Minggu, 04 Oktober 2015

Rumah di Ujung Jalan

Rumah itu berada tepat di ujung jalan. Rumahnya bukan rumah kokoh yang dibangun dengan beton, bata, atau sejenisnya. Ia hanya rumah kecil dengan dinding kayu yang bisa rubuh kapan saja. Awalnya aku mengira rumah itu hanya gubuk kosong atau pos penjagaan yang sudah tidak terpakai. Tapi, sekali waktu aku lewat di depannya, ada seorang kakek-kakek duduk di bangku kayu di depannya. Bangku yang juga sama reotnya dengan rumah itu. Sekali waktu yang duduk di sana seorang nenek-nenek. Dan sekali waktu keduanya duduk berdua di depan. Keduanya tidak melakukan apapun. Hanya duduk saja di sana, menikmati cuaca Jogja yang akhir-akhir ini memanas beberapa derajat.

Tapi keduanya terlihat menikmati suasana saat duduk di depan rumah reot itu. Entah karena keluhannya sudah terpendam jauh selama hidupnya, atau karena memang tidak ada keluhan lagi yang perlu dikeluhkan? Atau memang sebenarnya tidak perlu ada keluhan. Karena kebahagiaan adalah sebuah persepsi. Pun keluhan dan masalah juga buah dari persepsi.

*Semoga ketidaknyamanan ini hanya sesaat.
Baytul Quds, di siang yang panas, di hari-hari kesabaran dan 
keridhaan akan takdirnya Allah sedang sangat dibutuhkan. 
Fashbir Shabran Jamiilan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar