Lagi, setiap kali kuliah hari itu berakhir saya semakin merasakan
bahwa saya tidak tahu apa-apa tentang teknologi (kalau boleh meminjam
istilah yang digunakan prof laksono adalah dari unconscious incompetent
menjadi conscious incompetent).
Hari ini saya belajar bahwa yang sebenarnya ‘diusung’ oleh kajian
etika adalah nila-nilai kemanusiaan. Bahwa manusia adalah makhluk
‘termulia’ di muka bumi, thus, semua teknologi itu tidak bisa
mengalahkan kemuliaan manusia –karena sejatinya teknologi adalah alat,
dan manusia adalah pencipta teknologi tersebut. Tapi jika mau menilik
fenomena hari ini, tidak sedikit manusia-manusia yang justru lebih
menghargai dan menilai tinggi suatu teknologi ketimbang manusia itu
sendiri.
Hari ini saya juga belajar bahwa seringkali teknologi tidak
berkembang bukan karena teknologi itu tidak mencapai kemajuan atau
penelitinya yang tidak kompeten, melainkan adanya hegemoni mayoritas
yang ‘terlihat’ mengintimidasi. Meski seringkali pandangan kita –sebagai
(calon) dokter terbatasi oleh nilai-nilai yang hanya kita pegang
sendiri dan membuatnya menjadi tidak lagi objektif. Sementara melihat
suatu perkembangan teknologi secara komprehensif dari berbagai sudut
pandang adalah hal yang sulit. Mungkin ini juga yang dialami oleh
pemegang kebijakan yang duduk di bangku pejabat saat memukul palu untuk
‘membolehkan atau tidak’ suatu teknologi berkembang. Tapi, pun pandangan
kita terbatas. Karenanya, saya tidak sepakat dengan istilah yang teman
saya gunakan ‘budaya timur yang konvensional’. Lalu, budaya timur yang
modern seperti apa? Apakah yang kebarat-baratan? Apakah budaya barat itu
budaya modern? Ataukah ada budaya barat yang konvensional? Yang disebut
konvensional atau modern itu seperti apa?
Well, pandangan kita terbatas hanya pada diri kita dan lingkungan di
sekitar kita. Sebelum kita duduk di bangku yang sama dengan pejabat
tersebut, atau duduk berhadapan, mungkin otak kita masih belum satu
frekuensi tentang kemajuan sebuah teknologi dan impact nya bagi
‘manusia’ dan ‘kemanusiaan’.
10 Desember 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar