang tersisa tinggal segelintir orang yang termasuk
dalam orang-orang yang nggak khawatir sama akademik, seperti orang yang super
cerdas, sama orang yang super pasrah, kayak saya hehehe….
Pun juga untuk organisasi extrakampus,
masih bisa kok dijalanin, lagi-lagi balik ke diri sendiri, kita bisa nggak atur
waktunya? Toh, pada kenyataanya saya banyak kenal anak-anak FK yang aktif, baik
di dalam maupun di luar kampus, tapi IPK nya masih di atas rata-rata …
Q9 : Emangnya organisasi itu nggak ganggu
akademik?
A9 : Kan, udah dibilang
tergantung masing-masing orang. Kalau kita menganggapnya mengganggu, ya akan
jadi beneran ganggu. Tapi, kalau buat aku pribadi, waktu organisasi itu, kita
bisa dapet poin ‘belajar berorganisasi’ `belajar berinteraksi dan berkomunikasi’
(well, sebagai seorang calon dokter, kita dituntut untuk bisa berkomunikasi dan
berinteraksi dengan baik), dan ‘belajar akademik’. Lhah kok bisa? Hehehe …
Ya, karena temen-temen di organisasi
banyak yang lebih rajin belajar dan lebih pinter daripada aku pribadi, jadinya
mau nggak mau, kalo lagi ngale-ngale (ato kalao bahasanya temenku, ngaso) di
sekre lembaga, jatohnya pada review materi atau belajar buat praktikum yang
akan dateng, akhirnya aku juga jadi belajar-secara nggak langsung. Begitulah kira-kira..
Q10 : Kuliah di FK lama ya? Berapa tahun
kira-kira? Terus, kalau lama gitu kapan nikahnya?
A10 : Iya, kuliahnya lama. Kalo
di kampusku kuliah S1 nya 3,5 tahun, itu murni, tapi kalo nanti harus ngulang
mata kuliah atau penelitian skripsinya lama, yah itu bisa mundur entah sampai
kapan. Terus, setelah itu koass atau dokter muda selama ±2 tahun
berpindah-pindah dari satu klinik/rumah sakit ke klinik/rumah sakit lainnya. Habis
itu masih ada internship atau magang selama ±1 tahun. Baru bisa diakui sebagai
dokter umum. Jadi untuk bisa resmi jadi dokter umum perlu waktu 6,5 tahun
kurang lebih.
Kalau nikah? Itu urusan lain …
hehehehe .. toh nggak ada larangan mahasiswa, atau koass, atau dokter
internship untuk nikah kok … :P

