Senin, 28 Desember 2015

"Ketika ekspresi rindu adalah doa, semua cinta adalah jalan surga ..." 

-OST. Tuhan Maha Romantis

Berharap

"Bapak bakal mampir jogja ga?"

"Blom tau nih dek ... Dimana2 macet gilak ...Jalur ke jogja apalagi...
Ini jalan dari Solo ke salatiga, di boyolali sampe salatiga macet merayap"

"Apa tyani yang ke salatiga aja?"

"Di Salatiga dah ga ada siapa2 ...Bulik utik dah pulang, enes dah ke bandung, ara ga tau kemana, Bulik runik hari ini pulang surabaya. Dah sepi, bapak sama ibu tanggal 29 besuk pulang juga ..."

Sulit sekali untuk tidak berharap lebih dari yang diperlukan. Begini nih yang seringnya bikin kecewa. Berharap sendiri, kecewa sendiri. #pffft ...

Mendewasa, Ty ... mendewasa ...

Minggu, 27 Desember 2015

Utopia - Hujan | Official Video

Perjalanan

Aku selalu menyukai perjalanan. Dengan apa pun. Dari perjalanan, aku belajar banyak. Ada lebih banyak waktu untuk berkontemplasi ketika dalam perjalanan, ketimbang saat menetap dalam satu tempat, dan terkungkung dalam hiruk pikuk tempat tersebut; sibuk dengan hal-hal yang membuat pikiran penuh dan menguras energi.


Selalu begini. Jika ingin menulis memori yang terlalu menyenangkan, ujung-ujungnya cuma bisa bengong di depan laptop sambil terus memutar memorinya. Entah mengharap apa dari pekerjaan bengong tersebut.

Ada terlalu banyak cerita yang ingin saya tulis tentang hari kemarin, tentang kisah berminggu-minggu sebelumnya, atau bahkan bertahun-tahun sebelumnya ...

Tapi, saya cuma bengong. Dan berpikir, waktu berjalan cepat sekali ya?

Minggu, 20 Desember 2015

Hari 8 : What is Power?

Hari in kami membahas salah satu bab dari buku pathology of power karya paul farmer. Saya memang belum selesai membaca sampai akhir Bab, tapi mendengar komentar teman-teman di kelas saat sesi diskusi, ada pertanyaan yang sampai detik ini masih mengganggu saya, what is power exatcly?

Sebenarnya apa itu power? Jika mendengar beberapa komnetar teman yang mengatakan bahwa, baik gender ataupun ras yang memiliki ‘risiko’ untuk terdiskriminasi, akan diperparah bila mereka juga miskin. Jadi mereka tidak hanya terdiskriminasi karena gender mereka atau karena ras mereka tapi karena miskin. Dan faktor ‘miskin’ inilah yang acapkali membuat diskriminasi ini menjadi lebih parah. So then, apakah power berarti money?

Seorang teman mengatakan –ketika ditanya, power itu kekuasaan. But somehow, realitanya dewasa kini kekuasaan sulit didapat tanpa uang. Kita membutuhkan uang untuk bisa mengontrol banyak hal yang ada di dunia ini. Dan perilaku orang berkuasa yang ‘mendominasi’ dengan kekuatannya juga sedikit banyak dilakukan untuk uang.

Tapi kemudian muncul pemikiran lagi; jika ada pekerja seks komersial –yang katakanlah dalam semalam ia bisa mendapatkan ‘penghasilan’ 150 juta secara konstan setiap malamnya, maka sebulan ia bisa mempunyai uang 150x30 sekitar 450juta. Tapi, di mata masyarakat yang namanya pekerja seks komersial sekaya apapun ia tetap mendapatkan stigma masyarakat dan ujung-ujungnya juga nggak akan bisa terlepas dari ‘diskrimansi’. Ia tetap tidak punya power di mata masyarakat.

So, what is power?

Kemudian, teman saya itu bilang, tapi dengan penghasilan seperti itu dia pasti punya kuasa atas pekerja seks-pekerja seks lainnya. Bisa jadi ia adalah pekerja seks kelas atas yang mendominasi. Kemudian saya berpikir ‘ohiya bisa jadi.’ Dan akhir dari pemikiran saya ini, saya menyimpulkan bahwa semuanya akan kembali pada hal pertama yang kami pelajari di modul ini, that everything is socially and culturally constructed; even beautiful, even love, even power itself ....

17 Desember 2015

Hari 7

Hari ini saya belajar bahwa Ternyat a ada banyak ilmu di luar ilmu kedoketran yang sebenarnya sangat berguna untuk menunjang kesembuhan pasien. Tidak hanya sekadar ilmu fisiologi, anatomi, biologi; tapi juga sosial. Hari ini saya belajar memandang suatu msalah dari kacamata yang lain. Kacamata antropolog. Dan hari ini saya belajar bahwa sebagai seorang yang nantinya (mungkin) akan menjadi dokter, jangan sampai kita –jajaran tenaga medis ini- mengobati hanya penyakit pasien saja. karena terkadang, penyakit tersebut letaknya bukan hanya pada penyakitnya, tapi sosial.

Maka, hari itu kami membuktikan statement WHO yang menyatakan bahwa sehat bukanlah hanya sekedar tidak adanya penyakit, tapi juga sehat secara fisik, mental dan sosial.

16 Desember 2015