Selasa, 15 Januari 2019

Denial dan Acceptance

kemarin, saat liqo, murabbi saya membahas tentang prokastinasi, salah satu bagian dari sebuah buku, cuma saya lupa bukunya apa.inti bahasannya salah satunya adalah, sebelum menghilangkan dan membenci sikap prokastinasi alias menunda-nunda ini, ya kita terima dulu kalo kita, sebagai manusia, sewajarnya emang punya sifat, bibit, benih prokastinasi. diterima dulu, baru, dibenerin. Kalau kita terus-terusan membenci sifat prokastinasi yang ada dalam diri kita, sifat itu justru ga akan selesai.

kemudian, saya jadi relate. bahwa sampai detik ini saya masih denial kalau saya anak koas, mahasiswa kedokteran, yang waktunya banyak tersita di rumah sakit dan tugas-tugas. saya kelabakan dengan fakta bahwa waktu saya nggak sebanyak dulu lagi. bayangin dong, udah dari jalan setengah koas, yang berarti udah jalan 11 bulan koas, saya masih denial. Apa nggak capek hidup saya?

capek. banget. setiap harinya capek mental menghadapi orang-orang di rumah sakit baik itu konsulen, residen, perawat, pasien, ataupun koas lainnya, capek tugas-tugas, capek jaga, masih capek melawan diri sendiri. ya ampun, berat banget si hidup kamu ty wkwk semua-mua dipikirin.

Apalagi, saya sering berpikiran kalau, nantinya saya nggak akan jadi dokter karena saya punya keinginan yang lain. jadilah saya menyeret langkah dalam menjalani kehidupan koas. saya benar-benar kosong.ilmunya kosong, enggan belajar. spiritualnya juga kosong, bingung beradaptasinya dengan waktu yang emang sempit. saya jadi bingung. lama-lama saya jadi membenci diri saya. saya benci diri saya yang ogah-ogahan belajar, saya benci diri saya yang ogah-ogahan ibadah-terutama sejak koas.

sejak koas, hidup saya berubah 180 derajat. saya jadi banyak bingungnya. kehilangan tujuan juga, lalu sembari menggeh-menggeh untuk catch up dengan yang lain, saya menggeh-menggeh juga untuk catch up dengan diri saya yang dulu, yang paling tidak -amalan yauminya terjalani. thus, saya jadi benci diri saya yang memilih untuk koas ketimbang lanjut S2 IKM, saya jadi membenci diri saya sendiri yang sudah emmilih koas tapi enggan menjalani, atau menjalaninya dengan bodoh plus ogah-ogahan, plus minderan.

Lalu, sejak koas juga saya merasa sering nggak punya waktu untuk diri sendiri, dan itu yang sulit, sementara saya suka banget menghabiskan waktu sendirian, -terutama untuk hal yang nggak berguna, dan untuk menenangkan diri juga pikiran. jadilah saya terus-terusan denial kalo saya udah koas.

saya tanpa sadar sering berpikir bahwa apa yang saya lakukan ini salah. tanpa sadar saya menyesali keinginan saya untuk koas, melupakan tujuan awal saya koas : menaklukan diri sendiri. dan karenanya saya sering berpikir untuk nggak jadi dokter setelah ini, yang berimbas pada semakin ogah-ogahan ngejalanin koas. padahal koas cuma dua tahun kalo dibandingin sama masa S1 yang 3,5-4 tahun, ya ini separonyalah. dan saya juga udah menghabiskan separonya, tinggal separo dari separo. tapi, saya masih gini-gini aja, malah semakin ogah-ogahan. lalu saya jadi semakin membenci diri saya dari hari ke hari.

dan wow, it's tiring. yaiyalah saya capek, tiap hari berantem sama diri sendiri, tiap hari mencemaskan hal-hal yang nggak ada kaitannya dengan hari ini. berpikirnya kejauhan. kejauhan ke depan juga ke belakang. bikin saya terjebak di antara masa depan dan masa lalu, tapi tidak hari ini. padahal, hari ini saya hidup. saya hidup di hari ini. Bukan di masa lalu, juga bukan di masa depan.bahkan, saya nggak tau euy, di masa depan, ketika saya memutuskan untuk melanjutkan jadi dokter atau tidak -apakah saya masih hidup atau tidak.

saya ingin berdamai dengan diri saya sendiri. saya ingin sadar bahwa saya sedang koas, dan menerima seutuhnya hidup saya yang berjalan lebih 'lambat' daripada teman-teman seusia saya. saya ingin bisa menerima diri saya tanpa membencinya. menerima diri saya pencemas, mudah panik, dan segala keburukan lainnya.

saya ingin menerima diri saya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar