Di hari kedua duduk di kelas ini,
saya belajar, bahwa saya ternyata benar-benar sangat tidak tahu apa-apa
tentang perkembangan teknologi. Bahwa ternyata teknologi begitu cepat
dalam berkembang, dan juga bahwa ternyata perkembangan teknologi
mempengaruhi konstruksi sosial suatu masyarakat dan begitu juga
sebaliknya.
Mungkin perkembangan teknologi yang sangat cepat adalah gambaran dari sifat manusia yang tidak pernah puas, atau bahkan rakus; sementara alat pemuas kebutuhan (jika meminjam istilah ekonomi) sangat terbatas. Penelitian, penemuan, atau apalah sebutannya adalah dalam rangka memenuhi kebutuhan manusia yang semakin lama juga semakin berkembang karena ketidakpuasan manusia.
Awalnya mungkin manusia hanya butuh punya anak, bereproduksi, regeneratif. Gendernya apapun tidak masalah, bahkan mungkin cacat pun tidak apa. Tapi kini dengan ditemukannya gene reduction dalam ART –dimana gen-gen ‘jahat’ dieliminir sebelum kelahiran embrio; manusia menginginkan anaknya sempurna fisiknya, kognitifnya bahkan mereka bisa memilih gender yang mereka inginkan –atau butuhkan.
Awalnya mungkin manusia hanya membutuhkan kosmetik –alat pemoles kecantikan temporer untuk membuat wajah-wajah yang biasa saja –atau mungkin wajah cantik, tapi kepribadian minder untuk mempercantik wajah mereka, tapi kini mereka lelah dengan lepas pasang kosmetik mungkin hingga plastic surgery mereka samakan dengan put on cosmetic. Mereka ingin –mereka butuh, sebuah kecantikan yang permanen.
That’s it. Kebutuhan manusia berkembang. Setelah kebutuhan dasar terpenuhi dengan teknologi-teknologi hari, mereka akan mencari teknolog-teknologi untuk memenuhi kebutuhan sekundernya hingga kebutuhan sekunder tersebut tidak lagi menjadi kebutuhan sekunder tapi menjadi kebutuhan primer. Hari itu saya juga belajar, bahwa betapa mengerikannya perkembangan teknologi yang sangat cepat, sementara di satu sisi degradasi moral terjadi secara besar-besaran. Ketika adanya pergeseran nilai moral jauh dari moral yang dianut manusia hari ini atau di masa dulu, bisa jadi teknologi yang berkembang ini tidak lagi terkontrol. Dan bukannya tidak mungkin, manusia merasa menjadi tuhan dengan segala penemuannya. Tapi, jangan-jangan di satu sisi manusia merasa menjadi tuhan, jangan-jangan di sisi lain sebenarnya mereka sedang menjadi budak-budak teknologi yang mereka ciptakan sendiri.
Who knows?
9 Desember 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar