Menjelang pergantian tahun Masehi di sekitar rumah saya banyak kendaraan maupun orang berlalu lalang (saya yakin di sekitar rumah anda pasti juga mengalami hal yang sama). Ada yang sambil membawa kembang api, ada yang bawa terompet dengan model yang bermacam-macam mulai dari model yang kayak megafon sampai model saxofon, ada yang bawa tiker serta rantang (memangnya mau piknik?). Yah segala macam orang, segala jenis kendaraan, kalau di rumah saya sih menuju ke lapangan untuk acara bakar-bakaran (eits…bukan bakar rumah lho! Apalagi kantor polisi). Entah apa yang mereka bakar, mulai dari jagung, ayam sampai kembang api. Musik-musik disetel mulai dari music dangdut sampai music heavymetal melalui entah radio, entah tv, atau bahkan konser live-sekalipun bukan artis dan suaranya nggak karu-karuan, yah sekdar menghibur diri di malam pergantian tahun apa salahnya? Tidak ada yang peduli. Semuanya bersenang-senang. Semuanya bergembira riang.
Saya tertegun. Seandainya saya bukan orang muslim, mungkin saya sudah berada di tengah kerumunan mereka dengan pakaian yang...(terserah anda mau mendefinisikannya bagaimana) serta joget-joget udah kayak orang kesetanan. Saya bingung. Pergantian tahun. Kenapa semua orang merayakan pergantian tahun yang sampai saat ini saya masih selalu takut jika akhir tahun datang. Yah gimana nggak takut? Ketika tahun berganti, maka umur akan bertambah, itu berarti waktu untuk kiamat akan semakin dekat-kiamat kecil maupun kiamat besar. Kita kan tidak tahu kapan kiamat besar akan dating? Coba kalau lagi joget-joget di tengah kerumunan tadi tahu-tahu matahari terbit dari barat? Jangankan sempat taubat, tahu kalau kiamat sudah dating aja mungkin nggak!
Saya tertegun. Seandainya saya bukan orang muslim, mungkin saya sudah berada di tengah kerumunan mereka dengan pakaian yang...(terserah anda mau mendefinisikannya bagaimana) serta joget-joget udah kayak orang kesetanan. Saya bingung. Pergantian tahun. Kenapa semua orang merayakan pergantian tahun yang sampai saat ini saya masih selalu takut jika akhir tahun datang. Yah gimana nggak takut? Ketika tahun berganti, maka umur akan bertambah, itu berarti waktu untuk kiamat akan semakin dekat-kiamat kecil maupun kiamat besar. Kita kan tidak tahu kapan kiamat besar akan dating? Coba kalau lagi joget-joget di tengah kerumunan tadi tahu-tahu matahari terbit dari barat? Jangankan sempat taubat, tahu kalau kiamat sudah dating aja mungkin nggak!
Hhhhhh…Saya menghela nafas masygul. Ya Rahman…sampai kapan tradisi hura-hura di akhir tahun ini akan terus berlanjut? Semestinya, ketika tahun berganti, apa tidak sebaiknya kita adakan halal bi halal, bermaaf-maafan untuk dosa satu tahun ke belakang terhadap teman-teman, keluarga, sanak saudara, tetangga, dan sebagainya. Jika kita merayakannya di tengah kehura-huraan, bukannya justru menambah dosa? Tidak hanya dalam konteks ‘berhura-hura’ nya tapi juga, begini maksud saya, misalnya kita dating ke suatu konser music akhir tahun, kemudian kita menginjak kaki orang tanpa sengaja, tapi kita tidak minta maaf. Iya jika orang tersebut mau memaafkan, tanpa kita harus bilang. Jika ternyata kaki orang tersebut lagi sakit, mata ikan, misalnya, atau luka lebar dan sebagainya kemudian tambah parah karena diinjak dan orang tersebut tidak memaafkan, bagaimana coba? Tanggungannya sampai ke akhirat lho!
Atau untuk menyambut tahun baru, lebih baik juga kita pajang cermin di kamar, kemudian lihat dan koreksi diri. Instropeksi kalau-kalau selama setahun ini masih ada kekurangan dalam diri kita, maka kita perbaiki, dan kalau setahun kemarin kita sudah merasa lebih baik, tidak ada salahnya untuk terus meningkatkan kualitas diri kan? Hal ini sebagai pengaplikasian dari sebuah wisesords dari rasulullah yang sudah sering kita dengar,
Jika hari ini lebih buruk dari kemarin, maka kita termasuk orang yang celaka
Jika hari ini sama dengan kemarin, maka kita termasuk orang yang merugi
Dan jika hari ini labih baik dari hari kemarin, maka kita termasuk orang yang beruntung
Banyak cara untuk merayakan pergantian tahun. Tidak harus dengan hura-hura kan?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar