Kertasnya masih kosong. Antara belum dimulai atau juga sudah dihapus kembali.
Masih ada sisa sekian ratus hari. Tapi, mau menunda sampai kapan?
Minggu, 31 Januari 2016
Jumat, 29 Januari 2016
Kerja . . .
Akhir-akhir ini obrolan nggak akan jauh-jauh dari TA dan juga kerja atau koas (kalo ngomong sama anak jurusan).
Selain anak-anak yang habis lulus masih harus ambil sekolah profesi, macam jurusan saya, atau jurusan sebelah, atau fakultas sebelah (sebut saja anak medika, haha); satu per satu orang sudah mulai merancang usai wisuda mereka akan kemana?
Bahkan teman saya yang baru akan ambil skripsi semester ini pun galaunya nggak jauh-jauh dari sana. habis lulus mau ngapain? Karena kita-kita yang sudah menjejak tingkat akhir kuliah atau bahkan sudah bergelar mahasiswa tua atau mahasiswa bangkotan ini sudah menjejak level akhir dari pendidikan formal utama -terutama kalo mau keterima kerja yang lumayan (S2, S3 atau profesi sebagai tambahan kecuali anak-anak medika). Setelah ini, mungkin sudah harus terjun ke masyarakat, kerja, menggantikan ibu-ibu dan ayah-ayah kami yang berjuang. Siklus kehidupan terus bergulir, sementara kami masih menyocokkan diri dengan kuliah, TA dan akan kerja apa nantinya.
Saya pun meski belajar di fakultas dengan sekolah keprofesian, nggak sekali dua kali berpikir untuk nggak jaid dokter. Apalagi teman-teman yang kuliah di jurusan bukan ilmu terapan (FK itu ilmu terapan, lainnya ilmu murni semacam MIPA, atau biologi, dkk).
Baru-baru ini saya lagi baca komik Ansatsu Kyoushitsu, komik tentang sebuah kelas terbelakang di sebuah SMP elit. Kelas 3 E, kelas yang punya guru yang -sebut saja unik. Oh, saya nggak akan ngereview komik itu di sini, (haha). Yang saya titik beratkan adalah, adegan dimana anak-anak 3E ini harus mengumpulkan formulir rencana karir mereka dan mendiskusikannya dengan wali kelas, serta ada komunikasi antara orang tua dan wali kelas. Dari situ saya memahami bahwa di luar negeri anak-anak sudah mendapat bimbingan karir, bahkan sejak mereka SMP. Lalu, SMA mana yang akan jadi tujuan mereka akan ditentukan bersama dengan mereka mau masuk univ mana (CMIIW, cuma baca manga sama anime soalnya, haha). Saya nggak tau, sekarang di Indonesia di sekolah dasar maupun menengah apakah sudah seperti itu juga atau nggak. Tapi, waktu jaman saya SMA (atau bahkan SMP) saya nggak dapet bimbingan karir. Saya cuma dapet bimbingan masuk univ. Haha ...
Itu saya, yang dapet bimbingan konseling pendidikan dari guru BK superkecesuperkerennya Ic, Bu Rini. Bagaimana dengan sekolah yang biasa-biasa aja? Pada akhirnya, kebanyakan dari kami menentukan kerja ya dekat-dekat periode wisuda. Mulai berpikir mau kerja apa, mau menyambung hidup dan lepas dari orang tua dengan penghasilan yang kayak apa. Mau menghidupi keluarga dengan profesi yang seperti apa. Dan ya jadinya begini lah indonesia (halah, apadah hahaha)
Lalu, di akhir begini, saya jadi sadar kenapa Jogja dibilang kota pelajar. Karena isinya memang dipenuhi oleh orang-orang yang ingin belajar, mahasiswa, pelajar. Bukan orang-orang yang ingin bekerja. Setelah dirasa cukup belajar dari kota ini, mereka wisuda, mereka mendapat kerja atau bekerja di luar daerah jogja. Ada yang memang balik ke kota sendiri, mengabdi di tanah kelahiran, ada yang tuntutan beasiswa daerah, ada yang memang dapet kerjanya di luar jogja.
Aah, satu per satu orang meninggalkan jogja ...
Selain anak-anak yang habis lulus masih harus ambil sekolah profesi, macam jurusan saya, atau jurusan sebelah, atau fakultas sebelah (sebut saja anak medika, haha); satu per satu orang sudah mulai merancang usai wisuda mereka akan kemana?
Bahkan teman saya yang baru akan ambil skripsi semester ini pun galaunya nggak jauh-jauh dari sana. habis lulus mau ngapain? Karena kita-kita yang sudah menjejak tingkat akhir kuliah atau bahkan sudah bergelar mahasiswa tua atau mahasiswa bangkotan ini sudah menjejak level akhir dari pendidikan formal utama -terutama kalo mau keterima kerja yang lumayan (S2, S3 atau profesi sebagai tambahan kecuali anak-anak medika). Setelah ini, mungkin sudah harus terjun ke masyarakat, kerja, menggantikan ibu-ibu dan ayah-ayah kami yang berjuang. Siklus kehidupan terus bergulir, sementara kami masih menyocokkan diri dengan kuliah, TA dan akan kerja apa nantinya.
Saya pun meski belajar di fakultas dengan sekolah keprofesian, nggak sekali dua kali berpikir untuk nggak jaid dokter. Apalagi teman-teman yang kuliah di jurusan bukan ilmu terapan (FK itu ilmu terapan, lainnya ilmu murni semacam MIPA, atau biologi, dkk).
Baru-baru ini saya lagi baca komik Ansatsu Kyoushitsu, komik tentang sebuah kelas terbelakang di sebuah SMP elit. Kelas 3 E, kelas yang punya guru yang -sebut saja unik. Oh, saya nggak akan ngereview komik itu di sini, (haha). Yang saya titik beratkan adalah, adegan dimana anak-anak 3E ini harus mengumpulkan formulir rencana karir mereka dan mendiskusikannya dengan wali kelas, serta ada komunikasi antara orang tua dan wali kelas. Dari situ saya memahami bahwa di luar negeri anak-anak sudah mendapat bimbingan karir, bahkan sejak mereka SMP. Lalu, SMA mana yang akan jadi tujuan mereka akan ditentukan bersama dengan mereka mau masuk univ mana (CMIIW, cuma baca manga sama anime soalnya, haha). Saya nggak tau, sekarang di Indonesia di sekolah dasar maupun menengah apakah sudah seperti itu juga atau nggak. Tapi, waktu jaman saya SMA (atau bahkan SMP) saya nggak dapet bimbingan karir. Saya cuma dapet bimbingan masuk univ. Haha ...
Itu saya, yang dapet bimbingan konseling pendidikan dari guru BK superkecesuperkerennya Ic, Bu Rini. Bagaimana dengan sekolah yang biasa-biasa aja? Pada akhirnya, kebanyakan dari kami menentukan kerja ya dekat-dekat periode wisuda. Mulai berpikir mau kerja apa, mau menyambung hidup dan lepas dari orang tua dengan penghasilan yang kayak apa. Mau menghidupi keluarga dengan profesi yang seperti apa. Dan ya jadinya begini lah indonesia (halah, apadah hahaha)
Lalu, di akhir begini, saya jadi sadar kenapa Jogja dibilang kota pelajar. Karena isinya memang dipenuhi oleh orang-orang yang ingin belajar, mahasiswa, pelajar. Bukan orang-orang yang ingin bekerja. Setelah dirasa cukup belajar dari kota ini, mereka wisuda, mereka mendapat kerja atau bekerja di luar daerah jogja. Ada yang memang balik ke kota sendiri, mengabdi di tanah kelahiran, ada yang tuntutan beasiswa daerah, ada yang memang dapet kerjanya di luar jogja.
Aah, satu per satu orang meninggalkan jogja ...
Menghindar
Hari in dua orang teman SMA saya pendadaran. Nida' sesama anak FK, dan satu lagi Isti, anak sasindo UGM. Doanya dan pertanyaannya pasti nggak akan berubah, 'Kapan ty nyusul pake item putih? Semoga disegerakan ya' ... Saya mengamini baik jahr maupun sirr dengan setulus hati, dengan keikhlasan (haha) ...
Mungkin memang doa-doa orang-orang yang sedang saya butuhkan. Doa-doa dan kalimat-kalimat yang bisa jadi pembangkit tenaga cinta (halah) buat menggerakkan seluruh jiwa dan raga saya buat bertahan di depan skripsi. Buat saya, mengerjakan karya tulis kayak gini, penelitian kayak gini harusnya udah bukan lagi masalah, karena sejak SMP bikin karya tulis macam skripsi gini udah saya lakuin.
Cumannya, saya baru sadar sejak saya terapi phobia dulu, kalau saya tipikal orang avoidance. Tipikal bocah-bocah yang doyan lari (dari kenyataan dan dari amanah) hahaha. Dan baru akan nggak lari ketika kepepet. Masalahnya mengerjakan skripsi itu nggak didetlen tanggal. Nggak dikejar dosen. Nggak ditekan siapa-siapa. Jadi, sayanya terlalu nyantai buat terus-terusan lari (dari skripsi).
Saya jadi inget, kakak saya pernah bilang, skripsi itu adalah ajang kita ngelawan diri kita sendiri. Ajang buat ngalahin hawa nafsu buat males-malesan, buat lari dari skripsi.
Tapi menghindar dari yang wajib itu mudah banget ya? haha *ketawa miris ceritanya
Yang susah adalah konsekuensinya. Konsekuensi ketika akhirnya harus ngerjain skripsi sendiri, konsekuensi makin stress ketika ngeliat satu per satu temen udah pendadaran, dan ternyata tersisa seorang diri yang belum pendadaran ... dan konsekuensi-konsekuensi lainnya.
terus, kenapa masih menghindar? (ceritanya nanya ke diri sendiri)
aaah, akhir-akhir ini jadi terlalu sering melegalkan pikiran-pikiran negatif yang mengganggu untuk melakukan ketidakbaikan, sepertinya ..
Mungkin memang doa-doa orang-orang yang sedang saya butuhkan. Doa-doa dan kalimat-kalimat yang bisa jadi pembangkit tenaga cinta (halah) buat menggerakkan seluruh jiwa dan raga saya buat bertahan di depan skripsi. Buat saya, mengerjakan karya tulis kayak gini, penelitian kayak gini harusnya udah bukan lagi masalah, karena sejak SMP bikin karya tulis macam skripsi gini udah saya lakuin.
Cumannya, saya baru sadar sejak saya terapi phobia dulu, kalau saya tipikal orang avoidance. Tipikal bocah-bocah yang doyan lari (dari kenyataan dan dari amanah) hahaha. Dan baru akan nggak lari ketika kepepet. Masalahnya mengerjakan skripsi itu nggak didetlen tanggal. Nggak dikejar dosen. Nggak ditekan siapa-siapa. Jadi, sayanya terlalu nyantai buat terus-terusan lari (dari skripsi).
Saya jadi inget, kakak saya pernah bilang, skripsi itu adalah ajang kita ngelawan diri kita sendiri. Ajang buat ngalahin hawa nafsu buat males-malesan, buat lari dari skripsi.
Tapi menghindar dari yang wajib itu mudah banget ya? haha *ketawa miris ceritanya
Yang susah adalah konsekuensinya. Konsekuensi ketika akhirnya harus ngerjain skripsi sendiri, konsekuensi makin stress ketika ngeliat satu per satu temen udah pendadaran, dan ternyata tersisa seorang diri yang belum pendadaran ... dan konsekuensi-konsekuensi lainnya.
terus, kenapa masih menghindar? (ceritanya nanya ke diri sendiri)
aaah, akhir-akhir ini jadi terlalu sering melegalkan pikiran-pikiran negatif yang mengganggu untuk melakukan ketidakbaikan, sepertinya ..
Minggu, 24 Januari 2016
Karena yang boleh sombong itu cuma Allah.
karena adanya ujian akan membuktikan seberapa erat ukhuwah yang sudah terjalin. Tak ada ukhuwuah erat tanpa melalui ujian. tanpa melalui tahapan sebelumnya : fahmu, ikhlas, amal, jihad, tadhiyyah, taat, tsabat, dan tajarrud ...
karena husnudzhon sama saudara yang sudah sama-sama paham itu, cenderung sulit. Tapi bukannya tidak bisa.
karena prioritas orang beda-beda.
pun untuk rasa memiliki.
karena adanya ujian akan membuktikan seberapa erat ukhuwah yang sudah terjalin. Tak ada ukhuwuah erat tanpa melalui ujian. tanpa melalui tahapan sebelumnya : fahmu, ikhlas, amal, jihad, tadhiyyah, taat, tsabat, dan tajarrud ...
karena husnudzhon sama saudara yang sudah sama-sama paham itu, cenderung sulit. Tapi bukannya tidak bisa.
karena prioritas orang beda-beda.
pun untuk rasa memiliki.
Pulang
Pulang adalah ritual untuk mengendapkan nilai-nilai. Mengemasnya agar mendarah daging, tidak hanya di otak, tapi juga di hati.
Pulang juga saat saya kembali menemukan hati saya di antara tumpukan-tumpukan pikiran negatif yang terkumpul selama perjalanan.
Pulang juga untuk menata ruang-ruang dalam pikiran dan hati. Memilah dan memilih mana yang masih perlu disimpan, mana yang sebaiknya disingkirkan dulu. Memberi ruang baru untuk sesuatu yang baru, yang menanti di ujung kepulangan.
Pulang adalah soal mencari. Dan menemukan.
Pulang juga saat saya kembali menemukan hati saya di antara tumpukan-tumpukan pikiran negatif yang terkumpul selama perjalanan.
Pulang juga untuk menata ruang-ruang dalam pikiran dan hati. Memilah dan memilih mana yang masih perlu disimpan, mana yang sebaiknya disingkirkan dulu. Memberi ruang baru untuk sesuatu yang baru, yang menanti di ujung kepulangan.
Pulang adalah soal mencari. Dan menemukan.
Mungkin begitu.
Jumat, 22 Januari 2016
Senin, 11 Januari 2016
Anak-Anak Senja
Tak ada senja yang tak indah, jika bersamamu
Anak-anak Senja ...
9.1.2016
Kebun Binatang Gembira loka
D.I. Yogyakarta
Langganan:
Postingan (Atom)





