Jumat, 29 Januari 2016

Kerja . . .

Akhir-akhir ini obrolan nggak akan jauh-jauh dari TA dan juga kerja atau koas (kalo ngomong sama anak jurusan).

Selain anak-anak yang habis lulus masih harus ambil sekolah profesi, macam jurusan saya, atau jurusan sebelah, atau fakultas sebelah (sebut saja anak medika, haha); satu per satu orang sudah mulai merancang usai wisuda mereka akan kemana?

Bahkan teman saya yang baru akan ambil skripsi semester ini pun galaunya nggak jauh-jauh dari sana. habis lulus mau ngapain? Karena kita-kita yang sudah menjejak tingkat akhir kuliah atau bahkan sudah bergelar mahasiswa tua atau mahasiswa bangkotan ini sudah menjejak level akhir dari pendidikan formal utama -terutama kalo mau keterima kerja yang lumayan (S2, S3 atau profesi sebagai tambahan kecuali anak-anak medika). Setelah ini, mungkin sudah harus terjun ke masyarakat, kerja, menggantikan ibu-ibu dan ayah-ayah kami yang berjuang. Siklus kehidupan terus bergulir, sementara kami masih menyocokkan diri dengan kuliah, TA dan akan kerja apa nantinya.

Saya pun meski belajar di fakultas dengan sekolah keprofesian, nggak sekali dua kali berpikir untuk nggak jaid dokter. Apalagi teman-teman yang kuliah di jurusan bukan ilmu terapan (FK itu ilmu terapan, lainnya ilmu murni semacam MIPA, atau biologi, dkk).

Baru-baru ini saya lagi baca komik Ansatsu Kyoushitsu, komik tentang sebuah kelas terbelakang di sebuah SMP elit. Kelas 3 E, kelas yang punya guru yang -sebut saja unik. Oh, saya nggak akan ngereview komik itu di sini, (haha). Yang saya titik beratkan adalah, adegan dimana anak-anak 3E ini harus mengumpulkan formulir rencana karir mereka dan mendiskusikannya dengan wali kelas, serta ada komunikasi antara orang tua dan wali kelas. Dari situ saya memahami bahwa di luar negeri anak-anak sudah mendapat bimbingan karir, bahkan sejak mereka SMP. Lalu, SMA mana yang akan jadi tujuan mereka akan ditentukan bersama dengan mereka mau masuk univ mana (CMIIW, cuma baca manga sama anime soalnya, haha). Saya nggak tau, sekarang di Indonesia di sekolah dasar maupun menengah apakah sudah seperti itu juga atau nggak. Tapi, waktu jaman saya SMA (atau bahkan SMP) saya nggak dapet bimbingan karir. Saya cuma dapet bimbingan masuk univ. Haha ...

Itu saya, yang dapet bimbingan konseling pendidikan dari guru BK superkecesuperkerennya Ic, Bu Rini. Bagaimana dengan sekolah yang biasa-biasa aja? Pada akhirnya, kebanyakan dari kami menentukan kerja ya dekat-dekat periode wisuda. Mulai berpikir mau kerja apa, mau menyambung hidup dan lepas dari orang tua dengan penghasilan yang kayak apa. Mau menghidupi keluarga dengan profesi yang seperti apa. Dan ya jadinya begini lah indonesia (halah, apadah hahaha)

Lalu, di akhir begini, saya jadi sadar kenapa Jogja dibilang kota pelajar. Karena isinya memang dipenuhi oleh orang-orang yang ingin belajar, mahasiswa, pelajar. Bukan orang-orang yang ingin bekerja. Setelah dirasa cukup belajar dari kota ini, mereka wisuda, mereka mendapat kerja atau bekerja di luar daerah jogja. Ada yang memang balik ke kota sendiri, mengabdi di tanah kelahiran, ada yang tuntutan beasiswa daerah, ada yang memang dapet kerjanya di luar jogja.

Aah, satu per satu orang meninggalkan jogja ...  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar