Jumat, 05 September 2014

25 Tahun pernikahan Ibu Bapak

------

Saat menulis ini, usiaku jelang 20 tahun. Dalam hitungan hari-yg msh bs dihitung dengan jari tangan-saya akan menanggalkan status "late adolescent" dan masuk ke dalam "early adulthood" setidaknya begitu yg saya pelajari. 

Dan di usia saya yg 20 tahun ini juga, usia pernikahan Bapak Ibu saya telah mencapai seperempat abad. 25 tahun. 
Jujur saja, saya baru tahu kemarin, 21 Mei 2014 lalu kalau ternyata Bapak Ibu menikah di tahun 1989. Yang berarti saat menikah, usia kronologis keduanya adalah 29 tahun. 

29 tahun. Lalu, punya anak pertama yg diberi nama Nurza Sari Dhamayanti (perempuan, yg juga kakak pertama saya) di usia 30 tahun. Dua tahun setelahnya, ketika keduanya memasuki usia 32 tahun, keduanya dikaruniai anak kedua, kakak laki-laki saya, yg kemudian diberi nama Iqbal, Muhammad Iqbal Satria. Terakhir saya, dilahirkan dua tahun (atau malah tidak sampai 2 tahun) setelah Mas Iqbal lahir. Diberi nama "Chotimah" yg artinya akhir, dan tidak sengaja benar-benar menjadi penutup dari kakak-beradik ini. 

Saya baru ngeh kemarin kalau Ibu hamil di usia-usia yang mendekati usia "awas". Alias mendekati usia yg sebaiknya sudah tidak hamil lagi-menurut yg saya pelajari di kuliah (CMIIW). Di usia-usia ini, hamil menjadi suatu hal yg perlu dimonitor secara berkala, terutama jika sang ibu punya beberapa faktor resiko yang akan memperburuk kejadian kehamilan tersebut. Tapi, Alhamdulillah nya, mungkin kondisi ibu saya fit saat hamil ketiga anaknya, jadi mampu melahirkan anak-anaknya dengan kelahiran normal pula. 

Itu Ibu saya. Yang setiap melahirkan anak-anaknya senantiasa sendiri di dalam ruangan tanpa suaminya, Bapak saya. Ya ... Itu sih yang saya dengar dari Ibu. Tapi, mengingat Bapak saya takut jarum suntik dan alat-alat semacamnya, saya jadi percaya aja sama cerita Ibu. Hehehe ...

Itu Ibu saya yang baru pakai jilbab rutin setelah saya masuk TQIT Nurul Fikri Depok (sekarang jadi TKIT Nurul Fikri). Ketimbang saya sudah pakai jilbab sejak SD, hitungannya Ibu saya punya semangat belajar Islam yang besar, bahkan melampaui saya yang masih muda, pun ilmu dan pengetahuannya tidak kalah sama saya yang sudah mondok 3 tahun di pesantren dan lanjut 3 tahun di IC serpong. Kalau saya lagi di rumah, saya libur dari kegiatan liqo, tapi Ibu nggak pernah libur. Ibu senin ikut kajian tafsir, Rabu ikut kelas bahasa Arab (walaupun kata Beliau, sekarang beliau berhenti krn sdh sebulan tidak masuk karena sakit, dan waktu itu nemenin eyang di rumah sakit), dan Kamis liqo. Belum lagi kalau ada kajian di masjid dekat rumah. Saya? Kajian manhaj aja belum tentu datang ...

Itu Ibu saya, yang bahkan saat awal bertemu Bapak, masak saja masih diajari Bapak ... Tapi sekarang ... Masakan-masakannya sudah bisa diacungi dua jempol, atau kalau perlu 4 jempol sekalian... 

Lalu Bapak. Bapak saya adalah orang yang paling berpengaruh dalam setiap pemikiran saya yang tercermin dalam setiap perilaku saya. Melalui diskusi-diskusi yang Bapak mulai ketika kami sedang berdua saja, atau beramai-ramai, di sana Bapak menanamkam nilai-nilai Islam dan moral pada anak-anaknya. 

Mungkin benar kalimat bahwa cinta pertama anak perempuan adalah pada Ayahnya. Lawan jenis yang saya cintai pertama kali adalah Bapak. Bapak adalah orang pertama yang mendukung saya masuk pondok, pun juga kuliah di Jogja. Dan Bapak juga yang menguatkan hati Ibu untuk mengizinkan saya keluar rumah. Juga menguatkan hati saya untuk bertahan pada pilihan saya. 

Bapak pula yang mengasah bakat kami bertiga di bidang lukis dan tulis terutama. Waktu kecil, setiap kali kami bertiga luang dan sedang kumpul, Bapak menggiring ketiganya untuk memegang kertas, krayon, pensil warna dan lain-lain untuk akhirnya menggambar objek yang sudah disusun Bapak. Lalu, setiap ada tugas kepenulisan, Bapak tidak sekadar menyuruh kami menulis sesuai umur kami. Tapi harus di atas itu. Saya ingat, waktu SD, saya pernah dapat tugas menulis kebudayaan masing-masing daerah. Karena Bapak berasal dari Solo, saya memutuskan untuk menulis tentang Solo. Di saat teman-teman saya menulis seperti anak SD pada umumnya, saya menulis tugas tersebut persis seperti makalah-makalah yang saya buat waktu SMA. Atas arahan Bapak, saya menulis tugas tersebut dimulai dari pendahuluan, lalu budaya Jawa, dilanjut budaya Jawa Tengah, baru saya menulis tentang kebudayaan Solo nya. Begitulah Bapak saya mengajarkan saya.

Kini, semangat Bapak mengasah bakat dalam melukis pun masih belum padam. Beliau masih menyibukkan diri dalam Komunitas Lukis Cat Air Indonesia. Dan sekarang gores-gores lukisan cat air nya sudah semakin halus, terhitung sejak pertama kali memulai menggunkan cat air, sekitar dua tahun lalu kalau tidak salah. Mungkin, Bapak sudah melampui aturan 10.000 jam, hingga sudah bisa digolongkan ahli. MUNGKIN lho ...

Begitulah orang tua kami, saya, Mas Iqbal, dan Mbak Nurza mengajari kami. Kini usia keduanya sudah 54 tahun. Kalau menurut WHO sudah bisa disebut lansia kategori
Middle Age atau usia pertengahan (adalah kelompok usia dari 45-59 tahun). Lansia. 

Dan, di usia sekarang, sudah berapa persen fungsi organ-organ tubuh keduanya telah berkurang? Mengingat adanya hukum 1%, dimana setiap bertambah satu tahun setelah seseorang memasuki usia 35 tahun, fungsi sebagian besar organ tubuhnya akan berkurang sebanyak 1% (CMIIW). Ditambah lagi kondisi Ibu yang tinggal mengampu satu buah ginjal saja, dan Bapak yang akhir-akhir ini sering stress berlebih pasca meninggalnya Mbah putri dan Mbah kakung Solo, yang berakibat pada perut yang sering sebah. 

25 tahun keduanya membangun rumah tangga, hingga kini anak-anaknya sudah mencapai usia dewasa semua. Saya sadar, tidak banyak hal yang bisa dibanggakan dari saya ataupun kakak-kakak saya bagi kedua orang tua kami. 

Kami-kami ini tidak sekali dua kali berantem sama Ibu atau Bapak. Nggak sekali dua kali juga mengecewakan keduanya. Mungkin juga nggak sekali dua kali kami lupa bahwa orang tua kami sudah mulai menua. Dimana sekarang mungkin bukan zamannya lagi kami meminta perhatian dari keduanya, tapi justru kamilah yang SEHARUSnya memberi perhatian lebih pada keduanya...

Tapi, untuk saat ini, buat saya yang tinggal jauh dari depok ini mungkin satu-satunya perhatian lebih yang bisa saya lakukan ketika jauh adalah hanya berdoa dan menelpon. Saya selalu nggak tahu kapan saya akan pulang, apalagi nanti ketika jadi dokter.... (amiin)

Karenanya, semoga Allah berkenan mengumpulkan kami sekeluarga kembali, baik di dunia maupun si surgaNya nanti ...  


25 Mei 2014 
Ditulis pasca hari ulang tahun pernikahan Bapak Ibu yang ke-25, pada tanggal 21 Mei 2014 lalu

ini yang bikin bapak sendiri, bukan saya. saya cuma bikin tulisannya .. :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar