Kita diuji supaya kuat.
Rabu, 14 Desember 2016
Jumat, 18 November 2016
Kehilangan
Masih terlalu sering mendemgarkan suara ribut dalam otak. Pertentangan antara cemas, ketakutan, realita sampai pikiran positif. Seru sekali mendengarnya. Hingga lupa mana yang harusnya aku dengar dan cermati. Mana yang harusnya dieliminir.
Belum lagi ditambah dengan kata orang lain yang juga masuk ke dalam ingatan. Turut pula meramaikan suara-suara dalam otak.
Sesekali aku berteriak. "Berhenti berisik bisa tidak?!"
Hm, tapi sepertinya hanya jadi diam sesaat. Aku tidak cukup berpengaruh untuk diriku, ternyata.
Bagaimana caranya, agar aku mau mendengar diriku?
Kamis, 27 Oktober 2016
Gugur Bunga
Pengarang / Pencipta Lagu : Ismail Marzuki
Betapa hatiku takkan pilu
Telah gugur pahlawanku
Betapa hatiku takkan sedih
Hamba ditinggal sendiri
Siapakah kini plipur lara
Nan setia dan perwira
Siapakah kini pahlawan hati
Pembela bangsa sejati
Reff :
Telah gugur pahlawanku
Tunai sudah janji bakti
Gugur satu tumbuh sribu
Tanah air jaya sakti
Gugur bungaku di taman hati
Di hari baan pertiwi
Harum semerbak menambahkan sari
Tanah air jaya sakti
...
Selamat jalan Eyang Kakung.
Ini dan itu
Terus, apa yang menghambat?
Ya banyak
misalnya apa?
takut orang mikir apa, takut orang kecewa, takut ...
jadi yang menghambat ketakutan itu?
mmm
emangnya sepenting apa testimoni mereka terhadap kamu?
penting
pentingnya apa?
mm, kalau mereka tiba-tiba tidak ingin berteman, atau tidak lagi menganggapku ada, bagaimana?
Memangnya selama ini itu pernah terjadi?
mm, sekali. atau dua kali atau beberapa kali?
yakin kejadian itu ada? atau hanya perasaanmu?
mmm
memangnya semua orang yang menjauh?
ti, tidak juga
lalu, memangnya harus semua orang ada untukmu? harus semua orang menyukaimu?
mm, itu nggak mungkin
terus, kenapa takut? kenapa cemas?
ekspektasi. Aku takut pada ekspektasi.
well, aku setuju itu menakutkan. But, hei, memang ada apa dengan ekspektasi?
dia berat.
Kalau begitu tidak usah dipikirkan. dijalani saja.
Tapi, itu nggak mungkin.
kenapa nggak mungkin? Kamu yang membuatnya nggak mungkin.
...
Kamu yang terus berantem sama diri kamu sendiri antara memenuhi ekspektasi orang terhadap kamu, dengan kamu ingin menjalani sesuai dengan pace yang kamu miliki.
...
memangnya kamu yakin bahwa orang berekspektasi terhadapmu?
mm, asumsi.
Nah! fantasi yang lain lagi!
...
kamu terlalu sering berfantasi. mengasumsikan ini itu, yang terlalu jauh dari realita. mungkin maksudmu adalah antisipasi hal terburuk; sebuah coping mechanism yang kamu jalankan. Tapi, hey, kamu jadi selalu bingung dan uring-uringan kan dengan semua kecemasanmu, asumsimu, ketakutanmu. memangnya, kamu tidak percaya kalau akan ada orang yang tetap menemanimu, meski kamu berjalan lambat ataupun saat kamu berlari? memangnya, kamu tidak percaya kalau akan ada orang yang mendukungmu, mendorongmu dari belakang ketika kamu ketinggalan, ataupun menarikmu; meski dengan paksaan? Memangnya selama ini, teman-temanmu itu sejahat itu hingga kamu merasa selalu sendirian?
tidak ...
kamu itu terlalu sibuk ketakutan, terlalu sibuk cemas, hingga nggak sadar, ada banyak tangan terulur membantu di sekelilingmu. Dan itu cukup untuk mengurangi kecemasanmu. cukup untuk mengilangkan ketakutanmu.
.
.
.
sudahi su'udzhonmu.
aku tidak bersu'udzhon.
Merasa sendirian itu sebentuk su'udzhon pada teman-temanmu, karena kamu menganggap mereka tidak mau membantumu. Juga sebentuk su'udzhzon billah, karena kamu merasa Allah tidak membantumu.
...
jadi, bagaimana?
Jumat, 09 September 2016
Tujuan
#Kudukuat