Rabu, 23 Juli 2014

Ramadhan tinggal 5 hari lagi ..

"Waktu, tuh sekarang cepet banget ya, nduk" Kata eyang putri semalam pas buka puasa.

Dan, sekarang ramadhan sudah tersisa 5 hari di tahun ini. tersisa 5 hari ya ...

Senin, 16 Juni 2014

Hujan Bulan Juni


Pengarang: Sapardi Djoko Damono

  tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu

Refleksi 20 tahun

Eciee yang buka blog lagi ... lama nggak nulis di sini (sebenernya lama nggak nulis sih, dimanapun, hehe). Dan baru sadar, selama saya kuliah, tahun kedua ini terutama, saya mulai jarang nulis. Mungkin bukan karena tidak punya waktu, tapi saya yang tidak mau menyediakan waktu ...

Well, itu bahasan lain, tapi masih terkait waktu. Di tahun ini, usia saya menginjak kepala dua (Astaghfirullah ... nggak sopan, nginjek-nginjek kepala ...ckckck). Akhirnya, untuk pertama kalinya saya bisa masuk ke kategori "adulthood", dimana proporsi tanggung jawab saya di tahun akan berbeda dengan sebelumnya sewaktu saya masih bisa disebut remaja tanggung. Tanggung mau dewasa, tapi dibilang anak kecil udah kegedan juga.

20 tahun.

Aduh, saya bahkan nggak tau mau nulis apa saking selama 20 tahun saya belum ngapa-ngapain. Belum punya karya. Masih belum begitu bermanfaat buat orang sekitar. Masih lebih banyak memanfaatkan orang lain ketimbang memberi manfaat buat orang lain. Masih suka ngerepotin orang lian ketimbang direpotin orang. Masih lebih suka mengeluh ketimbang bersyukur. Dan masih-masih yang negatif lainnya.

Masih banyak mimpi-mimpi yang belum tergapai, atau bahkan terbengkalai di sudut nurani, menanti untuk kembali dipanggil oleh saya. Sayangnya, sayanya masih terlalu malas untuk berlari. Sayangnya, saya masih terus berleha-leha menunggu "ditampar" seseuatu atau seseorang untuk tersadar.

Ahahaha epik banget rasanya. Saya sebenernya sudah sadar apa yang salah dalam diri saya. Sudah sdar juga dengan sifat-sifat buruk saya. Tapi sayangnya saya belum ada keinginan untuk merubahnya. Sayangnya, saya masih terlalu malas untuk sekadar melek dan memilih ...

Dan bahkan sekarang, saat ini, saya sudah mulai melupakan apa saja mimpi saya. Saya mulai mengalami regresi. Jika terus begini, tidak heran rasanya jika ada psikiater yang mendiagnosis saya mengalami skizofrenia.

Saya sudah 20 tahun, tapi saya masih tidak berguna. Payah.

Kamis, 24 April 2014

Penulis itu ...

"Penulis itu apa yang ia baca"
Itu kata-kata yang saya garis bawahi, dan saya catat khusus dengan gaya tulisan yang meliuk-liuk udah kayak ornamen di buku catatan saya (maksudnya sih biar saya inget gitu), waktu dapat kesempatan bertemu dengan seorang kakak angkatan di UGM, yang ternyata juga kakak kelas saya di IC (walaupun angkatan sangat jauh). Beliau melanjutkan (yang saya tulis berikutnya merupakan terjemahan bebas dari kata-kata beliau), ketika seorang penulis itu sudah lama tidak membaca, maka biasanya ia susah buat nulis, soalnya tidak tahu apa yang ingin ia tulis ....

Insan Cendekia : Syukur Tiada Hingga

[Re-Post dari tulisan Fitri Hasanah Amhar] 

Di kampus, formulir beasiswa pada umumnya suka nanyain tentang pernah nggaknya kita dapat beasiswa sebelumnya. Terus kalau pernah, ada kolom yang nanyain berapa besar beasiswa yang diterima per bulannya.

Saya nggak tau itu kolom diisi sama beasiswa yang pernah diterima semasa kuliah apa boleh dari dulu-dulu jaman sebelum kuliah. Pertama saya ngisi form itu adalah saat masih maba yang belum pernah dapet beasiswa di kampus. Terus saya kepikiran, dulu di IC-yang notabene beasiswa dari masuk sampai keluar- kalo diuangkan per bulan berapa besar, ya? Beasiswa selama di IC jaman saya dulu *aduh berasa udah lama banget* dari mulai uang masuk (uang pangkal), seragam, asrama, makan 3x sehari, SPP perbulan, suplemen (semacam makanan bergizi kayak susu kotak, telur rebus, kacang hijau, atau kue-kue basah dan sejenisnya) tiap sore, buku pelajaran, biaya study tour, berobat di poliklinik, dan lain sebagainya. Meskipun karena beberapa pasang surut pernah juga untuk suplemen mesti bayar (yang mau aja jadinya). Tapi overall, biaya kami perbulan sudah ditanggung. Kami tak perlu repot-repot bayaran. Dan tanpa tahu berapa besar biaya SPP saya—SPP kami setiap siswa IC— per bulan.

Kemudian, pada suatu kesempatan saya memberanikan diri untuk bertanya pada salah seorang guru. Saya menanyakan berapa nilai beasiswa IC jika diuangkanperbulan.

Kemudian guru saya jawab apa? Guru saya menyebutkan angka yang bahkan lebih besar daripada uang kuliah saya persemester (sengaja nggak saya cantumkan angkanya di kutipan kata-kata di bawah). Saya garis bawahi, angka beasiswa IC per bulan yang bahkan lebih besar dari uang kuliah saya per semester.
"Perbulan nya zaman fitri di angka: *sekian* (sekarang sudah lebih). (Monggo dikali 3 tahun) belum termasuk uang pangkal. Beruntung dan alhamdulillah, itu juga sangat berarti bagi orang tua. (Jujur saja: kami guru karyawan, yang pada punya anak, ingin juga anak-anaknya menikmatinya seperti anak-anak orang lain. Dididik ditempa sedemikian rupa. Apa daya belum seberuntung kalian. Malu rasanya kalau mau diungkapkan lebih jauh). Bersyukur kepada Allah, bersyukur sepanjang waktu (kata opick)."

Apa yang saya rasakan saat itu? Sedih, terharu, campuraduk jadi satu. Sedih rasanya ketika menyadari bahwa guru-guru kami yang selalu penuh dedikasi itu, orang-orang terdekat kami itu bahkan bisa jadi ketika mengajar juga berharap putra-putri kandungnya juga ada di salah satu bangku di antara bangku kami. Para karyawan yang melayani kami sepenuh hati, memperbaiki keran rusak—atau fasilitas lainnya, menuangkan porsi sayur dan lauk ke nampan-nampan makan kami, mengobati kami di poliklinik, mungkin berharap anak-anak kandungnya dapat menikmati fasilitas sekolah dan asrama, serta betapa menyenangkannya sekolah di sini. Maka ya Allah, nikmatMu yang manakah yang pantas kami dustakan?

Sedih juga karena rasa-rasanya saya belum bisa jadi alumni yang membanggakan buat IC yang membawa hasil didikan super mereka dalam bentuk prestasi yang membanggakan. Masih jadi alumni yang biasa-biasa aja. Prestasi itu salah satu tanda syukur. Prestasi juga tanda terima kasih. Ah, Bapak Ibu guru dan karyawan, maafkan saya... :"

Dear teman-teman alumni IC di manapun berada, selalu ada harapan yang terbit ketika Bapak Ibu guru kita mengajar. Kala pagi berangkat mengajar, kala menyampaikan materi, kala meninggalkan kelas saat kita biasa ulangan harian, kala mendatangi asrama untuk membantu menerangkan kembali apa yang masih kita bingungkan. Ada harap yang terus terbit yang boleh jadi mereka lantunkan dengan ikhlas di setiap doa. Tentang perilaku kita, tentang perangai kita, tentang suksesnya kita. Juga ada harapan dari para karyawan yang melihat poster peserta OSN dipajang besar-besar di depan gedung sekolah, melihat medali serta capaian-capaian madrasah kita, berharap agar kelak kitalah kelak yang akan membawa perubahan pada bangsa.

Maka rasa-rasanya jahat sekali kalau kita berubah jadi lebih buruk daripada saat di IC dulu. Memang tidak ada sekolah yang menjamin lulusannya akan sangat baik di luar. Pesantren seagamis apapun. Tapi kalau ingat bahwa dedikasi serta keikhlasan para guru semasa kami di IC, para karyawan yang setiap hari membantu merawat fasilitas, memasakkan makan, serta melayani setiap hari, ah, mana tega... Bapak, Ibu, saya rindu.... :"

Pak, Bu, seperti yang selalu kami lantunkan depan ruang guru saat 25 November menjelang, 

"Tanpamu, apa jadinya aku..."

Semoga rahmat dan kasih sayang Allah selalu ada untuk Bapak dan Ibu semua. Ilmu-ilmu ini amal jariyah kalian, Pak, Bu. Kesetiaan kalian dalam melayani kami, biarlah jadi teladan bagi kami semua. Biarlah kami akan jadi saksi kebaikan  Bapak dan Ibu di hari akhir kelak. Semoga keluarga besar IC dikumpulkan semua di SurgaNya, ya Pak, Bu. Aamiin.

untuk IC, yang entah bagaimana selalu berhasil membuat rindu
Jogja, 27 Maret 2014 22.30

Rabu, 26 Maret 2014

Kampanye Bising

Iya, jadi Pemilu legislatif yang jatuh tanggal 9 April 2014 itu membuat banyak keramaian baik di dunia maya maupun di dunia nyata ternyata. Isu-isu lama mulai diangkat, baik itu untuk memperburuk citra sebuah partai, orang perseorangan ataupun untuk mengingatkan kembali ke halayak tentang prestasi-prestasi sebuah partai atau orang perseorangan.

Dunia maya sendiri, ramai dengan pemberitaan partai A, partai B, partai lalalala dan lililili, tentang calon presiden Z yang mundur dari gubernur, calon presiden Y yang maen sinetron, atau calon-calon presiden lainnya. Di dunia nyata? well, sudah beberapa hari terakhir (saya nggak tau tepatnya) adalah jadwal kampanye terbuka partai-partai yang telah lolos verifikasi, tahun ini ada 12 partai nasional dan 3 partai lokal dari Aceh. Partai-partai ini sudah mulai memasang atribut-atribut di jalan-jalan, yang benderalah, yang baliholah, yang spanduk dan media-media lain. Walaupun, katanya, Pemilu tahun ini tak seramai pemilu-pemilu sebelumnya (ya, saya juga nggak ngeh sih, soalnya dulu-dulu masih belum boleh nyoblos, jadi hampir-hampir nggak peduli).

Waktu kampanye terbuka sudah dimulai, mulai juga aksi ke-15 partai ini, bergilir dari satu kota ke kota lainnya (mungkin yang partai lokal hanya di Aceh saja, saya nggak tau sih, tapi saya belum ketemu orang kampanye ketiga partai lokal ini di Jogja). Berusaha memutihkan, memerahkan, menghijaukan dan mewarna-warna lainnya masing-masing kota.

Ramai. Ramai banget pake sangat malah! ... Terutama untuk partai-partai yang kampanye dengan metode konservatif (halah bahasanya), yakni konvoi motor rame-rame keliling kota bawa bendera partai sambil memainkan knalpot (dimainin gasnya maksudnya, sampai menimbulkan suara-suara bising yang nggak enak didengar, bukan literally mainin knalpot yang dicopot, njuk, dimain-mainin). Menurut saya itu metode kampanye udah sangat jadul banget. Udah sejak saya kecil dilakuin, dan sekarang, menurut saya dan banyak orang udah nggak jamannya lagi kampanye dengan konvoi motor yang berisik gitu. masih banyak kok kampanye kreatif kalo partai-partai ini emang mau mikir gimana caranya kampanye yang lebih ngena ketimbang cuma menarik perhatian dengan suara bising kendaraan bermotor.

Sekitar 2 Minggu yang lalu partai PPP yang lewat daerah kos-kosan saya yang konvoi motor sambil bawa bendera hijau. Waktu itu posisi saya lagi makan bareng temen-temen PH KaLAM sekaligus rapat, tapi apadaya rapatnya jadi nggak efektif karena suara-suara bising tersebut. Tapi, yah massa yang dikerahkan PPP waktu itu ternyata nggak seheboh kampanye bising yang dilakukan partai banteng hari Selasa lalu. Partai yang punya simbol warna merah ini, entah dengan berapa jumlah massanya, pokoknya banyak banget pake sangat deh! konvoi keliling jogja, memenuhi setiap jalanan jogja yang emang nggak lebar-lebar amat. Alhasil jadilah hari itu jadi hari macet sejogja. Ditambah kebisingan-kebisingan yang ditimbulkan makin bikin hari yang panas itu jadi makin panas. Ya, saya sih terserah aja kalau mau bising-bising di tengah hutan, di tengah kota atau di tengah lautan. Lhah ini, di area kampus, di depan rumah sakit pula! (Kemarin rute kampanye partai ini melewati depan RSUP sardjito, yang berarti juga melewati depan fakultas saya).

Njuk, ngono yen enek pasien sing jantungan, piye jal? Mereka mah semangat-semangat aja mengkampanyekan partai mereka yang diusung. Ini nggak salah, partai manapun pasti semangat yak. Cuman, menurut saya caranya aja yang nggak ahsan. Masih ada banyak cara kreatif mulai dari kampanye penghijauan sampai kampanye door to door untuk mengenalkan partai mereka. Masih ada cara-cara halus yang bisa menyentuh hati masyarakat tanpa harus mengeluarkan suara-suara bising. apalagi di Jogja, yang notabenenya orang-orangnya halus plus lembut.

Kalau dari kampanye lapangannya aja udah terlihat brutal seperti itu, bagaimana jika akhirnya menduduki pemerintahan?

Yah, wallahu a'lam ... semoga siapapun pimpinan Indonesia nantinya, semoga beliau maju karena memang ingin mengabdi pada masyarakat ... Amiin ..

Blog Teman-Teman :)

Dasbor Blog adalah salah satu web yang wajib saya buka kalau lagi ngenet dari laptop. Walaupun saya nggak selalu nulis di blog, atau nulis tapi ngegantung dan akhirnya cuma jadi draft di dasbor, atau udah mau selesai sih tapi terus saya hapus semuanya dan log out hehehehe ...

kadang-kadang, eh sering malah, saya buka blog bukan buat nulis, tapi buat tahu kabar orang-orang. Buat tahu pemikiran-pemikiran orang-orang. Terutama temen-temen IC angkatan saya, dan lebih khusus lagi temen-temen IC yang udah jarang ketemu, atau mungkin yang sudah tidak terjangkau lagi kayak Anisa Firdaus atau Gian atau siapalah yang udah ke Jepang. Atau kayak doni yang sekarang di sumatera dan teman-teman lainnya.

Saya suka baca cerita-cerita mereka, saya suka ngedenger kabar dari temen-temen ini, yah walaupun sekarang udah ada facebook, twitter, whatsapp, line dan medsos lainnya, tapi, entah kenapa saya lebih suka tau cerita temen-temen ini lewat blog yang ditulis secara detil, panjang dan udah kayak cerita, nggak cuma timpalan-timpalan status, atau cerita hanya 140 karakter yang bisa menimbulkan ambiguitas atau hanya percakapan selewat-selewat di whatsapp atau bahkan karakter-karakter stiker yang ada line.

Ya simpelnya sih, saya jadi bisa tau cerita temen-temen tanpa saya harus bertanya 'apa kabar?'. Karena saya tipe orang yang malas memulai percakapan, terutama sama cowok, jadi saya lebih suka baca blog temen-temen-temen lebih banyak cerita warna-warninya hidup mereka, sekalipun yang di post tidak secara gamblang menceritakan pribadinya, tapi tulisan itu sudah cukup. Dan sekalipun saya jarang komentar juga sih di blog temen-temen, tapi paling nggak saya udah baca ... hehehe ...