Rabu, 30 Agustus 2017

Oleh-oleh dari Cangkrukan #1

Tanggal 18-20 Agustus lalu saya berkesempatan menjadi volunteer di acara Cangkrukan sebagai tim P3K. Cangkrukan ini semacam sebuah family camp yang diadakan sama Om Dodik, Bulik Septi beserta anak-anaknya. Acaranya ngapain aja? Secara umum, dalam pelaksanaannya, seluruh peserta dibagi menjadi tiga kelompok : kelompok orang tua, yang acaranya sebagian besar adalah lecture ataupun sharing baik dari Om Dodik, Bulik Septi, Dek Enes, ataupun Ibu-Ibu/Bapak-Bapak yang hadir sebagai peserta maupun undangan; Kelompok remaja yang tampil dengan nama beken (jiaaah) teenchanger yang difasilitatori oleh Dek Elan; yang terakhir adalah kelompok krucils di kids corner yang didampingi oleh kakak-kakak dari Sekolah Lebah Putih, Salatiga.

Pada kelompok orang-orang tua bahasannya adalah tentang homeschool ataupun home based education, sebagaimana ranah konsentrasi Bulik Septi dan Om Dodik. Benar-benar kupas tuntas homeschool. Mulai dari kenapa homeschool? untung ruginya, kekhawatiran orang tua, dan sebagainya dan sebagainya. Pada saat Kamtasia (kemping keluarga di tahun 2016 dengan bahasan community based education, dengan penyelenggara yang sama, kebetuan saya juga menjadi volunteer P3K saat itu) padat lecture, tapi saat cangkrukan, sebagai mana namanya cangkrukan -yang kalau diartikan ke bahasa indonesia secara bebas artinya ngobrol bareng; lebih banyak nyangkruknya. Mungkin kalo bahasanya mas-mas dan mbak-mbak mahasiswa 'lebih banyak diskusi'nya gitu kali ya hehe.

Pada kelompok TeenChanger, mereka membuat project yang dari tema sampai projectnya apa ditentukan oleh mereka sendiri. Belajar bertanggungjawab. Kelompok ini didampingi oleh Elan yang juga sama-sama remajanya. Di Cangkrukan mereka dibagi ke beberapa kelompok untuk bikin project video tentang boardgame? (iya itu tanda tanya karena saya juga nggak ngeh banget apa yang mereka kerjakan, dan penjelesan Elan waktu presentasi agak njlimet haha).

Dan terakhir di kids corner isinya dedek-dedek krucils, yang bener-bener krucils (sekitarusia di bawah 10 tahun), mereka bersenang-senang bermain, outbond bersama kakak-kakak lebah putih.

Terus saya ngapain di sana? Haha.
Ini kali kedua saya jadi volunteer. Yang pertama saya jadi volunteer P3K juga di acara Kamtasia, acara sejenis cangkrukan juga, hanya pokok bahasannya aja yang beda. Waktu Kamtasia, saya dateng telat karena suatu hal, jadi acara udah mulai, saya baru dateng. Percaya deh dateng telat dalam suatu acara itu nggak enak, karena kita jadi kehilangan kesempatan untuk kenal dengan orang-orang lain. Saat orang-orang udah mulai kenal, terus kita baru kenalan-kenalan padahal itu udah masuk agenda lain, kan jadi nggak enak.

Waktu Kamtasia juga, di hari kedua saya nggak full di salatiga karena kudu LPJ-an, jadi saya pergi pagi balik siang Salatiga-Jogja, vice versa. Dan karena perjalanannya aja Jogja Salatiga aja udah makan waktu 2 jam sendiri, jadi hari kedua bener-bener saya nggak banyak ikut. Tapi Alhamdulillah, pas cangkrukan ini saya bisa ikut full. Dan qadarullah, pas kamtasia nggak banyak yang perlu diobati; sementara pas cangkrukan ini luar biasa para krucils itu. Haha. Nggak jarak jauh, udah ada aja yang ngehampirin, 'Mbak, mbak itu ada yang kakinya berdarah..' mulai dari lecet kena besi, lecet kepleset, lecet nggak tau kenapa habis shalat (ini yang nangis paling heboh, haha), lecet yang nggak tau udah sejak kapan (ini bahkan bocahnya ngegunting sendiri kulitnya yang sobek, luar biasa emang), yang kukunya sempal, lecet kegasruk, dan lecet-lecet lainnya. di akhir, masih sisa beberapa obat oral karena emang yang minta obat demam, alergi, obat maagh nggak banyak. yang berkurang banyak adalah betadin, kassa, hypafix, plester, kapas. Alhasil, melihat tolak angin junior yang masih utuh, kita-kita selaku volunteer merasa perlu menghabiskan dan mengemilnya, haha.

Di Cangkrukan ini juga saya ketemu dan kenalan sama banyak orang keren yang mungkin sebenrnya pas kamtasia kita udah ketemu, tapi ya karena lalalili, akhirnya saya baru benar-benar mengenal mereka sekarang. Ada tim volunteer lainnya selain saya sama 'Afifah (sebagai partnert di tim medis, yang akhirnya nyasar bantu-bantu di administrasi, ya saya juga sih ahaha), ada Lyris sama Lintang, usia 14 tahun yang sekarang sedang menjalani homeschooling. Dan kalau nanya anak homeschooling itu bukan tanya kelas berapa?, melainkan tanya, sekarang lagi belajar apa? Selidik punya selidik, Lyris ini lagi belajar musik, piano, biola, juga seni tari; di samping dia preparing untuk ambil ujian paket B biar dapet ijazah SMP aja. Begitu juga Lintang, eh tapi Lintang sedang mendalami seni rupa. Dan ketemu Lintang tuh langsung klop karena sesama penyuka anime dan manga. Hahaha. Mendadak heboh begitu kita tau sesama otaku.

Saya jadi kenal mbak-mbak pegawai di Padepokan Margosari (tempatnya Bulik Septi), ada Kak Anie dan Kak Yusti bagian administrasi, ada Kak Erma (yang ternyata seumuran --a) di Edutrip (start up di bidang trip edukasi gitu, tapi ke area-area yang emang di Salatiga ataupun punya komunitasnya Bulik Septi, semacam ke lebah putih, dll), ada Kak Noor di Teti (start up yang membuka coding course yang menyenangkan?; well, buat saya tetep aja kalo ada angkanya jadi bingung haha, tapi boardgamenya teti seru deh, saya sempet main bareng-bareng volunteer).

Kenal sama beberapa tante dan om peserta cangkrukan yang luar biasa. Ada tante (siapa ya namanya ya? haha) yang share tentang bagaimana beliau membuat kurikulum di rumahnya untuk anak-anaknya yang homeschooling dengan metode gamification. Dan tante-tante dan om-om lainnya yang juga menyulut semangat belajar saya hanya dengan memperhatikan mereka. Mereka luar biasa. Saya yakin biaya yang dikeluarkan untuk family camp itu nggak sedikit. Apalagi, di Cangkrukan semua fasilitas disediakan, tenda, matras, sleeping bag, makan, coffee break, minum dan galon, kit yang isinya kaos, tote bag dan notebook. Bisa dibilang keluarga dateng udah tinggal bawa perlengkapan pribadi, sama diri aja. Ya kalo mau bawa cemilan-cemilan itu mah bebas ya. Haha.

Dengan seringnya saya berinteraksi dan bersinggungan dengan Bulik Septi, keluarga dan acaranya, saya jadi sedikit banyak memahami tentang homeschooling, dan terjawab pula beberapa pertanyaan yang umum muncul, semacam, nanti kalo homeschooling, anak-anak interaksinya gimana? homeschooling mahal kan ya karena harus menghadirkan guru ke rumah? (itu homeschooling atau privat bu? haha) Nanti menyusun kurikulumnya gimana? Dan sebagainya dan sebagainya.

Jarang sekali ada kesempatan dimana kamu dapat ilmu luar biasa banyak, luar biasa keren, dan secara gratis. (iya, saya masuk secara gratis sebagai volunteer, dengan syarat membantu penanganan pertama orang-orang yang sakit, itu aja.). Dan saya merasa betapa luar biasanya hal itu. Alhamdulillahnya, saya ditemani 'Afifah sebagai partnert. 'Afifah adalah teman saya sejak SMA, konco kentel bangetlah. Dan 'Afifah ini teman luar biasa untuk diajak ngobrol dan berkontemplasi. Jadi, setelah sehari selesai, kemudian ada masa dimana saya ngobrolin materi hari sebelumnya sama 'Afifah, mengkontemplasikan dan mengkorelasikan dengan hal-hal yang sudah kami terima selama ini.

well, Sekian dulu catatan oleh-oleh dari Cangkrukan. Semoga berkesempatan menulis bagian kedua (dan ketiganya kalau ada).

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar