Minggu, 20 Desember 2015
Modul 4.3 : Exploring the Human Enchancement Technology
Ini kelas kami selama 2 minggu terakhir. Dan foto ini diambil di ruang teater perpustakaan FK UGM; usai mini seminar dan panel diskusi di hari terakhir kelas. kemarin jumat :') Yang duduk berjejer di depan itu Tim koordinator blok nya (kecuali hasna yang pake baju biru paling kanan). Ada kak Sandeep, Bu Erlina, prof Narto, dan Dokter Wika dari Center of Bioethics and Medical Humanity. Kurang dokter Azid yang hari itu masih jaga di rumah sakit.
Kelas ini nggak seperti kelas lainnya. Di kelas ini kami nggak belajar klinis, kami nggak ada praktikum, skill lab ataupun tutorial. Jadwal kami setiap harinya selama 2 pekan terakhir ini konstan dari jam 8 sampai jam 3 sore yang isinya antara kuliah dan diskusi, kuliah diskusi, kuliah diskusi. Atau movie session dan diskusi. Atau reading analysis. Beberapa kali kamu juga kuliah dengan teleconference bersama Benjamin, seorang antroplogis (orang luar negeri tentunya) yang pernah meneiliti kaum LGBT di Indonesia (kalao tidak salah) selama 3 tahun. Pernah juga kuliah teleconference dengan Paul Mason, seorang medical anthropologist.
Selebihnya, kami kuliah dengan para pakar teknologi dan etik di UGM, dan sesei terserunya adalah kesempatan untuk berdiskusi baik yang teknis maupun filosofis dengan beliau-beliau ini. Somehow, kami-kami ini merasa,wow, kemana aja kita selama ini? Saking sangat banyak wawasan kami yang terbuka hanya dalam waktu 2 pekan.
Di setiap topik selalu ditekankan, 'everything is depend on its social construct and so that everything is socially and culturally constructed' even beautiful, even love, even science itself.' Jadi, kami diajak bagaimana berpikir kritis dengan melihat konteks yang ada. Berpikir etis dengan membandingkan satu konteks dengan konteks lainnya.
And, this class is so awesome, with awesome teachers and awesome classmates :')
Kalo kuliah biasa, nggak akan ada yang nanya sampai sebanyak itu, sekritis itu .... whoaaa ..
note : setelah ini akan saya uplot commentaries dari day 1-last ...
Jumat, 18 Desember 2015
Hari Terakhir
Dalam hitungan satu setengah jam, saya akan masuk kelas untuk terakhir kalinya di S1 ini. Terkadang saya merasa, wow, the time past quickly, isn't it?
Tapi kalau dipikir, nggak juga. Ada waktu-waktu yang saya merasakan berjalan sangat lambat, seperti waktu menjalani tahun pertama kuliah, blok 4.2 juga blok elektif termin 2 ini, blok exploring the human enhancement technology.
Saya bersyukur saya menutup pembelajaran S1 ini dengan 'terjebak' di kelas HET ini. Somehow, dalam rentang waktu 2 minggu duduk di kelas ini, pikiran kami jadi lebih terbuka. Sangat amat terbuka bahwa ternyata ilmu kedokteran itu sempit cakupannya, dan ada banyak ilmu di luar ilmu kedokteran yang harus kami pelajari untuk menunjang profesi dokter.
Setelah kuliah ini selesai nanti, saya ingin bercerita lebih panjang tentang kelas ini, juga ingin meng-upload commentaries (semacam diari) yang kami tulis setiap harinya di discussion forum di portal akademik fk.
Setelah ini yang menanti saya untuk 2 bulan ke depan hanya tinggal ujian-ujian, remed-remed, juga skripsi. Kemudian ...
Ah.
Welcome to reality :')
Tapi, kalau dipikir-pikir sedih juga ...
Tapi kalau dipikir, nggak juga. Ada waktu-waktu yang saya merasakan berjalan sangat lambat, seperti waktu menjalani tahun pertama kuliah, blok 4.2 juga blok elektif termin 2 ini, blok exploring the human enhancement technology.
Saya bersyukur saya menutup pembelajaran S1 ini dengan 'terjebak' di kelas HET ini. Somehow, dalam rentang waktu 2 minggu duduk di kelas ini, pikiran kami jadi lebih terbuka. Sangat amat terbuka bahwa ternyata ilmu kedokteran itu sempit cakupannya, dan ada banyak ilmu di luar ilmu kedokteran yang harus kami pelajari untuk menunjang profesi dokter.
Setelah kuliah ini selesai nanti, saya ingin bercerita lebih panjang tentang kelas ini, juga ingin meng-upload commentaries (semacam diari) yang kami tulis setiap harinya di discussion forum di portal akademik fk.
Setelah ini yang menanti saya untuk 2 bulan ke depan hanya tinggal ujian-ujian, remed-remed, juga skripsi. Kemudian ...
Ah.
Welcome to reality :')
Tapi, kalau dipikir-pikir sedih juga ...
Minggu, 13 Desember 2015
Terbatas
Seberapa jauh kita mau ikhtiar untuk berdakwah dan menabrak keterbatasan-keterbatasan yang kita miliki untuknya?
Seberapa jauh?
Seberapa rela?
Seberapa ikhlas dan sabar?
Seberapa jauh?
Seberapa rela?
Seberapa ikhlas dan sabar?
Jika benar, semoga ini adalah memang ujian agar aku naik ke tingkat berikutnya. Jika benar, semoga ini adalah memang ujian atas niatan, amal, maupun ilmu yang ada dalam pribadi ini.
Semoga bukan azab atas kelalaian diri ini, atau atas ego yang tidak pernah mampu diri ini taklukan..
*Lillah, Lillah ... agar lelahnya tak sekadar lelah ..
Semoga bukan azab atas kelalaian diri ini, atau atas ego yang tidak pernah mampu diri ini taklukan..
*Lillah, Lillah ... agar lelahnya tak sekadar lelah ..
Sabtu, 12 Desember 2015
Praktikum Medical Logistic : Banjir Kali Code
Yogyakarta menghadapi hujan besar selama sepuluh
hari berturut-turut dengan intensitas yang bervariasi. Curah hujan tertinggi
terjadi di daerah Boyolali dan Sleman. Pada hari ke-7, lahar dingin turun dari
Gunung Merapi mengancam penduduk sepanjang kali Code dan Gajahwong. Level air
di daerah Code dan Gajahwong naik hingga 3-5 meter, dengan aliran deras yang
bercampur material vulkanik seperti abu vulkanik, batu-batuan, dan lumpur.
Tim 11 adalah tim bantuan bencana yang dikirim oleh
Fakultas Kedokteran UGM ke daerah banjir Kali Code. Tim ini beranggotakan 10
orang dengan rincian : 2 orang dokter umum, 2 orang dokter spesialis anesthesi,
1 orang dokter spesialis bedah, 3 orang perawat, 1 orang ahli gizi, dan 1 orang
psikolog. Tim 11 berada di lokasi banjir selama 7 hari. Hari pertama Tim 11
tiba dan langsung melkaukan koordinasi dengan dinas kesehatan setempat dan
relawan lain untuk pembagian lokasi kerja dan penanganan. Hari kedua Tim 11
menuju lokasi yang telah ditunjuk, mendirikan tenda pos pelayanan kesehatan,
dan memberikan pelayanan kesehatan gawat darurat bagi korban dan pengungsi.
Hari ketiga dan keempat Tim 11 selain melakukan pelayanan kesehatan, juga turut
menyisir dari ujung ke ujung Kali Code untuk mencari korban yang masih terjebak
banjir. Hari kelima Tim 11 menyisir lokasi yang masih terisolir. Hari keenam,
Tim 11 melakukan promosi kesehatan di pos pelayanan kesehatan, termasuk promosi
kesehatan tentang mencuci tangan dan kebersihan lingkungan. Di hari ketujuh,
Tim 11 melakukan evaluasi internal dan evaluasi bersama dengan dinkes setempat;
serta persiapan untuk kembali ke rumah masing-masing.
Dalam proses pengiriman Tim 11 sebagai tim bantuan
bencana terdapat beberapa kendala yang dihadapi, seperti cuaca yang tidak
mendukung karena hujan deras, yang berimbas pada gangguan komunikasi jarak jauh
akibat sinyal yang terganggu, serta kurang lancarnya komunikasi dan koordinasi
dengan relawan lain di awal kedatangan tim. Namun, secara umum kegiatan
operasional seperti memberikan pelayanan kesehatan dan pertolongan pertma bagi
korban dan pengungsi dapat berjalan lancar. Demikian laporan ini dibuat sebagai
dokumentasi tim manajemen bencana FK UGM dan agar dapat menjadi evaluasi dan
refleksi bagi tim bantuan bencana berikutnya.
Note :
Ini praktikum di blok lalu tentang disaster management. Sebenarnya udah pengen ngupload tulisan ini ke blog beberapa minggu lalu, tapi baru kesampaian hari ini *ada yang sok sibuk, haha*
Jadi ceritanya, tulisan di atas adalah report yang ditulis oleh saya sebagai tim leader
dari sebuah tim bantuan bencana yang dikirim FK UGM ke Kali Code yang sedang mengalami musibah banjir. Sebenarnya praktikumnya nggak benar-benar turun ke lapangan; tapi 'on the table' alias simulasi kasus dengan imajinasi. Jadi, ada skenario kasus, terus ada blanko logistik yang harus kami -satu kelompok praktikum ini-isi. Report yang dikumpulkan terdiri atas tiga hal : blanko logistik yang sudah lengkap, rencana tindakan medis lapangan, sama report yang saya tulis di atas ini.
dari sebuah tim bantuan bencana yang dikirim FK UGM ke Kali Code yang sedang mengalami musibah banjir. Sebenarnya praktikumnya nggak benar-benar turun ke lapangan; tapi 'on the table' alias simulasi kasus dengan imajinasi. Jadi, ada skenario kasus, terus ada blanko logistik yang harus kami -satu kelompok praktikum ini-isi. Report yang dikumpulkan terdiri atas tiga hal : blanko logistik yang sudah lengkap, rencana tindakan medis lapangan, sama report yang saya tulis di atas ini.
Nah, bagian terseru adalah ketika kami harus melengkapi balnko logistik yang terdiiri atas tiga blanko : blanko logistik persola, blanko logistik tim, dan blanko logistik operasional. Hari itu, kami mendiskusikan akan membawa berapa baju, berapa celana, bawa alat mandi apa aja, bawa jas hujan atau bawa payung, bawa senter atau bawa lampu emergency, bawa perahu karet atau nggak, bawa tenda berapa banyak, bawa stetoskop pribadi atau kelompok, bawa tensimeter berapa banyak, kita mau bawa bawa obat apa aja. Waktu itu, kita diskusi mau bawa apa aja udah serasa kita mau turun ke lapangan beneran, seru banget deh. Kita berantem mau bawa telor asin atau telor bebek atau telor ayam buat logistik makanan, meski ujung-ujungnya yang ditulis di blanko kita bwa nasi bungkus. Kita berantem perlu bawa truk atau nggak, dan ujung-ujungnya ditulis kita motoran ke kali code, haha ...
Rabu, 02 Desember 2015
Bukan Kebetulan
Kemarin, dalam satu hari, saya bertemu dengan banyak orang yang sebenarnya saya paling hindari hari itu. Tapi, Allah berkehendak lain. Meski saya sudah menghindar, tetap saja Allah pertemukan. Wallahu a'lam mengapa.
Orang-orang yang saya temui hari itu, mengingatkan saya pada satu hal yang sama, "InsyaAllah ini bukan kebetulan. Allah berkehendak seperti ini atasmu. Jadi, pasti ada alasannya."
Iya, pasti ada alasannya. Mengapa saya harus di sana, dalam waktu itu, bertemu dengan orang-orang itu. Pasti ada alasan mengapa Allah tidak membiarkan saya menghindar. Mengapa Allah menginginkan saya ada di sana, pasti ada alasannya. Meski entah apa. Meski alasan itu belum tentu akan diketahui detik ini, hari ini; bisa jadi baru akan diketahui bertahun-tahun setelah hari itu.
Pasti ada alasannya. Pasti ada pelajarannya. Bukan kebetulan. Hanya saja saya cukup bersabar untuk belajar atau tidak ya?
-Semoga niat ini tidak bergeser dari menuju kepada-Nya. InsyaAllah.
Wallahu a'lam.
Orang-orang yang saya temui hari itu, mengingatkan saya pada satu hal yang sama, "InsyaAllah ini bukan kebetulan. Allah berkehendak seperti ini atasmu. Jadi, pasti ada alasannya."
Iya, pasti ada alasannya. Mengapa saya harus di sana, dalam waktu itu, bertemu dengan orang-orang itu. Pasti ada alasan mengapa Allah tidak membiarkan saya menghindar. Mengapa Allah menginginkan saya ada di sana, pasti ada alasannya. Meski entah apa. Meski alasan itu belum tentu akan diketahui detik ini, hari ini; bisa jadi baru akan diketahui bertahun-tahun setelah hari itu.
Pasti ada alasannya. Pasti ada pelajarannya. Bukan kebetulan. Hanya saja saya cukup bersabar untuk belajar atau tidak ya?
-Semoga niat ini tidak bergeser dari menuju kepada-Nya. InsyaAllah.
Wallahu a'lam.
Selasa, 01 Desember 2015
Paham
Ada banyak hal yang saya nggak paham begitu menginjakkan kaki di dunia perkuliahan. Dulu, saya banyak mempertanyakan hal-hal yang saya nggak paham ini. Tapi nggak banyak juga yng saya dapatkan jawabannya. Semakin saya tanyakan, semakin saya binung, dan seringpula justru jawaban itu ada ketika saya tidak menanyakannya. Tapi menjalakannya.
Jadi, sekarang meski tidak paham mengapa, saya memilih untuk tetap berjalan, sambil berdoa semoga Allah berkenan memperdalam pemahaman saya agar saya peka terhadap petunjuk-Nya. Dan biasanya jalan ini lebih mudah mendapat kepahaman, ketimbang terus-terusan bertanya, tanpa bertindak apapun.
Ihdinash shiraathal mustaqiim ...
Jadi, sekarang meski tidak paham mengapa, saya memilih untuk tetap berjalan, sambil berdoa semoga Allah berkenan memperdalam pemahaman saya agar saya peka terhadap petunjuk-Nya. Dan biasanya jalan ini lebih mudah mendapat kepahaman, ketimbang terus-terusan bertanya, tanpa bertindak apapun.
Ihdinash shiraathal mustaqiim ...
Langganan:
Postingan (Atom)
