Kamis, 08 Oktober 2015

I got all I need when I got You and I
I look around me, and see sweet life
I'm stuck in the dark but You're my flashlight
You're gettin’ me, gettin’ me through the night
Can’t stop my heart when You shinin’ in my eyes
Can’t lie, it’s a sweet life
I'm stuck in the dark but You're my flashlight
You're gettin’ me, gettin’ me through the night

(Flashlight, Jessie J) 

Rabu, 07 Oktober 2015

Sudah bulan sekian ...

Sudah bulan sekian. Tinggal sekian bulan lagi menuju pergantian tahun. Tinggal sekian bulan lagi menuju pergantian status, dari mahasiswa preklinik menjadi mahasiswa klinik.

Sudah bulan sekian. Sisa sekian bulan menuju pergantian tahun. Semoga diri ini diberi kesadaran, diperdalam pemahaman, dan diperluas hatinya.

Sudah sekian bulan, sekian tahun berada di tempat ini. Kapan sadar?

Gedung Radiopoetro FK UGM
10.56 WIB

Minggu, 04 Oktober 2015

Bersyukur atas . . .

Berysukurlah ketika kita masih diringankan langkahnya untuk datang ke forum ilmu. Bersyukurlah ketika hati kita merasa tidak nyaman ketika berbuat yang tidak baik. Bersyukurlah karena masih bisa bersyukur.

Karena itu berarti Allah masih mau memberikan 'Nur'nya dalam hati kita ...

*refleksi dua hari ini ...
Bersyukur Ty ...

Rumah di Ujung Jalan

Rumah itu berada tepat di ujung jalan. Rumahnya bukan rumah kokoh yang dibangun dengan beton, bata, atau sejenisnya. Ia hanya rumah kecil dengan dinding kayu yang bisa rubuh kapan saja. Awalnya aku mengira rumah itu hanya gubuk kosong atau pos penjagaan yang sudah tidak terpakai. Tapi, sekali waktu aku lewat di depannya, ada seorang kakek-kakek duduk di bangku kayu di depannya. Bangku yang juga sama reotnya dengan rumah itu. Sekali waktu yang duduk di sana seorang nenek-nenek. Dan sekali waktu keduanya duduk berdua di depan. Keduanya tidak melakukan apapun. Hanya duduk saja di sana, menikmati cuaca Jogja yang akhir-akhir ini memanas beberapa derajat.

Tapi keduanya terlihat menikmati suasana saat duduk di depan rumah reot itu. Entah karena keluhannya sudah terpendam jauh selama hidupnya, atau karena memang tidak ada keluhan lagi yang perlu dikeluhkan? Atau memang sebenarnya tidak perlu ada keluhan. Karena kebahagiaan adalah sebuah persepsi. Pun keluhan dan masalah juga buah dari persepsi.

*Semoga ketidaknyamanan ini hanya sesaat.
Baytul Quds, di siang yang panas, di hari-hari kesabaran dan 
keridhaan akan takdirnya Allah sedang sangat dibutuhkan. 
Fashbir Shabran Jamiilan.

Menjadi Peduli

Tertanggal kemarin malam, seorang teman mengepost di salah satu grup whatsapp, seperti ini : Mau nanya

"Tak usahlah kita memperdulikan orang yang tak peduli dengan kita"
 adakah yang salah dengan kalimat ini?
*jawab besok aja kalau berkenan

Pertanyaan ini teggelam oleh pengumuman lomba menulis  akhirnya. Sebenarnya saya punya pemikiran tentang ini, tapi saya sepertinya enggan muncul di grup massal selain untuk memberi emoticon terompet (haha).

Saya juga pernah punya pertanyaan yang sama. Dengan kalimat yang sama, tapi yang kalimat 'jawab besok aja'-nya nggak ada. Haha. Di satu sisi, seperti jawaban seorang teman, nggak ada yang salah dengan kalimat ini. Tapi toh ini semua bergantung pada individu masing-masing akhirnya. Bergantung pada pilihan hidupnya, because life is choice. Apakah ketika ada yang kita akan tetap memperdulikan orang yang bahkan nggak sedikit pun peduli dengan kita, atau kita memilih bersikap yang sama dengan orang tersebut. Dia tidak peduli dengan kita, so, kita juga tidak perlu peduli dengan mereka.

Kalimat ini pun, salah atau tidaknya akan bergantung pada konteks situasi dan kondisinya. Saya merasa kalimat ini sangat salah ketika konteksnya adalah mengajak kepada kebaikan dan melarang pada kemunkaran, atau lebih simpelnya bolehlah disebut dalam dakwah. Dalam berdakwah, orang setidak peduli apa pun, toh kita tetap harus, wajib, kudu, berdakwah ke orang tersebut, karena kita nggak tau pintu hidayah yang mana yang akan dibukakan oleh Allah untuknya. Rasulullah pun begitu, tetap mengajak orang-orang mentauhidkan Allah, meski orang-orang tersebut menolak, juga tidak peduli alias abai. Kita pun, sebagai pewaris risalah para nabi punya kewajiban yang sama. Memperdulikan orang yang tidak peduli. Membuat orang-orang yang tidak peduli ini agar jadi peduli. Dan jangan sampai yang sudah peduli malah jadi nggak peduli.

Saya jadi ingat waktu forum pekanan, di suatu pagi, dimana kami membahas tentang kesabaran, ada salah seorang teman yang bilang, bahwa 'mengajak orang itu nggak ada kata selesai, nggak ada kata orangnya udah nggak bisa diajak lagi, atau orangnya udah nggak bisa diapa-apain lagi nih', kalau sudah begitu, berarti kitanya yang mungkin sedang lelah. Orang itu masih bisa diajak sebenarnya, setidakpeduli apapun ia, kita mengenal Umar bin Khattab, kita mengenal Khalid bin Walid yang sangat memusuhi Islam, tapi berkat kesabaran Rasulullah dan para sahabat dalam mengajak pada ketauhidan, akhirnya Allah membukakan pintu hati keduany hingga kini kita mengenalnya sebagai salah satu sosok sahabat Rasul yang sangat membela Islam.

Iya itu. Tapi kalo konteks lainnya adalah misal kita mau pakai baju, atau kita mau presentasi atau apa, terus kita mengkhawatirkan presepsi orang alias kita takut dengan tanggapan orang, padahal orang lain juga belum tentu peduli atau bahkan nggak peduli sama sekali, ya yang kayak gini mah buat apa peduli. Eh, atau ini jadinya malah 'Tidak usah memperdulikan tanggapan orang, toh mereka belum tentu peduli'. Haha. Yah, jadi beda konteks deh. Haha.

Yah, pokoknya intinya gitulah.

Kamis, 01 Oktober 2015

Sampai Jumpa RumahKita, RumahWacana!

Kepindahan kami -anak-anak RumahKita, rumah di kolong jembatan teknik, Kali Code, sebenanrya sudah tertunda berkali-kali. Maklum, ketiga orang penghuninya adalah detlener sejati. Haha. Atau procastinator? Akhirnya, saat benar-benar akhir september tiba -bertepatan dengan hari dimana kita harus membangunkan Green Day atas permintaannya melalui lagu "Wake Me up When September End"- itu barulah ketiga bocah ini, dibantu oleh seorang "Bundo" si 'Afifah, mau pindahan total. Lemari, juga kasur dan setumpukkan kardus-kardus berisi entah apa, diangkut oleh pick up yang ditemui sedang nangkring di pinggir jalan, bareng sama supirnya.

Pindah. Akhirnya RumahKita yang sudah sejak tiga tahun lalu mewacanakan untuk pindah rumah -tapi tetap saja hanya jadi wacana- benar-benar pindah di tahun keempat kuliah. Dan pisah rumah (bukan pisah ranjang, karena emang kagak ada ranjangnya). Dua orang mondok dengan rajinnya di Inayatullah, Jalan Monjali. Dan satu orangnya bermalas-malasan di kontrakan yang baru. Tetap saja lebih sering tidur ketimbang belajarnya. Haha. Meski pindahannya pun pas di hari terakhir kontrakan habis. Di hari dimana Ibu kontrakan nyamperin ke rumah, nanyain, memastikan bahwa kami benar-benar akan pindah. Haha.

Pasti, akan merindukan masa-masa tiga tahun di RumahKita, sama para penguhinya, sama rumahnya, sama Ibu kontrakannya, sama tetangga-tetanggnya, sama suasana turun dari jembatannya. :) Pasti akan sangat merindukan :)

Welcome to Baytul Quds

Rumah ini bernama Baytul Quds, entah karena apa. Entah siapa yang memberi nama atau memilih namanya. Dulunya berlokasi di daerah Pogung Lor, yang berjarak sepelemoaran batu dari warung SS di Pandega Marta. Tapi kini, rumah ini sudah pindah, bergeser beberapa kilo meter dari sana, menyebrangi ring road utara, dan seterusnya, dan seterusnya.

Meski ini bukan pertama kalinya saya ke sini, bukan pertama kalinya pula saya tidur di sini, tapi hari ini (sebenarnya terhitung sejak kemarin), saya resmi menjadi salah satu penghuni Byatul Quds ini. Barang-barang saya, kini sudah turut pindah, bukan hanya orangnya seperti saat masa-masa OSCE KBK 3 kemarin. Haha. Kini, penghuninya genap 10 orang dengan saya, kesemuanya adalah anak prodi dokter 2012. Rumah ini jadi sedikit lebih ramai. Semoga juga menjadi lebih baik :)