Tampilkan postingan dengan label keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label keluarga. Tampilkan semua postingan

Minggu, 09 Juni 2019

Tidak Terbiasa

meski sudah dua belas tahun bersekolah 'jauh' dari rumah, entah kenapa rasanya tetap tidak terbiasa ketika kemudian harus 'kembali ke sekolah'.

tetap saja rasanya sesak ketika saya salim dengan oang tua untuk kemudian berangkat kembali ke sekolah. nggak sekali dua kali, di perjalanan saya nangis,entah itu di kereta, kalau saya dari depok (ke solo, waktu MTs atau ke Jogja, waktu kuliah) atau bahkan di motor (kalau saya balik dari Salatiga ke Jogja). Udah gitu, di asrama atau di kosan, kadang-kadang saya lanjut nangis lagi.

Saya hampir selalu mengabari kalau sudah sampai di tempat via text. Saya nggak berani nelpon, takutnya jebol. nangis lagi.

Terus, baru saja menjejakkan kaki di sekolah, tapi rasanya sudah ingin kembali ke rumah.

Ah, saya. ingin. pulang.




NB : iya, saya emang secengeng itu.


Rabu, 30 Agustus 2017

Oleh-oleh dari Cangkrukan #1

Tanggal 18-20 Agustus lalu saya berkesempatan menjadi volunteer di acara Cangkrukan sebagai tim P3K. Cangkrukan ini semacam sebuah family camp yang diadakan sama Om Dodik, Bulik Septi beserta anak-anaknya. Acaranya ngapain aja? Secara umum, dalam pelaksanaannya, seluruh peserta dibagi menjadi tiga kelompok : kelompok orang tua, yang acaranya sebagian besar adalah lecture ataupun sharing baik dari Om Dodik, Bulik Septi, Dek Enes, ataupun Ibu-Ibu/Bapak-Bapak yang hadir sebagai peserta maupun undangan; Kelompok remaja yang tampil dengan nama beken (jiaaah) teenchanger yang difasilitatori oleh Dek Elan; yang terakhir adalah kelompok krucils di kids corner yang didampingi oleh kakak-kakak dari Sekolah Lebah Putih, Salatiga.

Pada kelompok orang-orang tua bahasannya adalah tentang homeschool ataupun home based education, sebagaimana ranah konsentrasi Bulik Septi dan Om Dodik. Benar-benar kupas tuntas homeschool. Mulai dari kenapa homeschool? untung ruginya, kekhawatiran orang tua, dan sebagainya dan sebagainya. Pada saat Kamtasia (kemping keluarga di tahun 2016 dengan bahasan community based education, dengan penyelenggara yang sama, kebetuan saya juga menjadi volunteer P3K saat itu) padat lecture, tapi saat cangkrukan, sebagai mana namanya cangkrukan -yang kalau diartikan ke bahasa indonesia secara bebas artinya ngobrol bareng; lebih banyak nyangkruknya. Mungkin kalo bahasanya mas-mas dan mbak-mbak mahasiswa 'lebih banyak diskusi'nya gitu kali ya hehe.

Pada kelompok TeenChanger, mereka membuat project yang dari tema sampai projectnya apa ditentukan oleh mereka sendiri. Belajar bertanggungjawab. Kelompok ini didampingi oleh Elan yang juga sama-sama remajanya. Di Cangkrukan mereka dibagi ke beberapa kelompok untuk bikin project video tentang boardgame? (iya itu tanda tanya karena saya juga nggak ngeh banget apa yang mereka kerjakan, dan penjelesan Elan waktu presentasi agak njlimet haha).

Dan terakhir di kids corner isinya dedek-dedek krucils, yang bener-bener krucils (sekitarusia di bawah 10 tahun), mereka bersenang-senang bermain, outbond bersama kakak-kakak lebah putih.

Terus saya ngapain di sana? Haha.
Ini kali kedua saya jadi volunteer. Yang pertama saya jadi volunteer P3K juga di acara Kamtasia, acara sejenis cangkrukan juga, hanya pokok bahasannya aja yang beda. Waktu Kamtasia, saya dateng telat karena suatu hal, jadi acara udah mulai, saya baru dateng. Percaya deh dateng telat dalam suatu acara itu nggak enak, karena kita jadi kehilangan kesempatan untuk kenal dengan orang-orang lain. Saat orang-orang udah mulai kenal, terus kita baru kenalan-kenalan padahal itu udah masuk agenda lain, kan jadi nggak enak.

Waktu Kamtasia juga, di hari kedua saya nggak full di salatiga karena kudu LPJ-an, jadi saya pergi pagi balik siang Salatiga-Jogja, vice versa. Dan karena perjalanannya aja Jogja Salatiga aja udah makan waktu 2 jam sendiri, jadi hari kedua bener-bener saya nggak banyak ikut. Tapi Alhamdulillah, pas cangkrukan ini saya bisa ikut full. Dan qadarullah, pas kamtasia nggak banyak yang perlu diobati; sementara pas cangkrukan ini luar biasa para krucils itu. Haha. Nggak jarak jauh, udah ada aja yang ngehampirin, 'Mbak, mbak itu ada yang kakinya berdarah..' mulai dari lecet kena besi, lecet kepleset, lecet nggak tau kenapa habis shalat (ini yang nangis paling heboh, haha), lecet yang nggak tau udah sejak kapan (ini bahkan bocahnya ngegunting sendiri kulitnya yang sobek, luar biasa emang), yang kukunya sempal, lecet kegasruk, dan lecet-lecet lainnya. di akhir, masih sisa beberapa obat oral karena emang yang minta obat demam, alergi, obat maagh nggak banyak. yang berkurang banyak adalah betadin, kassa, hypafix, plester, kapas. Alhasil, melihat tolak angin junior yang masih utuh, kita-kita selaku volunteer merasa perlu menghabiskan dan mengemilnya, haha.

Di Cangkrukan ini juga saya ketemu dan kenalan sama banyak orang keren yang mungkin sebenrnya pas kamtasia kita udah ketemu, tapi ya karena lalalili, akhirnya saya baru benar-benar mengenal mereka sekarang. Ada tim volunteer lainnya selain saya sama 'Afifah (sebagai partnert di tim medis, yang akhirnya nyasar bantu-bantu di administrasi, ya saya juga sih ahaha), ada Lyris sama Lintang, usia 14 tahun yang sekarang sedang menjalani homeschooling. Dan kalau nanya anak homeschooling itu bukan tanya kelas berapa?, melainkan tanya, sekarang lagi belajar apa? Selidik punya selidik, Lyris ini lagi belajar musik, piano, biola, juga seni tari; di samping dia preparing untuk ambil ujian paket B biar dapet ijazah SMP aja. Begitu juga Lintang, eh tapi Lintang sedang mendalami seni rupa. Dan ketemu Lintang tuh langsung klop karena sesama penyuka anime dan manga. Hahaha. Mendadak heboh begitu kita tau sesama otaku.

Saya jadi kenal mbak-mbak pegawai di Padepokan Margosari (tempatnya Bulik Septi), ada Kak Anie dan Kak Yusti bagian administrasi, ada Kak Erma (yang ternyata seumuran --a) di Edutrip (start up di bidang trip edukasi gitu, tapi ke area-area yang emang di Salatiga ataupun punya komunitasnya Bulik Septi, semacam ke lebah putih, dll), ada Kak Noor di Teti (start up yang membuka coding course yang menyenangkan?; well, buat saya tetep aja kalo ada angkanya jadi bingung haha, tapi boardgamenya teti seru deh, saya sempet main bareng-bareng volunteer).

Kenal sama beberapa tante dan om peserta cangkrukan yang luar biasa. Ada tante (siapa ya namanya ya? haha) yang share tentang bagaimana beliau membuat kurikulum di rumahnya untuk anak-anaknya yang homeschooling dengan metode gamification. Dan tante-tante dan om-om lainnya yang juga menyulut semangat belajar saya hanya dengan memperhatikan mereka. Mereka luar biasa. Saya yakin biaya yang dikeluarkan untuk family camp itu nggak sedikit. Apalagi, di Cangkrukan semua fasilitas disediakan, tenda, matras, sleeping bag, makan, coffee break, minum dan galon, kit yang isinya kaos, tote bag dan notebook. Bisa dibilang keluarga dateng udah tinggal bawa perlengkapan pribadi, sama diri aja. Ya kalo mau bawa cemilan-cemilan itu mah bebas ya. Haha.

Dengan seringnya saya berinteraksi dan bersinggungan dengan Bulik Septi, keluarga dan acaranya, saya jadi sedikit banyak memahami tentang homeschooling, dan terjawab pula beberapa pertanyaan yang umum muncul, semacam, nanti kalo homeschooling, anak-anak interaksinya gimana? homeschooling mahal kan ya karena harus menghadirkan guru ke rumah? (itu homeschooling atau privat bu? haha) Nanti menyusun kurikulumnya gimana? Dan sebagainya dan sebagainya.

Jarang sekali ada kesempatan dimana kamu dapat ilmu luar biasa banyak, luar biasa keren, dan secara gratis. (iya, saya masuk secara gratis sebagai volunteer, dengan syarat membantu penanganan pertama orang-orang yang sakit, itu aja.). Dan saya merasa betapa luar biasanya hal itu. Alhamdulillahnya, saya ditemani 'Afifah sebagai partnert. 'Afifah adalah teman saya sejak SMA, konco kentel bangetlah. Dan 'Afifah ini teman luar biasa untuk diajak ngobrol dan berkontemplasi. Jadi, setelah sehari selesai, kemudian ada masa dimana saya ngobrolin materi hari sebelumnya sama 'Afifah, mengkontemplasikan dan mengkorelasikan dengan hal-hal yang sudah kami terima selama ini.

well, Sekian dulu catatan oleh-oleh dari Cangkrukan. Semoga berkesempatan menulis bagian kedua (dan ketiganya kalau ada).

 

Jumat, 11 Agustus 2017

Jakal dan Margonda

Belakangan, jakal mengingatkan saya pada jalanan margonda. Macet, penuh mobil, juga penuh motor. Terutama di jam-jam berangkat kerja dan sekolah juga pada jam-jam pulangnya.

Sekesal-kesalnya saya, meski saya badmood juga kalo udah macet di jakal, tapi rasanya saya jadi bisa bernostalgi tentang depok -yang udah lama tidak saya lihat. Meski jelas beda. kulturnya juga beda. but, somehow saya jadi kangen sama Depok.

Saya jadi ingat temen-temen IC yang kerja di jabodetabek, ya mereka-mau nggak mau-menikmati kemacetan jabodetabek, apalagi mereka berangkat dan pulang bersamaan. rush hour. Mau kesel atau badmood juga, gimana gitu? Orang udah jadi makanan tiap hari.

Kalau ada orang bilang, kok mau sih tinggal di jabodetabek? kan macet. Saya juga nggak tau harus jawab apa. Saya udah tinggal di sana sejak sebelum lahir. Jadi, saya menikmati Depok dan segala kemacetannya. Because it just what makes depok become depok. Dan itu berlaku pada semua jabodetabek.

Haha, mungkin karena saya nggak tinggal setiap hari di depok? Haha. Jadi saya bisa menikmati kemacetan Depok yang jarang banget saya nikmati. Saya jadi belajar, semakin terbiasa kita pada suatu keadaan, semakin kita tidak bersyukur. Eh, semakin sulit kita bersyukur. Misal, kita terbiasa makan enak, terus karena setiap hari kita makan enak, seringkali kitanya jadi luput untuk bersyukur akan makanan yang kita makan setiap hari itu.

Dari situ juga saya jadi paham kenapa Allah menyuruh orang muslim untuk hijrah, Rasulullah mencontohkan, ulama terdahulu pun. Karena berdiam pada suatu kondisi dalam jangka waktu lama membuat kita jadi nyaman pada kondisi itu, dan bisa bikin kita jadi luput untuk mensyukuri hal-hal kecil.

Ah, saya rindu depok.

Sabtu, 31 Desember 2016

Mencapai Ujungnya #2

Sementara saya bengong, bimbang, bingung, waktu tetap berjalan. Semakin terasa cepat setiap harinya. Tau-tau, 2016 sudah mencapai ujungnya.

Sementara TV saya menyala menyetel film High Strung, laptop saya memutar lagu-lagu pentatonix, dan HP bergetar perkara notif-notif yang entah penting entah tidak, waktu tetap berjalan. Pun ketika saya menulis atau pun tidak.

2016 sudah mencapai ujungnya.

Sepanjang tahun 2016 ini, rasa cemas dan depresi silih berganti datang. Ya, pokoknya kondisi saya kalau tidak sedang cemas ya sedang depresi. Kadang-kadang saya mual, kadang-kadang saya muntah. Sesekali pula menangis tanpa sebab. Sesekali yang lain saya cuma diam menghadap laptop. Sesekali ingin berteriak kencang. Sesekali hanya berguling-guling.

Saya merasa tidak bergerak sesenti pun dari sejak saya masuk tahun 2016 hingga kini. Skripsi saya gitu-gitu aja. Blog pun jarang terisi. Bimo forsalamm nggak maju-maju juga. Urusan di FLP pun begitu-begitu aja. Saya banyak menghilang tahun ini. Menghilang dari peredaran sosial media mau pun forum-forum ketemu langsung. Kapasitas diri pun tidak banyak ter-upgrade. Kalau sudah seperti ini, jangan tanya soal ruhiyah dan tarbawi.

Saya banyak nggak jujur sama diri saya tahun ini. Saya banyak menyalahkan diri saya sendiri tahun ini. Saya banyak iri dengan orang lain tahun ini. Saya membenci diri saya sendiri tahun ini. Saya banyak nggak bersyukur tahun ini.

Dan saya merasa sangat buruk rupa tahun ini.

Saya melupakan betapa menyenangkannya menulis. Membayangkan setiap adegan dalam kepala dan menceritakannya kembali pada khalayak melalui tulisan.Yang ada di kepala saya cuma dua ; (1) kenapa saya sangat nggak mau ngerjain skripsi (sampai pada taraf 'rasanya pengen nggak lulus aja'), dan (2) gimana caranya ngejalanin amanah saya tanpa merasa bahwa itu beban?

well, tapi saya ngerasa ya hal-hal itu pada akhirnya cuma ngeblunder di kepala. Saya lari terus dari kenyataan. Saya lari dari amanah, saya lari dari skripsi. Saya lari dari diri sendiri. Saya nggak pernah benar-benar ambil langkah ataupun sikap terhadap diri saya. Katanya, kalau kita nggak keras sama diri kita sendiri, lingkungan akan keras pada kita. Dan, itu mungkin yang saya rasakan selama 2016, terutama pada 6 bulan terakhir.

Semakin saya berpikir skripsi, semakin saya nggak mau ngerjain. Dan semakin saya mikir bahwa amanah bukan beban, semakin saya kebebani. Saya mikir : saya kenapa?

Ada apa dengan saya? Saya nggak menikmati membaca maupun menulis. Kalau pun saya baca, it's all just an act. Kalau pun saya nulis, rasanya nggak dari hati dan nggak jujur. something is wrong.

Terus saya keasyikan mikir tentang kenapa saya hingga akhirnya banyak hal yang terbengkalai selama 2016 ini. Saya depresi, tapi nggak berani ngomong sama siapa pun. Kalo di depan orang tetep aja senyum. Tetep aja ketawa, begitu ditinggal sendirian nangis. Mau cerita sama orang bingung, orang saya sendiri aja ga tau saya kenapa. Dan seringnya takut mengganggu. Mau cerita ke Bapak takut, takut buat khawatir.

Kemudian suatu ketika, di masa-masa di mana saya benar-benar depresi, saya sholat. Saya meyakinkan diri saya sendiri buat jujur sama Allah. Jujur sama diri sendiri. Saya cerita semuanya (ya meski tidak terlisankan), saya minta bantuan sama Allah. Nggak tau bentuknya apa, terserah Allah aja. Karena saya tahu kalau saya mencoba menyelesaikan pikiran saya sendirian saya tidak mampu.

Selang dua atau tiga hari, saya bertemu dengan seorang senior di FLP, Uni Yova namanya; dan di situlah saya merasa, ini nashrullah; ini pertolongan Allah yang saya minta (ternyata memang semudah itu minta sama Allah, semudah itu Allah kasih; tinggal kita mau minta atau nggak, kita mau memantaskan diri untuk dikabulkan permintaan kita atau nggak). Kembali tentang Uni Yova, Beliau sedang menyelesaikan magister psikologi klinis. Waktu tinggal berdua aja, Uni langsung tanya, "Dek, gimana?" Dan tumpahlah semua keluhan ditambah tangisan (padahal itu di perpusat T.T). Singkat cerita, Uni mengambil kesimpulan, "Dek, kamu itu sebenarnya nggak mau ngerjain skripsi atau udah nggak mau lulus?"

Saya mikir, saya mikir, saya mikir.

Dan setelah dipikir-pikir (meski sudah malas mikir), saya berkesimpulan bahwa sebenarnya yang membuat saya nggak mau skripsi bukan karena topik tidak menarik, tapi karena saya sudah nggak tertarik dengan lulus. Selidik punya selidik, ini bermula dari niat saya yang sudah nggak lagi lurus.

Begini, mungkin orang mikir, apa sih lebay banget. but, hey, niat itu sama dengan tujuan. Awal kita menetapkan niat adalah awal kita menetapkan tujuan. Tapi memang, niat yang sepaket dengan tujuan ini perlu diperbaiki dan diperbaharui setiap harinya, karena hati manusia mudah berubah dan terombang-ambing. Karena hati manusia mudah ragu, mudah bimbang.

Waktu itu, Uni Yova bilang, "Kalo aku sih, Dek, sekarang ngerjain thesis udah bukan buat siapa-siapa lagi, tapi buat kebahagiaan diriku sendiri." Saya jadi mikir, apa selama ini saya nggak bahagia selama setahun ini karena saya melakukan banyak hal buat orang lain? Bukan buat diri saya sendiri?

Saya jadi inget, pernah baca di suatu tempat, yang intinya dia bilang kalau kita melakukan sesuatu karena orang lain itu tidak akan membuat kita bahagia. Saya dulu mikir, kok gitu sih? Bukannya kita hidup untuk menolong orang lain ya? Tapi kemudian, setelah mengalami ini itu sepanjang tahun ini, saya jadi mikir, emang gitu yah.

Jadi gini, ada dua hal yang berbeda di sini 'melakukan sesuatu karena orang lain' atau 'melakukan sesuatu untuk menolong orang lain'. Melakukan sesuatu untuk menolong orang lain akan balik ke kita. "fain ahsantum ahsantum li anfusikum" (Al-ISra' :7). Setiap kebaikan akan balik ke kita sendiri. Tapi melakukan sesuatu karena orang lain nggak banyak memberikan apa pun. Dan, bisa jadi malah berujung pada kecewa. Mungkin saya perlu mengingat kata Murabbi saya dulu, setiap apapun yang dikerjakan niatnya untuk Allah, tidak ada rasa kecewa. Bila kita masih kecewa, mungkin niat kita belum selurus itu.

Tahun ini, saya kecewa sama diri saya sendiri. Saya kecewa dengan apa yang saya lakukan. Dan buruknya lagi saya kecewa dengan banyak orang. Bahkan mungkin tanpa sadar saya sudah kecewa sama Allah yang memberikan kondisi seperti ini pada saya. Astaghfirullah ...

Mungkin saya sering diingatkan untuk memperbaharui niat saat liqo, saat syuro, tapi ya untuk keperluan itu aja, untuk hari itu dan saat itu saja. Kemudian saya jadi lupa memperbaharui niat jangka panjang saya. Buat (si)apa saya hidup? Buat (si)apa saya kuliah? Buat (si)apa saya bermanah? Buat (si)apa saya menikah? Buat (si)apa saya berumah tangga? Buat (si)apa saya bekerja dan lain sebagainya  ...

Dan mungkin dari sanalah saya jadi lalai terhadap apa yang perlu saya kerjakan. Mana yang butuh dikerjakan dan mana yang saya ingin kerjakan.

Kondisi di mana saya udah nggak kuliah lagi tapi masih harus skripsi itu membuat saya jadi jarang bertemu orang-orang shalih-shalihah, dan seringnya membuat saya lalai. Alhamdulillahnya, Allah masih mau ngasih saya amanah di tahun ini, yang itu berarti, saya masih ngumpul sama orang-orang yang memikirkan umat, paling tidak sepekan hingga dua pekan sekali dalam syuro ataupun dalam agenda lainnya. Tapi ya kalau saya lagi kabur dari amanah, ya sudah, lalai aja terus.

Karena lupa dengan tujuan seharusnya antara Adz-Dzariyaat: 56 ataupun Al Baqarah : 30, saya jadi sering mencari-cari alasan untuk melakukan sesuatu. Di amanah karen disuruh murabbilah, kuliah karena disuruh orang tualah. Meski pun itu hal yang benar, tapi saya sepakat dengan murabbi saya, kalau masih ada celah pada diri kita untuk selain Dzat Yang Maha Kuasa, tentu ada celah untuk kecewa.

Misal, kita manut orang tua untuk menyelesaikan kuliah. Bilangnya biar orang tua kita bangga, iya kalo beneran bangga, kalau ternyata orang tua kita malah nuntut terus tanpa pernah bangga terhadap prestasi anaknya (well, bukan orang tua saya tapi), gimana? Bisa jadi kita malah jadi kecewa pada orang tua kita. That's it.  Saya lupa kalau saya pernah bilang ke orang, niat kita melakukan sesuatu buat orang tua itu benar, ketika kita memang mengingat bahwa ridhallah fii ridha walidayn. Tapi ketika kita terbatas cuma pada biar orang tua kita bangga atau biar orang tua kita bahagia, itu mungkin yang perlu ditambahkan. Itu mungkin yang membuatnya menjadi bukan niat tertinggi.

Dan sebenarnya, kita memang melakukan kebaikan, nulis skripsi, beramanah, kuliah, ngeliqoi, syuro, dan kebaikan lainnya bukan buat siapa-siapa. Tapi buat diri sendiri. Buat kebahagiaan diri kita sendiri. Dan setelah melalui ini itulah saya akhirnya paham apa makna 'buat kebahagiaan diri sendiri'.

Orang tua kita bahagia ketika kita lulus, itu pun karena kita bahagia. Orang lain bahagia ketika kita bahagia. Jangan dibalik, kita bahagia ketika orang lain bahagia. Motivasi eksternal adalah motivasi terendah untuk menjadi motor penggerak bagi hati, badan, maupun otak kita. Bahagia itu menular memang. Tapi kalau cuma ngeliat kebahagiaan orang lain, sementara diri sendiri nggak bahagia, lama-lama yang muncul jadi envy. Perasaan iri, dengki, dan sejenisnya.

Jadi, saya mencapai kesimpulan, buat diri sendiri bahagia dulu, baru kita bisa bahagia untuk orang lain. Bisa tulus bahagianya buat orang lain.

Saya nolongin orang, saya ngeliqoi, saya beramanah, saya kuliah sampai saya nraktir orang bukan buat siapa-siapa. Tapi buat saya sendiri. Supaya saya ada effort untuk menunjukkan pada Allah, bahwa saya pantas untuk mendapatkan kebahagiaan karena saya sudah berbuat baik, di dunia maupun di akhirat. Saya pantas berbahagia untuk semua kebaikan yang saya lakukan. Saya boleh berbahagia untuk semua kebaikan yang saya lakukan. Saya berhak berbahagia untuk semua kebaikan yang saya lakukan. Saya cuma ingin bahagia karena Allah menilai saya pantas, dengan melakukan kebaikan yang sebanyak-banyak. Kebahagiaan hakiki. Yang berlanjut hingga akhirat.

Mungkin, nasihat-nasihat itu klise untuk diucapkan, tapi jelas sekali sulit buat dipraktekan. Semacam, bersyukur, ikhlas, qonaah adalah kunci menuju kebahagiaan itu sendiri. Dan, setelah melewati tahun 2016 hingga akhir, saya paham, hal-hal tersebut cuma bisa dilakukan ketika tujuan kita straight tertuju pada Allah, dan niat kita memang karena Allah. Ternyata, semuanya memang bersumber dan berakhir pada Allah, Dzat Yang Awal dan Yang Akhir (Huwal awwalu wal aakhiru).

Dan kebahagiaan itu ternyata sesederhana kita senantiasa dekat sama Allah.

Alhamdulillah 'alaa kulli hal, 2016 sudah mencapai ujungnya. Seburuk-buruknya saya tahun ini, Allah masih membuka hati saya untuk menerima pelajaran. Meski saya slow learner, karena butuh setahun untuk memahami ini -_-. But, mungkin disitu ujiannya. Katanya ujian bisa memuliakan derajat seseorang, atau justru menghinakannya. Semoga buat saya hasilnya bukan opsi yang terakhir. Begitu juga dengan siapapun yang membaca ini.

Semoga Allah masih kasih kesempatan saya buat memperbaiki banyak hal, menyiapkan lebih banyak bekal, meluruskan kembali segala niat yang sudah melenceng jauh, karena meski ini ujung dari tahun ini, tapi, siapa tahu? Bisa jadi setelah menulis ini saya meregang nyawa? Who knows?

Tapi karena katanya, bekerjalah seakan kamu hidup selamanya, dan beribadahlah seakan kamu mati besok; mari memperbaiki plan hidup jangka panjang. Manusia merencanakan, Allah menentukan.

Wallahu a'lam bish shawwab.

*segala yang ditulis di sini cuma pendapat pribadi.
Mohon maaf untuk semua pihak yang terdzholimi sepanjang tahun ini, semua pihak yang sudah sangat saya repotin karena depresi saya, semua pihak yang sudah mengkhawatirkan saya. Terima kasih, terima kasih buat supportnya, paling tidak, saya tahu, saya tidak pernah sendirian. :). Jazaakumullah khayran katsiiran. Cuma Allah yang bisa balas, karena Dia Yang Maha Memiliki. Dia Yang Maha Segalanya.

~    

Rabu, 10 Agustus 2016

Garis lurus

Garis yang lurus tidak selalu lebih dekat daripada garis melengkung dan berkelok

Kata Bapak. Karena ibarat kata, kalo kita minjem duit ke tetangga aja kalo ujug-ujug ngomong bisa jadi justru nggak dikasih, ketimbang kamu cerita ngalor-ngidul dulu, baru ternyata dikasih dengan mudah.

Selasa, 09 Februari 2016

Orang Tua Hebat!

Ketika menulis ini, saya baru saja  selesai menonton adik saya, Ara Kusuma, tampil di trans TV di acara tiro lestari (?) secara live. Ia bercerita tentang moo's project nya juga tentang travel learning agent nya (kalau mau tahu silakan di googling, mungkin ada, hehe) ...

Keluarga Dek Ara, Dek Enes, dan Dek Elan ini salah satu keluarga istimewa di tempat kami -dimana bagi mereka yang namanya pergi diundang sebagai pembicara di suatu acara satu keluarga adalah hal biasa. Di bawah didikan Bulik Septi dan Om Dodik, ketiganya jadi pribadi hebat dan luar biasa.

Waktu kecil, bocah-bocah ini termasuk geng saya, dan saya sebagai ketua geng (eaaa gengster); maklum, masih bocil. Jadinya, saya pun termasuk saudara yang dekat dengan ketiganya, juga Bulik Septi dan Om Dodik. Nggak sekali dua kali kok saya iri dengan mereka yang punya Ibu kayak Bulik Septi. Baik, nggak pernah marah, komunikatif, inspiratif, punya banyak game, idealis ... (wkwkwkwkwk) dan lain hal.

Ya, oke, tapi, saya nggak cuma sekali iri dengan orang tuanya orang lain. (the power of comparison). Pun suatu ketika di perjalanan pulang dari IC, dimana waktu itu saya cuma berdua aja sama Bapak di mobil, saya pernah cerita, tentang betapa saya minder sama temen-temen sekamar yang orang tuanya hebat-hebat. Fitri (bahkan ayahnya Fitri pernah ngisi di IC sampai 2 kali), orang tuanya Ifa yang dokter, orang tuanya Madam dan orang tua-orang tua temen-temen saya lainnya ...

Tetiba, saya merasa minder. saya mah cuma apa; dari orang tua yang juga cuma apa. Tapi, waktu saya bilang gitu, Bapak nggak marah. Bapak nggak bentak saya karena saya -bisa dibilang cukup kurang ajar dengan membandingkan bapak ibu dengan orang lain. Bapak cuma ngejawab dengan kalem, dengan santai kalau semua itu ada porsinya. Dan mengingatkan, bahwa harusnya saya bersyukur dengan Bapak -yang bahkan S1 aja nggak lulus; jadi Bapak sendiri nggak ada keinginan untuk menekan anak-anaknya harus gimana, atau harus masuk jurusan apa, atau harus dapet IPK cumlaude atau gimana. Bersyukur dengan Ibu; kalau detik itu saya belum kenal Ibu, sesungguhnya Ibu adalah pribadi yang banyak disegani dan disenangi banyak orang. Cuma, mungkin sayanya aja yang nggak tau -karena terlalu lama nggak ada di rumah.

Well, itu dulu. Itu dulu, jaman saya awal-awal masuk IC dimana saya dibenturkan oleh orang-orang hebat; yang sekarang saya yakin bahwa semua orang hebat ini punya orang tua yang juga hebaat. Ternyata bertemu dengan orang-orang hebat membuat saya minder -secara keseluruhan, bahkan sampai pada taraf dimana saya minder tentang keluarga saya. Padahal kalo dipikir-pikir, kalo ga ada Bapak Ibu ya jelas nggak ada saya; kalau nggak melalui Bapak Ibu, ya saya nggak akan jadi saya yang sekarang.

Orang tua saya, Bapak Ibu saya terhebat untuk saya dengan segala kondisi keduanya. Dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Keduanya terhebat untuk saya dan kakak-kakak; sama sepeerti orang tua teman-teman saya adalah terhebat untuk teman-teman saya.

Hari itu, hari dimana saya pulang berdua dengan Bapak, saya belajar bersyukur, belajar qonaah. Belajar mencukupkan. Belajar bahwa tidak ada hal menyenangkan yang datang dari membandingkan. Dicukupkan. Disyukuri.

Dan di hari-hari ini saya belajar, semakin lama saya jauh dari orang tua saya, semakin sedikit waktu tatap muka saya dengan Beliau berdua ini, saya jadi mengkontemplasikan beberapa hal. Bahwa orang tua saya; Bapak Ibu saya adalah terhebat untuk saya. Sama seperti orang tua teman-teman saya terhebat untuk teman-teman saya.

Jadi ingat pesan terakhir murabbi saya sebelum beliau berpulang,
"Sholihah ...
Kondisi keluarga yang tyani miliki itu adalah bentuk sayang Allah kepada tyani ..."

:"

Ya, ini adalah kondisi terbaik untuk saya, sebentuk kasih sayang Allah untuk saya. Tidak ada yang salah dengan skenario-Nya. Tidak ada yang salah ...

Wallahu a'lam bish shawwab

Senin, 28 Desember 2015

Berharap

"Bapak bakal mampir jogja ga?"

"Blom tau nih dek ... Dimana2 macet gilak ...Jalur ke jogja apalagi...
Ini jalan dari Solo ke salatiga, di boyolali sampe salatiga macet merayap"

"Apa tyani yang ke salatiga aja?"

"Di Salatiga dah ga ada siapa2 ...Bulik utik dah pulang, enes dah ke bandung, ara ga tau kemana, Bulik runik hari ini pulang surabaya. Dah sepi, bapak sama ibu tanggal 29 besuk pulang juga ..."

Sulit sekali untuk tidak berharap lebih dari yang diperlukan. Begini nih yang seringnya bikin kecewa. Berharap sendiri, kecewa sendiri. #pffft ...

Mendewasa, Ty ... mendewasa ...

Jumat, 23 Oktober 2015

Janji


Jumat lalu, melalui telepon seluler

"Dek, kamu besok ada kuliah?"
"Nggak, Bu. Tapi besok pagi tyani ngisi. Terus siangnya tyani ngurusim acara krn panitia."
"Oh besok Ibu sama Bapak balik ke Depok. Kalo kamu kosong Ibu mampirin Jogja. Kalo km sibuk ibu lgsg ke Depok."
"....."
"Gitu ya Dek?"
"Hari Minggu aja Ibu ke sininya ..."
"Ibu senin ada jadwal ngaji, Bapak udah mulai detlen majalah"
"....."
"ya kamu kan sibuk toh ..."
"Mmm siang deh bu ke sininya. Nnti tyani kan cuma konsum, siang udah selesai palingan ..."
"Eh jangaan.. Kalo ada kerjaan gitu dikerjain sampai selesai lah, dek .."
"....."
"Nanti Ibu ke tempatmu kalo Ibu Bapak ke jogja aja ya ..."

"...."
Nanti itu kapan ya?


Kapan ya terakhir kali percaya sama kata 'nanti'?
Kapan terakhir kali benar-benar percaya sama janji?

Kalau sudah begini, cuma bisa berdoa, semoga masih bisa bertemu, entah besok, lusa, satu bulan lagi, satu semester lagi, atau bahkan bertahun-tahun kemudian saat diri ini menyandang gelar baru ...

Semoga, semoga, Ya Allah ...

 

Rabu, 16 September 2015

Jas Koas #2

Saya : Za, aku kayaknya mau bikin jas koas di tempat Ibu mu aja Za. Boleh?
Izza : Oh, boleh Ty Boleh.
Saya : Nanti aku langsung fitting di tempat Ibumu atau gimana, Za?
Izza : Langsung lah Ty. Emang mau dimana lagi?
Saya : Okay, sekalian biar aku bisa ketemu Ibumu. Aku pengen ketemu Ibumu.

-terus mendadak hening-

Saya : Eh kok, berasa aku mau ngelamar kamu ya?
Izza : Haha, iya, makanya aku jadi hening haha ..

Orang yang saya ceritakan di atas namanya Izza. Fildzah Izzazi Achmadi, seorang teman yang baru saya kenal di bangku kuliah, dan ternyata memasuki tahun keempat ini tetap jadi teman sebelah saya kalo lagi kuliah, haha. Awalnya sih karena kami teman satu kelompok tutorial dan praktikum selama dua tahun, dan punya hobi yang nggak jauh beda, menulis dan membaca, termasuk juga baca manga dan anime jepang.

Yang saya lihat Izza adalah seorang yang sangat menyayangi orang tuanya, terlebih lagi Ibunya. Waktu masih satu tutorial, saya demen banget ngerecokin Izza kalo lagi makan siang. Suka minta makan siangnya yang dibekali sama Ibu. Ngeliat Izza ngebekal, jadi kangen rumah aja. Kangen jaman SD (yaelah, Ty jauh amat, haha). Di balik kesederhanaannya dan kerendahanhatinya, Izza adalah seorang pekerja keras. Ia bukan ornag yang mudah menyerah, pun bukan orang yang mudah mengeluh. Sejujurnya saya banyak mindernya sama beliau. Minder karena saya masih sering angkuh, juga arogan juga sombong atau hal-hal yang sejenislah, padahal nilai akademik nggak seberapa, prestasi nggak ada, karya apalagi. Kebalikanlah sama Izza. Meski dari prestasi kita sebelas dua belas (haha), tapi karya Izza nyata. Ia sudah melahirkan sekitar 3 novel dan beberapa antologi karya yang sudah dibukukan meski nggak ikut-ikutan forum kepenulisan seperti saya ini. Kalau kayak gini nih yang bikin saya jadi ngerasa sombong. Nyombongin organisasi padahal karya nggak ada. #pfffft

Saya kagum banget sama ini orang. Memang kalau dibandingkan sama anak IC, yang udah tinggal bareng selama tiga tahun dan lanjut bareng-bareng di kuliah, kenal sama Izza belum seberapalah, tapi, rasanya saya banyak banget dapat pelajaran, dapet dorongan motivasi, dapet teman seperjalanan yang keren kayak Beliau. *duh, semoga orangnya ga baca, takut nanti dia terbang nggak balik-balik, kuliahnya masih banyak euy, haha*.

Dan kalau ketemu orang keren kayak gini, saya jadi pengen tau orang tuanya kayak gimana, pengen tau lingkungan rumah yang membesarkan dirinya kayak apa. Termasuk Ibunya Izza ini (karena posisinya saat masuk kuliah, Ibu Izza menjadi single parent). Saya ingin tahu Ratu hebat macam apa yang mampu membesarkan pribadi yang seperti Izza ini. Pekerja keras yang humble banget, juga humoris, juga menyenangkan. :)

Semoga bisa mendapatkan kesempatan bertemu Beliau -dulu-dulu saya cuma rajin ngasih salam ke Ibunya Izza. Haha.

*cuman pengen cerita aja*

Sabtu, 25 Juli 2015

Sudah di Jogja lagi . . .

Saya sudah di Jogja lagi. Sejak jam 2 tadi siang. Sengaja dateng lebih cepat, selian karena mau OSCE dan harus mengagendakan belajar bareng temen-temen juga biar ada yang nganter ke jogja haha, karena bisa dipastikan setiap habis dari salatiga bawaannya nggak mungkin cuma satu-dua tas. Dan terbuktilah praduga saya (halah bahasanya haha). Bahkan eyang saya rela-rela nya membagi beras persediaan rumah di Salatiga buat saya (ya, intinya sih saya mau bilang saya dibawain beras segala -,-). Padahal alat-alat masak kayaknya hampir semua dibawa Disho KKN di Entikong. Mending kalo Disho KKN nya di Kulonprogo atau Bantul, bisa pinjem bentar. Lah ini harus nyebrang pulau e ... Dan saya belum pernah naik pesawat (terus kenapa? .-.) haha.

Sebenernya nggak ada niatan buat ngerandom di sini. Tapi berhubung daritadi saya udah bosen ngescroll tumblr, twitter, facebook, line; dan japrian saya nggak dibales sama orang-orang (yaiyalah siapa gitu yang mau ngejawab japrian jam setengah dua belas malem -,-) haha, akhirnya tangan dan pikiran saya mendarat di sini. Sekaligus mengisi blog yang tak tersentuh selama lebaran kemarin.

Hari ini saya sampai di Jogja. Begitu kembali melewati jalan-jalan yang sudah sangat saya hafal setelah tiga tahun melewatinya, mendadak saya pengen balik lagi ke Depok (lah?) haha. Apalagi waktu menjejakkan kembali ke kontrakan yang sangat lengang karena ditinggal KKN para penghuninya (kecuali saya). Terus langsung ditinggal pula sama Bapak Ibu dan Mbak Ucha. (Yaiyalah, udah nggak jamannya lagi Tyani ditungguin, haha, emangnya kayak pas masih di Assalaam, haha). Dan malam ini setelah tertidur selama dua jam sejak jam 20.00 dan terbangun di jam 22.15, saya mendadak nggak bisa tidur lagi. Ya dan akhirnya cuma scroll medsos dan nggak menghasilkan apapun. Padahal banyak buku yang bisa dibaca dan emang ada beberapa buku yang belum terbaca sejak berpindah tangan dari penjualnya ke saya.

Saya jadi kangen banyak hal. Kangen sama anak-anak kontrakan. Kangen sama cucu-cucu kenari yang sepanjang lebaran kemaren kalo jalan-jalan -entah kenapa nggak lepas dari lagu goyang dumang-  (-,-). Kangen sama Depok. Kangen sama temen-temen satu lingkaran. Kangen sama adek-adek. Kangen sama temen-teman FLP. Kangen sama tidur dan makan (lah?). Kangen ngerandom tengah malem ke orang-orang dan dibales, kayak pas jaman-jamannya di IC waktu liburan.

Iya ya, jadi inget setiap kali liburan pas masih di Assalaam sampai di IC, entah kenapa mode nya langsung berubah jadi nokturnal. Dan ternyata itu nggak cuma saya aja. Temen-temen juga gitu. terbukti kalo siang-siang sms slow response. Pas malem, bahkan ada yang semacam ngebroadcast 'ada yang masih bangun?' dan itu jam satu malam. Ahahaha. Dulu juga, kalo pas kebangun tengah malem gitu dan online facebook, beuukh hampir satu angkatan onlen fb juga tengah malem itu ahahaha.

Tapi begitu kuliah, susah banget namanya begadang. Bahkan buat ngerjain laprak pun lebih milih ngerjain pagi -pagi atau bahkan disambi pas kuliah. Mentang-mentang dosen nggak perhatiin mahasiswanya pada dengerin atau nggak. Semakin ke sini kemampuan procastinator saya semakin keren (Lah?). Bukannya bangga, cuma sedih aja. Pengennya sih nggak gitu. Ya tapi cuma pengen, belum berazzam ahahaha (payah -,-). Makanya saya salut sama orang-orang yang mampu nggak tidur berhari-hari buat ngerjain laprak, belajar ujian atau nykripsi. Bahkan saya proposal skripsi saya aja terbengkalai sejak jaman baheula hingga detik ini saya menulis ini (ahahahaha).

Sebenarnya kemarin-kemarin pas di Salatiga, dalam otak saya, saya sudah menyusun apa saja yang ingin saya lakukan di Jogja. Tapi begitu sampai di jogja, mendadak saya jadi mengkhawatirkan banyak hal membuat perut panas dan nggak bisa tidur. Salah satunya adalah sendiri di kontrakan. Nggak biasanya saya ngerasa sekhawatir ini begitu sendirian di kontrakan. Padahal ini bukan yang pertama kali, sebelum-sebelumnya karena jadwal masuk dan liburnya sering beda sama fakultas lain, jadi di kontrakan sendirian pun bukan issue yang baru buat saya. Harusnya. Atau ini efek dari anak-anak gycen yang lagi pada KKN? (orang-orang yang biasa dimintain tolong dan ngeramein pada KKN T.T, semacam Afifah, terus Afifah, terus . . . Afifah? Ahahaha, bilang aja saya kangen bocah satu itu ahahaha, yang emang biasa nemenin saya pas saya kegiliran sendirian di kontrakan).

Yasudahlah. Saya mau nulis random sampai jam berapa ya ini? Rasa kantuknya masih enggan untuk datang menghampiri. Padahal pagi-pagi nanti saya harus ke puskemas. .-.

Dan laptopnya udah mulai panas karena sejak maghrib tadi memutar playlist di laptop. sengaja, buat meramaikan kontrakan yang sepi dari keramaian (jiaaaah, haha). Karena laptopnya mulai panas, itu berarti laptopnya udah mulai lemot dan sering not responding T.T. Padahal saya masih mau menumpahkan keresahan, kekhawatiran, kecemasan, atau apalah itu (njiyee bahasanya ahahaha) di atas tuts-tuts keyboard yang tak bersalah ini (apalah ini bahasanya -,-; beneran randomnya).

Saya kangen baca blognya fitri nih, selama KKN dia cuma apdet sekali buat pamit. Habis kalo fitri nulis, tulisannya keren banget sih, nggak kayak seseorang yang ngerandom di blognya gitu, sampai tengah malem gitu. Haha. Kangen baca tumblrnya nikari tapi kalo nggak dari dasbor males bacanya karena template tumblr nikari sangat pink .-. ahahha. Kangen kepo blog-blognya anak FLP dan baca tulisan-tulisannya yang warna-warni :) dan berbobot, nggak kayak blognya siapaaa gitu isinya curcol dan random doang ahahahaha. Kangen baca blog-blognya anak gycen, yang kebanyakan udah pada nggak aktif, menyisakan beberapa orang yang masih keliatan terbit tulisannya di dasbor saya semacam Gian, Pyan, Fitri, Maryam, Nikari, Arum, Aisyi, terus Anis baru mulai ngisi lagi ..., oh Izzah juga yang isi blognya tentang bagaimana berumah tangga (ahahahaha, ciye Izzah yang udah nggak jomblo -,-).

Saya pengen nulis yang lain. Buat web yang terbengkalai, buat tagihan detlen anak-anak senja, tapi yang keluar di otak saya cuma hal-hal random yang tertuangakn di tulisan ini sejak tadi. Yaudahlah ya, katanya kan nulis itu kayak buka keran air. Kalo kerannya nggak dibuka, airnya nggak keluar. Kalo kita nggak mulai nulis, yang idenya nggak keluar. Jadi, mending saya awali niatan-niatan saya nulis-nulis yang lain itu dengan kerandoman saya di malam yang sunyi ini #tsaaah.

Jadi, saya udah ngobrolin apa aja? Hahaha, saking randomnya sampe nggak ngeh saya udah nulis apa aja. Ayo dong yang pada KKN cepetan pada balik Jogja. Saya pengen denger ceritanya masing-masing :'). Pasti seruu. Saya mah KKN nya kapan. Skripsi dulu. Pendadaran dulu. Wisuda dulu. Koas dulu. KKN. Ntar ceritanya di angkatan 2012 udah pada udahan, saya mah baru bakal ribet-ribet KKN-an. -,-.

Wah ciye, yang udah masuk tahun ke-4 kuliah. Tahun terakhir di S1. Setelah itu profesi. Jadi inget pas lebaran kemaren. Orang-orang, kakak-kakak sepupu dan kakak saya pada bilang, 'mohon maaf lahir batin, mohon maaf jangan tanya kapan kawin'. Giliran saya, 'mohon maaf lahir batin, mohon maaf jangan tanya kapan lulus'. Hahaha. Bahkan adek sepupu saya yang dua tahun di bawah saya udah kerja dan kemaren udah turut andil ngasih THR ke adek-adek. Dan adek sepupu saya yang usianya empat tahun di bawah saya oktober ini lulus kuliah T.T (yaiya sih mereka kan nggak megikuti jenjang studir formal gaya Indonesia alias homeschooling, terus lulus SMP langsung cuss kuliah di Singapura, ya bisa dijelaskanlah kenapa mereka lulus duluan daripada saya, orang-orang keren mereka. Saya mah apalah).

Habis OSCE, apa saya balik ke Depok lagi aja ya? daripada menghabiskan uang buat makan di Jogja. Di depok kan makan gratis. .-.. Bayar sih, tapi bukan saya juga yang bayar. Eciee yang udah tahun ke-empat. Jadi yang paling tua di jurusan. .-. .Inget banget dulu pas masih tahun pertama-tahun kedua sering banget iseng kalo ketemu mbak Wulan, Mbak Mus, Mbak Adhin, Mbak Khal, dan Mbak-mbak lainnya bilang 'Eciyee mbak-mbak tahun terakhir' Ahahaha, terus habis itu langsung saya nya kena 'Astgahfirullah' dari mbak-mbak sholihat ini ahahaha. Dan itu rasanya baru kemaren saya masih ngisengin mbak-mbak ini. Masih ngerepotin mbak-mbak ini. Dan sekarang harus mau dan emang seharusnya gitu -jadi orang yang direpotkan. Jadi inget kata Bu Dini waktu saya masih kelas tiga MA. Beliau bilang 'Ya hidup ini emang penuh kata 'tahu-tahu'' Tahu,-tahu udah kuliah, tahu-tahu udah lulus, tahu-tahu udah nikah, tahu-tahu udah punya anak dan seterusnya. Ya tapi, hidup ini singkat kok, kata Mbak Alfina. hahaha

Hahaha, yasudah, udah dapet temen ngobrol. Nikari yang tiba-tiba kebangun,. Mungkin hadirnya Nikari adalah sebentuk jawaban doa saya ke Allah yang minta ditemenin malam ini :')



Kamis, 09 Juli 2015

Buka Puasa Bareng selama di Jogja, Ramadhan 2015




2 foto di atas waktu buka puasa bareng JSC Crew, salah satu acaranya FLP,  di kafe Kalender :) ~

Yang di atas ini waktu reuni sama anak-anak kelas Olymp, MTs PPMI Assalaam. Dan sekarang kelas olymp sudah ditiadakan, haha ~ cuma tiga generasi. Dan orang-orang ini adalah generasi kedua ~


2 foto di atas waktu buka bareng gycen jogja di rumah Imaw (lagi), yang sudah bisa dipastikan berlimpah makanannya walopun kita nggak ngeluarin duit sepeser pun haha ~


2 foto di atas waktu buka puasa bareng anak-anak SELUSIN, Forsalamm 2012, di PPMi Asma Amanina, dengan game yang nggak jelas bikinan Nadiyah, dengan orasi dari Fajar (emang orasi apaan? .-.), dengan soto dan berujung pada dikerjain sama Nina T.T


2 foto di atas diambil pas waktu buka bareng anak-anak HAMKA (kelompok PDKT FLP XV) plusplus di rumahnya Mbak Ines, Banguntapan Bantul. Sebenernya masih ada 45 foto lain yang masih tersimpan (sampe capek fotonya T.T, haha), tapi saya ambil yang menurut saya paling jelas aja haha ... merasakan taraweh dalam 30 menit, yang udah waswas karena suara imamnya nggak kedengeran, plusplus serunya ketawa bareng temen-temen HAMKA hahaha

Foto terakhir diambil pas waktu buka puasa bareng IAIC Joglosemar regional Jogja di rumahnya Kak Chendra dan Kak Ica (pasangan IC-IC nih, haha) ~




Yaudah itu aja sih, cuma pengen pamer kalo Ramadhan tahun ini masih selo (soalnya belom tentu Ramadhan tahun depan seselo ini T.T, doakan akan koas, amiin), *dasartukangpamer* haha ... 
Dan lagi, sayanya karena ada detlen nulis, sementara saya belum menulis apapun di word yang sedari kemarin masih kosong dengan latar warna ungu ... saya harus nulis apa ya? .-.

Baju Baru

Kalau habis pulang dari rumah, pasti ada baju baru yang dibawain Ibu dari rumah, dan kalau dipake kuliah langsung jadi sasaran ledekan temen-temen, 'ciyeee baju baru ...'. Saya jawab enteng aja, 'Baju Ibu gue nih haha ...'

Jadi ceritanya tiap liburan akan selalu sama, karena setiap liburan ke rumah, saya nggak bawa baju pergi (biasanya), dan cuma bawa kaos oblong semua, jadi kalo mau pergi ke suatu tempat terus saya pake kaos, ibu pasti sewot,'Dek, kok pake kaos? Yang rapih dong'. Terus saya jawab enteng, 'Cuma bawa kaos, Bu'. Terus Ibu pasti grusak grusuk masuk kamar lagi, buka-buka lemari, keluar dengan baju di tangan, 'Nih, pake ganti pake ini, punya Ibu. Buat kamu aja.' Haha ... dan selalu kayak gitu.

Makanya, kalau temen-temen kontrakan ngeliat saya pulang cuma bawa satu ransel sama satu goodie bag, tapi balik dari depok pasti bawaanya bisa dua kali lipat lebih banyak, ya karena itu salah satunya haha ...

Ibu saya :')

Masih Tetap Anak Bungsu


Foto-foto di atas diambil waktu buka bareng keluarganya Adek Sepupu (Dek Nia) di GDC kemaren Minggu. Jadi ceritanya, malam sebelumnya, saya dengan spontan dan malu-malu (alaah, apa pula malu-malu ini wkwkwkwk) bilang ke Ibu, 'Bu, buka bareng yuk. Kan Mas Iqbal jarang ikutan buka puasa di rumah.' Dan alhasil Ibu yang nyuruh saya bilang ke Mas Iqbal. Dan benarlah adanya, bahwa Mas Iqbal -si orang tersibuk di rumah itu- udah punya acara buka bareng anak BEM hari minggu sore. :(

Tadinya, akhirnya Ibu bilang, 'yaudah buka di rumah aja, tapi masaknya yang agak mewah, biar Mas Iqbal bisa ikut'. Dan seterusnya, dan seterusnya sampai Bapak bilang, 'Loh katanya mau buka di tempatnya Dek Nia?' Dan seterusnya, dan seterusnya, dan sampailah kita pada keputusan buka bareng di rumah Dek Nia.

Saya takut-takut bilangnya ke Mas Iqbal, sebenarnya. Habis kan saya yang mengajukan agenda dadakan, padahal saya tau Mas Iqbal adalah orang super sibuk, dan udah mana saya juga belum bilang Mbak Uca, karena beliau liqo seharian. Tapi, waktu saya bilang ke Mas Iqbal via wa kalo jadinya buka bareng di tempat dek Nia, eh tiba-tiba Mas Iqbal bilang, 'yaudah nanti gue pulang jam set4 an, tungguin yak.'

Padahal saya udah pasrah kalo Mas Iqbal nggak bisa juga. Tapi, beliau tetep mengusahakan mengabulkan permintaan saya yang random hari itu. Begitu pun Mbak Uca. Di situ saya baru sadar (lah, selama ini kemana aja buu? -,-) Kalau saya memang masih anak bungsu keluarga ini yang kalo minta apa-apa, hampir selalu di-iya-in, selama mintanya yang gampang-gampang. Sejak kecil, dari tiga bersaudara ini kalo punya permintaan yang aneh-aneh, pasti saya adalah jubir buat kakak-kakak saya ke orang tua, dengan alasan, 'Dek, kalo elo yang minta pasti dibolehin deh sama Bapak Ibu'. Ahahahaha ... Di situ kadang saya merasa ...

Iya ya, sejauh apapun saya pergi, selama apapun saya nggak di rumah, hal-hal tersebut tidak mengurangi rasa sayang kakak-kakak saya, Bapak, Ibu ke saya. Justru, semakin jauh, rasa memiliki itu justru semakin kuat. apalagi sudah pada lewat dua puluhan semua usianya. Pasti udah pada mulai mikir, bisa bareng-bareng sama keluarga Depok ini juga mungkin nggak akan lama lagi, tahun depan ada yang koas, Mas Iqbal pun kerjanya dari habis subuh udah berangkat pulangnya malem banget, Mbak Uca udah mulai dinas-dinas di rumah sakit. Wah, kita sudah mulai sibuk ... Semoga masa sibuk ini tidak mengurangi rasa bakti dan rasa sayang kami sama Bapak Ibu :') ...

Minggu, 05 Juli 2015

Mengkontemplasi dan Menulis

Jadi ceritanya kemarin sore saya ngabuburit sama Mbak Uca dari satu toko buku ke toko buku lainnya di Jalan Margonda yang super duper ramai itu. Walopun ujung-ujungnya saya nggak beli apa-apa di toko buku-toko buku tersebut, tapi saya mendapatkan sesuatu yang menarik di TM book Store, Depok Town Square. Waktu saya dan Mbak Uca sampai di sana, ternyata sedang ada bedah buku 99 Mutiara Hijabers bersama Kang Maman dan Mbak Asti. Terus nyesel gitu saya nya karena pas dateng pas udah mau kelar, tinggal sesi tanya jawab. Tapi, dari sesi tanya jawab itu banyak banget hal yang saya dapat dari Kang Maman ini. Penulis keren gitu yak, hanya dalam waktu beberapa menit ia berbicara, yang mendengar bisa mendapatkan hikmah banyak banget ... (Semoga suatu saat nanti, saya juga bisa menginspirasi seperti beliau-beliau ini .. Amiin).

Waktu itu, ada yang bertanya, kurang lebih pertanyaannya seperti ini, "Kang Maman, bagaimana caranya mampu konsisten untuk menulis dan, jika sedang stagnan untuk menulis apa yang harus dilakukan?" Kemudian, Kang Maman (oh iya, beliau ini notulennya ILK trans7, kalau yang ga tau silakan googling haha) menjawab, "Modal saya menulis itu, apa yang saya baca. Jadi saya mengharuskan diri saya untuk menghabiskan membaca satu buku dalam 3 hari setebal apapun bukunya, jadi, dalam satu bulan, paling nggak saya membaca 10 buku" Lalu, beliau lanjut, "Kalau saya lagi stagnan atau penulis-penulis biasanya nyebutnya Writer's block; saya tinggalin dulu. Saya kerjakan hal lain dulu. Saya alihkan perhatian saya dulu ke lain hal" ... Nah untuk yang terakhir itu beliau menjelaskan, eh nggak tau ini masih penjelasan atau nggak, intinya, apa yang tersaji di depan mata penulis itu harusnya bisa dijadikan inspirasi untuk menulis. Beliau memberi contoh, suatu ketika anaknya menyajikan kopi untuk beliau karena teh sedang habis, padahal beliau tidak suka kopi. Kalau orang biasa pasti akan marah-marah, tapi Kang Maman justru menjadikannya inspirasi untuk menulis hal tersebut dalam 140 karakter alias di twitter yang kalo ga salah bilang bahwa "kopi itu justru terasa sempurna karena pahitnya, begitu juga harusnya hidup" (sepertinya kata-katanya ga persis kayak gini, pokoknya intinya itulah ahaha).

Kereeen. Menurut saya itu keren. Bagaimana beliau mengkontemplasikan apa yang tersaji di depan matanya. Memaknai kehidupan dari sudut pandang yang berbeda dari orang kebanyakan. Dan kemudian membagi inspirasional itu ke orang-orang untuk kembali menginspirasi.

Dari sana saya belajar. Bahwa begitulah seharusnya penulis, ya kan? Harusnya menjadi penulis itu adalah menjadi orang yang senantiasa memaknai hidup, memaknai apa-apa yang terjadi di hadapannya, bahwa tidak ada yang sia-sia dari hidup. Mengkontemplasikan hidup dan merangkainya dalam kata-kata, menyebarkannya melalui tulisan, hingga mampu menginspirasi pembacanya. Menjadikan apa-apa yang ditulisnya menjadi amal jariyah.

Begitukan seharusnya menjadi penulis itu?

Rabu, 01 Juli 2015

Sudah di Rumah Lagi :')

Alhamdulillah, setelah melakukan perjalanan sejauh 512 km di atas rel, dalam durasi kurang lebih 9 jam, akhirnya diri ini menjejakkan kaki kembali di tanah Jakarta. Stasiun Jatinegara. Yang juga stasiun pemberangkatan pertama commuter line tujuan Depok. Jadi kalo naik commuter line dari sini kursi-kursinya masih kosong-kosong :').

Untuk pertama kalinya saya menunggu di stasiun sendirian (yaiyalah, emang mau sama siapa?-___-") hingga loket commuter line buka. Jeda waktu menunggu antara jam setengah 4 sampai subuh itu (wew, baru sadar nunggunya cuma satu jam, hahaha, tapi kalo statusnya menunggu entah kenapa waktu yang bergulir jadi terasa lebih lambat) saya pakai untuk sahur dengan makanan yang saya bawa dari Jogja, nasi dan ayam yang sudah dingin karena turut terpapar AC kereta selama 9 jam. Nggak apalah, masih bersyukur ada makanan yang bisa dimakan. :')

Sebenarnya jam setengah 5 tepat loket komuter line sudah dibuka, tapi belum azan subuh, saat itulah saya menyadari, saya sudah di Jakarta yang azan subuh nya lewat dari jam setengah 5 (di jogja kurang dari jam setengah 5), juga yang azan maghrib nya mepet jam 6 :'). Hahahaha, baper gitu ceritanya karena selama semester 6 kemarin benar-benar nggak balik Depok.

Dan begitulah, jam 5an kereta menuju Depok berangkat. Dan kini saya sudah kembali di rumah :').

Rabu, 24 Juni 2015

#TidakPenting #2

Akhir-akhir ini jogja kelewat dingin. Terlalu dingin. Sampai setiap bangun pagi hari, kalau tidur tanpa selimut lapis dua dan jaket, atau kadang-kadang harus juga dilengkapi dengan kaus kaki dan sarung tangan, sudah bisa dipastikan akan menggigil. Susah memang punya tubuh yang punya treshold sensori dingin yang rendah, terlalu mudah kedinginan. Mudah menggigil. Mungkin bisa jadi itu juga salah satu mengapa diri ini tidak suka dengan kegiatan -apapun- yang berlokasi di daerah dingin. Jogjanya dingin. Bagaimana dengan Depok?

Akhirnya memutuskan untuk membatalkan tiket tertanggal 23 Juni 2015 yang sudah dibeli sejak sekitar sebulan lalu dengan random, di tengah-tengah kuliah sore-sore. Yang dipicu dengan pertanyaan, "Udah beli tiket pulang?". Karena untuk pertama kalinya Ramadhan di Jogja tanpa adanya ujian OSCE. Objective Structural Clinical Examination -yang kalau dibahasain pakai bahasa yang lebih mudah dicerna jadi : Ujian praktik keterampilan klinik. Ujian yang menghabiskan energi paling banyak dalam setahun. Juga menghabiskan uang paling banyak, karena persiapannya harus juga mempersiapkan alat-alat medis yang harganya cukup menghabiskan uang bulanan. Latihan ujiannya sudah dimulai sejak satu semester sebelumnya bersama asisten mahasiswa, dilanjut saat jeda dari sejak ujian blok terakhir tahun ajaran itu hingga giliran OSCE secara berkelompok dengan kelompoknya masing-masing. Merencanakan kapan akan latihan sendiri, dimana, kapan, dengan siapa saja. Dan setiap kali latihan akan mengulang-ulang kalimat (yang sekarang sudah hampir jadi program otomatis dalam diri ini) "Selamat pagi/siang, pak/bu, perkenalkan saya dokter Setyani yang berjaga pagi/siang ini, dengan Bapak/Ibu siapa? Umurnya berapa Pak/Bu? Tinggalnya dimana? Pekerjaannya apa? Bagaimana Pak/Bu, ada yang bisa saya bantu? dst ... dst ..." sudah semacam teller bank atau resepsionis di front office.

Waktu KRS-an kemarin, baru sadar saat ada yang bertanya di grup line angkatan, "Eh semester depan yang diambil blok apa aja? 4.1, 4.2, 4.3 aja? Nggak ada OSCE dan skripsi ya?" Dan semua (eh nggak tau deng semua atau nggak, diri ini cuma rajin nyecroll precakapan dengan sepintas) mengiyakan. Dan diri ini baru ingat, kalau, ya ini hanya kalau -karena semua bisa berubah, toh kuasa hati dan kendalinya ada di tangan Yang Maha Kuasa- semester depan benar-benar menjadi semester terakhir di S1, maka setelahnya OSCE bukan lagi OSCE KBK 1 atau 2 atau 3, tapi sudah OSCE kompre. Komprehensif. Menyeluruh. Apa yang diujikan mencakup apa-apa yang diujikan di tahun pertama, kedua, dan ketiga. Ditambah apa yang akan diberikan di tahun keempat tentang kegawatdaruratan. Berarti akan bertemu lagi (mungkin) dengan materi sirkumsisi, aseptik prosedur, pemasangan IUD/implant, menolong persalinan, dan lain-lain, dan lain-lain yang sekarang -bisa dibilang- hampir lupa. Lalu, OSCE kompre, sebagaimana OSCE KBK 3 yang akan berlangsung besok usai lebaran, harus sudah mencakup komponen 'diagnosis', 'differential diagnosis', dan 'terapi'. Padahal merasa belum paham banyak patofisiolgi penyakit, merasa masih lupa ingat cara menulis resep obat, apalagi mengingat kalau sakit ini -maka obatnya ini untuk lini pertama, lini keduanya, dan lini-lini berikutnya.

Ah iya,ya, jadi dokter itu, buat masuk kuliahnya gampang. Yang susah itu keluarnya. -___-". Entahlah, apakah diri ini akan bisa lulus dalam satu kali OSCE kompre dan ujian UKDI nantinya, eh namanya bukan UKDI lagi deng, sudah jadi ... lupa, yang jelas singkatannya lebih panjang dari hanya sekedar UKDI alias uji komprehensif dokter indonesia, biasa Indonesia mah, udah disingkat, singkatannya juga masih aja tetep panjang. Hadeeeuh ...

Sebenarnya, tadinya mau cerita kalau diri ini memilih untuk membuang kesempatan pulang cepat, tapi entah kenapa malah menggalau tentang OSCE kompre yang jaraknya tinggal satu semester lagi. Dan setelah itu koas. Oh iya, bisa jadi karena barusan mimpi kalau diri ini menjalani hari pertamanya di koas dengan penuh kebingungan dan malah mengikuti barisan mahasiswa baru bukannya dokter muda yang baru. Duh, ... semoga bukan pertanda yang tidak-tidak, hanya sekadar bunga mimpi yang lewat tanpa izin.

Atau bisa jadi efek telepon orang tua tadi pagi, saat izin untuk mengundurkan pulang dan mengabarkan bahwa diri ini -officially- diterima di pondok pesantren mahasiswi di jogja. Keduanya hanya meminta jaminan, bahwa si anak bungsu ini mampu menyelesaikan studinya hingga jadi dokter jika berniat mengambil tawaran yang baru saja diberikan. Jaminan agar diri ini benar-benar menjadi dokter. Benar-benar menjadi dokter.

Tidak sekali, dua kali diri ini berpikir untuk berhenti saja dari dokter-dokteran ini. Kemudian tanpa melanjutkan ke jenjang keprofesian, mengambil kuliah lagi yang tidak ada hubungannya dengan menjadi dokter. Ilmu perpustakaan misalnya, atau komunikasi, atau malah DKV sekalian? Tapi, sepertinya banyak yang mengharapkan diri yang masih bocah ini untuk menjadi dokter. Mungkin termasuk juga diri ini. Perlahan mulai mengharap apa yang sudah dipelajarinya selama tiga tahun terakhir dengan jatuh bangun (walaupun lebih banyak jatuhnya, daripada bangunnya) bisa membuahkan manfaat, minimal untuk keluarganya sendiri. Bagaimana pun, 'Al-ilmu bilaa 'amalin ka syajarotin bilaa tsamarin'. Ilmu tanpa amal bagai pohon tanpa buah. Dan kalau meminjam bahasanya Bapak, ya ... diri ini sudah kadung basah, mengapa tak sekalian menyelam? Siapa tau menemukan rahasia-rahasia keindahan yang orang tidak menyelam tidak ketahui. Siapa tahu dengan menjadi dokter ada hal-hal yang menyenangkan di sana. (Ya pasti ada sih, hanya saja sekarang memang lebih besar ketakutannya ketimbang senangnya).

Sekolah tiga tahun di bidang ini, saat tahun ketiga -pada blok dengan judul 'lifestyle related complaint'- saat setiap mahasiswa diharuskan mengisi questionnare SRQ -yang diri ini sudah lupa kepanjangannya apa- ternyata membuahkan skor 12. Padahal cut off point nya 6. Dua poin lagi, bisa jadi diri ini sudah masuk fase awal skizofrenia. Bukan berharap. Hanya menjabarkan fakta. Semoga kuliah dan menjadi dokter bukan hanya ilusi dan imajinasi karena ternyata diri ini sudah terjangkit skizofrenia. Kuliahnya sudah susah, biayanya juga tidak sedikit, jangan disia-siakan. Sayang kan? (yah, walaupun, diri ini percaya bahwa tidak ada kuliah yang mudah jika kamu tidak suka dengan kuliahnya, juga tidak ada pendidikan yang murah di Indonesia jika mau bersekolah di sekolah bagus).

Yah begitulah, memang tulisan ini hanya tulisan tidak penting, yang sebenarnya bukan nomor kedua, tapi memang semua tulisan di blog ini lebih banyak tulisan tidak pentingnya daripada tulisan berkualitasnya. Hanya sekadar untuk mengurai keruwetan dan ketakutan-ketakutan dari pikiran-pikiran yang mampir sejak terbangun tepat di jam 23.53 tadi. Hanya salah satu tulisan random dari banyaknya tulisan-tulisan random yang ada di blog ini, baik yang sudah diposting ataupun masih berupa draft.

Jadi begitu. Diri ini menunda kepulangan. Kemudian jadi mengingat bahwa untuk pertama kalinya ujian OSCE tidak di bulan Ramadhan, dan bahwa semester depan adalah semester terakhir di masa studi S1 ini. Dan betapa alur pemikiran seseorang tidak mudah dipahami, bahkan oleh diri sendiri. -_____________-".

Sudahlah, sudah malam ...

Sebentar lagi sahur.



Rabu, 04 Maret 2015

Ketika Semua Memutuskan untuk Pindah

Kemarin, keluarga baytul quds (kontrakan nya Nida', dkk) tiba-tiba ngepost foto-foto rumah di grup Line Muslimah Community. Emang, seminggu terakhir, saya lihat Vilah dkk lagi sibuk ke sana kemari nyari rumah baru, berencana pindah dari kontrakannya yang di Pogung Lor sekarang. Ah, mereka mah kalo pindah nggak wacana. haha, nggak kayak rumah saya, yang wqalopun isinya cuma bertiga, saya, amel sama disho, tetep aja namanya pindah jadi wacana belaka. Soalnya nyari rumah yang harganya murah dengan jumlah sedikit orang susah ternyata ... --a

Dan, saya ternyata nggak sadar, ketika sejak kemarin saya menimbang-nimbang untuk gabung dengan penghuni kontrakan nya Nida' dkk (selanjutnya disebut baytul quds), ternyata amel sama disho udah lebih dulu memikirkan untuk boyongan ke pondok. Sebenarnya, yang harus pindah itu saya, mengingat usai lulus S1, saya masih akan tetep di jogja buat koas, dan ngantri internship, masih sekitar 3 tahun lagi pasca lulus S1. Sementara disho dan amel, habis lulus S1, ada kemungkinan balik ke daerah masing-masing, atau justru ambil S2 luar negeri? atau malah udah diambil jadi istri orang? (cc : amel).

Cumanya, saya nggak nyangka aja, kalo ternyata mungkin, MUNGKIN, perpisahan kehidupan kami bertiga, kayaknya bakal lebih cepet terjadi. (mewek deeh ...). Jeleknya, saya baru tahu tadi sore banget, pas di tengah-tengah nemenin anak-anak TPA ngewarnain. Dhilah pula yang bilang, bukan disho. Entah kenapa, mood saya buat ketawa ketiwi bareng bocil-bocil TPA pelita harapan itu langsung ludes. Pada mau pindah banget nih?

Hahahahaa, mungkin saya nya aja yang terlalu mellow. Padahal, mungkin, kalo semuanya udah pindah dan udah settle sih kayaknya bakal baik-baik aja. Tapi, gitu kan? kalo emang mau pisahan, harusnya sedih nggak sih? haha. Apalagi udah barengan 'tertinggal' di kontrakan kali code ini sejak 2,5 tahun lalu ....

Ah ... sedih rasanya, walaupun terasa lebay banget, pake acara mewek segala. Tapi, tetep aja, namanya pisah itu sedih. haha ... habisa udah terlalu terbiasa sama tingkahnya bocah-bocah serumah~

Sabtu, 03 Januari 2015

Dear, KaLAM 1435 H ...

Dear, teman-teman seperjuangan di KaLAM 1435 H ... Sudah berakhir ya ternyata kepengurusan kita selama 1 tahun ke belakang?

Waktu berlalu dengan cepat tanpa terasa, seolah waktu-waktu yang kita gunakan hilang dalam satu kejapan mata. Kalau review ke belakang, sejujurnya, saya merasa, ketimbang senyum, di sana lebih banyak air mata yang tumpah ... Bahkan sejak Mubes 1435 berlangsung.

Tahun lalu, berapa orang yang keluar masuk ruangan Mubes untuk nangis? Berapa orang yang menahan tangisnya berusaha menguatkan dirinya dan saudaranya untuk tetap bertahan di jalan ini.

Pun, di tengah-tengah perjalanan kapal kita, ada terlalu banyak air mata terbuang. Ahahaha, andai kita lebih enjoy dengan kapal kita, andai kita lebih saling mengerti antara satu awak dengan yang lain, andai kita tidak menyimpan semua beban kita sendirian dan sadar bahwa kapal ini tak mungkin jalan dengan optimal hanya dengan separuh orang yang mendayungnya, pun tak akan maju hanya dengan kita mendiskusikan bagaimana caranya kapal ini berjalan, andai kita sadar bahwa jika kita punya kapal sendiri yang harus kita jalankan, yang bisa jadi rumah kita dan di saat bersamaan mungkin tempat kita meletakkan batu pertama untuk fondasi mimpi-mimpi kita ...

well, itu hanya andai-andai... yah tapi andai kita tahu itu sejak kapal kita ini mulai berlayar .. Tapi sayangnya, kapal kita sudah berlabuh sekarang, dan awak-awak baru sudah mempersiapkan pasukan barunya, saat ini mereka sedang mengkonsolidasikan pasukan mereka untuk bersiap mengarungi samudra yang luas setahun ke depan, sama seperti kita dulu ...

Dan sayangnya, kita baru sadar di akhir, bahwa perjalanan ini sedikit menyenangkan ternyata, dan betapa bersama kalian di kapal ini seringkali menguatkan hati ...

Aah ... ya sudahlah, paling tidak, sekalipun di akhir, kita sadar betapa perjalanan setahun ke belakang memberikan banyak pelajaran untuk kita, iya kan? Mulai dari belajar menerima dan memahami satu sama lain, belajar untuk memanajemen organisasi, belajar untuk mengayomi adik-adik yang punya kapasitas semangat yang luar biasa (itu juga kan yang membuat kita bertahan di tengah-tengah samudera yang luas ini), belajar mengatasi realita yang tidak sesuai dengan idealita ...

Samudera yang kita arungi memang berombak, makanya kadang-kadang ketika pun iman kita sedang turun secara bersamaan, maka kapal kita juga terseret oleh ombak entah hingga kemana. Kadang-kadang, karena sudah terlalu lama mendayung kapal ini kita juga suka lupa tujuan utama kita, hingga lelah datang menyerang, kalau saat itu kiat berjalan sendiri-sendiri sudah barangtentu kita akan terseret ombak semakin jauh dari tujuan kita.

Tapi, kalian ada di sana. Saling menguatkan, saling mengingatkan bahwa kita masih jauh dari tujuan, kalau kita berhenti di sini, siapa yang akan melanjutkan kapal ini ...

ya karena kita masih jauh dari tujuan kita, ustadziyatul 'alam ...

makanya, kita nggak boleh capek di sini, nggak boleh berhenti di sini sekalipun kapal kita sudah berlabuh, masih ada kapal lain menanti kita untuk berlayar bersama kembali ...

Nanti saja lelahnya, nanti saja berhentinya, ketika kita sudah sampai di surga-Nya Allah .. :)

dear, teman-teman KaLAM 1435H ... tetap semangat ya, tetap bergerak untuk memberikan manfaat untuk orang lain, karena sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya ...

dear, teman-teman KaLAM 1435H ... jika kita bisa berkumpul lagi dalam satu lingkaran yang sama, semoga itu adalah surga-Nya Allah yang paling indah :)



Sabtu, 20 Desember 2014

Saat saya pulang ...

Suatu ketika saat pulang, Mbak saya bilang, "Maaf ya dek, nggak bisa nemenin lama-lama di rumah, gue mulai kuliah, Ibal keluar rumah terus, bapak ibu juga .. lo jadi harus jagain rumah, padahal udah jauh-jauh dari Jogja"

Saya cuma senyum. Saya pulang bukan buat jadi tamu yang harus dilayani ini itu, harus ditemenin kemana-mana. Saya pulang karena alasan simpel. Saya rindu rumah dan seisinya. 
Saya rindu rumah dengan segala suasana yang ada di dalamnya, yang membuat saya nyaman, yang membuat saya bisa bermanja dengan tanpa rasa bersalah, tempat saya beristirahat dari segala kesibukan di kampus ...

Saya rindu rumah, pun rindu ibu bapak dan kakak-kakak saya. Saya sebelum ini selalu berpikir bahwa saya punya banyak cerita untuk diceritakan, punya banyak pertanyaan untuk ditanyakan ketika pulang. Tentang kuliah nya Mbak ucha, tentang kerjaan Mas ibal, tentang komunitas lukis cat airnya bapak, tentang liqo nya ibu dan tentang tentang lainnya yang sudah saya lewatkan selama saya absen dari rumah ...

Tapi, begitu kaki saya menjejak tanah kelahiran saya itu, ketika saya bertatap muka dengan wajah-wajah yang senantiasa saya rindukan, tiba-tiba semua pertanyaan itu sudah tidak lagi penting. Karena saya tahu, semuanya baik-baik saja ...

Ya, semuanya baik-baik saja ... :)

Minggu, 05 Oktober 2014

Idul Adha di Rumah

Setelah terhitung 9 tahun saya nggak ber-Idul Adha di rumah, akhirnya, untuk pertama kalinya saya berlebaran bareng keluarga kecil ini di Depok. Keputusannya sudah saya buat sejak sekitar minggu ke dua masuk kuliah. Well, saya merasa harus memberikan hadiah buat diri saya yang libur Ramadhan kemarin terpakai waktunya untuk ujian OSCE dan mengurusi OSPEK. Lagipula, momennya pas setelah ujian blok, dan ada jeda sejak hari rabu kemarin hingga hari ini. Hanya sebentar sih, cumannya, ketika kita lebih punya sedikit waktu untuk melakukan suatu hal, ketika itu pula waktu-waktu itu jadi terasa amat berharga, begitu bukan?

Dan, malam ini saya harus balik lagi ke Jogja. Mbak saya bilang, "Sumpah, dek, lo tuh udah nyaingin Bang Thoyyib tau ga yang tiga kali lebaran tiga kali puasa ga pulang-pulang?" Saya ketawa aja. Saya udah bilang, emang saya cuma pulang sampai hari Ahad ini. Saya ingin memanfaatkan waktu kosong yang ada, dimana dalam minggu-minggu ini saya nggak benar-benar dibutuhkan di kampus (well, karena kemarin masih sibuk difinalisasi kepanitiaan OSPEK, saya jadi nggak dimasukkin kepanitian-kepanitian pasca libur idul Fitri di kalam T.T, sedikit sedih sih, tapi saya jadi punya banyak waktu senggang ..), dan ego saya sudah mendesak untuk pulang. Jadi, tahun ini saya absen dari kepanitiaan Idul Adha di kampus, dan ngacir ke rumah. Karena saya juga nggak tahu, setelah ini, kapan lagi saya bisa pulang? Nggak ada jaminan saya akan pulang dalam waktu dekat, pun nggak ada jaminan saya akan pulang saat liburan, bukannya saya sok sibuk, tapi, hidup itu siapa yang tahu? Siapa yang akan jamin saat liburan saya masih hidup?

Nggak ada jaminannya, makanya, kalau bisa, saya ingin menghabiskan waktu-waktu senggang saya untuk 'beristirahat' di rumah, bergelung di antara riuh nya kondisi di rumah, bermanja di antara ibu bapak, dan kakak-kakak ...

Aah, memang seharusnya rumah adalah tempat berpulang ... tempat dimana hati kita berpulang...