Minggu, 03 Juli 2016

Rumahku, Surgaku

Adik berlarian masuk ke rumah. "Bundaaa..! Buun ...!"

"Iya, sayang?" Bunda menyambut dari arah dapur. Adik langsung memeluk Bunda.

"Salam dulu kek, Dik. Assalamu'alaikum, Bun," Ujar Kak Nda dari balik Adik.

"Assalamu'alaikum, Bundaa"

Bunda tersenyum. Sekarang anak-anak ini sudah mulai terbiasa untuk salam ketika akan masuk rumah. "Wa alaikum salam, Adik, Kak Nda. Gimana tadi ke pesta ulang tahunnya Sarah?"

Adik dan Kak Nda memang baru saja pulang dari rumah Sarah, teman Kak Nda yang merayakan ulang tahunnya ke-11 dengan mengundang teman-teman sekolahnya. Sebenarnya yang diundang hanya Kak Nda, tapi saat Kak Nda mau berangkat tadi, Adik ribut pengen ikutan ke pesta ulang tahun. Jadilah Kak Nda membawanya serta. Ketambahan satu orang sepertinya tidak apa-apa, asal Kak Nda tidak membawa serta sepupunya juga.

"Bun, Bun, rumahnya Kak Sarah gedee banget deh Bun." Celoteh Adik riang begitu semuanya duduk di ruang baca keluarga, turut menghampiri Bang Dya yang masih asyik membaca komik di sana. Membagi-bagi bingkisan yang dibawa pulang dari rumah Sarah.

"Oh iya? Dan sebesar apakah itu?" Tanya Bunda menanggapi Adik.

"Besaaar bangeeet Bun," Kata Adik sembari merentangkan kedua tangannya lebar-lebar. "Terus ya Bun, ada tangganya, kamarnya Kak Sarah ada di atas Bun. Terus Adik naik kan ke atas. Di atasnya juga besaaar Bun. Besaaar kayak istana Bun."

"Biasa aja kali, Dik. Lebay banget sih." Celetuk Bang Dya yang diam-diam turut memperhatikan tingkah Adik. Bunda tertawa.

"Adik suka rumah yang besar begitukah?" Tanya Bunda lagi.

"Hmm.. kayak istana sih Bun ..." ada ragu terselip dalam jawabnya.

"Kalo Kak Nda sama Bang Dya gimana? Suka nggak kalo punya rumah yang besar gitu, kayak rumah Kak Sarah?"

"Nggak juga Bun. Kan kalo lagi sendirian serem." Ungkap Kak Nda yang masih sibuk membagi-bagi bingkisan makanan menjadi adil untuk bertiga.

"Kalo Abang ga bisa main sepeda di dalem rumah yang gede mah sama aja boong Bun ..." jawab Bang Dya asal. Bunda tertawa.

"Adik sini, duduk deket Bunda, Bunda bilangin sesuatu. Buat Kak Nda sama Bang Dya juga." Ketiganya merapat mendekati Bunda.

"Kalo rumahnya di dunia, rumah yang sebesar yang kita punya ini sudah cukup, Nak. Satu lantai, ada kamar untuk tidurnya, ada dapurnya untuk masak, ada kamar mandinya buat mandi, buang air kecil, buang air besar juga. Ada garasinya untuk naruh kendaraannya Abi, sepedanya Kak Nda sama Bang Dya juga.

Ada lho Nak, yang rumahnya hanya ada satu ruangan, ya masak di situ, ya tidur di situ, dan kalo mandi di sungai. Ada juga yang bahkan tidurnya ga pakai rumah. Tapi di jalan-jalan, di stasiun, di terminal. Karena memang mereka ga punya cukup uang untuk punya rumah.

Tapi Nak, ada yang merasa rumahnya luas meski hanya sepetak tanah, seluas kamar Kak Nda sama Adik tapi ditinggali oleh 5 orang. Ada pula yang merasa rumahnya sempit meski luasnya cukup untuk orang sekampung. Semuanya tergantung sama kitanya yang menempati..."

"Tergantung kita bersyukur ato nggak. Ya kan Bun?" Potong Kak Nda di tengah-tengah. Bunda mengacungkan dua jempolnya ke arah Kak Nda.

"Yup. Kita syukuri yang kita miliki. Alhamdulillah Allah masih kasih kita rumah tempat berlindung dari panas, dingin, hujan ataupun terik matahari.

Kalau di dunia itu ya Nak, tidak apa rumahnya sempit. Yang penting nyaman. Nyaman untuk ditinggali dan dipakai ibadah. Yang penting hidup dengan obrolan dan aktivitas yang baik di dalamnya juga dengan shalat penghuninya. Dan yang penting terang dengan bacaan Quran para penghuninya.

Dan kalau mau punya rumah yang besar nanti saja, di surga. Rumah yang kayak istana. Kita bangun rumahn di surganya bareng-bareng. Bunda sama Abi, sama Adik, sama Kak Nda juga Bang Dya."

"Caranya gimana Bun?" Tanya Adik. Matanya melebar tertarik.

"Shalat dhuha, Nak. Juga sedekah dan infaq. Semoga dengan yang sedikit yang kita berikan ke orang lain bisa jadi batu bata yang menyusun rumah kita, istana kita di surga nanti." Bunda tersenyum mengakhiri ceritanya.

"Kak Nda mau Bun punya rumah yang kayak istana di surga."

"Bang Dya juga mau."

"Kalau gitu, mulai besok, kalau Bunda sama Abi kasih uang saku, Kakak sama Bang Dya menyisihkan sedikit untuk diinfaqkan ke masjid. Atau dikumpulkan dulu di kotak, nanti kalau sudah banyak baru disedekahkan."

"Lah Bun, adik kan ga ada uang saku, Adik sedekah pake apa?" Tanya Adik yang baru saja masuk TK nol kecil.

"Bisa dengan senyum, sayang. Rasulullah pernah bilang, senyummu untuk saudaramu adalah sedekah. Senyum, dengan senyum kita bikin orang lain juga jadi senyum. Senyum itu nular, Nak kalau senyumnya dari hati. Karena yang dari hati akan sampai ke hati pula."

"Iya, Bun. Mulai sekarsng Adik ga may banyak-banyak cemberut. Biar bisa nyumbang batu bata buat istana kita di surga nanti"

Bunda memeluk ketiga anaknha sekaligus. Betapa cintanya terhadap ketiga anaknya membuatny senantiasa berdoa semoga istananya di surga benar-benar terbangun dari usaha kelima orang yang ada di keluarganya. :)

#29HariMenulisCinta
Keluarga Samudera series

Untuk Kak Nda, Bang Dya, dan Adik, selamat mengeksplor dunia :)
Selamat menyusun batu bata untuk rumah yang seperti istana di surga nanti :)

1 komentar: