Bismillah...
Usai kegiatan tutorial tadi pagi, dengan banyak sebab dan alasan, kepulangan saya ke kontrakan tertunda. Mulai dari alasan nungguin kantor farmakologi buka buat ngumpulin laporan praktikum, mau share tentang adobe in design sama temen, sampai kunci kontrakan hilang ...
Saya nggak tahu yang mana yang jadi alasan utama saya nggak segera pulang, padahal kemarin-kemarin, kalau ada waktu untuk pulang siang saya sengaja cepet-cepet berkemas dan kabur dari kampus bahkan belum shalat dzhuhur sekalipun sebenernya waktu saya masih di kampus udah masuk waktu zuhur.
Kemaren saya baru aja selesai ujian tentamen anatomi. Dan seperti sebelum-sebelumnya, usai ujian tentamen itu selalu menghadirkan euforia tersendiri buat temen-temen saya, termasuk saya juga sih...hhhehehehe.. kayaknya bebannya anak-anak FK itu jadi bukannya di ujian bloknya tapi malah di tentamen anatominya ,,
Dan emang sih, sampai saat ini juga, dan dari dulu yang namanya anatomi itu selalu punya prestige tersendiri di kalangan anak-anak kedokteran, saya juga nggak tau kenapa, mungkin karena menghafal nama-nama anatomi yang pake bahasa latin itu keliatan keren, apalagi waktu mengucapkannya di depan orang-orang non kedokteran, kayaknya tuh harus bilang WOW banget gitu...
terkait masalah anatomi ini, saya jadi inget kata salah seorang teman kampus saya yang sekarang jadi santri kalong di salah satu pondok tahfidzh di jogja. Beliau bilang, "Masa, gue setiap hari ngafalin istilah-istilah anatomi yang njelimet dan bikin rusuh di otak gue, tapi gue nggak ngafalin ayat-ayat Al-Qur'an yang sebenernya udah deket sama gue sejak kecil dan perintah agama lagi."
Ng.. oke, itu rasanya JLEB banget buat saya yang selama setengah tahun kuliah ini belum mulai menghafal lagi, padahal, waktu MTs saya punya target umur 20 saya udah jadi hafidzhoh, dan realitanya?
Ya.. Allah, betapa mudah sekali menomorduakan urusan agama...Apakah mungkin karena urusan ini di'tagih' dan dirasakan hasilnya masih nanti-nanti? dan segala macam urusan laporan praktikum dan sebagainya itu sudah ditagih di untuk esok hari sebagai jaminan IP yang bagus di lembar-lembar ijazah?
Padahal, hidup ini kan sebuah sekolah yang nggak akan ada habisnya, yang pembagian raport nya ntaaaaar banget... yang penilainnya cuma Allah yang tahu, yang reward dan punishment nya kita terima dengan keadilan yang sebenar-benarnya adil.
Tapi, sering banget, kita, termasuk saya, lupa dengan semua tugas yang dikasih Allah. Masalahnya, dunia itu sekolah yang bikin kita terlena. Murkanya Allah belum tentu dateng pas kita udah tua, ia bisa dateng kapan aja. Ujiannya juga kapan aja. Ngerjain tugas atau nggak, balasannya akumulatif, dan seringkali kita nggak sadar sampai hari pembagian raportnya tiba. Lhah, gimana tuh?
Jangan tanya saya, saya juga nggak tahu... hehehhehe...
Yah.. semoga Allah senantiasa memantapkan hati kita di jalan-Nya, di jalan yang senantiasa diridhai oleh-Nya ... sehingga, waktu hari pengambilan raport ntar, yang kita terima adalah reward darinya,,, :) SEMANGAT!!
Tampilkan postingan dengan label Rubrik Aqidah Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rubrik Aqidah Islam. Tampilkan semua postingan
Kamis, 28 Maret 2013
Minggu, 30 Januari 2011
Mintalah padaTuhan-mu Yang Maha Esa
Setiap usaha yang kita jalani belum tentu berhasil. Iya nggak? Kan yang menentukan alur kehidupan di dunia ini hanya Allah SWT, Sang Khaliq Yang Maha Agung. Makanya, sembari kita berusaha keras, kita juga harus gigih meminta pada Allah SWT.
Sewaktu dulu, saya pernah mengikuti sebuah event training shalat khusyu’ di Surakarta, Jawa Tengah. Nah, ketika memasuki bagian praktik shalat pada sujud raka’at terakhir, sang trainer berkata, “ Sujud terakhir sebaiknya dilamakan waktunya, minta sama allah SWT, minta ampun yang kalian inginkan, minta kesehatan, ketetapan hati, jangan malu untuk minta sama Allah, …” dan seterusnya.
Disini yang mau saya tekankan adalah bagaimana si tarainer mengatakan untuk meminta apapun pada Allah SWT. Ya! Memang begitu seharusnya, kita meminta apa saja pada Allah dengan merendahkan hati dan diri di hadapan-Nya. Jangan segan-segan memeinta, karena kalu gigih pasti Allah juga akan luluh hatinya dan memberikan apa yang diminta pada kita. Seperti anak kecil yang minta dibelikan es krim, tapi ibunya tak memberi, dan kemudian anak kecil itu menangis meraung-raung sampai akhirnya si Ibu membelikannya es krim.
Nah, kalau ternyata kalian sudah minta pada Allah apapun yang kalian inginkan tapi belum dapat juga, minta lagi! Jangan menyerah, menangislah meraung-raung, rendahkan dirimu dihadapan-Nya. Dan bila masih belum juga kita dapatkan, maka pecayalah bahwa itu adalah yang terbaik untuk kita.
Tapi ingat! Allah SWT hanya mau mengabulkan permintaan orang-orang yang dengan serius meminta, permintaan orang-orang yang dengan rendah hati meminta, orang-orang yang selalu mengingat-Nya di saat susah maupun senang.
Kalau ketika kita hanya meminta saja tanpa ada keseriusan di dalamnya, bagaimana Allah bisa melihat bahwa kita benar-benar membutuhkan hal tersebut? Kalau kita meminta pada Allah saja kita sambil mengobrol dengan orang lain, bagaimana Allah bisa tahu bahwa kita sedang meminta sesuatu pada-Nya? Atau bahkan ketika kita meminta sesuatu pada Allah kita sambil tidur! Lha? Bagaimana tuh? Ibu kita saja tidak tahu kan kalau kita minta makan sambil tidur. Nah ini, … Allah SWT, sang maha Khaliq! Yang hanya mengabulkan permintaan orang-orang yang serius.
So, guys, ayo lebih serius dalam meminta suatu hal pada Allah SWT. Tunjukkan kalau kita benar-benar butuh hal tersebut!
Sewaktu dulu, saya pernah mengikuti sebuah event training shalat khusyu’ di Surakarta, Jawa Tengah. Nah, ketika memasuki bagian praktik shalat pada sujud raka’at terakhir, sang trainer berkata, “ Sujud terakhir sebaiknya dilamakan waktunya, minta sama allah SWT, minta ampun yang kalian inginkan, minta kesehatan, ketetapan hati, jangan malu untuk minta sama Allah, …” dan seterusnya.
Disini yang mau saya tekankan adalah bagaimana si tarainer mengatakan untuk meminta apapun pada Allah SWT. Ya! Memang begitu seharusnya, kita meminta apa saja pada Allah dengan merendahkan hati dan diri di hadapan-Nya. Jangan segan-segan memeinta, karena kalu gigih pasti Allah juga akan luluh hatinya dan memberikan apa yang diminta pada kita. Seperti anak kecil yang minta dibelikan es krim, tapi ibunya tak memberi, dan kemudian anak kecil itu menangis meraung-raung sampai akhirnya si Ibu membelikannya es krim.
Nah, kalau ternyata kalian sudah minta pada Allah apapun yang kalian inginkan tapi belum dapat juga, minta lagi! Jangan menyerah, menangislah meraung-raung, rendahkan dirimu dihadapan-Nya. Dan bila masih belum juga kita dapatkan, maka pecayalah bahwa itu adalah yang terbaik untuk kita.
Tapi ingat! Allah SWT hanya mau mengabulkan permintaan orang-orang yang dengan serius meminta, permintaan orang-orang yang dengan rendah hati meminta, orang-orang yang selalu mengingat-Nya di saat susah maupun senang.
Kalau ketika kita hanya meminta saja tanpa ada keseriusan di dalamnya, bagaimana Allah bisa melihat bahwa kita benar-benar membutuhkan hal tersebut? Kalau kita meminta pada Allah saja kita sambil mengobrol dengan orang lain, bagaimana Allah bisa tahu bahwa kita sedang meminta sesuatu pada-Nya? Atau bahkan ketika kita meminta sesuatu pada Allah kita sambil tidur! Lha? Bagaimana tuh? Ibu kita saja tidak tahu kan kalau kita minta makan sambil tidur. Nah ini, … Allah SWT, sang maha Khaliq! Yang hanya mengabulkan permintaan orang-orang yang serius.
So, guys, ayo lebih serius dalam meminta suatu hal pada Allah SWT. Tunjukkan kalau kita benar-benar butuh hal tersebut!
Minggu, 02 Januari 2011
New Year...
Menjelang pergantian tahun Masehi di sekitar rumah saya banyak kendaraan maupun orang berlalu lalang (saya yakin di sekitar rumah anda pasti juga mengalami hal yang sama). Ada yang sambil membawa kembang api, ada yang bawa terompet dengan model yang bermacam-macam mulai dari model yang kayak megafon sampai model saxofon, ada yang bawa tiker serta rantang (memangnya mau piknik?). Yah segala macam orang, segala jenis kendaraan, kalau di rumah saya sih menuju ke lapangan untuk acara bakar-bakaran (eits…bukan bakar rumah lho! Apalagi kantor polisi). Entah apa yang mereka bakar, mulai dari jagung, ayam sampai kembang api. Musik-musik disetel mulai dari music dangdut sampai music heavymetal melalui entah radio, entah tv, atau bahkan konser live-sekalipun bukan artis dan suaranya nggak karu-karuan, yah sekdar menghibur diri di malam pergantian tahun apa salahnya? Tidak ada yang peduli. Semuanya bersenang-senang. Semuanya bergembira riang.
Saya tertegun. Seandainya saya bukan orang muslim, mungkin saya sudah berada di tengah kerumunan mereka dengan pakaian yang...(terserah anda mau mendefinisikannya bagaimana) serta joget-joget udah kayak orang kesetanan. Saya bingung. Pergantian tahun. Kenapa semua orang merayakan pergantian tahun yang sampai saat ini saya masih selalu takut jika akhir tahun datang. Yah gimana nggak takut? Ketika tahun berganti, maka umur akan bertambah, itu berarti waktu untuk kiamat akan semakin dekat-kiamat kecil maupun kiamat besar. Kita kan tidak tahu kapan kiamat besar akan dating? Coba kalau lagi joget-joget di tengah kerumunan tadi tahu-tahu matahari terbit dari barat? Jangankan sempat taubat, tahu kalau kiamat sudah dating aja mungkin nggak!
Saya tertegun. Seandainya saya bukan orang muslim, mungkin saya sudah berada di tengah kerumunan mereka dengan pakaian yang...(terserah anda mau mendefinisikannya bagaimana) serta joget-joget udah kayak orang kesetanan. Saya bingung. Pergantian tahun. Kenapa semua orang merayakan pergantian tahun yang sampai saat ini saya masih selalu takut jika akhir tahun datang. Yah gimana nggak takut? Ketika tahun berganti, maka umur akan bertambah, itu berarti waktu untuk kiamat akan semakin dekat-kiamat kecil maupun kiamat besar. Kita kan tidak tahu kapan kiamat besar akan dating? Coba kalau lagi joget-joget di tengah kerumunan tadi tahu-tahu matahari terbit dari barat? Jangankan sempat taubat, tahu kalau kiamat sudah dating aja mungkin nggak!
Hhhhhh…Saya menghela nafas masygul. Ya Rahman…sampai kapan tradisi hura-hura di akhir tahun ini akan terus berlanjut? Semestinya, ketika tahun berganti, apa tidak sebaiknya kita adakan halal bi halal, bermaaf-maafan untuk dosa satu tahun ke belakang terhadap teman-teman, keluarga, sanak saudara, tetangga, dan sebagainya. Jika kita merayakannya di tengah kehura-huraan, bukannya justru menambah dosa? Tidak hanya dalam konteks ‘berhura-hura’ nya tapi juga, begini maksud saya, misalnya kita dating ke suatu konser music akhir tahun, kemudian kita menginjak kaki orang tanpa sengaja, tapi kita tidak minta maaf. Iya jika orang tersebut mau memaafkan, tanpa kita harus bilang. Jika ternyata kaki orang tersebut lagi sakit, mata ikan, misalnya, atau luka lebar dan sebagainya kemudian tambah parah karena diinjak dan orang tersebut tidak memaafkan, bagaimana coba? Tanggungannya sampai ke akhirat lho!
Atau untuk menyambut tahun baru, lebih baik juga kita pajang cermin di kamar, kemudian lihat dan koreksi diri. Instropeksi kalau-kalau selama setahun ini masih ada kekurangan dalam diri kita, maka kita perbaiki, dan kalau setahun kemarin kita sudah merasa lebih baik, tidak ada salahnya untuk terus meningkatkan kualitas diri kan? Hal ini sebagai pengaplikasian dari sebuah wisesords dari rasulullah yang sudah sering kita dengar,
Jika hari ini lebih buruk dari kemarin, maka kita termasuk orang yang celaka
Jika hari ini sama dengan kemarin, maka kita termasuk orang yang merugi
Dan jika hari ini labih baik dari hari kemarin, maka kita termasuk orang yang beruntung
Banyak cara untuk merayakan pergantian tahun. Tidak harus dengan hura-hura kan?
Change yourself before you change the world!
“Sewaktu kecil, saya bercita-cita untuk menjadi seorang ilmuwan besar yang akan membangkitkan lagi masa-masa kejayaan Islam di mata dunia”
Ada yang pernah berpikir seperti saya saat masih kecil dulu? Eits… tapi jangan salah! Sampai saat ini juga saya masih berpikiran untuk memajukan Islam. Bukan hanya dalama bidang sains, tapi keseluruhan, kebudayaan. Peradaban.
Nantinya saya akan mengajak teman-teman saya semuslim dan seperjuangan untuk turut serta membantu niatan saya ini. Untuk tahap awal tidak usah terlalu muluklah…Mungkin, bisa dengan menemukan teknologi mutakhir untuk era tersebut, dengan si A sebagai desainernya, si B sebagai teknisi komputernya, si C sebagai ahli fisikanya, dsb. Atau bisa jadi malah menemukan obat kanker, dengan si D sebagai ahli farmasinya, si E sebagai ahli kedokterannya, si F sebagai ahli fisiologi manusia, dsb. Dan tentu saja di atas semua itu, saya akan jadi ketuanya!
Wow! Pemikiran yang hebat bukan? Tapi… kemudian saya berpikir. Kalau begiu, dengan pemikiran yang hebat itu, semestinya saya juga menjadi orang yang hebat. Saya tertegun dengan pemikiran yang muncul sesaat barusan. Sementara selama ini, bahkan untuk berangkat sekolah dan mengerjakan PR matematika saja saya masih enggan dan bermalas-malasan, akhirnya dikerjakan juga di sekolah. Untuk bergerak sedikit mengurus proposal kegiatan saja saya masih pakai mengeluh dan ujung-ujungnya menyerahkan pada yang lain. Untuk kumpul rapat ketika dipanggil secara dadakan saja saya masih ogah-ogahan, pakai ngata-ngatain yang manggil lagi! Padahal datang saja tidak…
Kalau begini ceritanya, jangan-jangan nanti waktu saya kebagian tugas menyusun rancangan “teknologi mutakhir” tersebut saya malah kabur dari tugas, atau ketika ada panggila rapat untuk pemeriksaan uji “obat kanker” nanti saya malah menulikan telinga dan kembali tidur, pura-pura tidak dengar.
Saya terdiam. Tapi memang itu ‘kan yang jadi problem orang-orang sekarang? Pikirannya saja yang melambung tinggi sampai nun jauh di sana, omongonnya saja yang besar sekali (bahkan gajah saja kalah!), namun sikap, perilaku, emosi dan sebagainya itu tidak mencerminkan apa yang menjadi omongan maupun pemikirannya.
Kesannya seperti orang yang ingin mendapatkan kekayaan, tetapi dia tidak berusaha untuk mencari kerja untuk mendapatkan uang misalnya, atau paling tidak berusaha bertanya kemana ia harus mencari kerja. Memangnya kekayaan tahu kalau ‘si dia’ itu butuh kekayaan sehingga dengan serta merta mendatanginya.
Saya jadi ingat, bulan lalu saya baru saja menyelesaikan membaca komik Eyeshield 21. Ada yang pernah baca? Ceritanya tentang seorang atlet American Football yang berbadan kecil dan ringkih. Ia bahkan seringkali menjadi bahan penindasan bagi teman-temannya yang badannya lebih besar darinya. Yang mau saya ceritakan di sini adalah bagaimana si tokoh utama, Sena Kobayakawa, si kecil berbadan lemah itu beruasaha sekuat tenaga untuk membuktikan bahwa dirinya bisa menjadi atlet aAmerican Football yang hebat. Sena dan timnya bahkan samapi mengikuti latihan yang bagai neraka-death march-dengan berjalan sejauh 2000 km sambil menendang batu. Nah…di akhir cerita, Sena yang selalu bangkit dan bangkit lagi setiap kali ‘terjatuh’ itu mendapatkan gelar MVP (Most Valuable Player) di turnamen American Football tingkat SMA se-Jepang. Ia berhasil membuktikan bahwa dengan tubuh sekecil itu ia bisa menjadi atlet Amrican Football yang hebat serta memotivasi atlet yang lainnya untuk meningkatkan kemampuannya.
Di cerita ini yang saya mau tekankan adalah bahwa kita bisa kok mendapatkan apa yang kita inginkan. Kita bisa kok mewujudkan pikiran-pikiran kita yang kata orang mustahil itu. Kita bisa kok bahwa omongan kita itu nggak hanya sekadar omongan dan bisa dipercaya. Yah…tentunya dengan usaha dan do’a, kita bisa mewujudkan semua it. Dan kunci utamanya adalah diri kita. Bagaimana kita menghadapi setiap masalah yang dating adalah salah satu factor kebrhasilan kita ke depannya. Apakah diri kita akan selalu siap bangkit ketika ‘terjatuh’ seperti Sena Kobaykawa, ataukah ketika ‘jatuh’ kita akan tetap dalam posisi jatuh tersebut, atau malah ketika ‘jatuh’ kita malah akan terus terperosok jauh ke dalam.
Semuanya tergantung pada diri kita. Selama kita selalu optimis, positive thinking, ulet, nggak gampang menyerah kita bisa mewujudkan cita-cita kita yang bahkan kata orang mustahil.
Maka, ayo buat diri kita menjadi lebih baik dan buat dunia menjadi lebih baik.
Change yourself before you change the world!
Ada yang pernah berpikir seperti saya saat masih kecil dulu? Eits… tapi jangan salah! Sampai saat ini juga saya masih berpikiran untuk memajukan Islam. Bukan hanya dalama bidang sains, tapi keseluruhan, kebudayaan. Peradaban.
Nantinya saya akan mengajak teman-teman saya semuslim dan seperjuangan untuk turut serta membantu niatan saya ini. Untuk tahap awal tidak usah terlalu muluklah…Mungkin, bisa dengan menemukan teknologi mutakhir untuk era tersebut, dengan si A sebagai desainernya, si B sebagai teknisi komputernya, si C sebagai ahli fisikanya, dsb. Atau bisa jadi malah menemukan obat kanker, dengan si D sebagai ahli farmasinya, si E sebagai ahli kedokterannya, si F sebagai ahli fisiologi manusia, dsb. Dan tentu saja di atas semua itu, saya akan jadi ketuanya!
Wow! Pemikiran yang hebat bukan? Tapi… kemudian saya berpikir. Kalau begiu, dengan pemikiran yang hebat itu, semestinya saya juga menjadi orang yang hebat. Saya tertegun dengan pemikiran yang muncul sesaat barusan. Sementara selama ini, bahkan untuk berangkat sekolah dan mengerjakan PR matematika saja saya masih enggan dan bermalas-malasan, akhirnya dikerjakan juga di sekolah. Untuk bergerak sedikit mengurus proposal kegiatan saja saya masih pakai mengeluh dan ujung-ujungnya menyerahkan pada yang lain. Untuk kumpul rapat ketika dipanggil secara dadakan saja saya masih ogah-ogahan, pakai ngata-ngatain yang manggil lagi! Padahal datang saja tidak…
Kalau begini ceritanya, jangan-jangan nanti waktu saya kebagian tugas menyusun rancangan “teknologi mutakhir” tersebut saya malah kabur dari tugas, atau ketika ada panggila rapat untuk pemeriksaan uji “obat kanker” nanti saya malah menulikan telinga dan kembali tidur, pura-pura tidak dengar.
Saya terdiam. Tapi memang itu ‘kan yang jadi problem orang-orang sekarang? Pikirannya saja yang melambung tinggi sampai nun jauh di sana, omongonnya saja yang besar sekali (bahkan gajah saja kalah!), namun sikap, perilaku, emosi dan sebagainya itu tidak mencerminkan apa yang menjadi omongan maupun pemikirannya.
Kesannya seperti orang yang ingin mendapatkan kekayaan, tetapi dia tidak berusaha untuk mencari kerja untuk mendapatkan uang misalnya, atau paling tidak berusaha bertanya kemana ia harus mencari kerja. Memangnya kekayaan tahu kalau ‘si dia’ itu butuh kekayaan sehingga dengan serta merta mendatanginya.
Saya jadi ingat, bulan lalu saya baru saja menyelesaikan membaca komik Eyeshield 21. Ada yang pernah baca? Ceritanya tentang seorang atlet American Football yang berbadan kecil dan ringkih. Ia bahkan seringkali menjadi bahan penindasan bagi teman-temannya yang badannya lebih besar darinya. Yang mau saya ceritakan di sini adalah bagaimana si tokoh utama, Sena Kobayakawa, si kecil berbadan lemah itu beruasaha sekuat tenaga untuk membuktikan bahwa dirinya bisa menjadi atlet aAmerican Football yang hebat. Sena dan timnya bahkan samapi mengikuti latihan yang bagai neraka-death march-dengan berjalan sejauh 2000 km sambil menendang batu. Nah…di akhir cerita, Sena yang selalu bangkit dan bangkit lagi setiap kali ‘terjatuh’ itu mendapatkan gelar MVP (Most Valuable Player) di turnamen American Football tingkat SMA se-Jepang. Ia berhasil membuktikan bahwa dengan tubuh sekecil itu ia bisa menjadi atlet Amrican Football yang hebat serta memotivasi atlet yang lainnya untuk meningkatkan kemampuannya.
Di cerita ini yang saya mau tekankan adalah bahwa kita bisa kok mendapatkan apa yang kita inginkan. Kita bisa kok mewujudkan pikiran-pikiran kita yang kata orang mustahil itu. Kita bisa kok bahwa omongan kita itu nggak hanya sekadar omongan dan bisa dipercaya. Yah…tentunya dengan usaha dan do’a, kita bisa mewujudkan semua it. Dan kunci utamanya adalah diri kita. Bagaimana kita menghadapi setiap masalah yang dating adalah salah satu factor kebrhasilan kita ke depannya. Apakah diri kita akan selalu siap bangkit ketika ‘terjatuh’ seperti Sena Kobaykawa, ataukah ketika ‘jatuh’ kita akan tetap dalam posisi jatuh tersebut, atau malah ketika ‘jatuh’ kita malah akan terus terperosok jauh ke dalam.
Semuanya tergantung pada diri kita. Selama kita selalu optimis, positive thinking, ulet, nggak gampang menyerah kita bisa mewujudkan cita-cita kita yang bahkan kata orang mustahil.
Maka, ayo buat diri kita menjadi lebih baik dan buat dunia menjadi lebih baik.
Change yourself before you change the world!
Langganan:
Postingan (Atom)