Minggu, 20 Desember 2015

Hari 4 : Etika, kemanusiaan, dan teknologi

Lagi, setiap kali kuliah hari itu berakhir saya semakin merasakan bahwa saya tidak tahu apa-apa tentang teknologi (kalau boleh meminjam istilah yang digunakan prof laksono adalah dari unconscious incompetent menjadi conscious incompetent).

Hari ini saya belajar bahwa yang sebenarnya ‘diusung’ oleh kajian etika adalah nila-nilai kemanusiaan. Bahwa manusia adalah makhluk ‘termulia’ di muka bumi, thus, semua teknologi itu tidak bisa mengalahkan kemuliaan manusia –karena sejatinya teknologi adalah alat, dan manusia adalah pencipta teknologi tersebut. Tapi jika mau menilik fenomena hari ini, tidak sedikit manusia-manusia yang justru lebih menghargai dan menilai tinggi suatu teknologi ketimbang manusia itu sendiri.

Hari ini saya juga belajar bahwa seringkali teknologi tidak berkembang bukan karena teknologi itu tidak mencapai kemajuan atau penelitinya yang tidak kompeten, melainkan adanya hegemoni mayoritas yang ‘terlihat’ mengintimidasi. Meski seringkali pandangan kita –sebagai (calon) dokter terbatasi oleh nilai-nilai yang hanya kita pegang sendiri dan membuatnya menjadi tidak lagi objektif. Sementara melihat suatu perkembangan teknologi secara komprehensif dari berbagai sudut pandang adalah hal yang sulit. Mungkin ini juga yang dialami oleh pemegang kebijakan yang duduk di bangku pejabat saat memukul palu untuk ‘membolehkan atau tidak’ suatu teknologi berkembang. Tapi, pun pandangan kita terbatas. Karenanya, saya tidak sepakat dengan istilah yang teman saya gunakan ‘budaya timur yang konvensional’. Lalu, budaya timur yang modern seperti apa? Apakah yang kebarat-baratan? Apakah budaya barat itu budaya modern? Ataukah ada budaya barat yang konvensional? Yang disebut konvensional atau modern itu seperti apa?

Well, pandangan kita terbatas hanya pada diri kita dan lingkungan di sekitar kita. Sebelum kita duduk di bangku yang sama dengan pejabat tersebut, atau duduk berhadapan, mungkin otak kita masih belum satu frekuensi tentang kemajuan sebuah teknologi dan impact nya bagi ‘manusia’ dan ‘kemanusiaan’.

10 Desember 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar