Minggu, 16 Januari 2011

Catatan Kecil LPJ OSIS periode 2010/2011 Semester 1

Bismillahirrahmanirrahim…
Laporan Pertanggung Jawaban OSIS periode 2010/2011 Semester 1 telah terlaksana kemarin malam (15 Januari 2011). Pukul setengah sebelas malam lewat sedikit, Rasyid Indra Pratama, selaku ketua Majelis Permusyawaratan Siswa yang menyelenggarakan acara LPJ ini mengetukkan palunya sebanyak dua kali usai membacakan hasil keputusan MPS. LPJ tertolak.
Tapi entah mengapa, tidak ada air mata yang mengalir bagi para koordinator dan Badan Pengurus Harian OSIS malam itu (kecuali Faizah, sang sekertaris 1 yang sudah 2 kali membuat LPJ karena kerusakan pada flash disknya, ia menangis entah sampai jam berapa semalam). Semuanya merasa logis dengan tidak diterimanya LPJ periode ini.

Detik-detik sebelum LPJ
Faizah sudah seharian ini muntah-muntah. Apa yang sudah dimakannya keluar semua. Aku tercenung. Faizah stress. Makanya meningkatkan asam lambung yang ada di lambungnya. Sampai maghrib malam itu, ia masih terus muntah.
Tapi aku yakin, tidak Cuma Faizah yang stress, sebab aku juga. Nida’ dan Akmal selaku koordinator divisi kedisiplinan juga, Ifa dan Faiz-koordinator lingkungan, Ibnu-koordinator PPBN, dan semua pengurus OSIS hari itu aku rasa mereka semua juga merasakan hal yang sama dengan Faizah. Stress tingkat tinggi.
Saat briefing sebelum pelaksanaan LPJ pun, aku sempat menangis di tengah-tengah divisiku, divisi Iman dan Taqwa OSIS. Keluarga Diorama Alabaster 103. Entahlah, semua perasaan menjadi satu. Kacau balau. Sedih. Berat. Stress. Entahlah…
Tapi, aku beruntung berada di tengah-tengah mereka, ‘Afifah, Mawar, Hilya, Itta, Iffa…rekan-rekanku, adik-adikku, yang selalu menopangku. Menguatkan hatiku hingga aku sanggup berdiri di depan dengan tegar dan dengan segala keyakinan.
Di awal, aku pernah bilang, “aku nggak mau nyesel udah milih kalian sebagai divisi Iman Taqwa”. Dan itu memang benar. Aku nggak mau menyesal dan nggak akan pernah menyesal sudah memilih kalian.
Mawar dengan segala kelembutan dan ketenangannya…makasih udah selalu menyemangati aku…baik di kamar maupun di divisi…
Hilya dengan segala keramahan dan kesopanannya…makasih udah selalu menjadi adik yang perhatian sama kakak…yang mengerti di saat aku lagi sedih maupun senang…
Itta dengan segala kelincahan dan ketegasannya…makasih udah selalu memberikan kata-kata yang membangkitkan semangat…
Iffa dengan segala keceriaan dan senyumannya…makasih udah selalu mau berbagi keceriaan sehingga divisi kita menjadi selalu ceria…
Dan yang terakhir, ‘Afifah dengan segala kenyolotannya (?), kesetiaannya…makasih udah mau nemenin aku untuk kemana-mana. Mulai dari nge-print buletin Qawat sampai mengurus perizinan keluar komplek. Makasih udah selau menjadi penopang di saat aku mulai down. Makasih udah mau dengerin segala curhat dan ceritaku…makasih udah mau jadi rekanku dan saudaraku di diorama Altavista, diorama Albaster, vortex, maupun di Asterix…
Terima kasih, tanpa kalian semua aku tidak mungkin sanggup saat LPJ itu berdiri dengan wajah terangkat dan keyakinan bahwa aku bisa mempertanggungjawabkan semuanya.
Tanpa kalian…entah aku akan jadi apa. Aku tidak sekuat Kak Urfa, koordinator divisi Imtaq tahun lalu, yang saat LPJ malah justru menyemangati kita-para anggotanya. Tapi, sekali ini, LPJ 1, semangat kalian, dukungan-dukungan kalian menjadi obat hati bagiku yang terus-terusan galau seminggu ini…
“Ayo Ty, berjuang!”
“Ayo kak, pasti kakak bisa!”
“Ayo Kak! Semangat! Berjuang! Berjuang!”
Dan semua kata-kata penyemangat lainnya yang diucapkan kalian dengan senyum secerah matahari itu…
Membuatku percaya bahwa aku bisa…

LPJ 1 20.37 WIB
Rasyid mengetukkan palunya 3 kali tanda dimulainya LPJ. Suasana mencekam pun datang. Semua napas tertahan. Satu-satu laporan pertanggungjawaban dibacakan. Ketua umum-ekertaris-bendahara-ketua 1-ketua 2-ketua 3. Break.
Usai LPJ ketua 1 dibacakan aku sudah mulai sedikit lega. Hhhhhhhhh…
LPJ dimulai lagi. Satu per satu pertanyaan mengalir dari para penonton. Aku sadar banyak kesalahan di jawaban-jawaban kami. Karena kami menjawab apa ya..istilahnya, sesuatu yang pantang untuk dijawab. Menyalahkan kondisi. Maka entah apa penyebabnya, saat skors sidang untuk pengambilan keputusan, aku dan para koordinator lainnya sudah merasa akan ditolak. Makanya, begitu hasil keputusan dibacakan, tak satupun dari kami menangis tersedu-sedu…(kecuali Faizah, tentu saja)…
Tetap tersenyum sambil berkata “terima kasih” kepada MPS.

LPJ selesai…tertolak. Itu berarti kami harus mengulang LPJ untuk kedua kalinya dalam sidang tertutup.
Tapi, seperti kata kalian, aku pasti bisa!

Kegugupan dan kegalauan yang begitu membara hari itu sanggup kutepiskan karena ada kalian…’Afifah, Mawar, Hilya, Itta, Iffa, Nia, Miqdad, Ngeni, Rouf, Huda, Rizqi, Faqih, Iman, dan Arham…

Diorama Alabaster 103…

2 komentar:

  1. ga masalah, dik. itu cuma sandungan kecil untuk langkah yang lebih mantap di kemudian hari :)

    BalasHapus
  2. iya kak, kami menjadikan ini sebagai batu loncatan dan evaluasi untuk ke depannya....doakan sukses ya kak...

    BalasHapus