Kamis, 21 April 2011

Days 3 : when UN starts

UN bro hari ini!!!! (lha, terus?) hahahhaha...selamat berpusing-pusing riang anak-anak kelas 3...(busuk banget sumpah! tahun depan aku nih yang diginiin...) terus, apa hubungannya aku sama UN? sebenernya sih nggak ada hubungan apa-apa, cuman waktu UN mulai aku udah mulai science camp hari ketiga, dimana di hari ketiga ini aku diharuskan, saya ulangi DIHARUSKAN untuk mengerjakan soal try out selama durasi waktu 2jam yang akhirnya ngaret jadi 2 setengah jam.

gila, tuh soal susssssaahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh banget dah. gw aja salah banyak...terlalu banyak. hidup ini memang berat nak, makanya jangan disia-siakan..(lhah???!!) well, hari ketiga ini still with Kak Celline yang manis itu (sampe-sampe semut aja ngerubungin kak Celline).

hari ini kita banyak belajar tentang syaraf, bagaimana trauma dan phobia bisa terjadi, digestive system, terus...macem-macem dah! tapi dari semua itu, tetep Pak Heri sang laboran biologi adalah orang yang paling ditunggu-tunggu di sini! soalnya, beliau selalu dateng dengan seplastik besar berisi makanan yang bermacam-macam...(jadi, ini Pak herinya yang ditunggu, atau makanannya yang ditunggu???)

jadi, hari ketiga ini masih tetap berkahir pukul 10 malam setelah break shalat maghrib dan Isya...
fuuuuuuuuuuuuuuuhhhhhhhhh,.....udah, gw capek mikir...mau tidur ajah

Rabu, 20 April 2011

Days 2: Kak Celline oh Kak Celline

Haloooooo!!! ini hari Minggu kali!!! tapi, kenapa ada yang bawa tas segede tas ranselnya orang mau kemping dengan isi buku-buku setebal 1000 halaman, saya ulangi setebal 1000 halaman, dan memakai sepatu berjalan ke arah gedung pendidikan.

lhah itu ada lagi yang bawa 2 buku tebel-tebel udah kayak bantal gituh, lah kok ada lagi, lah kok banyak??? oke, tenang-tenang, akan saya jelaskan sodara-sodara.
jadi, mereka adalah anak-anak biologi yang mau camp hari kedua bersama instruktur yang didatangkan dari Bandung (ITB) dialah Kak Celline Qoniah!!! (JRENg jreng jreng jreng!!!!!)

kakak yang manis serta baik hati (beneran baik hati lho!) itu langsung memberikan 150 butir soal untuk pree- test sebelum camp bersama Kak Celline dimulai. saya ulangi 150 soal!! dengan waktu pengerjaan sekitar satu setengah jam. soal sebanyak itu, tetep aja waktu dibahas salahnya juga banyak...1/3 nya salah...2/3 nya bener. dan dari 2/3 yang bener itu yang ngerti cuma sekian persen doang....ampun deh....

jadi, di hari kedua ini , kita bahas macam-macem banget deh mulai dari menstruasi dan kehamilan, sampai pembahasan glikosilasi yang ruwetnya...masya Allah dah...dan hari ini ternyata nggak cukup cuma sampai jam setengah enam sore, jadi kita melanjutkan habis Isya' sampai jam sepuluh kurang sepuluh....

wuuuuuaaaaahhh!!! udah ngantuk nih, barusan diterangin tentang kenapa orang ngantuk...jadi ngantuk beneran...ya sudah seperti itu kira-kira...

Days 1 : A day with Kak Ulfah Mardhiah

Sabtu, 16 April 2011 pukul 10.00, hari ini hari pertama science camp untuk biologi setelah tadi pagi acara science camp ini dibuka oleh Pak Japar selaku wakil kepala Madrasah bagian kesiswaan. camp hari ini instrukturnya Kak Ulfah Mardhiah, alumni sekolahku yang barusan pulang dari Jerman untuk kuliah S2 fakultas biologi.

nah, kakaknya imut deh, karena Kak Ulfah nggak tinggi-tinggi amat (atau nggak setinggi amat?), jadinya kalau kakaknya mau nulis di papan tulis yang bagian atas, dia ambil kursi, naik di atasnya dan baru nulis dengan nyaman...(eh, nyaman nggak ya? )


jadi, bersama kak Ulfah ini, kita ngebahas tentang genetika dan evolusi lebih spesifiknya sih materi tentang mikroevolusi. diawali dengan pembahasan teori biogenesis dan abiogenesis tentang asal mula kehidupan makhkluk hidup. kemudian baru bahas teori darwin dan lamarck tentang evolusi dan seleksi alam, baru kita masuk ke mikroevolusi. untuk hasil dari science camp akan ku posting di lembar lain dengan label FYI, biar pada tahu dan aku juga bisa berbagi ilmu....

hari pertama selesai jam setengah enam sore, sambil hujan-hujanan anak-anak biologi berlarian pulang ke asrama , dan tiba-tiba lagu kuch kuch hota he nya shahrukh khan pun terdengar... kemudian kita mulai menari di bawah rintik-rintik air hujan (halah lebay!, oke ini nggak terjadi kok..).

yah pokoknya, untuk hari pertama ini berjalan dengan lancar walaupun ada salah satu anggota yang datang telat usai istirahat siang karena ketiduran di masjid....

Prolog : WAAAA!!! WHERE'S MY TICKET????!!!

15 april 2011, H-1 perpulangan libur UN. NOOOO!!! AKU KEHILANGAN TIKET PESAWATKU!!!!!!! sudah aku cari sepanjang jalan (kenangan) tetap tidak ada!!!! bagaimana ini, bagaimana aku bisa pulang kalau kayak gini??

okeh, hal di atas adalah hal YANG TIDAK MUNGKIN terjadi padaku di SMA ini, well, rumahku dengan asramaku tinggal kepleset juga nyampe, ngapain pake pesawat...hehehehe

tapi, biar rumahku kepleset jadi, kenapa aku bisa nggak pulang sampai 5 hari begini???
Jadi begini ceriteranya sodara-sodara. ini hari Jum'at, seperti yang aku bilang di awal H-1 perpulangan libur UN. ketika adzan dzhuhur berkumandang, ketika anak putra dan para bapak-bapak (kalimat tidak efektif) mulai berjalann menuju masjid, ketika itu pulalah aku melihatnya!!! di greenboard pengumuman di samping kelas bahasa indonesia 2,,, tidaaakkkk!!!! namaku tercantum di sana!, tunggu, kenapa aku panik? yah karena, dengan tercantumnya namaku di sana itu berarti aku harus ikut science camp cabang biologi selama 5 hari selama libur UN minggu depan dimulai dari besok sabtu, dan itu artinya aku nggak jadi pula hari minggu, itu artinya aku harus berada di asrama lebih lama dengan kapasitas orang yang berkurang banyak!!!! WOOOIIII AKU MAU PULANG!!!!

jadi begitulah sekiranya yang dapat saya ceritakan untuk mengawali science camp series ini...

kesimpulannya : aku nggak bisa pulang sampai hari kamis nanti...

Minggu, 27 Maret 2011

Dokter spesialis mata

 Oke, tanggal berapa sekarang ini? 27 Desember 2011, iya nggak?
          Aku udah izin selama 2 hari untuk periksa ke dokter spesialis mata berdasarkan atas saran DOKTER ARUM. Gara-garanya ada penyumbatan...penyumbatan apa ya? entahlah! aku nggak ngeh, pokoknya, di bwah mataku jadi ada benjolan kecil isi nanah-bukan isi nanas, yang harus segera dikeluarkan.
        Akhirnya, berhubung kemarin sabtu agenda sekolahku adalah ambil rapot bayangan, maka aku putuskan untuk sekalian pulang! mumpung orang tuaku dateng ke asrama. Setumben-tumbennya nih...izin khusus keluar komplek asrama cepeeeett betul dah! orang udah dag dig dug duueer daia, ditambah dongkol ditambah males buat minta izin ke wakamad keasramaan, ehhh...cepet banget dapetnya.

       Terusan, aku pulang begitu aja. (emangnya harus gimana?). ke rumah dulu. di jalan maceeeeeeeeeeeetttttttt banget deh! (ini aku nggak tau ding!, orang aku tidur di mobil...>.<). tapi pokoknya, sampai di rumah itu soreeeeeeeeee bgt dah! (*lebay mode on). and so..my father chose to take a rest for a while.
       dan akhirnya, kita baru bisa jalan lepas maghrib (ini juga karena ada sodar dateng, ikut meramaikan kedatanganku....hahahaha...nggak ding...). eh...malahan! ke rumah sakit mana-mana di seluruh depok (*lagi-lagi lebay mode on-nggak nyampe seluruhnya kok, cuma separuhnya) dokter spesialis matanya udah pada cabut ke rumah. mentang-mentang malam minggu ya!
     Gila! dongkol abis tuh! kenapa semua dokter udah pada pulang? Logikanya gini lhoh, nggak semua orang punya waktu dari pagi sampai sore, dari senin sampai jum'at, kenapa dokter-dokter tersebut di atas (di atas mana?) nggak stay lebih lama untuk menunggu siapa tahu ada pasien-pasien kayak aku yang baru bisa datang malem-malem...
    Sekarang, aku bingung harus gimana. dapet izin cuma dua hari. aku minta orang tuaku untuk perpanjang izin, ehhh...keduanya malah menghilangkan nomor telepon wali asrama ku yang udah pernah aku kasih. pake nyalahin aku lagi! mana aku tahu...
           jadi sekarang aku harus gimana?????????

Pembicaraan di Lapangan Bola

        Kau ingat saat aku mengajakmu bicara, kawan?
                Siang itu matahari tak malu-malu menampakkan dirinya, seolah menantang setiap orang yang berjalan santai di luar ruangan tanpa pendingin. Langitnya berwarna biru muda lengkap dengan awan cumolo-nimbus yang terlukis indah di sana. Angin pun mendukung pemandangan indah itu dengan berhembus sepoi-sepoi, tidak kencang , namun tetap ada.
                Aku ingat betul, hari itu hari Jumat, hari dimana sekolah kita terasa begitu lenggang-karena pelajaran-pelajarannya yang tidak terlampau berat. Tapi, hari itu, aku harus melaksanakan ujian susulan matematika. Aku pun membawa buku matematika ke kelas, walaupun hari itu tidak ada pelajaran matematika. Mencoba membaca-baca, meski aku tahu matematika tidak cukup hanya dengan dibaca, namun juga berlatih. Tapi, entahlah, rasanya untuk memegang pulpen saja aku malas, apalagi menulis!
           BRAAAKKK! Tiba-tiba meja di sebelahku digebrak keras oleh teman kita. Dia Surya, anak keturunan Tionghoa itu benar-benar mengamuk sekarang, setelah setengah jam sebelumnya tarik ulur dengan Farid-ketua kelas kita, tentang pembagian kelompok untuk presentasi makalah fisika.
“MANA BISA YANG SEPERTI ITU DIANGGAP KELOMPOK, RID!” Teriaknya kencang. Terdengar seperti hampir menghabiskan seluruh energinya hanya untuk berteriak kepada Farid.
“Ya…dicoba ajak dia aja lah, Sur…” Ujar Farid, mencoba menenangkan emosi Surya yang meluap-luap. Entah kenapa, kelas ber-AC itu kini sudah tidak lagi dingin, seolah mendukung kenaikan emosi Surya.
“GUE UDAH NGAJAK DIA BERAPA KALI, RID! TAPI, DIA DIEM AJA! GUE UDAH KAYAK NGOMONG SAMA TEMBOK TAU NGGAK!” Teriak Surya lagi sembari mengacung-acungkan telunjuknya ke langit. Farid bicara lagi dengan tenang. Ah…Farid, Farid, ketua kelas kita yang satu itu, padahal sering sekali Surya dan gengnya membentak-bentak dia, tapi dia tetap tenang dan bijaksana dalam mengambil keputusan. 
                 Tadinya aku ingin mencoba bertahan di dalam kelas sambil berusaha mengerti setiap kalimat matematika yang tertulis di buku catatanku. Tapi, ternyata, aku sama sekali tidak bisa konsentrasi dengan Surya-yang duduk di sebelahku berteriak-teriak seperti orang kesetanan. Maka, aku memutuskan untuk pergi ke tempat favorit kita berdua, lapangan bola. Entahlah, kita selalu suka lapangan bola yang sedang sepi. Warna hijau rumputnya seolah meredam segala emosi dan pikiran yang berkecamuk.  Namun anehnya, kita berdua selalu menghindari lapangan bola saat ramai.
                Aku berdiri dari bangkuku sembari menutup buku catatan matematikaku yang kusampul dengan kertas kado warna pink. Dengan kesal karena merasa terganggu, aku pun menghentakkan kakiku keluar kelas dan segera menuju lapangan bola. Namun, baru beberapa langkah keluar kelas, aku kembali lagi, menghampirimu yang sedang membaca novel “Jejak Langkah”-nya Pramoedya Ananta Toer di sudut kelas. Seketika aku menghampirimu, kau tersenyum. Ah…senyummu manis sekali, kawan. Kau tahu, senyumanmu itu selalu berhasil meredakan aku yang selalu meledak-ledak.   
                “Ke lapangan bola, yuk!” Ajakku sembari membalas senyumanmu. Kau mengangguk, sembari berdiri dan menutup novel yang sejak kemarin kau bawa-bawa kemana-mana.
                “Ayuk!” Jawabmu sembari berjalan mengiringiku keluar kelas dan menuju lapangan bola.
                Ah…lapangan bola. Seperti yang sebelum-sebelumnya. Ketika kita kemari, kita selalu memilih bangku penonton yang paling tengah, seolah dengan duduk di sana semua pemandangan yang ada di lapangan dapat tertangkap oleh mata kita. Aku duduk diam. Begitu juga denganmu. Kita lama terdiam-seperti juga sebelum-sebelumnya. Kemudian, masing-masing dari kita mulai menyibukkan diri dengan buku yang kita bawa. Kegiatan-kegiatan itu seolah menjadi ritual sakral setiap kali kita duduk di bangku tengah di lapangan bola ini. 
                Aku mulai mencoba satu-satu soal yang ada di buku. Namun ternyata, kehadiranmu di sampingku menggodaku untuk berbicara perihal masalah yang sedang berkecamuk dalam pikiranku. Hhhh...aku mulai menarik napas masygul. Aku melirikmu yang masih menikmati novel "Jejak Langkah".
                "Aku menyesal." Ujarku pelan akhirnya. Entahlah, pikiranku tak lagi dapat dibendung. Kau menengadahkan kepalamu, membiarkan novelmu terbuka. menatapku dengan bingung seraya tersenyum. Jilbab putih berkibar tertiup angin yang berhembus pelan. Ahh...kau memang selalu terlihat anggun dengan jilbab yang lebar itu. Tidak sepertiku yang masih ragu-ragu untuk memakai jilbab yang sepanjang milikmu. Aku jadi teringat kata-katamu dulu, saat aku memutuskan untuk memakai kerudung, wanita berjilbab itu berbeda. Bukan karena jilbab yang ia pakai, melainkan karena ia selalu ingin menjadi lebih baik.
                "Marsha terpilih sebagai perwakilan sekolah untuk konferensi remaja se-Indonesia karena esainya yang tentang lingkungan begitu menggugah. Ia serius membuatnya." Lanjutku sembari menatap lapangan luas di depan mataku. Kau tahu, bahwa Marsha dan aku adalah rival dalam segala hal, dan buatku, kalah oleh Marsha adalah sesuatu yang masih bisa belum kuterima, seperti sekarang. Kau masih tetap terdiam, mendengarkan.  
                "Aku menyesal, kenapa aku nggak lebih serius buat bikin esainya. Aku pasti dan yakin bisa lebih baik daripada Marsha. Cuman, kemarin-kemarin aku..." Aku menggantungkan kalimatku. Entah harus melanjutkan apa.
                Lagi-lagi kau tersenyum, seraya berkata, "Lantas, ada gunanya menyesal?" Tanyamu datar.
                Aku tersentak dengan satu kalimatmu yang tenang namun berkesan kuat. Aku terdiam. Kemudian kau mengulang kalimatmu, "Sekarang, ada gunanya tidak kamu menyesal?" Aku masih terdiam. Aku menggigit bibir, mengalihkan pandanganku darimu.
                Aku menggeleng perlahan. Kali ini, senyummu melebar. "Kalau hanya membuat alasan saja, anak kecil juga bisa. Manusia itu pintar lho dalam membuat seribu satu alasan untuk menutup-nutupi kesalahannya. Kayak misalnya, kamu telat, terus ditanya, kenapa telat? kamu bisa beralasan, tadi macet di jalan, terus ditanya lagi, kenapa berangkatnya nggak lebih pagi? Kamu jawab, tadi bangun kesiangan. Terus ditanya lagi, kenapa bisa bangun kesiangan? Kamu jawab, nggak ada yang ngebangunin. Ditanya lagi,   kenapa nggak bangun sendiri, nggak punya jam beker? Kamu bisa jawab, lupa nyalain beker, atau bekernya batereinya habis, dan lain sebagainya...iya nggak? Kalau hanya membuat alasan, masalah nggak akan terselesaikan begitu saja... Tapi justru menambah masalah."
                "Kalau kita bisa bijaksana sedikit...saja dalam menjalani hidup, pasti kita akan merasakan keajaiban-keajaiban yang luar biasa yang tersembunyi dalam kehidupan kita..."
                "Menyesal nggak menyelesaikan masalah. Sesekali boleh menyesal. Namanya juga manusia. Sesekali butuh jatuh, untuk merasakan rasanya jadi orang-orang yang di bawah dan biar nggak pongah dalam kehidupan ke depannya. Tapi, kalau terus-terusan jatuh, lantas menyesal dan nggak bangkit, kapan kita bisa menyelesaikan masalah yang kita sesali?
                Semua butuh proses. Mungkin sekarang kamu lagi jatuh. Tapi, kalau kamu nggak mengambil langkah untuk bangkit, kapan mau bangkit? Kegagalan adalah cara Tuhan untuk mengatakan, 'ambil jalan lain'. Iya kan?" Kau menyelesaikan kata-katamu. Seperti sebelum-sebelumnya, aku selalu tersihir dengan kata-katamu tentang kehidupan. Ahh...aku tahu, pengalamanmu memang lebih banyak dalam menjalani kehidupan ini, dibanding aku yang selama ini selalu hidup enak di lingkungan yang enak pula. Sementara kamu, bahkan merasakan tinggal di penjara anak-anak saja kau sudah pernah. Dan, kemudian, seperti ceritamu, kau bangkit setelah bertemu dengan Tuhanmu dalam shalatmu yang pertama di kelas 2 SMP.
                Kali ini, aku ikut tersenyum. Merasakan angin yang berhembus lembut menerpa wajah dan memainkan ujung jilbab kita berdua. Pembicaraan kita di lapangan kali ini, benar-benar terpatri rapih dalam ingatanku-hingga seolah tak mau hilang. Dan setiap kali aku jatuh karena lelah, aku selalu mengingat kata-katamu. Kemudian, seandainya aku kesulitan untuk bangun dari jatuh, maka kau akan menarik lenganku, membantuku berdiri untuk kemudian bangkit kembali.
                Terima kasih, kawan...

diposkan juga di : kitanulisapa.blogspot.com 

TAYLOR SWIFT - You Belong With Me (OFFICIAL MUSIC VIDEO)

Taylor Swift, Penyanyi Amerika kelahiran 13 Desember1989 ini adalah seorang penyanyi-penulis lagu bergenre musik Country yang juga berprofrsi sebagai aktris di Amerika Serikat. Swift paling dikenal oleh media karena rambut curly emasnya dan mata kucingnya yang berwarna biru.

Nah, lagu "You Belong With Me" yang saya tampilkan di sini merupakan lagu pada album keduanya, Fearless yang dirilis pada bulan November 2008. Album ini juga sukses terjual sebanyak 2,2 juta kopi dalam 2 minggu. Wow! BAnyak banget ya?

Single "You Belong with Me" dirilis sebagai singel asli dan berhasil meraih posisi 2 di Billboard Hot 100 serta posisi 1 untuk dua minggu di Billboard Hot Country Song. Lagu ini dinominasikan untuk 3 Grammy Award sekaligus, Record of the Year, Song of the Year, dan Best Female Pop Vocal Performance, sayangnya, semua gagal dimenangkan. Lalu "Fifteen" dirilis menjadi singel keempat, dan "Fearless" dirilis kembali menjadi singel asli kelima. Selain itu, Fearless pun diumumkan sebagai Billboard's Top Selling Albumof 2009, menandakan sebagai album terlaris pada tahun 2009 dengan penjualan 3,2 juta kopi.