Sepanjang tahun 2015 kemarin, salah satu hal yang paling saya garis bawahi adalah tentang kesiapan.Dulu saya pikir, setiap orang akan menghadapi 'masa'-nya siap atau tidak. Mungkin karena saya berkaca pada saat saya ujian. Saya seringkali menghadapi ujian dalam kondisi perasaan dan mental yang, menurut saya tidak siap. Apalagi kalau ujian praktik alias OSCE. Meksi sudah latihan mengulang-ulang kalimat dan prosedur yang sama dari dua minggu sebelumnya, tetap saja hari-H, akan merasa siap. Saya juga merasa tidak siap untuk menjadi dokter, meski sudah masuk tahun keempat kuliah saya.
pernah suatu waktu, seorang teman bilang, 'kita akan menghadapi sesuatu apapun dalam hidup kita, siap atau tidak siap.'
Tapi, di akhir tahun 2015, setelah dari pernikahan seorang sahabat, juga setelah tetiba diberi amanah di akhir masa kuliah, saya kemudian berpikir tentang kesiapan. Mungkin, teman saya itu benar ketika mengatakan, siap atau tidak siap kita harus menghadapi apa yang harus dihadapi. Tapi, saya rasa, apa yang kita hadapi itu adalah sesuai kesiapan kita menurut Allah.
Jadi, saya dapat amanah di akhir itu mungkin karena Allah menilai saya baru siap mendapatkan amanah ini ya sekarang-sekarang ini. Dan dari sahabat saya yang menikah di hari kemarin, mungkin banyak yang melihat dia sebagai pribadi yang belum siap buat menjejak ranah rumah tangga; tapi mungkin justru Allah melihat sebaliknya.
Karena Allah tidak akan membebani hamba-Nya melebihi kesiapannya.
Tugas kita hanya, berusaha mempersiapkan diri sebaik mungkin.
Mungkin begitu.
Dan, Sudah sejauh apa saya mempersiapkan diri untuk hari dimana amal saya ditimbang?
pertama kali baca, bacanya kesepian -_-a
BalasHapus