30 agustus 2014.
2014 ini menjadi tahun ke 9 saya tidak di rumah. Sejak
memutuskan hengkang kaki di tahun 2006 lalu, saya hampir tidak mengikuti
perkembangan yang ada di keluarga kecil saya di Depok sana. Mau bagaimana lagi,
pendidikan di asrama selama 6 tahun memiliki peraturan ketat dalam penggunaan
telepon, maupun sosial media pun juga izin keluar dan menginap. Setelah 6 tahun saya keluar rumah kemudian
memilih melanjutkan studi di Jogja. Ini tahun ketiga saya di Jogja, dan di
tahun-tahun di mana saya tinggal di Jogja, yang saya pikir akan lebih intens
lagi untuk pulang ke rumah ataupun sekedar menelpon dan menyapa melalui sosial
media juga akhirnya hanya jadi sebuah wacana. Saya jarang pulang, pun saya
jarang menelpon. Dan hampir nggak mungkin buat ditelpon dari rumah, kecuali ada
urusan sangat penting pake banget.
Jadi, selama sembilan tahun saya absen dari rumah, saya
hanya bisa terkaget-kaget melihat perubahan yang ada setiap saya pulang.
Termasuk perubahan pada salah seorang kakak saya-yang hari ini mengakhiri
statusnya sebagai mahasiswa S1. Muhammad Iqbal Satria. Atau saya memanggilnya,
Mas Iqbal, eh, lebih ke Masiqbal sih (diucapkan dengan tidak memberi jeda
antara kata ‘Mas’ dan ‘Iqbal’), atau Mas Ibal.
Jujur aja, saya beberapa kali kaget dengan perubahan Mas
Iqbal yang hanya saya lihat setiap kali libur kenaikan kelas atau libur
lebaran. Yah secara, cowok gitu. Setelah memasuki masa pubernya, pasti akan ada
lonjakkan pertumbuhan yang lebih cepat secara fisik dan diikuti perkembangan
secara kognitif ketimbang pertumbuhan seorang anak perempuan. Makanya, kalau
saya lihat Mbak Nurza, kakak pertama saya, ya nggak akan beda jauh dengan yang
saya lihat sebelum saya pergi dari rumah, karena beliau sudah mencapai masa
pubernya sejak sebelum saya keluar rumah. Tapi, berbeda dengan Mas Iqbal.
Pernah suatu ketika di MTs, saya berniat menelpon rumah
lewat wartel di pondok. Saat itu, yang ngangkat telpon Mas Iqbal-yang suaranya
nggak lagi sama kayak sebelumnya (well, dia cowok -,-). Saya bilang, “Halo,
Assalamu’alaikum”. Dia jawab, “Wa Alaikum salam, dengan siapa?” dalam hati
saya, ‘Mampus, siapa nih? Kok gue nggak kenal suaranya? Masa salah nomer?’ Dan
seketika itu juga saya tutup telponnya, karena nggak kepikiran kalau itu Mas
Iqbal, dan saya bener-bener takut salah nomer. (Wartel, woy, kalau diterusin
salah nomernya mah ngabis-ngabisin duit bulanan -,-). Tapi, masih di bilik
telpon itu juga, saya mikir. Saya coba tekan ulang nomer rumah saya. “Halo,
Assalamu’alaikum.” Ucap saya, berdoa supaya nggak salah sambung. “Wa alaikum
salam” Jawab suara yang sama. “Ah mmm.. Ini Tyani, Bapak ada?” Kata saya
akhirnya. “Oh ada, bentar ya dek”. Kata suara di seberang. ‘Dek’? Dan, akhirnya
saya baru mikir kalau itu adalah Mas Iqbal yang sudah mulai mendewasa .. hehe
..
Well, dan sekarang Mas saya yang tumbuh menjadi pribadi yang
nyentrik itu mengakhiri statusnya sebagai mahasiswa strata 1. Yah, menurut saya
kakak saya itu nyentrik. Mungkin, menurut Mas Iqbal saya nyentrik, mengingat saya dan Mas Iqbal
tumbuh di lingkungan berbeda, maka jalan pikiran kami pun terbentuk secara
berbeda. Teman-teman saya banyak yang heran ketika liihat foto kakak saya yang
pernah saya uplot di fb. Pun juga, mungkin, teman-teman Mas Iqbal heran juga
ngeliat foto saya (itupun kalo ada yang lihat, hehe) …
Saya, sejujurnya, Cuma punya sedikit ingatan bareng Mas
Iqbal, dan itupun hanya sampai saya kelas 6 SD. Selebihnya, saat saya mulai
keluar rumah, saat itu pula Mas Iqbal berkembang menjadi pribadi yang mengesankan
dan disibukkan dengan urusan-urusannya di kampus, baik organisasi, akademik,
Band, dan lain-lain yang saya juga nggak apa persisnya.
Saya ingat waktu kecil, bahkan antara saya dan Beliau, masih
lebih berani saya. (haha). Saya ingat gimana Mas Iqbal nggak mau ditinggal Ibu
waktu di TK. Padahal, saya juga masuk TK yang sama, dan saya ditinggal Ibu
(iyalah, orang Ibu saya nemenin Mas Iqbal yang nggak mau ditinggal). Saya juga
ingat, gimana dulu, waktu SD, Saya sering dipalakkin sama Mas Iqbal karena uang
jajan saya pasti sisa, dan uang jajan Mas Iqbal pasti habis duluan. Saya juga
ingat gimana jahilnya beliau terhadap saya, yang anak bungsu. Sedikit-sedikit
ngisengin saya sampai, waktu SD tuh, kayaknya rumah selalu rame karena
teriakan-teriakan saya yang nggak suka diisengin sama Beliau. Saya juga ingat
waktu, untuk pertama kalinya saya ke warung hanya berdua dengan Mas Iqbal,
tanpa orang dewasa (saya lupa persisnya umur berapa, mungkin sekitar TK B),
terus Mas Iqbal yang awalnya hahahihi ketawa-ketiwi dan sok jagoan itu jatoh
kesandung batu di tengah jalan menuju warung, tiba-tiba nangis karena lututnya
berdarah, dan saya yang masih terlalu kecil untuk mengerti apa yang sedang
terjadi itu akhirnya memilih untuk turut menangis (hahahaha ..). Perjalanan ke
warung itupun berakhir dengan pulangnya kami berdua dengan tangan kosong dan
itupun dianter pulang sama tetangga yang kaget ngeliat kita berdua nangis di
tengah jalan. Dan segala macam masa kecil yang kami habiskan berdua.
Jujur aja, waktu masuk pondok untuk pertama kalinya, saya
ngerasa legaaaa bangeet karena pisah sama Mas Iqbal. Itu berarti nggak akan ada
yang jahilin saya, ngisengin saya, atau malakkin duit saya. Itu juga berarti
nggak ada perintah-perintah Ibu Bapak yang harusnya dilaksanain sama Mas Iqbal
tapi malah dilempar sama si Mas yang satu itu ke saya (mentang-mentang saya
anak bungsu -,-).
Tapi, ya … hanya sebatas itu. Dan di MTs pula, waktu itu
saya kelas 3, saya sadar bahwa saya sayang banget sama Mas saya itu. Dan untuk
pertama kalinya saya nangisin Mas Iqbal, di kelas conversation lagi (-,-).
Ceritanya, saat itu, kami sedang latihan conversation, menceritakan tentang apa
saja yang bisa diceritakan. Saat giliran saya, saya bercerita tentang Mas
Iqbal, bagaimana jahilnya Beliau, bagaimana beliau nggak suka sayur dan demen
banget makan daging, dan apaaa sajaa tentang beliau. Sebenarnya saya udah nulis
dengan bahasa Inggris sebelum maju ke depan dan bercerita. Tapi, pas di depan,
ketika saya mulai bercerita, satu kalimat, dua kalimat, seterusnya-dan
seterusnya saya masih bisa mengingat apa kalimat selanjutnya yang harus saya
ucapkan, tapi, yang hanya sampai di ingatan saya saja. Ternyata air mata saya
mendahului suara saya untuk keluar. Untuk pertama kalinya, saya merasa
kehilangan Mas Iqbal. “Ah, Sorry …” ucapku di tengah-tengah. “Can you continue
your story, dear?” Miss dina, selaku pengampu pelajaran conversation bertanya
pada saya, terlihat khawatir ketika saya menangis di depan. “Yes, Miss. Hold on
a second.” Saya menghapus air mata saya, dan melanjutkan cerita saya ampai
akhir.
Saya tahu, setiap saya pulang ke Depok, selalu ada yang
berubah dari Mas Iqbal. Tapi Mas Iqbal, tetap Mas Iqbal. Kakak saya yang iseng,
yang nggak suka sayur, yang suka ngasih barang-barang tanpa mikir, yang
objektif dan rasional, yang disukai sama anak-anak kecil. Gimana pun, udah jadi
sarjana atau belum, udah kerja atau belum, udah punya pacar atau bahkan udah
punya istri pun Mas Iqbal tetep Mas Iqbal yang saya sayangi …
Happy graduation, Mas! Semoga ilmunya berkah, dan semoga
ilmu yang Mas Iqbal miliki bisa membawa Mas Iqbal pada kebaikan-kebaikan yang
menanti di masa depan nanti.
Doakan saya segera nyusul wisudaan! 2016 Insya Allah ~ :D

Tidak ada komentar:
Posting Komentar