Hari in kami membahas salah satu bab dari buku pathology of power
karya paul farmer. Saya memang belum selesai membaca sampai akhir Bab,
tapi mendengar komentar teman-teman di kelas saat sesi diskusi, ada
pertanyaan yang sampai detik ini masih mengganggu saya, what is power
exatcly?
Sebenarnya apa itu power? Jika mendengar beberapa komnetar teman yang
mengatakan bahwa, baik gender ataupun ras yang memiliki ‘risiko’ untuk
terdiskriminasi, akan diperparah bila mereka juga miskin. Jadi mereka
tidak hanya terdiskriminasi karena gender mereka atau karena ras mereka
tapi karena miskin. Dan faktor ‘miskin’ inilah yang acapkali membuat
diskriminasi ini menjadi lebih parah. So then, apakah power berarti
money?
Seorang teman mengatakan –ketika ditanya, power itu kekuasaan. But
somehow, realitanya dewasa kini kekuasaan sulit didapat tanpa uang. Kita
membutuhkan uang untuk bisa mengontrol banyak hal yang ada di dunia
ini. Dan perilaku orang berkuasa yang ‘mendominasi’ dengan kekuatannya
juga sedikit banyak dilakukan untuk uang.
Tapi kemudian muncul pemikiran lagi; jika ada pekerja seks komersial
–yang katakanlah dalam semalam ia bisa mendapatkan ‘penghasilan’ 150
juta secara konstan setiap malamnya, maka sebulan ia bisa mempunyai uang
150x30 sekitar 450juta. Tapi, di mata masyarakat yang namanya pekerja
seks komersial sekaya apapun ia tetap mendapatkan stigma masyarakat dan
ujung-ujungnya juga nggak akan bisa terlepas dari ‘diskrimansi’. Ia
tetap tidak punya power di mata masyarakat.
So, what is power?
Kemudian, teman saya itu bilang, tapi dengan penghasilan seperti itu
dia pasti punya kuasa atas pekerja seks-pekerja seks lainnya. Bisa jadi
ia adalah pekerja seks kelas atas yang mendominasi. Kemudian saya
berpikir ‘ohiya bisa jadi.’ Dan akhir dari pemikiran saya ini, saya
menyimpulkan bahwa semuanya akan kembali pada hal pertama yang kami
pelajari di modul ini, that everything is socially and culturally
constructed; even beautiful, even love, even power itself ....
17 Desember 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar