Senin, 12 Oktober 2020

 dari kemarin saya sering bertanya-tanya, "orang-orag ini kenapa sih?"

karena rasanya tiba-tiba semua orang jadi menyebalkan. orang-orang yang kita harap bisa memberikan suport mental, ternyata tidak lagi mampu memberikan support yang cukup.

tapi mungkin sebenernya bukan merekanya yang tidak lagi bisa memberikan support; tapi sayanya yang tidak merasa cukup. 

belakangan, rasanya sulit sekali untuk merasa cukup.

Senin, 28 September 2020

 apakah aku akan tetap menjadi dokter selesai program internship ini?

apakah aku akan mengambil pekerjaan di lini pelayanan medis yang bertatapan langsung dengan pasien?

apa sebaiknya berada di balik layar?

Rendah Diri

 Sebenernya saya punya rasa percaya diri yang sangat rendah, dan rasa rendah diri yang sangat tinggi. haha.

saya sering mudah menyerah. saya sering mematikan rasa penasaran saya biar hidup saya nggak susah, meski kadang-kadang malah bikin susah haha.

saya nggak tau sejak kapan saya seperti ini, mungkin dari kecil? mungkin sejak remaja? atau pas kuliah?

sampai detik ini pun saya nggak punya kepercayaan diri untuk mnyebut diri saya dokter. kalau ada pasien tanya, "dokternya mana sih mbak?" ke saya, saya baru akan bilang -dengan ragu-ragu dan jeda yang agak panjang, "saya dokter jaga bu". Kalau nggak, saya nggak akan memperkenalkan diri. Setakut itu saya dengan gelar yang saya sandang. 

even pas waktu kuliah pun, saya sering takut-takut menyebut saya anak FK- dan anak UGM. kalau nggak ditanya lebih lanjut, saya cuma akan bilang saya kuliah di jogja. kadang-kadang saya iseng jawab jurusan pendidikan. iya, pendidikan dokter. nggak salah kan?

Se-insecure itu saya sama diri saya sendiri. saya pengennya saya puas sama diri saya sendiri tanpa perlu validasi dari pihak luar. tapi sampai detik ini, saya sering merasa memerlukan validasi dari pihak selain diri sendiri. dan itu bikin saya cemas dengan pandangan orang lain terhadap saya. Seolah-olah saya bisa membaca semua pikiran orang. kadang-kadang saya berpikir apakah ini sudah masuk waham?'

sebenernya saya sudah memperimbangkan beberapakali untuk mencari pertolongan profesional. meski saya dokter, saya nggak bisa mendiagnosis diri saya sendiri untuk masalah kesehatan jiwa saya, karena bisa jadi apa yang saya rasakan tidak seperti apa yang terlihat. Tapi saya takut merasa dikecilkan. saya takut merasa kecil. 

ah, tyani, banyak sekali sih yang kamu takutkan.

Countdown



"Ya ampuuun, baru mulai isipnya .."
"Apaan nih countdown dari 7 bulan"
"wkwkwk mbaaa masih lamaa"

dan berbagai komentar lainnya masuk ke dm instagram saya waktu saya bikin countdown selese iship padahal ishipnya baru mulai tanggal 24 agustus kemarin. 

tapi sebenernya saya bikin countdown gini buat ngingetin kalo waktu iship nggak panjang, jadi saya harus belajar terus dari dokter-dokter dan nakes lainnya di tempat iship. Dan sesungguhnya dibandingkan saat koas, saat iship saya belajar lebih banyak. Saya bealajar komunikasi, belajar basa-basi, belajar menenangkan orang, belajar menyampaikan kabar buruk ke orang, belajar kasus aneh-aneh dari yang remeh temeh sampai berat yang nggak saya temui saat koas. Saya juga belajar berdamai dengan diri sendiri. 

Countdown ini juga buat ngingetin saya kalo hari yang buruk itu nggak berjalan selamanya. it;s just a bad day, not a bad life. kalau hari ini saya merasa hari yang menyebalkan dan menyesalkan, it's just today. masih ada hari esok dan esoknya lagi. Kalau saya hari merasa useless dan powerless karena masih banyak sekali ilmu yang belum saya serap dengan baik, saya belajar lagi, supaya besok saya nggak ngerasa kayak gini. Ada kalanya saya merasa dipandang rendah tenakes lain, that;s okay. karena nggak akan selamanya kayak gitu. ada batas akhirnya. meski saya untuk beberapa urusan saya juga nggak tahu kapan batas akhirnya. tapi semuanya ada batas akhirnya. jadi, nggak papa, tyani.

it;s just a bad day, not a bad life.

Sabtu, 19 September 2020

Ya Allah, berikan aku kekuatan.

Ya Allah, tenangkanlah hati dan pikiranku.

Ya Allah, jangan tinggalkan aku.