Selasa, 09 Februari 2016

Orang Tua Hebat!

Ketika menulis ini, saya baru saja  selesai menonton adik saya, Ara Kusuma, tampil di trans TV di acara tiro lestari (?) secara live. Ia bercerita tentang moo's project nya juga tentang travel learning agent nya (kalau mau tahu silakan di googling, mungkin ada, hehe) ...

Keluarga Dek Ara, Dek Enes, dan Dek Elan ini salah satu keluarga istimewa di tempat kami -dimana bagi mereka yang namanya pergi diundang sebagai pembicara di suatu acara satu keluarga adalah hal biasa. Di bawah didikan Bulik Septi dan Om Dodik, ketiganya jadi pribadi hebat dan luar biasa.

Waktu kecil, bocah-bocah ini termasuk geng saya, dan saya sebagai ketua geng (eaaa gengster); maklum, masih bocil. Jadinya, saya pun termasuk saudara yang dekat dengan ketiganya, juga Bulik Septi dan Om Dodik. Nggak sekali dua kali kok saya iri dengan mereka yang punya Ibu kayak Bulik Septi. Baik, nggak pernah marah, komunikatif, inspiratif, punya banyak game, idealis ... (wkwkwkwkwk) dan lain hal.

Ya, oke, tapi, saya nggak cuma sekali iri dengan orang tuanya orang lain. (the power of comparison). Pun suatu ketika di perjalanan pulang dari IC, dimana waktu itu saya cuma berdua aja sama Bapak di mobil, saya pernah cerita, tentang betapa saya minder sama temen-temen sekamar yang orang tuanya hebat-hebat. Fitri (bahkan ayahnya Fitri pernah ngisi di IC sampai 2 kali), orang tuanya Ifa yang dokter, orang tuanya Madam dan orang tua-orang tua temen-temen saya lainnya ...

Tetiba, saya merasa minder. saya mah cuma apa; dari orang tua yang juga cuma apa. Tapi, waktu saya bilang gitu, Bapak nggak marah. Bapak nggak bentak saya karena saya -bisa dibilang cukup kurang ajar dengan membandingkan bapak ibu dengan orang lain. Bapak cuma ngejawab dengan kalem, dengan santai kalau semua itu ada porsinya. Dan mengingatkan, bahwa harusnya saya bersyukur dengan Bapak -yang bahkan S1 aja nggak lulus; jadi Bapak sendiri nggak ada keinginan untuk menekan anak-anaknya harus gimana, atau harus masuk jurusan apa, atau harus dapet IPK cumlaude atau gimana. Bersyukur dengan Ibu; kalau detik itu saya belum kenal Ibu, sesungguhnya Ibu adalah pribadi yang banyak disegani dan disenangi banyak orang. Cuma, mungkin sayanya aja yang nggak tau -karena terlalu lama nggak ada di rumah.

Well, itu dulu. Itu dulu, jaman saya awal-awal masuk IC dimana saya dibenturkan oleh orang-orang hebat; yang sekarang saya yakin bahwa semua orang hebat ini punya orang tua yang juga hebaat. Ternyata bertemu dengan orang-orang hebat membuat saya minder -secara keseluruhan, bahkan sampai pada taraf dimana saya minder tentang keluarga saya. Padahal kalo dipikir-pikir, kalo ga ada Bapak Ibu ya jelas nggak ada saya; kalau nggak melalui Bapak Ibu, ya saya nggak akan jadi saya yang sekarang.

Orang tua saya, Bapak Ibu saya terhebat untuk saya dengan segala kondisi keduanya. Dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Keduanya terhebat untuk saya dan kakak-kakak; sama sepeerti orang tua teman-teman saya adalah terhebat untuk teman-teman saya.

Hari itu, hari dimana saya pulang berdua dengan Bapak, saya belajar bersyukur, belajar qonaah. Belajar mencukupkan. Belajar bahwa tidak ada hal menyenangkan yang datang dari membandingkan. Dicukupkan. Disyukuri.

Dan di hari-hari ini saya belajar, semakin lama saya jauh dari orang tua saya, semakin sedikit waktu tatap muka saya dengan Beliau berdua ini, saya jadi mengkontemplasikan beberapa hal. Bahwa orang tua saya; Bapak Ibu saya adalah terhebat untuk saya. Sama seperti orang tua teman-teman saya terhebat untuk teman-teman saya.

Jadi ingat pesan terakhir murabbi saya sebelum beliau berpulang,
"Sholihah ...
Kondisi keluarga yang tyani miliki itu adalah bentuk sayang Allah kepada tyani ..."

:"

Ya, ini adalah kondisi terbaik untuk saya, sebentuk kasih sayang Allah untuk saya. Tidak ada yang salah dengan skenario-Nya. Tidak ada yang salah ...

Wallahu a'lam bish shawwab

4 komentar:

  1. Tyaniiii :"""))))
    ayo kita menjadi orang tua hebat buat anak-anak kelak :)

    *terus inget mas mpik bilang : anak-anak kita? wkwkwk #merusaksuasana

    haha sama kok ty, i ever feel that . aku juga pernah merasa iri dg yg lainnya karena tentu saja ada aspek kyg kita punya dan yg lainnya nggak kan. bisa materi, bisa posisi, bisa komunikasi. saling belajar yuks ty biar jg jadi orangtua hebat :')

    *ayo ngobrol lebih banyak hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. wkwkwk fit, cihyee anak-anak kita :"

      Iya fit, ada aspek yang beda, cuma namanya manusia kadang sering membandingkan apa yang dimilikinya dengan orang lain; kalau pernah baca novel Hector mencari kebahagiaan, ada satu notes penting yang mengatakan bahwa "kebahagiaan tidak didapat dari membandingkan".

      well, now, here I am. orang tuaku terhebat untukku, sama kayak orang tua fitri terhebat untuk fitri :)

      Ayok ngobrol, kemaren kita gagal ngobrol cantik hahaha ... (bukan ngobrol ganteng).

      Hapus
  2. Haha tulisannya Tyani muncul di saat yang tepat. Makasih banget buat kalimat ini: "saya belajar bersyukur, belajar qonaah. Belajar mencukupkan. Belajar bahwa tidak ada hal menyenangkan yang datang dari membandingkan. Dicukupkan. Disyukuri."
    :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nis :"

      iya, belajar bersyukur dengan qonaah dan mencukupkan itu sepanjang hidup ... :)

      Hapus