Jumat, 05 September 2014

Happy Graduation, Mas Iqbal!

30 agustus 2014.

2014 ini menjadi tahun ke 9 saya tidak di rumah. Sejak memutuskan hengkang kaki di tahun 2006 lalu, saya hampir tidak mengikuti perkembangan yang ada di keluarga kecil saya di Depok sana. Mau bagaimana lagi, pendidikan di asrama selama 6 tahun memiliki peraturan ketat dalam penggunaan telepon, maupun sosial media pun juga izin keluar dan menginap.  Setelah 6 tahun saya keluar rumah kemudian memilih melanjutkan studi di Jogja. Ini tahun ketiga saya di Jogja, dan di tahun-tahun di mana saya tinggal di Jogja, yang saya pikir akan lebih intens lagi untuk pulang ke rumah ataupun sekedar menelpon dan menyapa melalui sosial media juga akhirnya hanya jadi sebuah wacana. Saya jarang pulang, pun saya jarang menelpon. Dan hampir nggak mungkin buat ditelpon dari rumah, kecuali ada urusan sangat penting pake banget.

Jadi, selama sembilan tahun saya absen dari rumah, saya hanya bisa terkaget-kaget melihat perubahan yang ada setiap saya pulang. Termasuk perubahan pada salah seorang kakak saya-yang hari ini mengakhiri statusnya sebagai mahasiswa S1. Muhammad Iqbal Satria. Atau saya memanggilnya, Mas Iqbal, eh, lebih ke Masiqbal sih (diucapkan dengan tidak memberi jeda antara kata ‘Mas’ dan ‘Iqbal’), atau Mas Ibal. 

Jujur aja, saya beberapa kali kaget dengan perubahan Mas Iqbal yang hanya saya lihat setiap kali libur kenaikan kelas atau libur lebaran. Yah secara, cowok gitu. Setelah memasuki masa pubernya, pasti akan ada lonjakkan pertumbuhan yang lebih cepat secara fisik dan diikuti perkembangan secara kognitif ketimbang pertumbuhan seorang anak perempuan. Makanya, kalau saya lihat Mbak Nurza, kakak pertama saya, ya nggak akan beda jauh dengan yang saya lihat sebelum saya pergi dari rumah, karena beliau sudah mencapai masa pubernya sejak sebelum saya keluar rumah. Tapi, berbeda dengan Mas Iqbal.

Pernah suatu ketika di MTs, saya berniat menelpon rumah lewat wartel di pondok. Saat itu, yang ngangkat telpon Mas Iqbal-yang suaranya nggak lagi sama kayak sebelumnya (well, dia cowok -,-). Saya bilang, “Halo, Assalamu’alaikum”. Dia jawab, “Wa Alaikum salam, dengan siapa?” dalam hati saya, ‘Mampus, siapa nih? Kok gue nggak kenal suaranya? Masa salah nomer?’ Dan seketika itu juga saya tutup telponnya, karena nggak kepikiran kalau itu Mas Iqbal, dan saya bener-bener takut salah nomer. (Wartel, woy, kalau diterusin salah nomernya mah ngabis-ngabisin duit bulanan -,-). Tapi, masih di bilik telpon itu juga, saya mikir. Saya coba tekan ulang nomer rumah saya. “Halo, Assalamu’alaikum.” Ucap saya, berdoa supaya nggak salah sambung. “Wa alaikum salam” Jawab suara yang sama. “Ah mmm.. Ini Tyani, Bapak ada?” Kata saya akhirnya. “Oh ada, bentar ya dek”. Kata suara di seberang. ‘Dek’? Dan, akhirnya saya baru mikir kalau itu adalah Mas Iqbal yang sudah mulai mendewasa .. hehe ..

Well, dan sekarang Mas saya yang tumbuh menjadi pribadi yang nyentrik itu mengakhiri statusnya sebagai mahasiswa strata 1. Yah, menurut saya kakak saya itu nyentrik. Mungkin, menurut Mas Iqbal  saya nyentrik, mengingat saya dan Mas Iqbal tumbuh di lingkungan berbeda, maka jalan pikiran kami pun terbentuk secara berbeda. Teman-teman saya banyak yang heran ketika liihat foto kakak saya yang pernah saya uplot di fb. Pun juga, mungkin, teman-teman Mas Iqbal heran juga ngeliat foto saya (itupun kalo ada yang lihat, hehe) …
Saya, sejujurnya, Cuma punya sedikit ingatan bareng Mas Iqbal, dan itupun hanya sampai saya kelas 6 SD. Selebihnya, saat saya mulai keluar rumah, saat itu pula Mas Iqbal berkembang menjadi pribadi yang mengesankan dan disibukkan dengan urusan-urusannya di kampus, baik organisasi, akademik, Band, dan lain-lain yang saya juga nggak apa persisnya.

Saya ingat waktu kecil, bahkan antara saya dan Beliau, masih lebih berani saya. (haha). Saya ingat gimana Mas Iqbal nggak mau ditinggal Ibu waktu di TK. Padahal, saya juga masuk TK yang sama, dan saya ditinggal Ibu (iyalah, orang Ibu saya nemenin Mas Iqbal yang nggak mau ditinggal). Saya juga ingat, gimana dulu, waktu SD, Saya sering dipalakkin sama Mas Iqbal karena uang jajan saya pasti sisa, dan uang jajan Mas Iqbal pasti habis duluan. Saya juga ingat gimana jahilnya beliau terhadap saya, yang anak bungsu. Sedikit-sedikit ngisengin saya sampai, waktu SD tuh, kayaknya rumah selalu rame karena teriakan-teriakan saya yang nggak suka diisengin sama Beliau. Saya juga ingat waktu, untuk pertama kalinya saya ke warung hanya berdua dengan Mas Iqbal, tanpa orang dewasa (saya lupa persisnya umur berapa, mungkin sekitar TK B), terus Mas Iqbal yang awalnya hahahihi ketawa-ketiwi dan sok jagoan itu jatoh kesandung batu di tengah jalan menuju warung, tiba-tiba nangis karena lututnya berdarah, dan saya yang masih terlalu kecil untuk mengerti apa yang sedang terjadi itu akhirnya memilih untuk turut menangis (hahahaha ..). Perjalanan ke warung itupun berakhir dengan pulangnya kami berdua dengan tangan kosong dan itupun dianter pulang sama tetangga yang kaget ngeliat kita berdua nangis di tengah jalan. Dan segala macam masa kecil yang kami habiskan berdua.

Jujur aja, waktu masuk pondok untuk pertama kalinya, saya ngerasa legaaaa bangeet karena pisah sama Mas Iqbal. Itu berarti nggak akan ada yang jahilin saya, ngisengin saya, atau malakkin duit saya. Itu juga berarti nggak ada perintah-perintah Ibu Bapak yang harusnya dilaksanain sama Mas Iqbal tapi malah dilempar sama si Mas yang satu itu ke saya (mentang-mentang saya anak bungsu -,-).

Tapi, ya … hanya sebatas itu. Dan di MTs pula, waktu itu saya kelas 3, saya sadar bahwa saya sayang banget sama Mas saya itu. Dan untuk pertama kalinya saya nangisin Mas Iqbal, di kelas conversation lagi (-,-). Ceritanya, saat itu, kami sedang latihan conversation, menceritakan tentang apa saja yang bisa diceritakan. Saat giliran saya, saya bercerita tentang Mas Iqbal, bagaimana jahilnya Beliau, bagaimana beliau nggak suka sayur dan demen banget makan daging, dan apaaa sajaa tentang beliau. Sebenarnya saya udah nulis dengan bahasa Inggris sebelum maju ke depan dan bercerita. Tapi, pas di depan, ketika saya mulai bercerita, satu kalimat, dua kalimat, seterusnya-dan seterusnya saya masih bisa mengingat apa kalimat selanjutnya yang harus saya ucapkan, tapi, yang hanya sampai di ingatan saya saja. Ternyata air mata saya mendahului suara saya untuk keluar. Untuk pertama kalinya, saya merasa kehilangan Mas Iqbal. “Ah, Sorry …” ucapku di tengah-tengah. “Can you continue your story, dear?” Miss dina, selaku pengampu pelajaran conversation bertanya pada saya, terlihat khawatir ketika saya menangis di depan. “Yes, Miss. Hold on a second.” Saya menghapus air mata saya, dan melanjutkan cerita saya ampai akhir.

Saya tahu, setiap saya pulang ke Depok, selalu ada yang berubah dari Mas Iqbal. Tapi Mas Iqbal, tetap Mas Iqbal. Kakak saya yang iseng, yang nggak suka sayur, yang suka ngasih barang-barang tanpa mikir, yang objektif dan rasional, yang disukai sama anak-anak kecil. Gimana pun, udah jadi sarjana atau belum, udah kerja atau belum, udah punya pacar atau bahkan udah punya istri pun Mas Iqbal tetep Mas Iqbal yang saya sayangi …

Happy graduation, Mas! Semoga ilmunya berkah, dan semoga ilmu yang Mas Iqbal miliki bisa membawa Mas Iqbal pada kebaikan-kebaikan yang menanti di masa depan nanti.

Doakan saya segera nyusul wisudaan! 2016 Insya Allah ~ :D




Tidak ada komentar:

Posting Komentar