Cinta pertama saya belum berubah, dan mungkin tidak akan berubah. Pada ia yang saya dengar pertama kalinya melantunkan adzan dan iqomah di telinga saya. Jelas bukan Bilal bin Rabbah. Suaranya tak sebagus itu. Bahkan mungkin saya tidak ingat seperti apa rupa dan bentuk suaranya saat itu. Yang saya ingat suara-suara setelahnya, yang kerap kali mengajarkan, mulai dari hal terkecil, hal remeh temeh, hingga hal-hal besar. Mulai dari doa bangun tidur hingga doa saat resah. Yang kerap kali memberi dukungan, meski tak terucap. Yang kerap kali memberi apresiasi tanpa batas.
Ia yang selalu bersabar mendengar, meski keluhnya sendiri ia tahan. Sesekali ia lepas hanya untuk mengingatkan, bahwa mengeluh bukannya tidak boleh; tapi ada hal yang perlu dilakukan agar keluhan tidak menelan kita.
Ia -tempat saya bertanya saat saya sakit, meski bukan dokter. Tempat saya bertanya pula tentang alat-alat elektronik yang rusak, meski bukan insinyur. Tempat saya bertanya banyak hal, tentang kehidupan, tentang Islam, tentang Allah, tentang Rasulullah, meski bukan ustadz ataupun filsuf.
Ia, tempat saya pulang. Tempat di mana hati saya berpulang. Tempat di mana saya mengenal 'tempat berpulang' sesungguhnya.
Ia yang berkata, "Nggak apa, Dek kaluar dari rumah, sekolah yang jauh. Dunia lebih luas dari sekedar Depok."
Ia yang meyakinkan, "Jangan menyerah di sini. Ini kan pilihanmu untuk sekolah jauh. Kamu sudah memulai, jadi selesaikan. Kamu udah basah, sekalian nyebur, diving, snorkling. Karena kamu nggak akan tahu keindahan laut yang sebenarnya kalau kamu cuma main di permukaannya," Ketika saya meminta untuk kembali ke rumah.
Dan, kini lagi-lagi, Ia yang mendorong, mendukung, menopang saya, "Kamu, lebih kuat dari apa yang kamu pikirkan. Jangan memandang rendah diri kamu sendiri. Kamu pernah kok mengalami hal yang jauh lebih nggak menyenangkan daripada sekedar skripsi, dulu saat di pondok? Ketika kamu harus jauh dari orang tua di usia semuda itu, dengan tekanan seberat itu."
Lalu, Ia yang selalu menutup obrolan dengan, "Istighfar Dek, dzikir. Sebut aja kalimatullah yang kira-kira enak kamu ucapkan. Supaya kamu nggak hilang kendali."
Ia, cinta pertama saya. Dan hingga detik ini dan seterusnya, saya masih akan selalu mencintainya.
Ia mengenalkan saya pada dunia. Juga akhirat.
Ia bukan siapa-siapa, hanya seorang Bapak.
Ya, Rabb, izinkan saya menjadi kunci surga bagi kedua orang tua saya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar