Kamis, 24 April 2014

Penulis itu ...

"Penulis itu apa yang ia baca"
Itu kata-kata yang saya garis bawahi, dan saya catat khusus dengan gaya tulisan yang meliuk-liuk udah kayak ornamen di buku catatan saya (maksudnya sih biar saya inget gitu), waktu dapat kesempatan bertemu dengan seorang kakak angkatan di UGM, yang ternyata juga kakak kelas saya di IC (walaupun angkatan sangat jauh). Beliau melanjutkan (yang saya tulis berikutnya merupakan terjemahan bebas dari kata-kata beliau), ketika seorang penulis itu sudah lama tidak membaca, maka biasanya ia susah buat nulis, soalnya tidak tahu apa yang ingin ia tulis ....

Insan Cendekia : Syukur Tiada Hingga

[Re-Post dari tulisan Fitri Hasanah Amhar] 

Di kampus, formulir beasiswa pada umumnya suka nanyain tentang pernah nggaknya kita dapat beasiswa sebelumnya. Terus kalau pernah, ada kolom yang nanyain berapa besar beasiswa yang diterima per bulannya.

Saya nggak tau itu kolom diisi sama beasiswa yang pernah diterima semasa kuliah apa boleh dari dulu-dulu jaman sebelum kuliah. Pertama saya ngisi form itu adalah saat masih maba yang belum pernah dapet beasiswa di kampus. Terus saya kepikiran, dulu di IC-yang notabene beasiswa dari masuk sampai keluar- kalo diuangkan per bulan berapa besar, ya? Beasiswa selama di IC jaman saya dulu *aduh berasa udah lama banget* dari mulai uang masuk (uang pangkal), seragam, asrama, makan 3x sehari, SPP perbulan, suplemen (semacam makanan bergizi kayak susu kotak, telur rebus, kacang hijau, atau kue-kue basah dan sejenisnya) tiap sore, buku pelajaran, biaya study tour, berobat di poliklinik, dan lain sebagainya. Meskipun karena beberapa pasang surut pernah juga untuk suplemen mesti bayar (yang mau aja jadinya). Tapi overall, biaya kami perbulan sudah ditanggung. Kami tak perlu repot-repot bayaran. Dan tanpa tahu berapa besar biaya SPP saya—SPP kami setiap siswa IC— per bulan.

Kemudian, pada suatu kesempatan saya memberanikan diri untuk bertanya pada salah seorang guru. Saya menanyakan berapa nilai beasiswa IC jika diuangkanperbulan.

Kemudian guru saya jawab apa? Guru saya menyebutkan angka yang bahkan lebih besar daripada uang kuliah saya persemester (sengaja nggak saya cantumkan angkanya di kutipan kata-kata di bawah). Saya garis bawahi, angka beasiswa IC per bulan yang bahkan lebih besar dari uang kuliah saya per semester.
"Perbulan nya zaman fitri di angka: *sekian* (sekarang sudah lebih). (Monggo dikali 3 tahun) belum termasuk uang pangkal. Beruntung dan alhamdulillah, itu juga sangat berarti bagi orang tua. (Jujur saja: kami guru karyawan, yang pada punya anak, ingin juga anak-anaknya menikmatinya seperti anak-anak orang lain. Dididik ditempa sedemikian rupa. Apa daya belum seberuntung kalian. Malu rasanya kalau mau diungkapkan lebih jauh). Bersyukur kepada Allah, bersyukur sepanjang waktu (kata opick)."

Apa yang saya rasakan saat itu? Sedih, terharu, campuraduk jadi satu. Sedih rasanya ketika menyadari bahwa guru-guru kami yang selalu penuh dedikasi itu, orang-orang terdekat kami itu bahkan bisa jadi ketika mengajar juga berharap putra-putri kandungnya juga ada di salah satu bangku di antara bangku kami. Para karyawan yang melayani kami sepenuh hati, memperbaiki keran rusak—atau fasilitas lainnya, menuangkan porsi sayur dan lauk ke nampan-nampan makan kami, mengobati kami di poliklinik, mungkin berharap anak-anak kandungnya dapat menikmati fasilitas sekolah dan asrama, serta betapa menyenangkannya sekolah di sini. Maka ya Allah, nikmatMu yang manakah yang pantas kami dustakan?

Sedih juga karena rasa-rasanya saya belum bisa jadi alumni yang membanggakan buat IC yang membawa hasil didikan super mereka dalam bentuk prestasi yang membanggakan. Masih jadi alumni yang biasa-biasa aja. Prestasi itu salah satu tanda syukur. Prestasi juga tanda terima kasih. Ah, Bapak Ibu guru dan karyawan, maafkan saya... :"

Dear teman-teman alumni IC di manapun berada, selalu ada harapan yang terbit ketika Bapak Ibu guru kita mengajar. Kala pagi berangkat mengajar, kala menyampaikan materi, kala meninggalkan kelas saat kita biasa ulangan harian, kala mendatangi asrama untuk membantu menerangkan kembali apa yang masih kita bingungkan. Ada harap yang terus terbit yang boleh jadi mereka lantunkan dengan ikhlas di setiap doa. Tentang perilaku kita, tentang perangai kita, tentang suksesnya kita. Juga ada harapan dari para karyawan yang melihat poster peserta OSN dipajang besar-besar di depan gedung sekolah, melihat medali serta capaian-capaian madrasah kita, berharap agar kelak kitalah kelak yang akan membawa perubahan pada bangsa.

Maka rasa-rasanya jahat sekali kalau kita berubah jadi lebih buruk daripada saat di IC dulu. Memang tidak ada sekolah yang menjamin lulusannya akan sangat baik di luar. Pesantren seagamis apapun. Tapi kalau ingat bahwa dedikasi serta keikhlasan para guru semasa kami di IC, para karyawan yang setiap hari membantu merawat fasilitas, memasakkan makan, serta melayani setiap hari, ah, mana tega... Bapak, Ibu, saya rindu.... :"

Pak, Bu, seperti yang selalu kami lantunkan depan ruang guru saat 25 November menjelang, 

"Tanpamu, apa jadinya aku..."

Semoga rahmat dan kasih sayang Allah selalu ada untuk Bapak dan Ibu semua. Ilmu-ilmu ini amal jariyah kalian, Pak, Bu. Kesetiaan kalian dalam melayani kami, biarlah jadi teladan bagi kami semua. Biarlah kami akan jadi saksi kebaikan  Bapak dan Ibu di hari akhir kelak. Semoga keluarga besar IC dikumpulkan semua di SurgaNya, ya Pak, Bu. Aamiin.

untuk IC, yang entah bagaimana selalu berhasil membuat rindu
Jogja, 27 Maret 2014 22.30

Rabu, 26 Maret 2014

Kampanye Bising

Iya, jadi Pemilu legislatif yang jatuh tanggal 9 April 2014 itu membuat banyak keramaian baik di dunia maya maupun di dunia nyata ternyata. Isu-isu lama mulai diangkat, baik itu untuk memperburuk citra sebuah partai, orang perseorangan ataupun untuk mengingatkan kembali ke halayak tentang prestasi-prestasi sebuah partai atau orang perseorangan.

Dunia maya sendiri, ramai dengan pemberitaan partai A, partai B, partai lalalala dan lililili, tentang calon presiden Z yang mundur dari gubernur, calon presiden Y yang maen sinetron, atau calon-calon presiden lainnya. Di dunia nyata? well, sudah beberapa hari terakhir (saya nggak tau tepatnya) adalah jadwal kampanye terbuka partai-partai yang telah lolos verifikasi, tahun ini ada 12 partai nasional dan 3 partai lokal dari Aceh. Partai-partai ini sudah mulai memasang atribut-atribut di jalan-jalan, yang benderalah, yang baliholah, yang spanduk dan media-media lain. Walaupun, katanya, Pemilu tahun ini tak seramai pemilu-pemilu sebelumnya (ya, saya juga nggak ngeh sih, soalnya dulu-dulu masih belum boleh nyoblos, jadi hampir-hampir nggak peduli).

Waktu kampanye terbuka sudah dimulai, mulai juga aksi ke-15 partai ini, bergilir dari satu kota ke kota lainnya (mungkin yang partai lokal hanya di Aceh saja, saya nggak tau sih, tapi saya belum ketemu orang kampanye ketiga partai lokal ini di Jogja). Berusaha memutihkan, memerahkan, menghijaukan dan mewarna-warna lainnya masing-masing kota.

Ramai. Ramai banget pake sangat malah! ... Terutama untuk partai-partai yang kampanye dengan metode konservatif (halah bahasanya), yakni konvoi motor rame-rame keliling kota bawa bendera partai sambil memainkan knalpot (dimainin gasnya maksudnya, sampai menimbulkan suara-suara bising yang nggak enak didengar, bukan literally mainin knalpot yang dicopot, njuk, dimain-mainin). Menurut saya itu metode kampanye udah sangat jadul banget. Udah sejak saya kecil dilakuin, dan sekarang, menurut saya dan banyak orang udah nggak jamannya lagi kampanye dengan konvoi motor yang berisik gitu. masih banyak kok kampanye kreatif kalo partai-partai ini emang mau mikir gimana caranya kampanye yang lebih ngena ketimbang cuma menarik perhatian dengan suara bising kendaraan bermotor.

Sekitar 2 Minggu yang lalu partai PPP yang lewat daerah kos-kosan saya yang konvoi motor sambil bawa bendera hijau. Waktu itu posisi saya lagi makan bareng temen-temen PH KaLAM sekaligus rapat, tapi apadaya rapatnya jadi nggak efektif karena suara-suara bising tersebut. Tapi, yah massa yang dikerahkan PPP waktu itu ternyata nggak seheboh kampanye bising yang dilakukan partai banteng hari Selasa lalu. Partai yang punya simbol warna merah ini, entah dengan berapa jumlah massanya, pokoknya banyak banget pake sangat deh! konvoi keliling jogja, memenuhi setiap jalanan jogja yang emang nggak lebar-lebar amat. Alhasil jadilah hari itu jadi hari macet sejogja. Ditambah kebisingan-kebisingan yang ditimbulkan makin bikin hari yang panas itu jadi makin panas. Ya, saya sih terserah aja kalau mau bising-bising di tengah hutan, di tengah kota atau di tengah lautan. Lhah ini, di area kampus, di depan rumah sakit pula! (Kemarin rute kampanye partai ini melewati depan RSUP sardjito, yang berarti juga melewati depan fakultas saya).

Njuk, ngono yen enek pasien sing jantungan, piye jal? Mereka mah semangat-semangat aja mengkampanyekan partai mereka yang diusung. Ini nggak salah, partai manapun pasti semangat yak. Cuman, menurut saya caranya aja yang nggak ahsan. Masih ada banyak cara kreatif mulai dari kampanye penghijauan sampai kampanye door to door untuk mengenalkan partai mereka. Masih ada cara-cara halus yang bisa menyentuh hati masyarakat tanpa harus mengeluarkan suara-suara bising. apalagi di Jogja, yang notabenenya orang-orangnya halus plus lembut.

Kalau dari kampanye lapangannya aja udah terlihat brutal seperti itu, bagaimana jika akhirnya menduduki pemerintahan?

Yah, wallahu a'lam ... semoga siapapun pimpinan Indonesia nantinya, semoga beliau maju karena memang ingin mengabdi pada masyarakat ... Amiin ..

Blog Teman-Teman :)

Dasbor Blog adalah salah satu web yang wajib saya buka kalau lagi ngenet dari laptop. Walaupun saya nggak selalu nulis di blog, atau nulis tapi ngegantung dan akhirnya cuma jadi draft di dasbor, atau udah mau selesai sih tapi terus saya hapus semuanya dan log out hehehehe ...

kadang-kadang, eh sering malah, saya buka blog bukan buat nulis, tapi buat tahu kabar orang-orang. Buat tahu pemikiran-pemikiran orang-orang. Terutama temen-temen IC angkatan saya, dan lebih khusus lagi temen-temen IC yang udah jarang ketemu, atau mungkin yang sudah tidak terjangkau lagi kayak Anisa Firdaus atau Gian atau siapalah yang udah ke Jepang. Atau kayak doni yang sekarang di sumatera dan teman-teman lainnya.

Saya suka baca cerita-cerita mereka, saya suka ngedenger kabar dari temen-temen ini, yah walaupun sekarang udah ada facebook, twitter, whatsapp, line dan medsos lainnya, tapi, entah kenapa saya lebih suka tau cerita temen-temen ini lewat blog yang ditulis secara detil, panjang dan udah kayak cerita, nggak cuma timpalan-timpalan status, atau cerita hanya 140 karakter yang bisa menimbulkan ambiguitas atau hanya percakapan selewat-selewat di whatsapp atau bahkan karakter-karakter stiker yang ada line.

Ya simpelnya sih, saya jadi bisa tau cerita temen-temen tanpa saya harus bertanya 'apa kabar?'. Karena saya tipe orang yang malas memulai percakapan, terutama sama cowok, jadi saya lebih suka baca blog temen-temen-temen lebih banyak cerita warna-warninya hidup mereka, sekalipun yang di post tidak secara gamblang menceritakan pribadinya, tapi tulisan itu sudah cukup. Dan sekalipun saya jarang komentar juga sih di blog temen-temen, tapi paling nggak saya udah baca ... hehehe ...


Kamis, 20 Maret 2014

Masjid, Masjid aku datang

Hari ini tadi setelah diberitahu bahwa skill lab kosong saya langsung menuju sekre KaLAM yang bertempat di Masjid Ibnu Sina FK UGM lantai 2. Karena hijab sekre akhwat dan ikhwannya superdupertinggi, jadinya yang akhwat pun bebas tidur-tiduran tanpa perlu khawatir. Dan yah, seperti yang bisa ditebak, untuk menyimpan energi buat syuro sorenya saya akhirnya memutuskan untuk tidur di sekre KaLAM. Serius, rasanya saya udaaah lamaaa banget nggak tidur sepules itu di Masjid. Mengingat jaman SMA dulu masjid adalah tempat yang lazim digunakan untuk tidur (hahahaha, pas kajian tidur maksudnya).

Iya, saya kangen banget aktivitas-aktivitas sehari-hari yang dilakukan di masjid. Bukan cuma shalat atau kajian maksudnya. Saya kangen banget ngeliat masjid atau mushollah rame sama anak-anak yang pada belajar sampai dengan asyiknya tidur-tiduran di lantai masjid.Saya kangen banget ngeliat anak-anak non-rohis ngadain rapat di selasar masjid. Kangen ... Saya kangen aktivitas bejibun yang pusatnya di Masjid :)

Sejak MTs dulu, Masjid jadi tempat favorit saya, pake banget. Apalagi kalau liat masjid Assalaam yang superduper kece badai. Yang mampu menampung santrinya yang superbanyak juga. Dulu, waktu masih MTs, selalu pas ujian ada namanya belajar sore dan belajar pagi setelah shalat ashar dan setelah shalat shubuh. Waktu belajar ini, semua anak belajar di masjid didampingi oleh ustadzah-ustadzah pengampu pelajaran. Dulu tuh, seru banget momen belajar bareng ini, sampai nggak sedikit yang tidur-tiduran (bahkan ada yang tidur beneran). 

Lain lagi waktu di IC. di IC, masjid sudah jadi basecamp divisi saya, divisi Imtaq. Jadi, bisa dibilang kegiatan divisi kami berpusat di masjid. Tapi, terlepas dari kami-anak imtaq- yang memang lebih suka pakai masjid dan permadani dan komat (hayooo apaan tuh) buat kumpul ketimbang ruang OSIS, anak-anak OSIS lain, temen-temen MPS, kepanitiaan, juga kumpul angkatan acapkali kumpul di Masjid juga. Di timur masjid lah, di selatan, utara (yang pasti nggak di barat masjid sih hehe), di permadani alias perpustakaan masjid MAN Insan Cendekia, Atau bahkan di tengah-tengah masjid itu sendiri.

Saya suka ngeliatnya. Suka ngeliat Masjid jadi 'pusat peradaban' temen-temen waktu di IC dulu. walaupun sebenernya masjid IC nggak bagus-bagus amat, kalah jauh deh sama masjid Assalaam yang besar banget, apalagi sama MASKAM UGM -____-" Jauuuuuh ... Tapi, aktivitas di Masjid IC ini hidup. Yang istirahat, yang belajar, yang rapat merencanakan kegiatan OSIS ataupun angkatan, yang hanya sekedar ngobrol, sampai yang tilawah dan hafalan.

Saya jadi ingat, dulu, saat the golden age of Islam juga bukankah Masjid menjadi pusat peradaban para ilmuwan-ilmuwan Islam terdahulu? 

entahlah, wallahu a'lam ... tapi saya merasakan energi lebih ketika banyak aktivitas yang saya lakukan di masjid :) 

Kamis, 13 Maret 2014

Cetak Biru Ibu

Banyak saudara bilang, termasuk Ayah saya, saya itu cetak biru Ibu saya banget. Wajahnya, badannya, selera berpakaiannya sama persis sama Ibu waktu Beliau seumuran saya sekarang. Sampai, kalau silaturrahim keluarga besar di Ngawi orang-orang dewasanya rasa-rasanya sudah nggak perlu nanya, dan cukup bilang "wah, musti iki Mbak Iin kan?" (Nama kecil ibu saya Iin). Saya senyum aja.

Saya jadi inget waktu masih kecil karena masih belum keliatan mirip siapa-siapa, saya mikir jangan-jangan saya bukan anak siapa-siapa (hahahaha ... maaf bocah ini teralalu sering nonton telenovela charita de angel yang dulu sangat ngetrend sampai bikin berantem sama kakak cowoknya :p)

Well, mau dibilang nggak mirip siapapun, saya sudah nggak mau lagi mempertanyakan saya anak siapa, mempertanyakan kasih sayang kedua orang tua saya. Karena keduanya adalah orang tua yang sudah diberikan Allah buat saya yang kayak gini, cuma mereka yang tau betul cara menangani si bocah bungsu yang demennya sekolah jauh dari rumah ini.

Sejujurnya, saat saya di IC dulu, saya sempet minder sama temen-temen sekamar saya yang orang tuanya sangat kece badai pekerjaannya, ya.. yang dokter lah, ya yang duduk di kementrian lah dan lain-lain dan lain-lain ... Tapi, saya sekarang nggak mau lagi minder, karena kalau bukan karena didikan orang tua saya, saya nggak akan jadi saya yang sekarang, saya akan jadi mereka dong? Nggak seru kan kalau sama karakternya :P

Dan, beberapa hari lalu saya sempet demam naik-turun kayak roller coaster (bukan sayanya yang naik turun, tapi demamnya). Saya cuma lapor ke orang tua saya kalau saya sakit itu cuma pas hari pertama saya demam dan sukses sembuh setelah saya minum antangin JRG (hahahaha) ... Walaupun satu hari setelahnya ternyata saya demam lagi setiap siang sampai malam, tapi saya nggak bilang ke orang tua, sampai hari jumat pagi Ibu ngewasap, "Dek, udah sembuh demamnya?" Karena itu pagi, jadi saya bales, "Udah bu" gitu.

Sorenya, saya demam lagi, dan disitulah saya baru nelpon orang tua saya, menjelaskan keadaan saya yang demam naik turun ini, terus Ibu bilang, "Katamu udah sembuh, ibu tuh tadi pagi tanya kamu udah sembuh atau belum, soalnya Ibu tadi pagi juga demam, terus ngerasanin kamu ..." Uuugh, rasanya terharu banget nggak sih T.T (*banjir air mata*)

Ini bukan yang pertama kali, waktu MTs dulu juga pernah. Saat itu saya juga demam naik turun kayak kemarin, yang waktu itu dibilangnya gejala tifus, dan sialnya waktu itu saya juga lagi nggak punya uang cukup buat ngabarin ke rumah kalau saya lagi sakit, akhirnya saya diem-diem aja di poliklinik pondok rawat inap di sana. Sampai suatu ketika bulik saya sekeluarga datang, bilang katanya Ibu ngerasanin saya terus minta tolong beliau untuk jenguk saya di pondok (*makin banjir air mata* T.T)

Tuh kan saya anak Ibu ... Saya anak Ibu banget .. dan yah ...Tinggal sedikit waktu saya (karena saya nggak tau kapan Allah akan memanggil saya balik, atau saya nggak tau kapan sangkakala akan dtiup) untuk birrul wiladyn, kalau bisa saya pengen memaksimalkan waktu yang sedikit itu .. :')


Minggu, 16 Februari 2014

FAQ : Mahasiswa Kedokteran

Well, jadi di sini gue mau menjawab beberapa pertanyaan yang sering diajukan oleh anak-anak SMA ataupun anak-anak yang penasaran sama mahasiswa FK. Yah, kalo ada jawaban yang ngaco-ngaco  ya maap, soalnya gue juga bukan mahasiswa FK yang baik wkwkwkwkwk ..

Q1 : Masuk FK susah nggak sih?

A1 : Nggak. Serius nggak, tinggal masuk gerbangnya aja, bahkan kamu nggak perlu izin satpam.

Q2 : Maksudnya, ujian masuknya susah nggak?

A2 : Nggak, susahan keluarnya. Soalnya ujian masuknya kan sama kayak fakultas lain dari rumpun IPA. Yang diuji juga hampir kayak UN SMA, walaupun nggak semua yang diujikan di UN itu bakal kepake di kuliah.

Q3 : keluarnya susah tuh maksudnya gimana?

A3 : Iya soalnya, pas mau lulus itu harus bikin skripsi, terus nggak berhenti sampai situ, karena masih ada ujian OSCE (ujian praktik keterampilan medis) komprehensif, yang menguji keterampilan medis kita yang udah diajarin sejak semester satu sampe semester akhir, terus ada juga UKDI atau Ujian Kompetensi Dokter Indonesia, yah semacam UN-nya dokter lah, yah, maksudku orang ujian perblok aja belom tentu bagus nilainya, ini harus ngulang semua blok, yah begitulah …

Q4 : Di FK itu belajarnya ada yang pake mayat ya?

A4 : Iya, untuk di lab anatomi. Di FK ada semboyan “mortuis vivat docent” yang artinya mayat-mayat yang menemani belajar anatomi ini adalah dosen kita juga, dengan cara yang lain. Kalau dosen-dosen yang lain mengajarkan dengan berbicara, kalau mereka, atau kita menyebutnya ‘cadaver’ mengajarkan kita melalui setiap pengetahuan yang ada di setiap jengkal tubuhnya. Makanya, setiap dari mahasiswa FK wajib menghormati cadaver, sebagaimana kita menghargai dosen-dosen lainnya.

Q5 : Ntar, ada sesi megang-megang mayat gitu?

A5 : Well, kalau itu tergantung kebijakan universitasnya. Kalau di kampusku nggak boleh, yang punya hak untuk ngutak ngatik cadaver itu hanya dokter, dosen, dan asisten dosen. Mungkin takut malah tambah ancur kali ya hehehe, jadi buat yang statusnya mahasiswa biasa Cuma dapet kesempatan belajar melalui melihat bagian-bagain yang udah diseksi (dipotong, dibuka, dll) sama yang berwajib, begitu …

Q6 : Susah nggak sih pelajarannya FK? Katanya berat ya kuliah di sana?

A6 : Susah atau nggak itu relatif. Kalo kayak aku yang kesasar, menurutku pelajarannya susah semua hehehe. Tapi, kayak pelajaran SMA aja, pasti ada yang susah ada yang gampang bagi yang menjalaninya. Nah, kalau berbiccara dari disiplin ilmu yang beda, jelas semuanya jadi susah. Sama aja kayak anak FK ngeliat pelajarannya anak teknik, pasti juga nggak ngedong.
Berat atau nggak itu … menurutku yang menjadikannya berat adalah tanggung jawab sebagai mahasiswa kedokteran yang nantinya akan menjadi dokter. Karena dokter akan-istilah kasarnya-‘bermain-main’ dengan nyawa manusia, ya kalau kita sebagai mahasiswa kedokteran nggak dengan serius mempelajarinya, nantinya pas udah jadi dokter, malah beneran Cuma main-main lagi …

Q7 : Masih bisa pergi main nggak sih sejak jadi mahasiswa kedokteran?

A7 : Masih. Masih banyak kok, di kampusku, yang menyempatkan diri untuk main di weekend-bahkan ke luar kota. Di sela-sela weekdays juga masih ada yang bisa main kok, tapi biasanya liat-liat juga jadwal kuliah besok, ya kalo ada responsi praktikum (ujian praktikum) ya, nggak usah anak FK, anak fakultas lain juga niscaya nggak bakal pada maen.

Q8 : jadi mahasiswa kedokteran masih bisa berorganisasi nggak, baik di skala fakultas, universitas, ataupun skala yang lebih luas?

A8 : Masih. Kalau di kampusku, kalau kita anak FK pasti dapet toleransi yang gede. Tapi, nantinya tetp harus sepinter-pinternya kita ngatur waktu. Kalau di fakultaku, banyak banget lembaga mahasiswa, jumlahnya mencapai 13 lembaga kalau nggak salah, dengan seratus sekian proker dalam setahun. Tuh, masih bisa kan kita ngadain aacara-acara sekalipun mahasiswa FK? Ya cumannya, kelemahan lembaga di FK, terutama di kampusku, kalau udah masuk minggu ujian, tiba-tiba sepi gitu orang-orangna, kalau lagi rapat rutin yang tersisa tinggal segelintir orang yang termasuk dalam orang-orang yang nggak khawatir sama akademik, seperti orang yang super cerdas, sama orang yang super pasrah, kayak saya hehehe….
Pun juga untuk organisasi extrakampus, masih bisa kok dijalanin, lagi-lagi balik ke diri sendiri, kita bisa nggak atur waktunya? Toh, pada kenyataanya saya banyak kenal anak-anak FK yang aktif, baik di dalam maupun di luar kampus, tapi IPK nya masih di atas rata-rata …

Q9 : Emangnya organisasi itu nggak ganggu akademik?

A9 : Kan, udah dibilang tergantung masing-masing orang. Kalau kita menganggapnya mengganggu, ya akan jadi beneran ganggu. Tapi, kalau buat aku pribadi, waktu organisasi itu, kita bisa dapet poin ‘belajar berorganisasi’ `belajar berinteraksi dan berkomunikasi’ (well, sebagai seorang calon dokter, kita dituntut untuk bisa berkomunikasi dan berinteraksi dengan baik), dan ‘belajar akademik’. Lhah kok bisa? Hehehe …
Ya, karena temen-temen di organisasi banyak yang lebih rajin belajar dan lebih pinter daripada aku pribadi, jadinya mau nggak mau, kalo lagi ngale-ngale (ato kalao bahasanya temenku, ngaso) di sekre lembaga, jatohnya pada review materi atau belajar buat praktikum yang akan dateng, akhirnya aku juga jadi belajar-secara nggak langsung. Begitulah kira-kira..

Q10 : Kuliah di FK lama ya? Berapa tahun kira-kira? Terus, kalau lama gitu kapan nikahnya?

A10 : Iya, kuliahnya lama. Kalo di kampusku kuliah S1 nya 3,5 tahun, itu murni, tapi kalo nanti harus ngulang mata kuliah atau penelitian skripsinya lama, yah itu bisa mundur entah sampai kapan. Terus, setelah itu koass atau dokter muda selama ±2 tahun berpindah-pindah dari satu klinik/rumah sakit ke klinik/rumah sakit lainnya. Habis itu masih ada internship atau magang selama ±1 tahun. Baru bisa diakui sebagai dokter umum. Jadi untuk bisa resmi jadi dokter umum perlu waktu 6,5 tahun kurang lebih.
Kalau nikah? Itu urusan lain … hehehehe .. toh nggak ada larangan mahasiswa, atau koass, atau dokter internship untuk nikah kok … :P