Belakangan, rasanya saya malu bertemu adik-adik binaan di halaqah. Semangat mereka masih membara, sebagaimana anak-anak tingkat satu-tingkat dua kuliah. Sudah setahun ini berjalan bareng dengan adek-adek yang sekarang saya pegang. Sejujurnya, saya nggak tau apakah saya sudah jadi murabbi yang baik atau belum, toh sepanjang tahun saya megang bertepatan dengan social anxiety saya yang semakin parah. Saya banyak ngilang dari mereka. Dan mungkin, dari sana saya banyak dzhalim.
Lalu, rasanya lebih malu lagi ketika mereka dengan semangat nanyain kabar saya, sementara saya jarang tanya kabar mereka. Dengan semangat nanya kapan liqo, sementara saya masih belum menyiapkan kurikulum untuk beberapa minggu ke depan. dengan semangat bertanya banyak hal saat halaqah, sementara saya jawabnya seringkali normatif.
Saya malu mengakui diri saya murabbi, yang seharusnya menjadi pendidik akan karakter daawy adik-adik. Sementara, justru setahun ke belakang saya stagnan atau bahkan mengalami kemunduran.. Saya malu pada adik-adik yang setiap harinya semakin berkembang, sementara saya selalu bilang, yang namanya dakwah itu, 'kita jadi baik dan mengajak orang lain menjadi baik juga'. Jadi baiknya bareng-bareng. Tapi, rasanya saya menelan sendiri omongan saya. Saya masih stagnan.
Setahun ke belakang saya memang banyak membahas seputar tauhid, seputar aqidah, seputar sirah, sembari sedikit-sedikit menyerempet dakwah; agar nanti kerja-kerja mereka bukanlah karena mereka harus berdakwah. Tapi karena memang kecintaan mereka pada Allah. Pun seandainya saat jenuh menyapa, mereka bisa mengengiat apa-apa yang telah kami pelajari bareng-bareng; sebagaimana saya selama ini.
Lalu pekan lalu saat bertemu dengan mereka, mereka mulai mempertanyakan, mulai mencerna value-value yang memang seharusnya seorang dai punya. Visi dakwah. "Mbak, dulu aku ikut organisasi karena mau ngisi waktu aja, terus sekarang banyak dapet tentang dakwah, tentang ini, tentang itu, terus aku jadi bingung." Katanya. Dear, kebingungan adalah tanda bahwa mereka belajar. Tinggal bagaimana merumuskan langkah setelah kebingungan itu.
Tapi, justru rasanya saya tertohok dengan hal-hal polos yang mereka lontarkan. Hasil dari segala kebingungan, kegelisahan mereka. Mereka belajar. Saya? Apa yang sudah saya dapat selama mengelola halaqah mereka setahun ke belakang? Apakah itu mendorong saya menjadi lebih baik? Atau apa?
Setahun terakhir memang tahun yang berat buat saya. Saya depresi. Saya cemas. Saya membuat keputusan-keputusan besar, memilah dan memilih mana yang bisa mendukung kehidupan dan dakwah saya, mana yang perlu saya lepas. Waktu-waktu kritis di penghujung kuliah dan di penghujung jabatan organisasi ekstrakampus juga. Tapi, harusnya saya belajar sesuatu. Nyatanya saya masih merasa stagnan. stagnan dalam kondisi yang begini-begini aja. Ketakutan untuk melangkah. Ketakutan untuk merencanakan. Saya merasa tidak banyak berkontribusi untuk apapun selama setahun ke belakang. Untuk organisasi yang saya ikuti, untuk dakwah, untuk apapunlah.
Dari situ, saya mengingat kembali tentang hijrah. Saya jadi paham mengapa berhijrah itu penting. Karena dengan berhijrah, kita jadi bisa melihat lebih jelas hal-hal yang tidak kita lihat dalam kondisi sebelumnya. Karena dengan berhijrah kita jadi menemukan hal baru, semangat baru, tantangan baru. Karena dengan berhijrah, kita jadi bersyukur.
Saya harus segera berhijrah dari kondisi saya yang masih mahasiswa S1. Saya harus bergerak, biar saya yang udah mlempem ini nggak semakin mlempem. Biar adik-adik saya nggak ikut mlempem karena saya. Biar adik-adik saya bisa jadi adik-adik yang lebih keren dari saya. Lebih keren dari generasi murobbi saya.
Seandainya saya nggak terlanjur jatuh cinta sama membina dan adik-adik saya, sudah saya tinggalkan sejak dulu karena saya benar-benar malu dengan kondisi saya yang menjadi murobbi ala kadarnya. :(
Terharu mbk ty :" 😗💖
BalasHapus