Rabu, 08 Juni 2016

Membangunkan dan Dibangunkan

Kali ini saya mau sedikit membahas perkara membangunkan dan dibangunkan dalam konteks tidur, baik itu tidur siang, tidur malam ataupun dalam posisi ketiduran; yang pasti bukan tidur dalam kubur (halah apasih). Karena sejak lulus SD saya di pondok, lalu lanjut sekolah berasrama, dan sekarang pun jauh dari rumah; jadi yang namanya dibangunkan dan membangunkan sudah menjadi sebuah kebiasaan tersendiri buat saya.

Bagi beberapa bocil yang tidak terbiasa bangun pagi, bisa jadi kehidupan pondok menjadi siksaan tersendiri karena paling tidak sebelum shubuh sudah harus bangun dan mengantri mandi (iya, dulu saya mandi sebelum shubuh, karena 1 kamar mandi dipakai mengantri sekitar 20 orang atau lebih). Ya kalo nggak, konsekuensinya bisa telat masuk sekolah.

Alhamdulillah, saya termasuk orang yang terbiasa bangun pagi sejak kecil. Dibiasakan oleh orang tua saya, jadi saya termasuk orang yang -Alhamdulillah-nya survive. Tapi waktu tahun pertama di MTs saya bukan orang yang bangun paling pagi. Saya bangun pagi, tapi bukan yang paling pagi. Jadi saya masih jadi orang yang dibangunkan, baru setelah naik kelas 2 MTs saya terbiasa membangunkan orang hingga detik ini.

Perkara dibangunkan dan membangunkan ini saya belajar dari seorang teman, Qonita namanya (sekarang beliau kuliah di Klantan, Malaisya). Waktu kelas 2 MTs itu saya, bisa dibilang termasuk orang yang gemesan dan nggak sabaran kalo bangunin orang. Alhasil saya, dulu, kalo bangunin pasti galak banget. Yah macemnya, "Eh bangun woy. Bangun sebentar lagi shubuh, mau telat?" terus intonasi dan nadanya tinggi udah berasa kayak apaan tau. Terus kalo gemes maksimal saya bakal mengguncang-guncang orangnya tanpa ampun.

Tapi Qonita nggak melakukan hal itu., dan bahkan orang yang susah dibangunin aja bangun sama dia dengan cara ngebanguninnya yang lembut, sopan santun, dan ngayomi. Dia ga pake acara ngeguncang-guncangin badan orang dengan heboh kayak saya, dia cuma megang lengan orangnya, terus dengan lembut bilang "Ty, bangun yuk udah shubuh". Eaaa asa kayak dibangunin sama bidadari dah. Haha.

Itu pelajaran pertama yang saya ambil dari Beliau. Bahwa membangunkan orang ada adabnya juga. Ada caranya juga. Dan pelajaran utama dari membangunkan orang adalah kesabaran. Sabar ketika orang yang dibangunkan malah justru marah-marah, meski dia sendiri yang minta dibangunin. Sabar ketika yang dibangunin bilang "5 menit lagi dong", dan berkata hal yang sama setiap 5 menit kita ngebangunin. Sabar juga ketika yang dibangunin baru bangun ketika kita ngebangunin dia untuk yang entah keberapa kalinya.

Dan ketika orang dibangunkan dengan halus, maka kita membantu orang yang kita bangunkan untuk punya mood yang baik sejak pagi. Nggak kesel karena kita banguninnya pake acara nyiram air misalnya (ekstremnya sih). Termasuk saya belajar untuk tidak menyalakan lampu kamar orang-orang yang biasa tidur dengan mematikan lampu; bukan apa-apa sih, meski itu cara efektif buat bangunin orang, tapi menurut saya itu juga sudah termasuk kasar sih (ya, standar kasar orang beda-beda). Soalnya saya pun ga suka bila ada orang yang menyalakan lampu mendadak ketika saya sdg tidur (meski saya tidak termasuk orang yang tidur dengan mematikan lampu).

Pelajaran kedua yang saya ambil dari teman saya adalah, Qonita adalah orang yang selalu bilang "Makasih ya udah ngebangunin" sambil senyum waktu pas pertama kali dibangunin, meski habis itu tidur lagi. Haha. Tapi kata makasih itu buat saya nyentuh banget. Ada apresiasi atas usaha orang yang ngebangunin. Dan btw, langsung senyum waktu pertama bangun itu susah loh. Nggak jarang saat bangun pertama mood udah jelek. Dan, jangankan bilang makasih, kadang-kadang mungkin doa bangun tidur aja lupa. haha.

Saya sejak mengenal teman saya itu sampai sekarang masih sedang mengusahakan dua hal ini dalam hidup saya yang lebih lama habis di antara teman-teman ketimbang keluarga, di mana di dalamnya banyak yang mengandalkan saya untuk membangunkan mereka. Dan suatu saat pun saya akan mengandalkan orang untuk membangunkan saya (suatu keniscayaan sih ini). Saya ingin ketika saya ada di posisi membangunkan, saya tidak merusak hari orang dengan mengacaukan mood nya sejak bangun tidur. Dan saya pun ingin ketika saya ada di posisi dibangunkan, saya bisa mengucapkan terima kasih dan nggak bikin orang yang membangunkan jadi sebal.

Sedang mencoba membuatnya menjadi akhlaq. Karena katanya akhlaq adalah sesuatu yang spontan kita lakukan. :)

Selamat berproses menjadi baik. selamat berpuasa.

#29HariMenulisCinta
Go Go Power Ranger!

1 komentar:

  1. salah tu tii, qonta udah selese kuliahnya, skrg di Indonesia tapi masih harus ke Malaysia lagi sekali *katanya sih gitu

    BalasHapus