Selasa, 19 November 2013

Tarbiyah dari Allah

'Tarbiyah dari Allah adalah tarbiyah yang sebenar-benarnya' ... Itu kata Murabby saya dulu. Well, tapi emang begitu kan?

Jadi ceritanya, di ulang tahun saya yang ke-19, saya minta sama Allah untuk didewasakan. Saya minta Allah untuk mendewasakan saya. Dan syaangnya kedewasaan itu bukan suatu hal yang bisa didapat secara instan, seperti benda murahan yang bisa ditemukan dimana saja. Butuh proses yang panjang, dan dalam proses tersebut tentu ada segala macam pendidikan ...

Dan, sejak ulang tahun saya itu, saya mulai merasakan proses tarbiyah pendewasaan saya. Oh ... tentu tidak semudah itu sampai saya sadar bahwa ini adalah proses tarbiyah dari Allah. 7 bulan. Setelah 7 bulan saya baru sadar. Saya jadi Project officer kaderisasi, saya jadi PJ mabit yang pesertanya nggak seberapa, saya jadi ini dan jadi itu, saya dihadapkan pada permasalahan dalam diri saya yang akhirnya berimbas pada proses memandu AAI saya, dan lain sebagainya yang udah saya jalani selama 7 bulan sejak ulang tahun saya itu  adalah tarbiyah dari Allah untuk mnedewasakan saya. BUkan berarti kejadian sebelum ulang tahun saya bukan untuk pendewasaan saya. Karena saya waktu itu mintanya sebelum umur 20 tahun, paling tidak saya sudah matang secara mental dan pikiran, jadi inilah yang Allah beri. Keadaan dimana, saya harus banyak berpikir tentang kepekaan, kebijaksanaan. Inilah yang Allah beri, saya ditempatkan di posisi dimana saya dihadapkan pada banyak keragu-raguan dan diuji dengan keinginan saya dari dulu, eksistensi, di sinilah, mungkin, Allah ingin melihat sejauh mana kedewasaan saya dapat memilih ....

Tarbiyah dari Allah adalah yang sebenar-benarnya tarbiyah, tentu ujiannya juga sebenar-benarnya ujian ... saya yakin, dan saya merasakannya, berat memang, terutama kalau saya masih menggantungkan segala hal pada yang bukan selain Allah, seperti saat kemarin ... tapi, Allah sudah janji tidak menempatkan hamba-Nya dalam kesulitan yang tidak dapat ditanggung oleh hamba-Nya, maka saya percaya kalau ujian ini lulus, kalau proses tarbiyah ini saya lulus, maka saya akan lebih dewasa ketimbang sebelumnya ... :')

Terima kasih Allah .. maaf, karena akhir-akhir ini saya banyak mengeluh ....

Senin, 18 November 2013

Roadshow IAIC 2013

Tahun ini, angkatan gue jadi panitia Roadshow. Dan, seperti tahun lalu, Alhamdulillah tahun ini gue berkesempatan datang ke IC buat meramaikannya.

Walaupun dengan keberangkatan yang dramatis, dan ninggalin acara-acara di kampus (emang itu sih salah satu tujuannya haghaghag *jangandicontoh*) akhirnya gue tetap keukeh jalan ke IC dan dilanjut menetap di rumah sampai hari selasa berhubung jadwal kuliah kosong sampai hari kamis.

Dan, seperti setiap kali ke IC sehabis lulus. Selalu ada rindu untuk mengulang setiap detik perjalanan hidup yang udah gue dan teman-teman lakuin di IC. Selalu ada menyesal terselip kenapa dulu nggak memaksimalkan diri ketika berada di asrama tercinta ini. Tapi, yah, namanya juga udah lulus, yang harus dilakukan sekarang adalah mengabdi. Mengabdi buat IC karena IC sudah memberikan banyak hal yang nggak bisa diberikan oleh sekolah lainnya ke anak didikannya. Pendidikan yang memadai, fasilitas, guru-guru, suasana yang nggak pernah bisa didapat dimanapun selain di sini.

Karena IC sudah memberikan banyak hal, dan gue yakin, bukan cuma gue yang ngerasain hal itu, makanya banyak alumni yang akan dengan ringan tangan membantu guru-guru IC setiap kali beliau-beliau ini dalam kesulitan. Banyak alumni yang nggak akan segan-segan membantu adik-adik di IC sebagai bentuk terima kasihnya terhadap sekolah ini. Dan akan begitu seterusnya ...

Karena itu pulalah, nggak akan ada yang dengan enggan mengurusi roadshow. Capek mungkin iya, pusing mungkin iya, tapi buat IC? apa sih yang nggak .... hehehehehe *malah jadi gombal*

Dan buat gue pribadi, kembali ke IC selalu menjadi pendongkrak semangat gue terutama ketika gue dalam keadaan down kayak akhir-akhir ini. Roadshow kemarin, ngeliat antusias adek-adek yang pada mau masuk kedokteran (iya, soalnya yang nanya-nanya ke gue yang pada mau masuk kedokteran) dan semangat mereka buat mencapai cita-cita itu bikin gue ikut semangat lagi. Ngeliat kekhawatiran mereka akan ujian-ujian yang ada di hadapan mereka kayak ngeliat diri gue dulu ... dan itu berarti juga mengingat betapa semangatnya gue dulu, ngotot bahkan, buat masuk fakultas kedokteran.

Tapi sangat disayangkan kita nggak bisa invasi asrama mereka pas malem-malem buat sesi sharing karena nggak dapet izin. hahahaha ... padahal seneng banget bisa liat semangat mereka. Akhirnya acara malam itu diganti sama evaluasi acara. Banyak banget evaluasinya. Gue seneng sih diadain eval, cuma yang gue sesali adalah, evalnya nabrka shalat isya', dan lebih gue sesali adalah, gue nggak mencegah, atau menyetop hal itu terjadi ...

Yah, semoga hal itu terulang lagi ... over all, roadshow kemarin cukup menyenangkan, ditambah pul adapat akabr angakatan gue bakal ketambahan keluarga baru Januari nanti (gue post di tempat lain ya ceriatanya ...) ...

Dan, selalu IC dan pernak-perniknya selalu punya caranya sendiri menghibur setiap 'keluarga'nya, selalu punya caranya sendiri untuk membangkitkan semangat setiap anggota 'keluarga'nya ... :')

Random nomer sekian

well, rasanya udah lama banget nggak ngerandom di blog. Dan mungkin ini juga karena rasa 'capek' gue yang menyerang gue akhir-akhir ini. Iya, emang gue akhir-akhir ini sering ngerasa capek. bukan secara fisik. Kalo capek secara fisik mah bisa hilang dengan tidur, tapi capek mental?

Jadi ceritanya, kuliah dan kegiatan kampus yang udah jalan beberapa bulan ini, entah kenapa banyak banget menyita perhatian gue. Entah karena posisi dan tanggung jawab yang udah mulai beda karena udah punya 'adik', dan karenanya, karena menerima posisi dan amanah yang beda itu dalam keadaan nggak siap, akhirnya gue jadi canggung. Atau entah karena sebab lain ...

Jadi karena lelah yang semakin menjadi-jadi setiap harinya, hampir semua amanah terbengkalai (oke, gue sadar kok gue nggak profesional), sms dari kakak2 di kampus nggak gue bales, telpon nggak gue angkat, dan segala macam lainnya. Kadang-kadang di saat yang seperti itu, mestinya gue bisa gambar atau nulis buat menuangkan semua perasaan dan pikiran, tapi mungkin karena guenya yang udah terlalu capek dengan semua teknis yang nggak selesai-selesai dibahas, akhirnya ekspresi itu nggak keluar. Gue sempat mengalami rasa dimana gue stagnan. Nggak bisa nulis apapun. Tangan gue kaku sampe rasanya apapun yang gue gambar nggak pas dengan bayangan gue. Semuanya jelek. Semuanya aneh. Gue mikir. Mungkin, ini ada hubungannya sama rasa 'capek' gue.

Iya emang, sejak masuk kuliah tahun kedua ini, gue ngerasa, gue ngak punya banyak waktu buat diri gue sendiri. Cuma sekali. Itupun nggak berakhir dengan bahagia. Entah karena guenya yang nggak meluangkan waktu, entah karena gue yang akhir-akhir ini sulit nolak, atau entahlah ...

Dan alhasil, semua lelah itu numpuk di otak, di hati, di badan sampai menjamur. Gue bosen sama semuanya, gue capek. Dan hal itu berujung pada gue kuliah, gue ngelakuin pekerjaan udah kayak robot dan kayak orang buta. terprogram, dan nggak tahu kemana dan buat apa ngerjain hal tersebut. Hal ini berujung pada gue yang ngerasa kehilangan sama diri gue sendiri. Lhah, bingung kan? Iya, gue sendiri juga bingung. Gue bingung mencari diri gue. Gue kehilangan diri gue sendiri ...

Akhirnya gue memutuskan untuk 'memberikan waktu untuk diri sendiri'. Gue bolos kuliah hari kamis dan jumat yang cuma masuk 1 jam seharinya, cuma buat memberikan waktu untuk berpikir dan sedikit bermalas-malasan. Serta sedikit menjauh dari hiruk pikuk keadaan kampus yang kondusif buat mikir. Tapi nggak berhasil. Yang ada gue malah nangis. Capek. Capek dan capek, dan akhirnya dua hari bolos cuma habis buat mengeluh. Gue menyimpulkan, kalo gue harus menjauh dari kampus, nggak bahkan yang lebih ekstrem, menjauh dari jogja untuk mendinginkan kepala gue, dan untuk berpikir lebih rasional. Yah, terserah kalo mau bilang gue mau 'lari'. Untung banget hari Roadshoaw bertepatan dengan jadwal kosong minggu depannya, dan langsung gue tangkep kesempatan ini, untuk berdiam diri di Depok barang cuma 2-3 hari. Gue rasa cukup. Cukup buat mikir, cukup untuk mendinginkan kepala, cukup untuk kembali memupuk semangat, dan segala cukup lainnya ....

Kalau akhirnya nggak merasa cukup? Maka, yang diperlukan akhirnya adalah bersyukur untuk menjadikannya cukup ...


Dan well, di sinilah gue akhirnya. di rumah. memberikan porsi lebih banyak untuk diri sendiri dan keluarga. Memupuk semangat dengan ketemu temen-temen IC dan adek-adek IC yang semangat nanya-nanya kehidupan kampus. Semangat mereka bikin gue mikir kembali, dulu, saat gue masih berada di posisi mereka, gue punya semangat yang sama. Dan masa baru dua tahun semangat itu udah melempem? Emangnya kerupuk? Ketemu adek-adek IC bikin gue mikir lagi tentang tujuan gue masuk kampus, dan macam-macam tujuan lainnya melalui keputusan-keputusan yang udah gue ambil ...

Bertemu keluarga gue lagi setelah sekian lama bikin gue mikir lagi, keputusan-keputusan yang udah dan akan gue ambil. Gue refleksikan dari kehidupan keluarga ini dulu dan sekarang, yang gue yakin sedikit banyak akan mempengaruhi kehidupan gue ke depannya ...

Well, benar kan, yang gue butuhkan hanya keluar dari rutinitas dan teknis yang semakin mengungkung setiap harinya, dan memberikan porsi lebih untuk diri sendiri untuk akhirnya menemukan kembali diri gue? untuk akhirnya menghilangkan lelah ini ...

Buktinya? Buktinya gue bisa nulis sepanjang ini lagi ... walaupun isinya ngerandom ....

hope this is not the end ...

Selasa, 29 Oktober 2013

Yang saya butuhkan, tak lebih, tak kurang ...

Akhir-akhir ini sebenernya lagi banyak amanah besar yang saya pegang. Tapi karenanya, saya jadi keteteran. Sebenernya saya juga bingung, kenapa saya bisa keteteran, padaha akademik juga jadwalnya lagi nggak sepadat itu, secara amalan yaumiyyah juga nggak sekacau semester 2 lalu ...

Tiba-tiba saya jenuh buat semuanya. Termasuk nulis (inipun maksain diri untuk segera nulis untuk evaluasi diri). termasuk gambar. termasuk hal-hal lain yang saya suka. Perubahan posisi dari tahun pertama ke tahun kedua jelas membawa perbedaan, saya paham itu, ketika dari posisi dibina menjadi membina. Perubahan amanah, perguliran amanah juga jelas saya paham, seperti yang pernah ustadz taufan katakan di kajian manhaj, "kalau tidak berani untuk mengemban amanah, untuk apa kalian berada di barisan dakwah ini?" Saya sudah meneguhkan hati kembali untuk beramanah di lembaga, untuk bersama temen-temen lainnya menguatkan dakwah ini, tapi, kenapa jenuh itu datang secepat ini?

Ketika saya telisik menelisik (belum sampai menelusuri lebih dalam), saya paham, karena kita di sini masih 'sendiri-sendiri'. Kita jalan sendiri-sendiri, bergerak sendiri-sendiri, sekalipun satu jama'ah. Hati kita nggak terkait, tangan kita nggak tergenggam satu sama lain, ya jadi, kalau jatuh, jatuh saja, nggak ada yang nopang, nggak ada yang bantu.

Jujur aja, di lembaga lain, saya merasa sendiri membangun dakwah di sana. Sudah barang tentu, saya mudah lelah. karena kalau diumpamakan, jalan rame-rame bakal lebih nggak berasa capeknya ketimbang jalan sendiri. Iya, mungkin saya masih jalan sendiri, jadinya, saya gampang jatuh, dapat amanah besar dikit aja, langsung jatuh, ngeluhnya lebih banyak daripada kerjanya, futhurnya lebih sering daripada kondisi iman yang fit, karena mungkin, kita masih menganggap, lembaga lain ya urusannya lembaga lain.Padahal, mungkin, banyak temen temen yang ngerasa sama sama saya, yang ngerasa sendirian di lembaga lain. Yang butuh uluran tangan agar, saat berjuang menegakkan kalimat laa ilaha illallah itu, ia kuat, dan tak mudah jatuh, sekalipun banyak rintangannya ...

iya, yang saya butuhkan, tak lebih, tak kurang adalah support ... rangkulan hangat, senyum cerah teman-teman, kepedulian teman-teman ... nggak lebih nggak kurang ... dan saya percaya, kalian nggak akan ninggalin saya kan?

*Ya Allah sesungguhnya hati-hati kami teah berhimpun padaMu dalam ikatan agama Mu

Kemana Saya?

Pertanyaan itu muncul begitu saja, ketika saya sadar akhir-akhir ini amanah saya banyak yang keteteran. Kemana saja saya? Waktu 24 jam saya kemana saja?

Saya juga nggak tahu, apakah waktunya memang sebegitu cepat, hingga semua amanah ini tak terselesaikan, atau, saya kemana? Saya juga nggak tahu, saya kemana.

Akhir-akhir ini saya suka menghilang dari diri saya sendiri, dan ketika saya sadar, tahu-tahu saya sudah jauh menyimpang, dan saya, jujur saja, bingung bagaimana caranya untuk kembali? Saya mikir, saya dimana? Tapi, saya juga nggak tahu, saya dimana, makanya saya bingung caranya balik?

Saya masih nyari, salah saya dimana. Dan, entahlah .. sebenernya banyak alasan, banyak banget alasan, tapi saking banyaknya, saya sampe nggak paham lagi ...

*tiba-tiba saya jadi bingung saya nulis apa .. -__________-


Kamis, 10 Oktober 2013

Benci

kadang-kadang saya membenci sesuatu lebih karena saya nggak bisa melakukannya, atau saya nggak bisa menggapainya, atau saya nggak bisa atau saya nggak bisa menjawab pertanyaan yg muncul akibat sesuatu tersebut, atau saya nggak bisa bahkan untuk sekadar memimpikannya ...

kadang-kadang saya membenci sesuatu karena realita saya yang nggak bisa apa-apa, dan saya yang sering banget tiba-tiba jadi pesimis, 


wallahu a'lam 

Sedikit menyesal

Iya, saya sedikit menyesal jadinya (atau malah sangat menyesal), menerima tawaran gabung di penelitian,
Padahal saya tahu, saya orang yang paling nggak suka sama penelitian, tuh kan jadinya malah nggak maksimal, malah jadi useless…
Ya gini nih, kalau niatnya nggak bener, nggak berdasar atas pencarian ridho Allah, udah pasti dan udah jelas ada menyesal, ada kecewa, ada perasaan nggak bersalah waktu membengkalaikan amanah …
tapi, untuk disuruh meluruskan niat, berat, sulit, walaupun bukan nggak bisa, hanya .. sulit, 
Bismillah … Yaa muqallibul quluub, tsabbit quluubanaa ‘alaa diinika wa thoo’atika