Selasa, 29 Oktober 2013

Yang saya butuhkan, tak lebih, tak kurang ...

Akhir-akhir ini sebenernya lagi banyak amanah besar yang saya pegang. Tapi karenanya, saya jadi keteteran. Sebenernya saya juga bingung, kenapa saya bisa keteteran, padaha akademik juga jadwalnya lagi nggak sepadat itu, secara amalan yaumiyyah juga nggak sekacau semester 2 lalu ...

Tiba-tiba saya jenuh buat semuanya. Termasuk nulis (inipun maksain diri untuk segera nulis untuk evaluasi diri). termasuk gambar. termasuk hal-hal lain yang saya suka. Perubahan posisi dari tahun pertama ke tahun kedua jelas membawa perbedaan, saya paham itu, ketika dari posisi dibina menjadi membina. Perubahan amanah, perguliran amanah juga jelas saya paham, seperti yang pernah ustadz taufan katakan di kajian manhaj, "kalau tidak berani untuk mengemban amanah, untuk apa kalian berada di barisan dakwah ini?" Saya sudah meneguhkan hati kembali untuk beramanah di lembaga, untuk bersama temen-temen lainnya menguatkan dakwah ini, tapi, kenapa jenuh itu datang secepat ini?

Ketika saya telisik menelisik (belum sampai menelusuri lebih dalam), saya paham, karena kita di sini masih 'sendiri-sendiri'. Kita jalan sendiri-sendiri, bergerak sendiri-sendiri, sekalipun satu jama'ah. Hati kita nggak terkait, tangan kita nggak tergenggam satu sama lain, ya jadi, kalau jatuh, jatuh saja, nggak ada yang nopang, nggak ada yang bantu.

Jujur aja, di lembaga lain, saya merasa sendiri membangun dakwah di sana. Sudah barang tentu, saya mudah lelah. karena kalau diumpamakan, jalan rame-rame bakal lebih nggak berasa capeknya ketimbang jalan sendiri. Iya, mungkin saya masih jalan sendiri, jadinya, saya gampang jatuh, dapat amanah besar dikit aja, langsung jatuh, ngeluhnya lebih banyak daripada kerjanya, futhurnya lebih sering daripada kondisi iman yang fit, karena mungkin, kita masih menganggap, lembaga lain ya urusannya lembaga lain.Padahal, mungkin, banyak temen temen yang ngerasa sama sama saya, yang ngerasa sendirian di lembaga lain. Yang butuh uluran tangan agar, saat berjuang menegakkan kalimat laa ilaha illallah itu, ia kuat, dan tak mudah jatuh, sekalipun banyak rintangannya ...

iya, yang saya butuhkan, tak lebih, tak kurang adalah support ... rangkulan hangat, senyum cerah teman-teman, kepedulian teman-teman ... nggak lebih nggak kurang ... dan saya percaya, kalian nggak akan ninggalin saya kan?

*Ya Allah sesungguhnya hati-hati kami teah berhimpun padaMu dalam ikatan agama Mu

Kemana Saya?

Pertanyaan itu muncul begitu saja, ketika saya sadar akhir-akhir ini amanah saya banyak yang keteteran. Kemana saja saya? Waktu 24 jam saya kemana saja?

Saya juga nggak tahu, apakah waktunya memang sebegitu cepat, hingga semua amanah ini tak terselesaikan, atau, saya kemana? Saya juga nggak tahu, saya kemana.

Akhir-akhir ini saya suka menghilang dari diri saya sendiri, dan ketika saya sadar, tahu-tahu saya sudah jauh menyimpang, dan saya, jujur saja, bingung bagaimana caranya untuk kembali? Saya mikir, saya dimana? Tapi, saya juga nggak tahu, saya dimana, makanya saya bingung caranya balik?

Saya masih nyari, salah saya dimana. Dan, entahlah .. sebenernya banyak alasan, banyak banget alasan, tapi saking banyaknya, saya sampe nggak paham lagi ...

*tiba-tiba saya jadi bingung saya nulis apa .. -__________-


Kamis, 10 Oktober 2013

Benci

kadang-kadang saya membenci sesuatu lebih karena saya nggak bisa melakukannya, atau saya nggak bisa menggapainya, atau saya nggak bisa atau saya nggak bisa menjawab pertanyaan yg muncul akibat sesuatu tersebut, atau saya nggak bisa bahkan untuk sekadar memimpikannya ...

kadang-kadang saya membenci sesuatu karena realita saya yang nggak bisa apa-apa, dan saya yang sering banget tiba-tiba jadi pesimis, 


wallahu a'lam 

Sedikit menyesal

Iya, saya sedikit menyesal jadinya (atau malah sangat menyesal), menerima tawaran gabung di penelitian,
Padahal saya tahu, saya orang yang paling nggak suka sama penelitian, tuh kan jadinya malah nggak maksimal, malah jadi useless…
Ya gini nih, kalau niatnya nggak bener, nggak berdasar atas pencarian ridho Allah, udah pasti dan udah jelas ada menyesal, ada kecewa, ada perasaan nggak bersalah waktu membengkalaikan amanah …
tapi, untuk disuruh meluruskan niat, berat, sulit, walaupun bukan nggak bisa, hanya .. sulit, 
Bismillah … Yaa muqallibul quluub, tsabbit quluubanaa ‘alaa diinika wa thoo’atika

Sabtu, 07 September 2013

Prestasi Juga Dakwah

Tadinya saya mau ngepost tentang PALAPA kemaren, tapi entah kenapa saya kelamaan memutar memori dan malah tenggeam dalam memori-memori itu yang ujung-ujungnya bikin saya stagnan nulis. Jadinya, saya nulis ini aja 'Prestasi Juga Dakwah' berhubung sore tadi saya baru dapet kabar gembira dari almamater saya dulu, MAN Insan Cendekia Serpong.

Menurut kabar yang beredar di sosial media, MAN ICs+MAN ICg dapet 19 medali di OSN 2013 yang diadakan di Bandung. semua medali yang tercampur antara emas, perak, perunggu itu kembali menghiasi MADRASAH saya dengan kilauan warnanya dan kecemerlangan prestis di balik medali yang hanya simbolis dari kecerdasan anak-anak sekolah saya.

Nggak sia-sia lah sekolah saya memanggil semua alumni-alumninya yang sebelumnya sudah sukses di olimpiade-olimpiade ketika mereka masih di IC untuk mengajar adik-adiknya yang akan mengikuti jejak mereka. Dan nggak sia-sia juga para alumni yang ngebela-belain datang ke IC sekalipun di tengah-tengah ujian buat ngajar (yaa, bukan saya sih, temen-temen saya itu...).

Yah, dan tagline "Kampus prestasi, mandiri, dan islami" yang tertulis di depan pintu masuk IC juga bukan hanya tulisan tak bermakna. Madrasah ini sudah membuktikannya, kemandiriannya, keislamiannya, serta segudang prestasinya.

Dulu (entah kapan, haha), ketika saya masih diizinkan untuk menjadi salah satu anak yang mewakili IC di kancah oimpiade sains tingkat kabupaten, dan masih diizinkan mengikuti setiap pelatihan-pelatihan tanpa terkendala, saya inget banget temen-temen seperjuangan itu berusaha sampai titik darah penghabisan, membaca buku-buku yang jauuuh melampaui pelajaran anak SMA, tidak hanya untuk prestis pribadi ataupun sekolah, tapi juga untuk dakwah. Mereka belajar untuk mengharumkan nama Madrasah yang seringkali dicap sebagai sekolah abal-abal, karena sering jadi plihan ke sekian dari semua SMA-SMA yang dipilih.

Iya, prestasi itu juga dakwah. Mereka, teman-teman saya yang diberi kesempatan untuk beraksi di ajang nasional maupun internasional selalu mengatakan dengan bangga, 'Saya anak Madrasah'. Biar semua orang tahu, kalau kami, anak-anak muslim juga tak kalah berprestasi. Hal ini juga mereka lakukan untuk mendongkrak semangat teman-teman madrasah lain yang masih belum terdengar namanya, bahwa anak madrasah juga nggak kalah kece dari anak-anak SMAN biasa ...

Karena berprestasi juga dakwah, ia bukan sekadar prestis atau ego,, ia lebih dari sekadar itu,
            Karena setiap dari kita adalah da'i

*oke, sebaiknya saya segera belajar juga, supaya bisa menjadi kader yang bukan hanya organisatoris, tapi juga prestatif :)

Selasa, 13 Agustus 2013

menjejak usia dewasa

bismillah, sebelumnya, sugeng riyadi, kulo nyuwun ngapunten menawi kulo gadah lepat, njih ...
semoga Allah menerima semua amal ibadah kita selama ramadhan kemarin dan menjadikan kita termasuk ke dalam orang-orang yang 'kembali' dan 'menang'! ..

Iya, sudah lama juga blog ini saya anggurin (bukan buah anggur ya), nggak kok, alasannya bukan karena saya sibuk, tapi lebih karena saya berpindah ke lain hati (halah), iya saya jadi lebih asik di tumblr, apalagi saya baru ganti tumblr, belum banyak orang yang tau, jadi mu ngepos apaaa juga siapa juga yang peduli ehehehehehe ... (ya kali, yang ini juga mau ngepos apa juga siapa yang peduli ehehehehe).

Oke, jadi sebenernya postingan ini udah kepingin saya post dari entah kapan, tapi baru kesampaian sekarang (karena mulai nganggur, ditinggal keluarga pulang ke depok), dan niatnya mau di post di tumblr biar ah... sudah lah .. toh lagipula tumblr nya berat banget dibuka .. (-->kebanyakan alasan banget ini ...)

yaudahlah daripada saya mulai ngalor ngidul dan tetiba malah jadi banyak nulis yang nggak jelas saya mulai aja.

jadi, ketika saya memasuki usia 19 tahun terhitung 28 Mei lalu, saya mulai banyak mikir tentang kedewasaan, jangan sampai ketika saya masuk usia 20 tahun, dimana orang menyebutnya sebagai dewasa muda, sikap dan pikiran saya masih jauh dari kedewasaan.

Apalagi ketika usia 20 tahun itu, saya juga harus mulai menyiapkan diri untuk berkeluarga (iya, nyiapin mental sama kebiasaan --> ini yang saya sebut dengan "diam-diam tapi progress"). Saya udah harus mulai serius untuk menemukan diri saya, (iya jujur aja, sampai sekarang saya masih kebingungan mendefinisikan jawaban dari pertanyaan "siapa saya?"). Saya juga harus mulai memikirkan visi dan tujuan saya hidup. Walaupun saya sudah tahu tujuan penciptaan manusia adalah untuk beribadah, tapi jujur saja, saya belum benar-benar memaknai hal tersebut.

"Mengetahui" dan "memaknai" jelas beda artinya. Saya punya teori (iya, teori bikinan saya sendiri, jadi jangan coba-coba untuk disitasi buat karya tulis, njih, apalagi buat disertasi.. *ya, kaliiiiiiii*). Jadi, ketika masuk usia anak TK-SD lah ya ... itu waktunya anak-anak tersebut dikenalkan pada tujuan hidup, dan bagaimana caranya untuk mencapai hal tersebut. Cukup dikenalkan, karena sebelum baligh, mereka belum punya kewajiban untuk mengerjakan ibadah mahdhoh. kemudian masuk usia remaja, peralihan anak-anak menuju dewasa, maka mereka seharusnya dalam taraf 'tahu' bukan lagi kenal. Tapi mereka masih mencari cara yang pas untuk menuju tujuan hidup tersebut , seiring dengan pencarian jati diri para remaja tersebut. kemudian, ketika memasuki usia dewasa, seharusnya seseorang sudah dapat memaknai tujuan tersebut. Maksudnya memaknai di sini adalah, bertindak sesuai dengan tujuan, dan ketika dihadapkan pada pilihan pun mereka memilih dengan pasti sesuai apa yang menjadi tujuan hidup, plus dapat memaknai kejadian yang dilewati dalam jalannya mencapai tjuan ..

begitu, ya sebenernya yang paragraf atas itu agak sedikit nggak nyambung, dilewatin aja bacanya juga nggak pa-pa sih ehehehehehe...

Jadi, ceriteranya kurang lebih 10 bulan saya akan memasuki usia dewasa, dan inilah kesempatan terakhir saya untuk lebih memahami diri saya, biar ketika saya benar-benar masuk usia dewasa nanti, saya dapat menjadi lebi bijaksana, tidak lagi disibukkan dengan pencarian jati diri sehingga saya sudah bisa fokus memaknai setiap kejadian yang ada di sekitar saya, dan membuat saya jadi lebih bijaksana.

buat saya, menjadi bijaksana itu sama dengan menjadi dewasa. Penting. Apalagi untuk seorang calon ibu yang akan menjadi 'madrasah' pertama bagi anak-anaknya. Saya harus bisa dengan bijaksana dan cerdas memilih pendidikan yang seperti apa yang baik buat anak-anak saya nantinya, atau sikap mana yang harus saya ambil untuk memberi anak-anak saya pelajaran berharga, agar tidak hanya masuk kuping kanan langsung bablas angineee (halah, korban iklan), tapi juga membekas dalam hati dan aplikatif ...Soalnya, kadang-kadang saya ngerasa, daripada dibilangin, saya lebih suka dicontohin, lhah kalo saya aja begitu, ya anak-anak nantinya juga nggak jauh-jauh lah ya ...

Bijaksana dan dewasa juga penting dalam manajemen emosi dan pikiran. Kalau sekarang saya masih kesulitan dalam memanaj emosi dan pikiran saya hingga akhirnya saya gampang stress yang bikin saya sering muntah-muntah, gimana saya mau memanaj rumah tangga saya, yang jelas jauh lebih rumit dan kompleks ketimbang memanaj diri saya sendiri. Ntar kalo saya lagi stress, semua saya marahin lagi ... *wah, tidak baik, tidak baik, ckkckckckck..*

Makanya, saya walaupun di suruh kuliah di UI, dan ibu sendiri yang minta, saya menolak dengan halus. Saya harus 'pergi' lagi dari rumah, mencari lebih banyak pengalaman, lebih banyak kejadian, bertemu lebih banyak orang, situasi, dan kondisi, hingga setiap yang saya temui itu bisa saya maknai, dan akhirnya saya terbiasa untuk memaknai ...

Bukannya kalo di UI juga bakal ketemu banyak hal? iya sih .. tapi saya nggak akan menghadapi kondisi dimana saya kehabisan beras pas lagi ramadhan, sementara saya tinggal sendirian di kontrakan, serta toko sembako deket rumah udah tutup gara-gara yang punya mudik entah kemana. Saya juga nggak akan menghadapi kondisi dimana saya bertengkar dengan diri saya sendiri karena nggak menemukan jalan keluar untuk masalah saya dan saya nggak bisa minta bantuan orang lain, karena cuma saya yang tahu masalahnya. Kalau saya di UI, jelas orang tua saya pasti tahu persis gimana saya, apa masalah saya soalnya saya tipe orang yang bakal cerita ke orang tua kalo ada apa-apa, dan ada di rumah akan menambah intensitas hal tersebut.

Simpelnya, kalo saya di UI, berarti saya nggak ngekos, nggak jauh dari rumah (yaiyalaaaah ya, orang UI sama rumah cuma 5 menit naik motor, kao nggak macet), kalo saya nggak jauh dari rumah, saya bakal ada di zona aman saya, dan saya bakal tetep dianggap 'adek' atau 'anak bungsu'. Udah bertahun-tahun jauh dari rumah aja, setiap kali balik saya jaid 'anak bungsu' lagi, apalagi kalo saya tiap hari ada di rumah. Saya nggak akan pernah keluar dari zona aman zaya .. eh saya ...

Dengan menantang diri saya untuk keluar dari zona aman saya, kedewasaan tersebut akan lebih cepat menguasai diri saya ..

begitu kira-kira ...

Yah, tapi orang beda-beda sih ...

Kamis, 18 Juli 2013

----

detik-detik menjelang ujian blok 1.6 .. kisaran 5 jam lagi ujian karena ada penundaan .. <Ujiaaaan apaaa cobaaa yang ditundaaaaa ck,>

Jangan ditanya deh udah sejauh mana saya belajar, dari kemaren juga belajarnya gini-gini aja, megang fotokopian, tidur, bangun, buka komputer, pegang fotokopian lagi, tidur lagi ... aand so on ...

Kalau ditanya siap nggak? Ya masalahnya adalah .. setiap orang seringkali nggak siap kecuali harus ada paksaan . Ya mulainya ujian itu yang jadi paksaan ...

yaudahlah ..... lanjutan nya nanti lagi habis ujian ..